Genius Little Girl

Genius Little Girl
Bab 13. Teror



Emeli begitu bersemangat menikmati pemandangan di desa, dimana suara burung-burung menyatu dengan alam membuat hati damai dan tentram. Para penduduknya terlihat ramah, banyak yang menyapa Arshaka dan keluarga meskipun tidak saling mengenal.


Emeli terlihat akrab dengan beberapa anak di sana. Meskipun awalnya memandang aneh pada Emeli karena memiliki rambut seperti orang lansia, tapi mereka sama sekali tidak pernah mengeluarkan kalimat hinaan seperti anak-anak yang pernah beberapa kali Emeli temui di kotanya, Arshaka menunda kepulangan mereka. Pria itu memutuskan kembali ke kota menjelang malam.


Setelah makan malam dan pamit pada tabib, ketiganya pun menaiki mobil menuju rumah Arshaka.


"Akhirnya kita pulang dengan mengantongi kebahagiaan. Sebenarnya kami tidak pernah menyangka keadaanmu akan pulih seperti semula Emeli, ini seperti keajaiban bagi kami. Semua berkat ayahmu yang terus berusaha ditengah keputusaasaan," ujar Kayla sambil menggenggam tangan Emeli dan gadis itu hanya mengangguk.


"Ini berkat dirimu Kayla, kau yang selalu memberikan semangat, mengatakan Emeli pasti akan kembali seperti semula," timpal Arshaka.


Tak ada senyum yang tertoreh di bibir Emeli, gadis kecil itu sepertinya tidak senang jika harus kembali ke rumah. Dia ingat bagaimana sang kakek memperlakukan dirinya. Dia tidak ingin hal itu terulang kembali.


"Emeli tidak senang?" tanya Kayla melihat Emeli yang murung.


"Senang Tante." Anak itu mencoba tersenyum, namun terasa hambar karena dipaksakan.


"Tidur di sini, kau pasti mengantuk setelah seharian berjalan-jalan!" perintah Kayla sambil menepuk-nepuk pahanya.


Sekali lagi Emeli mengangguk. Kayla membantu Emeli berbaring, tak bertahan lama matanya terpejam.


"Sepertinya dia benar-benar lelah," gumam Kayla.


"Ya, dia terlalu bersemangat hari ini sampai lupa untuk beristirahat, padahal baru sembuh."


"Tuan benar," kata Kayla, beberapa kali menguap. Ia menahan mencoba menahan kantuk hingga akhirnya memejamkan mata karena sudah tidak kuat.


Perjalanan yang melewati jalanan kasar dan berlubang tidak membuat tidur keduanya terganggu. Mereka berdua terlihat nyenyak walaupun beberapa kali badannya terpental.


"Kayla!" panggil Arshaka karena khawatir dengan keadaan kedua wanita yang berada di jok belakang.


"Kayla, sebaiknya kau rebahkan Emeli di sofa saja agar kamu juga bisa berbaring!"


Tak ada jawaban membuat Arshaka menggeleng.


"Yasudah deh," ujar Arshaka pasrah lalu fokus menyetir padahal jam masih menunjukkan pukul 7 malam, tetapi keduanya sudah terlihat seperti berada di tengah malam.


Mengendarai mobil di malam hari membutuhkan perhatian ekstra. Selain keadaan sekitar yang gelap juga bisa saja ada kejahatan yang mengancam.


Arshaka juga harus benar-benar mengendalikan rasa kantuk jika tidak ada yang mengajak bicara seperti sekarang setelah malam-malam sebelumnya tidak bisa tidur dengan nyenyak memikirkan nasib Emeli.


Esok hari barulah mereka sampai di kota Jakarta, sebelum pulang ke rumah terlebih dahulu Arshaka mengajak keduanya makan di sebuah kedai yang ada di pinggir jalan. Setelah kenyang mereka langsung melanjutkan perjalanan kembali hingga sampai di rumah.


"Akhirnya sampai juga," ujar Arshaka lalu merentangkan kedua tangan tatkala mereka sampai di garasi rumah. Tangan Arshaka terasa kaku dan pegal setelah menyetir dalam perjalanan jauh. Di belakang, Kayla langsung mengajak Emeli turun, tapi Emeli enggan mengikuti ajakan Kayla.


"Emeli mau di mobil saja!" kekehnya saat Kayla terus membujuk agar anak itu mau diajak turun. Kayla bahkan sudah merentangkan tangan agar anak itu mau digendong, tetapi Emeli terus saja menggeleng sambil bersedekap dada.


"Biar aku saja!" ucap Arshaka lalu turun dari kursi kemudi dan menghampiri Emeli yang masih duduk di jok mobil bagian belakang.


