Genius Little Girl

Genius Little Girl
Bab 16. Mengamen



Tidak seperti biasanya. Pagi-pagi buta saat matahari baru menyingsing di ufuk timur, Emeli mengajak Kayla berjalan-jalan di dengan alasan jenuh berada di rumah terus. Kayla yang juga merasakan hal yang sama menyanggupi permintaan Kayla. Dia butuh refreshing setelah apa yang terjadi padanya akhir-akhir ini. Ia harus tetap waras karena perjalanan hidupnya masih panjang.


Mereka berjalan-jalan berkeliling kota dengan angkutan umum, tak mau merepotkan Arshaka yang selama ini sampai tidak fokus dengan pekerjaannya. Keduanya ingin memberikan ruang bagi Arshaka untuk serius pada dirinya sendiri.


Seharian Kayla dan Emeli menyibukkan diri dengan kegiatan yang tidak direncanakan itu. Keduanya merasa bahagia saat bermain bersama di luar rumah. Kayla membawa Emeli ke pusat permainan dimana sebelumnya tempat itu tidak pernah terjamah oleh Emeli karena minder dengan kondisinya. Dia malu jika anak-anak lain melihat dirinya.


Namun, kali ini Emeli tidak mengingat lagi akan hal itu. Dia begitu senang bisa bermain dengan Kayla meskipun dengan kondisi yang terbatas. Anak itu seakan melupakan keadaan dirinya, begitu pun dengan Kayla, bisa melupakan teror-teror yang menghantuinya selama ini.


Sore hari sebelum jam 4 Kayla mengajak Emeli pulang.


"Tante kita ke kantor ayah," ajak Emeli saat angkutan umum yang dia kendarai melintasi gedung perkantoran milik ayahnya.


"Emang boleh?" tanya Kayla, takut-takut kedatangan mereka malah menganggu aktivitas Arshaka yang mungkin saja sibuk mengurus pekerjaannya.


"Kenapa tidak? Ayah tidak akan pernah melarang Emeli."


"Oke, kalau itu maumu."


Kayla meminta sopir menghentikan mobilnya dan membayar ongkos. Setelah itu barulah mendorong kursi Emeli ke dalam gedung perkantoran milik Arshaka.


"Tante tunggu di sini! Saya ada perlu sebentar," ucap Emeli lalu memutar kursi roda listriknya ke arah sebelah kanan, dimana ruangan itu merupakan ruangan manager keuangan di perusahaan tersebut.


Kayla mengernyit, khawatir dengan Emeli, Kayla hendak menyusul, tetapi segera ditahan oleh seorang security yang ada di sana.


"Tapi saya tidak mau terjadi apa-apa dengan Emeli," jelas Kayla dengan seraut wajah panik.


"Tenang saja, bersama Pak Gibran, Emeli aman," jelas security tersebut menenangkan Kayla.


"Tapi–"


"Kayla, kamu ada di sini?" tanya Arshaka yang berjalan di belakang Kayla, ternyata Arshaka baru datang ke kantor. Entah ada dimana pria itu sedari pagi.


"Selamat kembali ke kantor Tuan," sapa Toni yang kebetulan melintas lalu mendekat ke arah Arshaka dan menjabat tangan atasannya.


"Terima kasih atas penyambutannya. Bagaimana dengan keadaan kantor pasca aku tinggalkan?" tanya Arshaka berbasa-basi padahal dia memantau dari rumah.


"Ya, masih sama seperti kemarin-kemarin. Saya belum sukses membantu Tuan," sahut Toni dengan ekspresi wajah yang tampak pias. Tidak enak karena selama ini begitu meyakinkan Arshaka bahwa dirinya bisa sedikit membuat perusahaan lebih baik, nyatanya tidak berhasil sama sekali.


"Tidak apa-apa, kau sudah keras berjuang." Arshaka menepuk pundak Toni dan tersenyum hangat. Toni masih bertahan saja di perusahaan, Arshaka sudah senang.


"Terima kasih atas semuanya. Ayo balik ke ruangan!"


Toni mengangguk dan mengikuti langkah Arshaka. Baru beberapa Lang Arshaka berhenti.


"Tunggu! Emeli dimana?"


"Di ruangan Pak Gibran," sahut security yang masih stand bye di tempat.


"Oke." Arshaka mengangguk lalu masuk ke ruangan Gibran dan berbicara pada pria itu.


"Aku titip Emeli padamu, Nang antar ke ruangan saya!"


"Baik Tuan."


Arshaka mengangguk lalu keluar dari ruangan manager dan mengajar Kayla ikut serta bersamanya.


"Tidak usah khawatir, Emeli juga dekat dengan Gibran," jelas Arshaka lalu melangkah cepat ke ruangannya. Wajah Arshaka berseri, sepertinya ada kabar baik yang ingin segera diberitahukan pada Toni.


