
"Tuan proyek baru yang kita bangun terpaksa berhenti di tengah jalan, keuangan kita sangat minim, belum lagi bulan ini gaji karyawan belum dibayar, apa kita rapel saja di bulan depan?"
Pertanyaan manager keuangan di tengah rapat membuat Arsaka langsung memijit pelipisnya. Pening yang ia rasakan kini, tenyata orang tua Delena benar-benar tidak main-main dengan ucapannya dan anehnya Tuan Jeremy mendukungnya. Arshaka tidak menyangka mereka mencampur adukkan antara urusan pribadi dan bisnis.
"Sudah hentikan dulu, kita jalankan yang sudah ada saja. Untuk gaji karyawan sebisa mungkin harus dibayarkan karena mereka punya tanggungan keluarga yang harus dipenuhi kebutuhannya." Meskipun dengan perasaan gamang Arshaka terpaksa mengambil keputusan.
Semua yang hadir di tengah rapat mengangguk dengan gurat wajah penuh kesedihan. Mereka terancam kehilangan pekerjaan jika perusahaan terus menerus dalam kondisi yang seperti ini.
"Aku akan berusaha mencari investor lain, doakan semoga berhasil, tapi kalau tidak mungkin aku yang akan keluar dari perusahaan ini dan biarkan Tuan Jonathan yang mengambil alih. Yang penting kesejahteraan karyawan terjaga."
Semua yang hadir dalam rapat itu memandang wajah Arshaka tak percaya, bagaimana mungkin atasannya itu rela berkorban untuk para karyawan dalam keadaan terdesak. Bukankah seharusnya dia lebih memikirkan nasib keluarganya? Apalagi mereka semua tahu bahwa Emeli butuh biaya pengobatan yang cukup besar. Sikap Arshaka membuat mereka simpati pada pria itu.
"Saya berharap Tuan Arshaka bisa mendapatkan investor lain yang membuat perusahaan ini kembali seperti semula atau bahkan lebih maju lagi. Rasanya kami tak sanggup jika memiliki atasan seperti Tuan Jonatan yang begitu kejam itu, mungkin kalau sampai itu terjadi kami akan memilih out dari perusahaan ini," sahut para petinggi perusahaan lain yang sudah hafal betul dengan tabiat Jonatan.
"Akan aku usahakan, rapat hari ini ditutup!"
Mereka mengangguk dan akhirnya beranjak dari ruang rapat menuju ruangan masing-masing. Mereka bersikap seperti biasa seolah tidak ada yang perlu dikhawatirkan sehingga karyawan bagian bawah tidak tahu kalau perusahaan sedang dalam masa sulit, walaupun pada kenyataannya mereka sudah merasakan hal itu tanpa harus diberitahu.
"Saya akan membantumu," ujar Toni sambil menepuk bahu Arshaka.
"Terima kasih." Arshaka yang tadinya menatap datar ke depan beralih menatap hangat pada Toni. Dia adalah asisten yang banyak membantunya selama ini, terutama saat Emeli kolaps.
"Toni, aku harus pergi, aku harus bergerak secepat mungkin, jika ada sesuatu di perusahaan, kau tangani saja dulu!"
"Baik, Tuan."
Arshaka bangkit berdiri lalu meninggalkan ruang rapat, menyisakan Toni yang berpikir dengan keras.
Arshaka turun ke lantai bawah dan berjalan cepat ke arah mobilnya terparkir. Dengan kecepatan tinggi ia mengendarai mobilnya di jalanan. Tujuannya adalah perusahaan sahabatnya yang selama ini menjalani kerjasama bersama perusahaan miliknya. Arshaka yakin sahabatnya yang bernama Harun itu pasti mau membantu. Pria itu menaruh harapan besar pada sahabatnya ini.
Namun, Arshaka harus menelan pil kecewa saat jawaban Harun jauh dari ekspektasinya. Harun menolak dengan alasan yang tidak jelas menurut Arshaka.
Pria itu meninggalkan perusahaan Harun dan beralih ke perusahaan lain, sayangnya dia gagal lagi untuk mendapatkan investor baru. Lelah akhirnya Arshaka memutuskan untuk pulang.
Wajah sendu Arshaka berubah cerita tatkala melihat Emeli menunggu di depan pintu dengan sumringah.
"Kau belum tidur Sayang?" sapa Arshaka sambil tersenyum manis. Dia tidak ingin menunjukkan wajah sedihnya di depan putri semata wayangnya. Emeli harus selalu melihat itu bahagia agar pikiran anak itu menjadi tenang.
"Aku menunggu ayah, Tante Kayla memasak untuk kita," ujar anak itu dengan wajah yang nampak berbinar.
Arshaka tersenyum sekali lagi lalu mengangguk. "Tunggu, ayah mandi dulu!"
"Oke ayah."
Arshaka membelai kepala putrinya lalu berjalan menuju kamar. Setelah mandi dan berganti pakaian dia turun ke lantai bawah. Di ruang makan Emeli sudah menunggu dengan Kayla.
"Ayah! Ayah! Bagaimana kalau ponsel pemberian paman Abbas, Emeli kasih ke Tante Kayla saja? Kasihan Tante Kaya tidak punya ponsel. Emeli kan sudah punya pemberian ayah, Emeli nggak akan pakai yang lain."
"Hem, boleh saja," sahut Arshaka. Dia bersyukur semenjak bersama Kayla, Emeli menjadi ceria dan tidak emosional seperti dulu. Andai tidak datang masalah baru, hari ini pasti Arshaka akan benar-benar merasa bahagia.
"Terima kasih, kalau begitu ayo kita makan!" ajak Emeli dan ketiganya makan tanpa ada yang bicara.