"Ayo Sayang kita turun, sudah sampai ini? Emeli masih ingat kan dengan rumah kita?"


"Emeli tidak mau turun Ayah, Emily tidak mau bertemu lagi dengan kakek, kakek jahat!"


"Di dalam tidak ada kakek, Sayang. Lagi pula kan ada Ayah sama tante Kayla, jadi kakek tidak bisa ngapa-ngapain Emeli lagi."


Arshaka dan Kayla menghembuskan nafas berat. Mereka membenarkan apa yang dikatakan Emeli. Keduanya harus lebih berhati-hati dan waspada dalam menjaga Emeli. Sebab jika kejadian dulu terulang kembali bisa saja berakibat fatal.


"Maafkan Sayang, kemarin-kemarin itu Ayah dan Tante tidak siap dan tidak waspada. Sekarang kita kan tahu bahwa kakek berniat jahat kepada Emeli, jadi Ayah dan Tante tidak akan lengah lagi. Kami berdua akan selalu waspada dan selalu menjaga Emeli," bujuk Arshaka.


"Janji?"


"Oke deh."


"Baiklah, kalau begitu gendong!" ucap Emeli manja lalu merentangkan kedua tangannya.


Arshaka segera meraih tubuh Emeli dan membawa ke dalam rumah. Kayla berjalan di belakang sambil membawa kursi roda. Sampai di dalam, Emeli didudukkan di atas kursi roda dan Kayla segera membersihkan tempat tidur Emeli. Arshaka kembali ke mobil dan mengambil baju ganti mereka yang dibawa dari desa.


Beberapa saat kemudian, Emeli sudah beristirahat di atas ranjang dan mulai memainkan laptopnya. Arshaka yang sudah sangat mengantuk memilih merebahkan tubuhnya di sofa ruang tamu.


Kayla sendiri beranjak ke kamarnya sendiri untuk menyimpan baju gantinya ke dalam lemari kembali. Setelah membuka pintu, segera ia menekan saklar. Tenyata lampu di kamarnya mati. Segera Kayla menyingkap gorden, untung saja kamarnya yang berada di lantai dua masih sedikit terang karena mendapat pencahayaan matahari dari jendela.


"Sudah satu bulan lebih kamar ini tidak terawat, debu-debu mulai tebal," gumam Kayla lalu membersihkan ranjang dengan kemoceng. Kemudian beralih ke lemari sebelum meletakkan baju-bajunya.


"Nah kalau begini kan glowing, nggak kayak wajahku yang buluk." Kayla terkekeh membandingkan lemari yang mengkilap dengan wajahnya sendiri.


Kayla meraih tas yang ia letakkan di samping pintu lalu membuka resletingnya. Meraih baju-bajunya dan membuka lemari.


Namun, Kayla syok melihat di dalam lemari ada tengkorak menggantung.


"Apa ini?" Dengan tangan gemetar dan nafas yang tidak teratur Kayla meraih benda tersebut. Jantungnya berdetak tidak karuan.


"Di rumah ini tidak dihuni para hantu kan setelah kami tinggalkan begitu lama?" Tangannya yang terulur tidak sampai-sampai pada benda yang ingin disentuhnya karena perasaan takut lebih mendominasi.


Kayla memejamkan mata dan semakin mempercepat gerakan tangannya.


"Lembut, mana ada tengkorak lembut?" Kayla langsung membuka mata.


"Ya Allah, ini hanya kostum, siapa yang ingin mempermainkan aku?" Segera Kayla melempar kostum tengkorak tersebut secara sembarangan hingga tidak sengsara terlempar ke atas ranjang.


"Apa punya Tuan Shaka atau Emeli? Nanti deh saya tanyakan." Dengan cekatan tangannya menata baju-baju ke dalam lemari, tapi Kayla terhenyak kala tangannya terasa menyentuh cairan, dan bersamaan dengan itu bau anyir tercium di hidungnya.


Segera Kayla menarik tangannya dari dalam lemari dan memeriksanya.


"Darah? Kenapa ada darah di dalam lemariku?" tanya Kayla syok. Wajahnya langsung pucat.


Darah semakin mengalir dari dalam lemari hingga mengenai baju yang dipakainya.


"Hah, hah, hah." Nafas Kayla terengah-engah. Dia seperti pasien yang kekurangan oksigen.


Dari plafon juga ada cairan yang menetes hingga mengenai kepala Kayla. Kayla menyingkir dari depan lemari dan berdiri di depan cermin.


"Arrghh!" teriak Kayla histeris, ia yang sangat takut melihat darah dalam jumlah banyak, pingsan seketika.


Bersambung.