Genius Little Girl

Genius Little Girl
Bab 8. Pengasuh Yang Setia



Emeli terbelalak kemudian matanya menutup seketika, tubuhnya dengan keras terbentur ke belakang pada sandaran kursi roda.


"Emeli, kamu tidak apa-apa, kan?" Kayla terlihat panik. Dia meraba tubuh Emeli, anak itu benar-benar lemas sekarang.


"Tolong!" teriak Kayla semakin panik tatkala melihat Emeli tak bergeming, anak itu pingsan.


Orang-orang berdatangan lalu memeriksa denyut nadi Emeli.


"Tenanglah Mbak, dia hanya pingsan, mari saya antar ke rumah sakit." Seorang laki-laki langsung membopong tubuh Emeli menuju mobil.


"Awas ya, kalau sampai ada apa-apa pada Emeli kubunuh kau!" pekik Kayla sambil menuding wajah Elena saking kesalnya.


"Cih, tidak segampang itu yah, paling tikus got seperti dirimu yang gampang dilenyapkan lagipula lebih baik dia mati daripada merepotkan orang lain," ujar Elena dengan begitu santainya.


Kayla semakin geram, wanita itu mendorong tubuh Elena ke belakang hingga hampir terbentur lantai. Elena benar-benar tidak punya perasaan. Bagi Kayla dia seperti iblis yang berwujud manusia.


"Dasar babu tidak tahu diri!" teriak Elena.


Ingin rasanya Kayla menghajar Elena, tapi dia ingat akan keadaan Emeli. Lalu dengan cekatan dia mendorong kursi roda menyusul pria yang membawa Emeli.


Beruntung pria itu membawa mobil sehingga Kayla tidak perlu menelpon taksi online atau menghubungi Arshaka terlebih dahulu sehingga membutuhkan waktu lama. Kayla benar-benar khawatir Emeli kenapa-kenapa.


Emeli segera ditangani oleh dokter. Kayla berdiri di luar pintu dengan perasaan gelisah. Sangat takut keadaan Emeli parah. Apa yang akan ia katakan pada Arshaka? Kayla meremas tangannya sendiri sambil berusaha menetralkan rasa takut di dalam hati. Dia beberapa kali menghela nafas panjang.


"Bagaimana dokter?" tanya Kayla dengan gurat wajah sedih bercampur takut saat dokter membuka pintu kamar periksa dan berjalan menuju Kayla yang mondar-mandir tak karuan.


"Anda siapa Emeli?"


"Pengasuhnya Dokter."


"Ayahnya mana?"


"Oh itu Dok saya belum menelponnya." Kayla bahkan lupa menelpon Arshaka karena rasa takut dan khawatir yang berlebihan.


"Lebih baik telepon ayahnya, Emeli saat ini benar-benar anfal. Dia sudah tidak bisa duduk di kursi rodanya lagi. Dia harus dirawat terbaring di atas ranjang karena otot-ototnya tidak bisa menopang beban tubuhnya lagi. Dia juga akan kesusahan menelan makanan."


"Apakah Emeli bisa sembuh Dokter?"


"Bisa saja, tapi kemungkinannya sangat kecil."


Deg.


Rasanya jantung Kayla seperti berhenti mendadak.Kayla berdiri mematung, pikirannya tidak karuan, bagaimana kalau Emeli tidak bisa sembuh?


"Tapi bulan kemarin Emeli mengalami hal yang sama, namun berhasil sembuh, berdoa saja semoga masih sama meskipun kesempatan seperti ini sangatlah langka."


Perkataan dokter ini semakin membuat Kayla tak bersemangat. Sekarang bukan hanya Emeli yang otot-ototnya melemas sepertinya Kayla juga. Wanita itu langsung luruh ke lantai dan ikut pingsan.


Dokter memanggil suster dan menyuruh mereka menangani Kayla sedangkan dia sendiri langsung menelpon Arshaka.


Arshaka yang baru bertemu seorang pengusaha mengernyit tatkala mendapatkan telepon dari dokter yang biasa menangani Emeli sebab hal itu tidak biasa. Sebelumnya dokter tersebut tidak akan menelpon kecuali Arshaka yang menelpon duluan.


"Ya ada apa dokter?"


"Penyakit Emeli kambuh lagi."


Informasi dari dokter tersebut membuat tubuh Arshaka langsung bergetar. Pikirannya memburuk seketika.


"Ada apa Shaka?" tanya lawan bicaranya melihat wajah Arshaka mendadak pucat.


"Kita sambung pembicaraan kita di waktu yang lain saja, anakku masuk rumah sakit lagi."


"Hmm, baiklah, semoga cepat sembuh."


Arshaka mengangguk lalu bangkit dari duduknya dan berjalan keluar kantor. Tubuhnya seperti melayang, kakinya seakan tidak menapak tanah. Semangat hidup Arshaka hilang seketika. Baginya Emeli adalah hidupnya.