Di ruangan manager, Emeli tampak berceloteh riang tentang kegiatannya seharian ini dan Gibran lebih memilih menjadi pendengar daripada ikut berbicara. Pria ini hanya sesekali menimpali cerita Emeli.


Di tengah-tengah mendengarkan cerita Emeli, ponsel Gibran bergetar. Dengan sigap ia langsung memeriksa siapa orang yang telah meneleponnya.


"Tuan Jeremy! Ada apa dia meneleponku?" gumamnya dengan dahi mengkerut. Tumben sekali pria itu menelponnya setelah sekian lama tidak pernah bertegur sapa.


Gibran berdiri dan berkata, "Sebentar ya, Emeli!"


Pria itu berjalan keluar dari ruangan sebelum melihat anggukan dari Emeli.


"Iya Tuan, sebentar!"


Sepertinya Jeremy tidak sabar karena Gibran tidak menjawab pertanyaannya.


"Ada apa, Tuan?" tanya Gibran saat dirinya sampai di pintu. Lelaki itu melirik ke arah Emeli. Perasaan Emeli tidak enak melihat lirikan Gibran, tetapi gadis itu menunduk dan pura-pura tidak perduli.


"Sudah, sudah beres pokoknya. Saya sudah melakukan sesuai perintah," ujar Gibran meyakinkan sambil melangkah cepat meninggalkan ruangannya.


Deg.


Jantung Emeli memompa lebih cepat.


"Apa yang mereka bicarakan?"


Emeli yang merasa curiga langsung mengikuti langkah Gibran dengan hati-hati dan bersembunyi dibalik tembok.


"Iya, saya sudah mengasingkan wanita itu dan Tuan tenang saja di tidak akan kembali karena tempatnya jauh dari Jakarta."


"Siapa yang diasingkan? Wanita siapa?" Otak Emeli bekerja keras.


"Kenapa hanya diasingkan? Bukankah aku menyuruh untuk membunuhnya! Apakah perempuan itu masih hidup?" Terdengar samar-samar suara Jeremy dari balik telepon.


"Astaghfirullahal adzim." Emeli mengelus dada. Tidak menyangka kakeknya sekejam itu.


"Aku hanya membawanya pindah dari kota ini untuk lebih mudah menghilangkan jejak kemudian menyuruh orang lain untuk memusnahkannya. Jadi Tuan Jeremy tenang saja semua sudah beres."


Tangan Emeli bergetar.


"Hah! Awas kalau kau menipuku!" Suara Jeremy terdengar lebih jelas.


Ponsel Emeli yang tadinya dipakai untuk merekam pembicaraan Gibran dan Jeremy terlepas begitu saja dan terjatuh menimpa badan kursi roda lalu tergeletak di samping kakinya.


"Apa itu?" Gibran panik.


Emeli yang tersadar buru-buru menginjak ponselnya lalu menekan tombol kursi roda listriknya agar bisa berjalan sendiri dengan cepat.


"Sebentar Tuan, sepertinya ada yang menguping pembicaraan kita." Gibran segera menutup telepon dan langsung berjalan ke arah dimana bunyi tadi terdengar.


"Sepertinya tadi dari sini." Segera Gibran berlari untuk mengejar.


Nafas Emeli ngos-ngosan, kalau sampai ketahuan maka nyawanya akan menjadi korban selanjutnya, begitu pemikiran anak itu.


"Ah, sial!" Emeli memukul kursi rodanya tatkala saat dia ingin mencoba mengontrol tombol agar bisa berjalan lebih cepat, kursi roda tersebut malah kehabisan baterai sedangkan derap langkah orang berlari sudah terdengar di belakang.


"Kenapa Emeli?" tanya sekretaris Arshaka yang kebetulan melihat Emeli.


"Ini Tante baterai kursi rodaku habis padahal aku ingin ke ruangan ayah," sahut Emeli sambil memungut ponsel.


"Oh, mari Tante bantu dorong."


Emeli mengangguk sambil tersenyum walaupun hatinya ketar-ketir.


Gibran mencari-cari siapa orang yang telah mengupingnya tapi. Melihat Emeli berbicara dan sekretaris di perusahaan itu sambil tersenyum dia yakin bukan Emeli orang yang dicarinya sebab jika anak kecil mendengar tentang pembunuhan pasti raut wajahnya akan ketakutan.


"Ah, semoga hanya perasaanku saja, barangkali tadi ada yang kebetulan lewat dan menjatuhkan sesuatu," ujar Gibran lalu menghela nafas lega.


