Genius Little Girl

Genius Little Girl
Bab. 5. Ada Yang Tidak Suka



Di dalam kamar, Emeli duduk menghadap laptop sambil bersandar di atas ranjang. Sesekali ia tersenyum lalu menggeleng-gelengkan kepala, gemas sekaligus puas dengan orang yang terlihat dalam layar laptopnya.


"Suruh siapa bikin masalah dengan ayah. Setiap orang yang bikin ayah sedih pasti akan berhadapan denganku," gumam Emeli tersenyum licik.


"Ada apa? Kenapa bicara sendiri?" tanya Kayla.


Wanita itu mendekat dengan segelas air lalu naik ke atas ranjang. Buru-buru Emeli menutup laptop karena tidak ingin Kayla tahu apa yang sedang dia awasi saat ini.


"Mau main rahasia-rahasiaan ya sama Tante? Yasudah deh nggak apa-apa. Sekarang waktunya Emeli tidur, tapi sebelumnya jangan lupa minum obat."


Kayla menyodorkan segelas air dan obat ke hadapan gadis kecil itu.


Emeli mengangguk dan langsung meneguk obat beserta segelas air putih. Setelah itu, Kayla membantu membaringkan tubuh anak asuhnya.


"Tidurlah ini sudah malam!" perintah Kayla lalu menutup tubuh Emeli dengan selimut. Emeli memejamkan mata dan tidak menunggu lama gadis itupun terlelap dalam tidurnya.


"Selamat tidur," ucap Kayla lalu beringsut turun dari ranjang. Kayla meraih laptop Emeli dan menaruh di tempat biasanya. Setelah itu barulah meninggalkan kamar Emeli setelah memeriksa gadis itu memang benar-benar tidur.


Di pintu kamar Emeli, Kayla berpapasan dengan Arshaka yang bertanya tentang keadaan putrinya. Kayla mengatakan bahwa Emeli baik-baik saja dan sekarang sedang tidur. Arshaka mengangguk lalu berbalik dan pergi dari kamar Emeli, begitu juga dengan Kayla yang beranjak ke kamarnya sendiri.


Di dalam bangunan yang jauh dari tempat tinggal Arshaka, seorang pria meremas tangannya dengan kuat kemudian mengepal, bangkit berdiri dan tampak mondar-mandir di dalam ruang kerja.


"Sial, siapa yang telah berani melakukan hal ini padaku! Awalnya dia menghilangkan akun media sosialku sekarang malah merambah ke komputer perusahaan. Apa maunya dan kenapa tidak dapat dideteksi oleh ahli IT sewaanku? Sehebat apakah dia? Kalau sampai kutemukan orang itu, akan kuberikan pelajaran hingga dia menyesal seumur hidup."


Tatapan pria itu penuh amarah. Semalaman pria itu tidak bisa tidur memikirkan siapa pelaku yang ingin bermain-main dengannya.


Esok hari tatkala dia kembali ke perusahaan, terdengar kabar yang menarik di telinganya. Beberapa karyawan yang membicarakan tentang anak albino yang meraih juara olimpiade sebulan yang lalu menjadi perhatian Delano.


Ya, Delano nama pria itu, pemilik perusahaan pesaing perusahaan Arshaka.


"Apa yang kalian bicarakan?"


Para karyawan yang sedang bercerita kaget sebab takut terkena amarah karena terciduk bergosip di waktu kerja.


"Anak Albino, putri Muhammad Arshaka?"


Mereka semua langsung mengangguk. Delano meraih ponsel milik karyawannya lalu memperbesar gambar Emeli. Wajahnya tampak memerah sehingga beberapa karyawan terlihat mundur dua langkah karena takut melihat wajah atasannya. Delano mengembalikan ponsel di tangan lalu berjalan cepat ke ruangannya.


Brak


Pria itu langsung menggebrak meja dengan kuat hingga tangannya terlihat memerah. Delano murka mengetahui akan hal itu, sebab dia jadi tahu bahwa Emeli yang telah membantu sang ayah, bahkan telah berani membuat sistem komputer perusahaan miliknya eror untuk beberapa hari.


Sang asisten terlihat kaget dan memandang Delano dengan bingung.


"Kenapa melihatku seperti itu? Cepat cari kelemahan Arshaka dan perusahaannya, pria itu harus hancur!"


"Aku tahu siapa yang bisa membantu ambisi bos itu," ucap sang asisten sambil tersenyum simpul.


"Siapa?"


Pria itu mendekati Delano dan membisikkan sesuatu. Mendengar usul dari asistennya, Delano tersenyum senang.


"Ide yang bagus. Kenapa aku tidak kepikiran ya sedari dulu? Padahal aku tahu gadis itu pasti sangat kecewa karena cintanya bertepuk sebelah tangan. Perhatiannya seperti tidak dianggap oleh Arshaka. Sekarang juga aku akan menemui gadis itu," ujar Delano lalu pergi dari ruangannya.


Kali ini Delano akan mendekati Elena, merayu wanita itu agar meminta pada orang tuanya untuk mencabut saham di perusahaan Arshaka. Delano yakin jika usahanya ini berhasil, hidup Arshaka akan hancur.


Pria itu berjalan melewati para karyawan yang terbengong-bengong melihat perubahan wajah atasannya dalam waktu singkat. Delano sama sekali tidak memperdulikan mereka yang menganggapnya aneh.Yang penting moodnya bagus hari ini.


"Kau tidak akan bisa hidup tenang setelah ini," ucapnya lalu masuk ke dalam mobil.


"Selamat datang kehancuranmu Arshaka!" serunya dengan begitu antusias lalu melajukan mobilnya dengan kencang.


Bersambung.