
"Tante bangun Tante!" seru Emeli sambil mengguncang tubuh Kayla, namun wanita itu tidak bergeming sama sekali.
"Tante bangun, jangan tinggalkan Emeli! Kalau Tante pergi siapa yang akan menjaga Emeli. menyayangi Emily sebesar tante menyayangi," ucap Emeli sambil terisak.
"Bangun Tante! Bangun! Hiks, hiks, hiks." Emeli menyeka air matanya.
"Emeli ada apa?" Arshaka berlari ke arah putrinya mendengar Emeli menangis.
"Tante Kayla, Ayah. Tante Kayla–"
Tatapan mata Arshaka langsung beralih ke lantai dan kaget melihat Kayla tidak sadarkan diri.
"Innalilahi," ucap Arshaka lalu meraih tubuh Kayla dan menggendongnya ke atas kasur.
Emeli langsung menangis kencang.
"Emeli sudahlah jangan menangis terus!" ucap Arshaka sambil mencari minyak kayu putih untuk dibalurkan pada tubuh Kayla.
"Emeli sedih Ayah setelah ini Emeli tidak akan bertemu Tante Kayla lagi. Kenapa Ayah melarang Emeli menangis? Apa Ayah tidak sayang pada tante Kayla?"
Arshaka menautkan kedua alisnya, bingung dengan ucapan Emeli.
"Memangnya Tante Kayla mau pergi kemana hingga kamu nggak akan bisa ketemu lagi?"
"Mau dikubur, bukankah Ayah tadi bilang kalau Tante Emeli sudah meninggal?"
"Kapan Ayah ngomong begitu Emeli? Ayah tidak merasa," ucap Arshaka sambil berjalan ke arah rak obat di samping lemari pakaian. Ia mengambil satu botol minyak kayu putih lalu berjalan kembali menuju ranjang.
"Itu tadi Ayah bilang innalilahi, itu kan artinya Tante Kayla sudah tiada," ucap Emeli polos.
Arshaka terkekeh mendengar perkataan dari putrinya.
"Oalah, Ayah pikir apaan. Innalilahi bukan hanya diucapkan saat ada orang yang meninggal, tetapi juga pada saat terkena musibah atau dapat kabar buruk. Seperti sekarang dimana Tante Emeli pingsan," jelas Arshaka sambil mengoleskan minyak Kayu putih pada kening Kayla.
"Jadi Tante Kayla masih hidup?" tanyanya memastikan.
"Insyaallah," sahut Arshaka.
***
"Arshaka kecelakaan, pesawatnya terjatuh saat melakukan penerbangan dari Singapura ke Indonesia. Banyak penumpang yang meninggal termasuk Arshaka," ucap Jeremy dengan mata yang memerah akibat banyak menangis karena merasa kehilangan. Tidak disangka nyawa putranya akan berakhir saat perjalanan pulang dari bertugas di luar negeri.
"Tidak mungkin!" Kayla menggeleng tidak percaya.
"Bagaimana kau bisa mengatakan tidak mungkin? Lihatlah siaran di televisi sekarang juga! Maka kau akan tahu kabar apa yang terjadi hari ini!"
Sekali lagi Kayla menggeleng, dia tidak menggubris perkataan Jeremy.
"Ah, sudahlah kalau kau tidak percaya. Ini semua gara-gara kamu! Gara-gara kehamilanmu yang membuat putraku semakin sibuk bekerja. Harusnya dia tidak pergi sekarang karena bulan ini cuaca sangat ekstrim. Badai dan hujan deras selalu menjadi pemandangan sehari-hari. Namun dia ngotot pergi demi memperjuangkan masa depan kamu dan bayi dalam perutmu walaupun nyawa Arshaka yang menjadi taruhannya. Puas kamu sekarang!" sentak Jeremy membuat tubuh Kayla terhenyak.
"Tuan, jangan katakan apapun, saya tidak percaya pada Tuan," ucap Kayla meskipun tidak bisa dipungkiri hatinya tidak karuan.
"Terserah!" ketus Jeremy lalu meninggalkan Kayla yang duduk mematung.