***


Malam hari setelah kembali dari kantor, Emeli, Arshaka, dan Kayla tampak menikmati makan malam sambil sesekali berbicara. Tiba-tiba seorang pria sudah berdiri di belakang Kayla dan Emeli dan menghadap Arshaka.


"Arshaka, putuskan malam ini juga!"


Emeli kaget mendengar suara Jeremy di belakang ia duduk. Masih sangat jelas di ingatan pembicaraan pria itu dengan Gibran tadi sore.


"Ada apa Ayah? Mari makan bersama," ujar Arshaka.


"Ini waktu terakhirmu untuk menyelamatkan masa depan. Usir gadis desa ini dan nikahi Elena! Maka semua akan kembali seperti semula."


Kayla mematung dan Emeli terlihat syok. Arshaka memandang Jeremy dengan tatapan datar.


"Aku tidak bisa Ayah!" tolaknya dengan suara halus.


"Cih, tenyata kau lebih memilih gadis kampung yang murahan ini daripada wanita berkelas seperti Elena!" Jeremy terlihat geram.


"Bukan harta yang membuat wanita tampak berkelas Ayah, tapi kebaikan dan ketulusan hatinya," lanjut Arshaka.


Jeremy tersenyum sinis.


"Oh jadi kau pikir tidak butuh harta? Aku ingin tahu seperti apa kau jika tidak ada harta milikku. Keluar kau dari rumah ini dan jadilah gelandangan!" Suara Jeremy menggelegar dengan tangan menuding Arshaka.


"Baik." Arshaka bangkit dari duduknya dan hendak membawa Emeli.


"Tuan, biar aku yang pergi saja," cegah Kayla.


"Tidak Kayla, ini bukan tentang kamu saja. Aku tidak mungkin menikahi Elena karena bisa saja dia menyiksa Emeli. Ayo bantu Emeli berkemas. Kita pergi dari sini sekalian juga!"


Akhirnya Kayla mengangguk dan pergi mengepak barang-barang Emeli dan juga punya dia sendiri.


Jeremy mengepalkan tangan, semakin lama Arshaka semakin tidak bisa dia atur.


"Kita akan kemana sekarang Yah?" tanya Emeli saat mereka sampai di mobil.


Arshaka menggeleng, tak tahu harus kemana. Ingin menginap di rumah teman-temannya atau salah satu karyawannya takut menjadi beban untuk mereka.


"Apakah di kantor Tuan tidak ada tempat untuk berteduh sementara?" tanya Kayla.


"Ide bagus, kita ke sana sekarang!" Arshaka lalu putar kemudi menuju perusahaan miliknya.


Ada beberapa ruangan kosong, di perusahaan itu, tetapi Arshaka tetap memilih ruangannya sendiri. Emeli dan Kayla dia suruh tidur di dalam kamar yang ada di dalam ruangannya sedangkan dia sendiri lebih memilih merebahkan tubuh di atas sofa.


Ketiganya sama-sama merebahkan diri dan tidak bisa tidur dengan pikiran yang berkecamuk, memikirkan hari-hari selanjutnya akan seperti apa.


Emeli menatap dinding, ada gitar yang tergantung di sana. Ia bangkit dari berbaring dengan susah payah lalu bergeser dengan posisi duduk hingga ke pinggir ranjang, meraih benda tersebut dengan senyum yang tiba-tiba muncul.


"Bagaimana kalau besok kita mengamen, Tante?"


Kayla mengernyit.


"Mungkin hasilnya tidak akan bisa dibelikan rumah, tetapi siapa tahu bisa untuk bayar rumah kontrakan," cetusnya.


"Emang Emeli bisa nyanyi?" Kayla tidak pernah mendengar anak itu bernyanyi selama ini.


"Bisa," ucap Emeli lalu memetik gitar, sebuah lagu barat ia lantunkan dengan begitu merdu dan Kayla begitu menikmati suara Emeli yang syahdu di tengah malam itu.


"Tante akan mendukung apapun yang Emeli lakukan selama itu berpengaruh baik untukmu," ujar Kayla saat Emeli menyelesaikan lagunya. Sekali lagi senyum manis tertoreh di bibir gadis itu.


"Tante yang tebaik, dengan adanya Tante di samping Emeli, Emeli seolah merasakan ada sosok mami yang selalu menjaga Emeli," ucap gadis itu dengan tatapan mata sayu. Dia sangat merindukan ibunya meskipun tidak pernah melihat secara langsung.


"Tidurlah, hari sudah semakin larut. Besok kita harus bangun pagi dan semangat mengamen." Kayla membelai rambut Emeli. Anak itu mengangguk dan merosot hendak berbaring. Kayla membantunya.


"Kalian belum tidur? Tidurlah!" perintah Arshaka di depan pintu lalu kembali ke tempatnya semula.


Bersambung.