Genius Little Girl

Genius Little Girl
Bab 19. Pura-pura



"Ini pasti gara-gara Papa. Ini semua sudah direncanakan," ucap Arshaka setelah mereka menguraikan pelukan.


"Maksud Ayah, kakek terlibat?"


"Ya, dia pasti merencanakan semuanya," ucap Arshaka begitu yakin.


"Papa mengatakan padaku Kayla meninggal sedangkan dia juga mengatakan pada Kayla aku yang meninggal. Apa ini bukan suatu konspirasi namanya?"


Emeli mencerna kalimat yang disampaikan Arshaka lalu mengangguk paham.


"Aku tidak tahu," lirih Kayla.


"Apa yang terjadi waktu itu, kenapa kau terbaring lemah di atas brankar? Aku pikir kau benar-benar sudah meninggal setelah melahirkan Emeli," ucap Arshaka dengan mata sendu mengingat masa lalu.


"Aku tidak tahu, awalnya aku datang ke rumah papa setelah mendengar nama Mas Shaka tercatat sebagai penumpang yang sudah meninggal. Aku memohon kepada papa agar mau menemani ku mendatangi TKP dan berharap Mas Shaka masih hidup. Siapa tahu berita yang disampaikan hanya hoax ataupun kalau memang benar adanya, bisa saja kamu selamat dalam kecelakaan itu sebab aku sendiri tidak pernah merasakan firasat apapun tentangmu sebelumnya. Aku masih belum bisa seratus persen percaya," ucap Kayla mulai bercerita.


"Emeli apa kau tahu apa yang harus kita lakukan?" tanya Arshaka pada putrinya.


"Tentu saja Ayah, kita akan mencari tahu lebih lanjut, tetapi kita harus pura-pura bodoh dan tidak tahu tentang kebohongan masa lalu di depan kakek ataupun semua orang. Mama harus berpura-pura tetap amnesia. Sepertinya aku tahu siapa yang bisa membantu kita," ujar Emeli lalu tersenyum smirk.


"Kau tahu?"


"Tentu saja Ayah," ucap Emeli lalu menekan kontak seseorang.


"Halo Paman!" sapanya dengan suara tegas.


"Hai Emeli, apa kabar?" terdengar suara seseorang pria dari dalam telepon.


"Baik, Emeli ingin tahu tentang kisah masa lalu," ucap Emeli membuat si penerima panggilan menautkan kedua alisnya.


"Maksudnya?"


"Aku tahu Paman terlibat dalam pelenyapan ibu kandung Emeli," ucap Emeli membuat pria di sana tersentak kaget.


"Emeli aku tidak tahu–"


"Tidak usah mengelak Paman, aku punya bukti atas semuanya. Paman tenang saja aku dan ayah tidak akan pernah membawa paman ke kantor polisi jika Paman bersedia bercerita dengan jujur, begitu sebaliknya."


Tak ada respon dari sana hingga Emeli mengirimkan video yang sempat ia rekam di rumah sakit tempo itu.


"Emeli kau–"


Arshaka tidak menyangka Emeli tahu sesuatu.


"Ba–baik Emeli paman akan ceritakan semuanya. Tolong jangan lapor ke polisi."


"Oke."


Flashback On.


"Pa, tolong antar Kayla ke tempat kejadian, Kayla ingin melihat jenazah Mas Shaka secara langsung," ucap Kayla menatap mata Jeremy lekat. Tatapan iba dan memelas.


"Bodoh!" ucap Jeremy dengan nada suara setengah membentak.


"Pesawatnya kebakaran serta hancur, dan kau jauh-jauh kesana hanya ingin melihat jasad yang sudah berubah menjadi abu?!" kesal Jeremy dengan menatap tajam mata menantu yang tidak diharapkan itu. Sungguh Jeremy tidak suka dengan Kayla ditambah keinginannya yang bagi Jeremy konyol.


"Siapa tahu dari sekian banyak penumpang ternyata ada yang hidup Pa. Mungkin hanya belum ditemukan saja sehingga diberitakan semua penumpang tidak ada yang selamat."


"Sudah kubilang jangan panggil aku Papa! Aku tidak Sudi memiliki menantu miskin sepertimu. Kau tak pantas untuk putraku! Oh ... jangan-jangan kau menggunakan ilmu pelet agar putraku terjerat dalam pelukanmu. Sekarang kau puas setelah Arshaka meninggal? Pergilah jauh-jauh dari kota ini dan jangan ganggu keluarga kami lagi!


"Kayla tidak akan pernah pergi Tuan. Mohon Tuan mengertilah, bahwa kami saling mencintai."


"Bulshet dengan yang namanya cinta. Arshaka bahkan tidak bisa hidup bahagia bersamamu. Enyah kau dari sini dan jangan muncul di hadapanku lagi! Paham!"


Jeremy menghela nafas kasar lalu melangkah menjauh dari Kayla yang terduduk lemas di lantai dengan air mata yang bercucuran.