"Apa iya yang dikatakan papa mertua benar?" tanya Kayla setelah Jeremy pergi. Penasaran ia langsung menyalakan televisi dan memutar berita dunia.
Awalnya Kayla tenang-tenang saja saat melihat berita dari berbagai belahan dunia dalam televisi tersebut.
Namun, rasa lega dan ketenangannya berubah tatkala apa yang dikatakan mertuanya itu ada benarnya. Di dalam televisi diberitakan ada pesawat dari Singapura tujuan Indonesia jatuh menabrak gunung karena pandangan sang pilot terhalang kabut tebal.
"Tidak mungkin, Mas Shaka tidak mungkin naik pesawat itu. Bukankah dia mengatakan akan pulang besok?" Kayla menggeleng, hatinya benar-benar risau.
Segera Kayla meraih ponsel dan menghubungi nomor Arshaka. Namun, nomor suaminya tidak aktif.
"Bagaimana ini? Kenapa tidak bisa dihubungi?" Kayla ketar-ketir.
"Tenangkan dirimu dulu Kayla! Mungkin Mas Shaka sedang sibuk atau mungkin saja masih berada di dalam pesawat sehingga harus mengaktifkan mode pesawat." Kayla terus mencoba berpikir positif agar dirinya tidak down, jujur dia sangat takut mendengar kenyataan yang tidak dinginkan.
[ Semua penumpang dan pilot tidak ada yang selamat. Berikut nama-nama penumpang yang ikut hancur bersama badan pesawat ....]
Tangan Kayla bergetar hebat tatkala membaca salah satu nama Arshaka yang terpampang sebagai korban tewas dari kecelakaan pesawat.
"Mas Shaka!" teriak Kayla histeris. Bersamaan dengan itu ia sadar dari pingsannya. Peluh bercucuran membasahi badan dengan nafas yang tak beraturan.
"Kayla, hei!" Arshaka menepuk pipi Kayla dimana mata wanita itu masih terpejam.
Perlahan Kayla membuka mata dan langsung menatap wajah Arshaka lekat-lekat.
Tubuhnya bergetar hebat.
"Mas Shaka, kau masih hidup?"
Meskipun bingung Arshaka tetap mengangguk juga.
Kayla langsung mendekap erat tubuh Arshaka.
"Apakah dia putri kita?" tanyanya sambil menunjuk Emeli.
"Iya sebentar lagi dia benar-benar akan menjadi putrimu."
"Maksudku, dia putri kandungku?"
Arshaka dan Emeli sama-sama terkejut.
"Jangankan hanya restu, badai dan gelombang kehidupan tidak akan mampu memisahkan kita. Kita akan menjalani semua aral yang melintang dengan selalu bergandengan tangan."
Tubuh Arshaka membeku. Apa yang Kayla ucapkan adalah semboyan hidup yang sering mereka ucapkan tatkala hampir putus asa karena hubungannya selalu ditentang oleh keluarga Arshaka, terutama Jeremy.
"Ternyata kau Kayla-ku. Kayla yang kurindukan setiap waktu. Pantas saja selama ini aku nyaman bersamamu. Emeli dia ibu kandungmu," ujar Arshaka dengan mata yang berkaca. Sedih mengingat kisah mereka dan terharu karena akhirnya dipertemukan lagi di alam yang sama.
"Emeli ... putriku," ucap Kayla lalu beralih memeluk Emeli.
"Tante ... Mama," lirih Emeli dengan air mata yang berjatuhan. Air mata bahagia. Dia tidak pernah menyangka bahwa dirinya masih memiliki ibu kandung.
"Nak, maafkan Mama yang tidak bisa ikut andil dalam membesarkanmu. Mas, terima kasih telah menjadi ayah sekaligus ibu untuk putri kita. Terima kasih telah menggantikan tugasku sampai Emeli sebesar ini."
"Mama!"
"Istriku, Kayla!"
Mereka bertiga berpelukan, melepaskan rindu yang selama ini tidak bisa tersampaikan, dan merasa bahwa rindu mereka sudah tidak bertuan.
Bersambung.