Selesai makan Emeli pamit ke kamar dan Kayla mengantarkannya sedangkan Arshaka memilih duduk di ruang keluarga sambil menghubungi seseorang. Emeli mengingatkan dirinya pada sosok Abbas. Sayangnya ponsel Abbas tidak aktif dan asistennya mengatakan pria itu sedang berada di luar negeri.
"Ckk, harus pada siapa lagi aku meminta tolong?" Arshaka benar-benar stres memikirkan semua itu.
"Tuan kenapa?" tanya Kayla yang berjalan mendekat, dia keluar dari kamar Emeli hendak mengambil air panas untuk campuran air minum obat di dapur. Emeli lebih suka menelan obat dengan air hangat.
Arshaka yang fokus dengan ponselnya kaget mendengar suara Kayla.
"Ya ampun Kayla, pergilah!" jawab Arshaka membuat Kayla merasa tidak nyaman sebab tidak biasa Arshaka bersikap seperti itu.
"Maaf kalau mengganggu. Kalau Tuan tidak suka Emeli memberikan ponselnya pada saya, saya akan mengembalikan."
Sepertinya Kayla salah paham. Wanita itu beranjak menuju dapur.
Kayla menahan langkah.
"Aku tidak pernah berpikir seperti itu, maaf kalau kata-kataku kasar. Aku sedang stres sekarang. Maaf, sekali lagi maaf."
"Tidak apa-apa Tuan," sahut Kayla lalu melanjutkan langkah.
Dari kamar Emeli menelpon, menyampaikan bahwa Kayla mengajak jalan-jalan besok. Arshaka menyetujuinya karena Emeli memang jarang keluar. Berharap dengan Kayla membawanya dia jadi terhibur dan tidak takut lagi jika diajak keluar rumah.
"Kayla!" panggil Arshaka saat Kayla keluar dari dapur sambil menenteng sebuah termos air panas.
"Ada apa Tuan?"
"Besok jangan sampai Emeli terpapar sinar matahari begitu lama ya! Kulitnya sensitif."
Kayla mengangguk.
"Yasudah kau boleh melanjutkan aktivitasmu!" Arshaka kembali mengacak-acak ponselnya. Mencari kontak siapapun yang mungkin bisa membantu dirinya.
Esok hari pagi-pagi sekali Emeli dan Kayla pamit pergi agar tidak terlalu panas dan Arshaka kembali berjuang mencari bantuan. Kali ini dia mendatangi seseorang.
"Pak Agam ada di dalam, masih ada tamu," ujar sekretaris Agam saat Arshaka menanyakan keberadaan bosnya. Arshaka menunggu di luar bersama sekretaris itu. Beberapa saat kemudian pintu ruangan terbuka, menampilkan dua sosok pria yang keluar dari sana.
"Delano, ada apa dia menemui Agam?" batin Arshaka mulai merasa tidak beres. Ya, meskipun sudah biasa para pengusaha memang saling berkunjung untuk membicarakan bisnis.
"Jadi ingat jangan pernah mau diajak kerjasama oleh Shaka apalagi kalau sampai menanam modal di sana. Sekarang Tuan Jonatan saja sudah menarik saham karena Arshaka beberapa kali melakukan kecurangan."
Sontak perkataan Delano memunculkan amarah di hati Arshaka. Dengan langkah cepat dia berjalan ke arah pria itu dan mencengkram kerah baju Delano.
"Jadi, kaulah dalang dari semua penolakan yang aku dapatkan?" Arshaka menatap Delano penuh kebencian. Agam sendiri nampak syok.
"Malah menuduh sembarangan lagi! Mereka menolak karena merasa tidak pantas bekerjasama denganmu! Ya, iyalah, orang yang tidak berkualitas seperti kamu tidak pantas memimpin sebuah perusahaan, tahunya hanya merampas klien orang lain!" sorot mata Delano tidak bersahabat.
"Mending jadi pemulung sana! Nanti barang-barang bekas dari perusahaan saya, saya kasih gratis untukmu."
Arshaka yang merasa terhina langsung memukul Delano hingga terjadi perkelahian antara keduanya.
"Hentikan!" teriakan Agam tidak di dengar oleh kedua orang yang beradu otot itu. Hingga terpaksa memanggil security dan mengusir dua orang yang membuat kekacauan di kantornya.
Berita tentang perkelahian antara dua pengusaha menjadi viral di media sosial.
"Dasar Arshaka! Sepertinya Emeli menuruni sikap temperamental dari ayahnya," kesal Elena lalu menaruh ponselnya ke dalam tas.
Saat melihat ke depan dia tersenyum melihat keberadaan Emeli di dalam mall. Dengan langkah cepat wanita itu mendekati Emeli.
"Hai masih ingat dengan Tante?" tanyanya basa-basi.
Emeli tidak menjawab, malas menanggapi Elena.
"Oh ya, BTW, jalan-jalan di sini emang mau belanja? Memang punya uang?" cibirnya.
"Siapa?" bisik Kayla di telinga Emeli.
"Tante Elena yang jagat," jawab Emeli membuat Elena terbelalak.
"Nggak apa-apa katamu jahat yang penting masih kaya. Daripada papamu yang sekarang kere dan bangkrut."
"Apa maksud Tante?"
"Nih lihat, ayahmu datang ke perusahaan orang dan mengemis pertolongan sampai berkelahi begitu." Elena menunjukkan video Arshaka yang berkelahi dengan Delano hingga sudut bibirnya meneteskan darah.
Emeli syok, matanya terbelalak dan otot-ototnya melemas seketika. Penyakitnya kambuh.
Bersambung.