
Dengan langkah gontai Kayla berjalan ke ruangan dimana Emeli dirawat. Sampai di depan pintu Kayla melihat Arshaka merosot ditepi brankar tempat Emeli dibaringkan. Arshaka tergugu, pria itu terlihat lemah.
"Ini tidak benar, kan Dokter? Apa saya tidak bermimpi?" Kayla ragu dengan apa yang dilihatnya kini. Dalam hati masih berharap semua ini hanya mimpi buruk.
Dokter terlihat mengangguk lemah. Kayla menggeleng pelan, masih tidak bisa mempercayai meskipun di monitor detak jantung Emeli sudah menunjukkan garis lurus.
Kayla mendekat ke sisi ranjang, menatap wajah Emeli yang pucat pasi dan tubuhnya yang terbujur kaku. Wanita itu hanya bisa membeku, ingin menangis pun rasanya tidak mampu. Namun, dalam keadaan seperti ini lebih menyiksa bagi Kayla.
Dokter hendak melepas alat-alat yang menempel di tubuh Emeli, tapi tangan Arshaka menepis tangan dokter. Dia tidak menginginkan alat-alat itu dilepas.
"Tapi Tuan Arshaka, Emeli sudah tiada. Alat-alat ini sudah tidak berguna lagi untuknya," jelas dokter.
"Tidak putriku masih hidup!" teriak Arshaka lalu tersenyum menatap wajah Emeli yang pucat.
"Dia hanya tidur Dok, hanya tidur," tekan Arshaka ujar lalu tertawa dengan air mata yang bercucuran.
"Dokter bodoh, Emeli masih hidup kok dibilang mati." Arshaka terkekeh.
"Tuan–"
Arshaka beralih menatap Kayla yang mematung di sampingnya. Tangannya meraih kedua pundak Kayla.
"Tuan."
"Emeli masih hidup, iya kan, Kayla? Dia hanya butuh istirahat, butuh tidur lama. Dokter tidak paham bagaimana kalau Emeli tidur, bahkan seharian dia bisa tidur kalau dia mau." Wajah Arshaka menatap wajah Kayla dengan ekspresi memelas.
Kayla tidak menjawab, ingin dirinya mengatakan tidak, tapi semua nyata di hadapannya. Emeli sudah tidak bernafas lagi. Ini jelas bukan mimpi seperti yang ia harapkan sebelumnya.
"Katakan Kayla! Katakan dia masih hidup!" sentak Arshaka lalu memeluk erat tubuh Kayla dan menangis dalam dekapannya.
"Sabar Tuan, kita sama-sama merasa kehilangan, tapi saya mohon agar Tuan Arshaka bisa berpikir jernih." Kayla mengusap punggung Arshaka, seperti seperti ibu yang membujuk putranya yang sedang merajuk.
Sontak Arshaka melepaskan pelukannya dan menatap Kayla tak percaya.
"Jadi kau juga ingin mengatakan kalau Emeli sudah tiada? Kau tidak suka Emeli hidup?!" cecarnya membuat Kayla jadi bingung.
Kayla menunduk.
"Bukan begitu maksudku Tuan, tapi–"
Tit tit tit
Bunyi monitor mengejutkan ketiganya. Kayla, Arshaka dan dokter langsung mengarahkan pandangan ke layar monitor. Ketiganya terhenyak, garis lurus tadi berubah menjadi melengkung-lengkung lagi.
"Tuan, Nona Emeli melewati masa kritisnya?" tanya Kayla kaget bercampur senang.
Arshaka hanya menjawab pertanyaan Kayla dengan senyuman lalu fokus menatap Emeli.
Benar saja, dada Emeli terlihat naik turun. Jantung yang sempat berhenti memompa kembali aktif. Dokter segera memeriksa dan menghembuskan nafas lega.
"Kalian benar, Emeli masih hidup," ucap dokter membuat Arshaka dan Kayla saling pandang dan melempar senyum.
"Aku percaya Emeli akan bertahan, dia tidak akan tega meninggalkanku," ucap Arshaka dan dokter mengangguk lalu pamit keluar setelah selesai memeriksa Emeli.
***
Emeli memang bertahan hidup, tapi keadaan tubuhnya bertambah parah, dia lumpuh total. Emeli saat ini hanya seperti boneka yang hanya bisa digerakkan oleh mereka yang sehat.
Suatu hari Arshaka termenung, dia tidak tahu harus mencari pengobatan kemana lagi sementara dirinya juga tidak punya uang. Entah bagaimana nasib perusahaannya, selama ini dia hanya fokus pada putrinya dan tak ingin pecah pikiran dengan memikirkan hal lain.
"Tuan, saya mendengar ada tabib baru di daerah Jawa tengah," ujar Kayla lalu duduk di samping Arshaka.