Semua yang ia lakukan adalah untuk putrinya. Jika tidak ada Emeli, dia tidak akan berjuang mati-matian mengembalikan keadaan perusahaan apalagi sampai mengabaikan keadaan putrinya hingga terjadi hal yg tidak diinginkan seperti ini. Seharusnya hari ini Arshaka menemani Emeli jalan-jalan daripada harus mencari bantuan sana-sini. Dis tahu Kayla orang baru, dia tidak akan tahu seperti apa penyakit Emeli yang sebenarnya.


Sampai di mobil, ia langsung melajukan mobilnya dengan kencang menuju rumah sakit.


"Emeli!" Arshaka berlari ke arah ranjang putrinya.


Kali ini Emeli sudah siuman, tapi tidak berdaya melakukan apapun, bahkan menjawab panggilan sang ayah pun tidak bisa. Dia seperti orang stroke yang susah untuk menggerakkan bibir. Air liurnya menetes seperti anak disable.


Arshaka memeluk putrinya dengan erat. Air matanya menetes tak tertahankan, kejadian sebulan yang lalu terulang kembali. Yang lebih membuat Arshaka merasa sakit kala menyadari keadaan dirinya tidak lagi sama seperti dulu dimana dia bisa membawa putrinya berobat sana-sini bahkan bukan hanya pada dokter saja, pengobatan alternatif pun ia coba dan tidak hanya satu dua yang dia datangi.


"Kemana Kayla?" Arshaka mengedarkan pandangan ke segala arah, tak nampak perempuan itu.


"Anda mencari siapa Pak Arshaka?" tanya suster menyadari Arshaka mencari seseorang.


"Pengasuh putri saya Sus."


"Oh, tadi beliau pingsan jadi kami rawat di kamar sebelah."


"Allah, cobaan apalagi ini?" Arshaka memijit pelipisnya yang berdenyut sakit, kepalanya terasa berat, tapi dia tidak boleh lemah dan terjatuh.


Arshaka bangkit dan berjalan ke kamar sebelah, tenyata Kayla belum sadarkan diri.


"Apa yang terjadi pada mereka?" gumamnya.


Seorang perawat yang menangis Kayla menceritakan kejadian di mall. Dia mendapatkan cerita itu dari pria yang mengantar Emeli ke rumah sakit.


"Elena apa lagi maunya? Apa dia ingin aku mati?" Arshaka mengepalkan tangan, tanpa diberitahu siapa nama perempuan itu, Arshaka sudah dapat menebak.


Arshaka hendak keluar, namun urung tatkala melihat tangan Kayla bergerak.


"Dia sudah sadar," ucap suster.


Arshaka mengangguk. Kayla membuka mata. Dia menunduk lalu duduk. Dia menunduk tatkala melihat Arshaka ada di hadapannya.


"Maafkan saya Tuan, gara-gara saya Emeli menjadi seperti ini, saya telah–"


"Saya sudah tahu semuanya, sudahlah saya tidak akan menyalahkan kamu."


Kayla terbelalak, tapi tak urung bernafas lega. Arshaka kembali ke kamar Emeli. Kayla menyusul di belakangnya.


***


Satu bulan sudah Emeli di rawat di rumah sakit dan tidak ada perkembangan sama sekali. Arshaka memutuskan untuk membawa pulang dan merawatnya di rumah. Seperti biasa dia selalu membawa putrinya ke pengobatan alternatif.


Kayla masih setia merawat Emeli karena sudah terlanjur sayang pada gadis kecil itu. Dia juga senantiasa menemani saat Arshaka membawa Emeli berobat kemanapun.


Arshaka tidak menyangka Kayla begitu telaten merawat Emeli, bahkan di atas ekspektasinya terhadap wanita itu. Kayla tidak pernah terdengar mengeluh sedikitpun.


"Kayla aku ingin bicara," ujar Arshaka pada suatu malam setelah mereka berdua memastikan Emeli tertidur.


Kayla mengangguk dan keduanya beranjak keluar dari kamar Emeli. Arshaka mengajak Kayla duduk di ruang keluarga. Sebelum berbicara, terlebih dahulu pria itu menghela nafas panjang.


"Kamu sudah tahu, kan akhir-akhir ini bagaimana keadaan perusahaan?"


Kayla mengangguk.


"Dan biaya pengobatan Emeli cukup besar."


Kayla mengangguk lagi.


"Oleh karena itu aku tidak bisa menggajimu sebesar dulu lagi. Jika kau ingin mengundurkan diri, silahkan! Aku tidak akan mengekangmu di sini."


"Aku tidak masalah jika tidak digaji sekalipun. Bagiku mendapat tempat berteduh dari panas dan hujan serta tidak kelaparan sudah lebih dari cukup. Aku tidak ingin meninggalkan Emeli. Aku tidak ingin jauh-jauh darinya. Bagiku, dia seperti putriku sendiri."


"Kayla." Mata Arshaka nampak berkaca-kaca. Kayla benar-benar wanita yang tulus.


Bersambung.