Genius Little Girl

Genius Little Girl
Bab 10. Selidiki Dia!



"Halo, Kayla ada apa?" tanya Arshaka tatkala mendengar nafas Kayla yang memburu, tak beraturan dari balik telepon. Meskipun tidak ada disamping wanita itu, Arshaka tahu bahwa Kayla habis berlari.


"Nona Emeli Tuan, dia–"


"Kenapa dia?!" sentak Arshaka langsung.


"Ayah Tuan membawa Emeli pergi, Emeli katanya mau dibawa ke panti asuhan," lapor Kayla.


Tut tut tut.


Sambungan telepon langsung diputus oleh Arshaka.


"Tuan! Tuan! Halo Tuan!"


Tak terdengar jawaban dari balik telepon bahkan saat ditelepon lagi nomor Arshaka sudah tidak aktif membuat Kayla putus asa.


"Ya Allah aku harus apa?" Kayla terduduk lemas di lantai sambil mengusap wajahnya. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Rasanya dia tidak punya ide sama sekali.


"Jendela!" Otaknya memerintah keluar rumah melewati jendela.


Kayla berlari ke arah kaca jendela dan menyingkap gordennya. Dia kaget saat menyadari ada teralis yang bisa menghalangi langkahnya keluar.


"Ya Allah, kenapa aku lupa akan hal ini?"


Kemudian Kayla termenung, wajahnya tersenyum melihat dari balik teralis Arshaka berlari memasuki pagar rumah.


"Ya Allah semoga saja Tuan tadi belum pergi membawa Emeli." Kayla melihat kedatangan Arshaka dengan harap-harap cemas.


"Papa! Mau papa bawa kemana Emeli?!" sergah Arshaka di depan Tuan Jeremy. Langkahnya langsung menghalangi langkah pria setengah tua itu.


Emeli di dalam gendongan Arshaka bernafas lega mendengar suara sang ayah.


"Papa hanya ingin membawa Emeli ke rumah sakit. Iya nggak, Bondan?" Tuan Jeremy menyikut lengan pria suruhannya.


"I-ya Tuan." Pria yang dipanggil Bondan itu menjawab dengan suara gugup.


"Kalau dirawat di rumah terus mana bisa cepat sembuh Arshaka? Yang ada malah semakin merepotkan dirimu? Bukankah perusahaan dalam masa sulit?" Tuan Jeremy mencoba beralibi. Namun, Arshaka tahu Tuan Jeremy berbohong.


"Biar saja Emeli di rawat di rumah, toh masih ada dokter dan perawat yang mengontrol dengan rutin?"


"Dan kau meninggalkan putrimu dengan wanita yang tidak jelas itu? Bagaimana kalau dia malah semakin membuat keadaan Emeli semakin parah?"


"Tidak Pa, pengasuh Emeli yang sekarang baik, tidak seperti yang dulu," elak Arshaka tak suka Kayla dijelek-jelekkan.


"Baik katamu?" Tuan Jeremy tersenyum miris.


"Ya," jawab Arshaka datar.


"Hem, kau tidak tahu saja. Kau pikir kenapa aku membawa Emeli keluar dari rumah ini? Karena aku yakin rumah sakit lebih aman untuk Emeli dibandingkan harus tinggal bersama wanita kampung yang kau angkat sebagai pengasuhnya itu. Kau tidak tahu, kan Arshaka apa yang baru saja ia perbuat pada putrimu?"


Kayla mematung, matanya terbelalak tidak percaya, feeling-nya mengatakan bahwa pria tua yang berdiri di luar rumah itu ingin memfitnah dirinya.


Wajah Arshaka merah padam, dia tidak rela Emeli disebut sebagai anak cacat. Kayla yang melihat perubahan wajah Arshaka terlihat meringis, takut-takut Arshaka termakan fitnah ayahnya.


"Hentikan Pa! Sekali lagi papa mengatakan Emeli cacat maka Arshaka akan pergi untuk selamanya dari kehidupan papa!"


Kayla bisa sedikit bernafas lega, ternyata kemarahannya ditujukan pada sang ayah bukan untuk dirinya.


"Oh maaf, Papa tidak sengaja berkata seperti itu, Papa hanya sangat kesal pada wanita yang kau angkat sebagai pengasuh anak ini. Dia benar-benar ingin membunuh Emeli!"


"Tidak, dia berbohong, dia ingin membawa Emeli ke panti asuhan, bahkan dia mengancam akan membunuh Emeli kalau saya mendekat dan merebut Emeli dari tangan ayah Tuan!" teriak Kayla dari dalam. Dia tidak mau tuan gerimi semakin memfitnah dirinya terlalu jauh.


Arshaka langsung menoleh ke arah Kayla berdiri.


"Kayla, kenapa kau tidak keluar?"


"Pintunya dikunci dari luar Tuan, jadi saya tidak bisa mengejar Nona Emeli!"


"Papa!" Arshaka langsung membuka pintu dan Kayla segera berlari keluar.


"Oh kau ingin memutar balikkan fakta ya? Oh, keren sekali wanita ini. Sayangnya putra saya tidak akan pernah mudah terpengaruh dengan wanita manapun. Baginya Emeli lebih dari siapapun. Jadi, kalau ada yang ingin membuat putrinya celaka, maka ada dua pilihan. Out dari rumah ini atau bersiap-siap mendekam dipenjara."


"Saya tidak berbohong Tuan, percayalah padaku. Kalau ada yang ingin sekali mencelakakan Emeli itu adalah Tuan ini sendiri. Tuan ini mengatakan Emeli sangat merepotkan Tuan Arshaka dan juga menjadi penghalang dalam pernikahan Tuan Arshaka dengan Elena. Ayah Tuan juga mengatakan kalau Emily adalah anak pembawa sial dalam kehidupan Tuan," jelas Kayla.


"Jangan percaya Arshaka!" tegas Tuan Jeremy. Dia menatap Kayla geram karena berani mengadu pada Arshaka. Selama ini semua pengasuh yang merawat Emeli menurut pada Tuan Jeremy.


Plak!


Tangannya langsung menampar pipi Kayla hingga terasa panas.


"Ough." Kayla hanya mengusap pipinya sambil meringis.


"Itu untuk orang yang kurang ajar padaku dan ini–"


Tuan Jeremy hendak melayangkan tamparan yang kedua kalinya, tetapi langsung ditangkap oleh Arshaka.


"Hentikan! Aku lebih percaya pada dia dibandingkan Papa!"


Tuan Jeremy terperanjat, tapi bukan syok karena Arshaka mengatakan lebih percaya pada Kayla dibandingkan dirinya, namun melihat wajah Kayla dari dekat membuat dia mengingat seorang wanita di masa lalu.


Pria itu langsung melempar tubuh Emeli dengan kasar hingga infusnya lepas. Untung saja tangan Arshaka dan Kayla kompak menangkap tubuh Emeli.


"Astaghfirullahaladzim." Arshaka dan Kayla hanya bisa mengucapkan istighfar melihat sikap Tuan Jeremy yang keterlaluan.


Tuan Jeremy sendiri langsung berjalan keluar pagar rumah. Sampai di mobil dia menelpon seseorang.


"Pengasuh Emeli sekarang, ya pengasuhnya, selidiki dia!"


Bersambung.