"Saya pikir kita bisa mencobanya, siapa tahu cocok untuk Emeli," lanjut Kayla.
Arshaka hanya memandang wajah Kayla lalu menunduk.
"Tuan! Apa Tuan tidak tertarik?"
Arshaka mendesah kasar.
"Apa salahnya dicoba?" cerca Kayla.
"Uangku habis Kayla," ujar Arshaka. Pandangannya terlihat datar. Lelah dan putus asa tersirat di wajah tampannya yang sekarang tidak terawat.
"Apa aku harus jual mobil dulu?" Arshaka menggaruk kepalanya yang tidak gatal lalu mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya di atas paha. Berpikir keras apa memang menjual mobil adalah solusi terbaik mengingat dia tidak punya apa-apa lagi. Tidak mungkin dia menjual rumah yang masih merupakan milik Tuan Jeremy.
"Gaji saya masih ada Tuan, ya walaupun sudah ada beberapa yang sudah saya pakai untuk membayar hutang. Mungkin masih cukup untuk berobat ke tabib perkara mobil jangan dijual. Kita membutuhkannya saat membawa Nona Emeli berobat kemana-mana. Sebentar saya ambil dulu." Kayla hendak bangkit, tetapi tangannya ditahan oleh Arshaka.
"Jangan Kayla, itu hakmu!" Arshaka tidak enak selalu merepotkan Kayla. Selama ini wanita itu bukan hanya mengurus Emeli, tetapi juga keperluan Arshaka semenjak para pembantu di rumahnya berhenti bekerja karena Arshaka tidak bisa menggaji mereka lagi.
"Hakku juga bukan untuk dipergunakan dalam kebaikan? Kalau Tuan keberatan anggap saja Tuan hanya pinjam."
Akhirnya Arshaka setuju, dia mengangguk sambil tersenyum.
"Terimakasih banyak, semoga suatu saat kami bisa membalas kebaikanmu."
"Sama-sama dan maaf saya tidak perlu balasan karena saya ikhlas."
"Kau benar-benar tulus, aku bahagia bisa bertemu dengan wanita sepertimu."
"Terima kasih," ucap Kayla lalu menunduk, canggung melihat Arshaka menatap intens wajahnya.
Esok hari, pagi-pagi sekali Arshaka dan Kayla berangkat ke sebuah desa yang berada di Jawa Tengah dengan ditemani seorang perawat untuk berjaga-jaga jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan terhadap Emeli dalam perjalanan, terlebih jika Emeli kehabisan infus.
Setelah melewati perjalanan panjang akhirnya mereka sampai di desa tujuan. Setelah bertanya-tanya pada penduduk setempat mereka bertemu juga dengan tabib yang dimaksud Kayla.
"Putri Anda masih bisa disembuhkan, tapi sebaiknya harus tinggal di sini untuk sementara sampai keadaannya stabil. Saya harus mencari ramuan yang diperlukan, dan sepertinya daun-daun dan akar tanaman yang dibutuhkan untuk pengobatan Emeli sulit untuk didapatkan. Namun tidak perlu khawatir, saya akan terus mengusahakan," ujar Tabib setelah memeriksa keadaan Emeli.
"Baik Pak," ujar Kayla dan Arshaka serempak. Apapun akan mereka lakukan untuk kesehatan Emeli.
Setelah berembug akhirnya Kayla dan Arshaka memutuskan agar Arshaka kembali ke kota dan mengurus perusahaan kembali sedangan Kayla yang akan menjaga Emeli di desa.
Arshaka kembali ke kota dengan perasaan tidak tenang, dia tidak bisa jauh dari Emeli jika putrinya dalam keadaan yang tidak menentu seperti itu. Akhirnya Arshaka hanya masuk kantor satu hari dan menyerahkan semuanya pada Toni. Arshaka kembali ke desa dan menunggui putrinya bersama Kayla.
Satu bulan kemudian, Emeli pulih. Gadis kecil yang selama ini hanya terbaring tak berdaya di atas ranjang sedikit demi sedikit sudah mulai bisa berbicara.
Kayla dan Arshaka sangat bahagia melihat perkembangan Emeli. Kayla selalu bercerita tentang hal-hal yang lucu sehingga Emeli selalu tersenyum.
Berangsur-angsur keadaan Emeli semakin membaik. Kini ia sudah bisa duduk kembali di atas kursi roda.
Mereka memutuskan kembali ke kota, tetapi sebelumnya mengajak Emeli berjalan-jalan melihat pemandangan di desa yang begitu asri. Untung saja Kayla sempat kepikiran membawa kursi roda sehingga mereka bisa leluasa berkeliling walau kadang Emeli harus digendong oleh keduanya secara bergantian mengingat keadaan tanah di desa yang tidak semuanya bertekstur datar.
Bersambung.