Jeremy tersenyum pahit. "Kau kira aku akan luluh hanya dengan sujudmu ini? Oh tidak bisa Kayla. Kau harus tahu aku pantang luluh dengan apapun. Sebaiknya kamu pergi sekarang sebelum aku murka!"


"Tuan aku mohon bawa aku kesana!" Kayla mendekap kaki Jeremy sehingga pria itu tidak bisa bergerak.


Bugh.


Jeremy yang tidak suka dengan sikap Kayla langsung menendang wanita itu. Kayla meringis sambil memegangi perutnya yang buncit.


"Dasar perempuan tidak tahu diri! Kalau kau masih berani mengganggu keluargaku, jangan salahkan aku jika kau kuhancurkan!" kecam Jeremy lalu pergi dari hadapan Kayla.


Kayla beringsut di lantai kemudian bangkit dan keluar dari rumah itu dengan bulir bening yang membasahi kedua kelopak mata.


"Mas Shaka, jangan tinggalkan aku," lirihnya. Hatinya terasa perih, dia kembali sebatang kara kini.


"Dasar wanita tidak tahu diuntung!" kesal Jeremy saat memandangi punggung Kayla yang berlalu pergi.


Setelah Kayla tidak terlihat di matanya ia segera menelpon seseorang dan menyuruhnya untuk membuang Kayla ke tempat lain sehingga saat Arshaka kembali sudah tidak melihat wanita itu.


Di perjalanan Kayla langsung disergap seseorang. Wanita itu memberontak dan langsung berlari kencang tak perduli dengan perutnya yang terasa sakit.


Pulang ke rumah untuk mencari ketenangan, nyatanya Kayla dihadapkan pada hal-hal yang menganggu pikirannya. Mulai darah yang berceceran di lantai dan mayat yang tergantung di kamar mandi.


"Tidak ini bukan alam nyata, ini adalah mimpi buruk." Kayla menggelengkan kepala, tak bisa dipungkiri dia sangat ketakutan saat ini.


"Mas Shaka." Tangis Kayla langsung pecah. Beberapa minggu lalu sering mendapatkan teror, tetapi ada Arshaka yang selalu menghiburnya sehingga Kayla masih bisa menghadapi dengan tenang, tapi kali ini ....


"Tidak, aku harus pergi dari rumah ini, kalau tidak aku akan menjadi tersangka dalam pembunuhan pria ini." Rasa takut membuat dirinya harus mengambil keputusan. Segera Kayla mengepak bajunya dan keluar dari rumah itu.


"Tuan wanita itu akan pergi!" lapor seseorang pada Jeremy.


"Bagus biarkan saja dia pergi jauh sehingga tidak menggangu kehidupan Arshaka lagi." Tuan Jeremy tersenyum senang.


"Kau yakin, Jeremy? Apa kau tidak pernah berpikir bagaimana kalau dia kembali setelah tahu Arshaka tidak seperti yang dikabarkan?" Seorang pria di samping Jeremy membuat pria itu mengerutkan kening dan beberapa saat kemudian terlihat risau.


"Jadi menurutmu apa yang harus kita lakukan Tuan Jonathan?"


"Lenyapkan dia maka semuanya akan aman terkendali." Tuan Jonathan tersenyum smirk. Di dalam hati dia tidak mau ketika putrinya menikah dengan Arshaka nanti ada anak Kayla di tengah-tengah hubungan mereka.


"Bagaimana mungkin? Selama ini aku hanya menakut-nakuti Kayla dan tidak pernah ada maksud untuk membunuhnya, kau gila, Tuan Jonathan."


"Ya itu terserah padamu. Namun, aku tidak akan pernah menikahkan putriku dengan putramu jika yang namanya Kayla masih hidup di dunia ini, dan yang terpenting kerjasama kita akan berakhir." Tawa renyah keluar dari mulut Jonathan.


"Tunggu! Tunggu dulu Tuan Jonathan! Jangan gegabah mengambil keputusan."


"Tidak Tuan Jeremy, ini sudah saya pikirkan. Ke depannya aku tidak ingin Kayla menganggu rumah tangga Delena."


"Ba–baik kalau begitu. Bisakah kau membantuku untuk melancarkan aksi ini?"


"Oh tentu saja, mari kita bekerja sama."


Setelah berunding mereka memutuskan untuk mengutus beberapa orang dan malam ini juga suruhan keduanya beraksi.


Melihat ada beberapa orang yang seperti mengejar dirinya Kayla mempercepat langkah kaki dan benar saja mereka juga semakin melangkah lebar saat mengetahui Kayla ingin kabur dalam pengawasan mereka.


Di malam yang gelap Itu Kayla meraih ponsel dalam tasnya lalu mencoba menghubungi taksi online. Namun sebelum tersambung ia terlebih dahulu sudah dicekal oleh dua orang.


"Lepaskan aku!" Kayla memberontak, tetapi tidak berhasil melepaskan diri.


"Tolong!" teriaknya dengan suara kencang dan begitu keras.


Bersambung.