Genius Little Girl

Genius Little Girl
Bab 6. Bangkrut.



"Hai apa kabar Elena?" sapa Delano pada Elena yang sedang nongkrong bersama teman-temannya di sebuah cafe.


"Elena, ada yang cari tuh!"


Elena yang sedang fokus menatap ponsel akhirnya mengangkat wajah dan menoleh. Dia mengernyitkan dahi tatkala melihat Delano berjalan ke arahnya.


"Eh, dia siapa?" tanyanya karena sama sekali tidak mengenal Delano.


Seorang teman membisikkan sesuatu di telinga Elena dan wanita itu langsung kaget.


"Benarkah?"


"Yoi, makanya jangan terlalu fokus dengan Arshaka. Di luaran masih banyak cowok yang cakep dan keren, loh! Arshaka mah nggak ada apa-apanya dibandingkan dia. Udah kaya, belum pernah nikah lagi. Beda dengan Arshaka, sudah duda, ada anak pula. Bukannya jadi istri, elo malah jadi pengasuh anak, hahaha ...."


Seorang teman tertawa renyah membuat Elena menatap tajam ke arah wanita itu.


"Hai! Perkenalkan nama saya Delano."


Delano mengulurkan tangan ke hadapan Elena dan wanita itu pun menjabat tangan pria itu serta mengenalkan namanya sendiri.


"Oh ya, ada yang bisa saya bantu Tuan?"


Delano mengangguk.


"Bisa bicara berdua sebentar?"


Elena memandang kedua temannya dan mereka juga mengangguk.


"Kalau begitu mari kita ke meja yang di sana!"


Elena pun mengangguk, bangkit berdiri dan berjalan mengikuti Delano hingga mereka duduk di kursi dengan posisi berhadapan.


"Oh ya, senang berkenalan dengan Anda."


Delena hanya mengangguk sambil tersenyum.


"Begini, sebenarnya saya sudah lama naksir Anda, hanya–"


Delano sengaja menggantung ucapannya untuk melihat ekspresi Elena.


"Hah iya, maaf Tuan ngomong apa tadi?"


Elena salah tingkah. Ia kedapatan menatap Delano tak berkedip.


"Anda melihat apa dari tadi?" ulang Delano.


"Oh itu, pelayan di belakang Tuan sepertinya mau kemari, eh tapi belok arah," bohongnya dengan suara yang sedikit gugup.


"Oh, ekhem."


Delano terbatuk, lebih tepatnya pura-pura terbatuk hingga suaranya seperti orang berdeham dibandingkan batuk itu sendiri. Sikap itu hanya untuk menyingkirkan sedikit kegugupan di hati pria itu.


"Biar nanti sama pelayan yang lain."


Delano melambaikan tangan hingga seorang pelayan menghampiri meja mereka. Delano hanya memesan minuman karena Elena mengatakan sudah makan bersama teman-temannya tadi.


"Sampai dimana pembicaraan kita tadi?" tanya Delano setelah pelayan pergi.


"Oh itu, sebenarnya saya sudah lama ingin mengatakan bahwa saya menyukai Anda, tapi saya ragu untuk mendekati karena saya lihat Anda bersama Arshaka. Apakah Anda dan dia memang punya hubungan spesial?"


Elena terdiam, dia tidak tahu harus menjawab seperti apa. Mungkin hanya dirinya yang menganggap begitu sedangkan Arshaka sendiri tidak.


"Sebenarnya orang tua kami menjodohkan kami berdua, tapi sepertinya putri Arshaka tidak menyukai saya. Entahlah padahal saya sendiri sudah bersikap baik padanya dan bahkan rela menjadi pengasuh dia disaat Arshaka pergi keluar kota dan kebetulan sedang tidak ada pengasuh. Anaknya temperamental, jadi banyak pengasuh yang tidak betah."


"Wah tulus sekali Anda, tetapi apakah Anda tahu perasaan Arshaka seperti apa pada Anda?"


"Entahlah, sepertinya tidak lebih, dibandingkan dengan perasaan dia terhadap Emeli, padahal sedari kecil saya sudah menyukai Arshaka. Ya, sebelum anak itu lahir ke dunia, tapi Arshaka mungkin tidak pernah menganggap keberadaan dan pengorbanan keluarga kami. Maaf jadi curhat." Elena tertawa garing.


"Tidak apa-apa, Anda boleh menjadikan saya tempat curhat."


"Terima kasih, tapi kalau bisa panggil Elena saja jangan Anda! Sepertinya kata itu terdengar kaku," ucap Elena dan Delano mengiyakan.


"Kalau begitu, panggil aku kamu saja, atau Delano, jangan panggil Tuan!"


"Oke."


"Pengorbanan keluarga, maksudmu?"


"60 persen saham dari perusahaan Arshaka adalah milik orang tua saya. Kedua orang tua kami dulu menjalin kerjasama dengan imbalan Arshaka harus mau dijodohkan denganku. Saya memang bodoh, sangat mencintai Arshaka sejak kecil padahal dia ... ah, sudahlah. Tak pernah sedikitpun memikirkan perasaanku. Saat itu perusahaan ayah Arshaka -Jeremy- sedang berada diujung tanduk."


"Waw, berarti sebenarnya dia bergantung pada keluargamu, kan?"


"Ya, bisa dibilang begitu."


"Dan Arshaka malah menganggap dirimu seperti orang yang tidak penting dalam hidupnya? Tidak tahu terima kasih. Kenapa tidak cabut saja saham di perusahaan dia agar kapok PHP-in anak orang?"


Mendengar perkataan Delano, Elena tampak diam. Dia memikirkan perkataan itu dan membenarkan hingga akhirnya mengambil keputusan.


"Sepertinya idemu bagus juga. Nanti aku kasih tahu orang tuaku. Sudah lelah juga menunggu Arshaka terus-menerus. Mungkin sampai kiamat dia tidak akan pernah menikahi saya."


"Kalau sudah ada yang pasti-pasti kenapa menunggu yang tak jelas?"


Delano menjentikkan jarinya hingga seorang pelayan datang dengan buket bunga di tangan.


"Apa ... kau mau ... jadi kekasihku?" tanya Delano sambil mengulurkan bunga tersebut ke hadapan Elena.


"Secepat ini, saya–" Elena terlihat ragu.


"Ambil bunganya dulu dan jawabannya nanti saja. Aku kasih waktu satu minggu agar dirimu berpikir."


Elena mengangguk dan meraih bunga tersebut. Dalam hati berpikir apa salahnya memilih Delano jika nanti ancaman orang tuanya tidak digubris oleh Arshaka. Toh Delano tidak kalah tampan dari Arshaka dan yang paling penting sepertinya pria itu romantis.


Delano berpamitan setelah memberikan nomor telepon pada Elena.


Sampai di rumah, Elena menyampaikan keluhan tentang Arshaka yang tak pernah membicarakan tentang rencana pernikahan mereka. Padahal tidak hanya satu dua tahun dia menunggu.


Orang tua Elena langsung menelpon Jeremy dan pria itu meminta waktu lagi agar bisa membujuk Arshaka.


Namun, kali ini orang tua Elena yang benar-benar kecewa pada Arshaka yang tidak pernah mau menikahi putrinya langsung mencabut saham tersebut sehingga perusahaan tidak berjalan stabil dan akhirnya bangkrut.


Bersambung.