Genius Little Girl

Genius Little Girl
Bab 20. Mulai Berbisnis



"Tak perlu mengeluarkan suara begitu keras, karena di tempat ini tidak akan ada yang mendengarkan teriakanmu," ucap salah seorang suruhan dengan seringai di wajahnya.


"Berteriak hanya akan membuatmu kehilangan suara sebelum nyawamu hilang dari dunia ini," timpal yang lain membuat Kayla gemetar ketakutan.


"Lenyapkan dia!"


Salah satu dari mereka mengeluarkan pisau dari kantong celananya dan hendak menusukkan ke perut Kayla.


"Tunggu sebentar, jangan gegabah!" Seorang dari mereka mencegah aksi temannya.


"Kenapa kau Menghentikanku Pak Gibran? Bukankah lebih cepat lebih baik?"


"Ini bukanlah tempat yang tepat untuk melenyapkan nyawa seseorang. Kau lihat! Ini jalan raya, meskipun saat ini sedang sepi, tapi tidak menjamin aksi kita tidak diketahui oleh orang lain. Kemungkinan besar tempat ini bisa mendadak ramai."


"Pak Gibran benar, jadi apa yang harus kita lakukan sekarang?"


"Hmm, bawa Kayla ke tempat yang sepi yang tidak akan pernah ada yang bisa memergoki aksi kita!"


Saat semua suruhan dari Tuan Jeremy dan Tuan Jonathan berdiskusi, Kayla tidak tinggal diam, dia menggunakan kesempatan itu untuk kabur.


Setelah menggigit tangan orang yang mengekangnya dia langsung berlari menjauh meninggalkan semua orang.


"Hei dia kabur!" teriak salah satu suruhan Tuan Jeremy.


"Kejar jangan sampai lolos!"


Kayla menambah kecepatan berlarinya agar tidak terkejar musuh.


Malang tak dapat dicegah untung tak dapat diraih. Sebuah truk pengangkut gas elpiji berjalan cepat tanpa awak dalam kondisi terbakar.


Brak.


Wussh.


Kayla langsung pingsan dan tubuhnya terlalap api.


"Wah akhirnya kita tidak perlu capek-capek melenyapkan dia karena dia musnah dengan sendirinya.


Beberapa suruhan Tuan Jeremy nampak tertawa-tawa dan ada yang merekam kejadian itu. Setelah menepuk tangan salah satu dari mereka langsung mengajak yang lainnya pergi.


Berbeda dengan Gibran melihat apa yang terjadi dengan Kayla, pria itu malah membeku, menatap Kayla dengan rasa iba.


Sebenarnya tadi ia ingin mencegah rekannya untuk menusuk Kayla dengan pisau karena memang ingin memberikan jeda agar Kayla bisa melarikan diri, tetapi ternyata malah kejadian yang lebih tragis yang menimpa wanita itu.


"Aku harus segera menolongnya," lirihnya lalu menembus api yang berkobar untuk menyelamatkan Kayla dan membawanya ke rumah sakit. Sampai di rumah sakit setelah meminta dokter untuk menyelamatkan wanita itu Gibran langsung meninggalkan Kayla karena takut ketahuan Tuan Jeremy akibat telah menyelamatkannya.


Kabar terbakarnya seorang gadis oleh truk pengangkut Elpiji terdengar di telinga Jeremy. Awalnya dia bahagia kala mendengar korbannya adalah Kayla. Jadi dia tidak perlu terlibat dalam hilangnya nyawa seseorang. Namun, ia geram saat mengetahui ada yang membawa wanita itu ke rumah sakit.


"Josh kau lihat kondisi Kayla di rumah sakit! Laporkan apapun kondisinya!"


"Baik Tuan Jeremy, perintah Tuan akan saya laksanakan!"


"Pergilah!"


Pria ini mengangguk, menunduk kemudian pergi dari hadapan bosnya.


Di salah satu rumah sakit yang ada di Jakarta. Nampak seorang dokter keluar dari sebuah ruangan.


"Maaf, apa Anda keluarga pasien?" tanya seorang dokter pria dengan mimik wajah khawatir.


"Saya adalah teman dari suaminya dan tadi tidak sengaja melihat dia menjadi korban kecelakaan," sahut Josh.


"Kalau begitu dimana suaminya?"


"Di luar negeri."


"Apa tidak ada keluarga lain?"


"Dia sebatang kara."


"Kalau begitu apakah Anda yang akan bertanggung jawab? Bayi dalam kandungan pasien harus dioperasi kalau ingin selamat."


"Harus ya Dok, bukankah kandungannya masih 6 bulan, apa tidak berbahaya?" Sebenarnya Josh tidak pernah mengkhawatirkan bayi Kayla tapi dia tahu Jonatan sangat tidak menginginkan anak tersebut.


"Tidak masalah umurnya sudah masuk 7 bulan. Keadaan ibunya kritis, takut kedua nyawa mereka sama-sama melayang. dengan melakukan operasi paling tidak ada satu nyawa yang bisa diselamatkan."


"Baik Dokter lakukan apapun yang terbaik menurut dokter," ucap Josh pura-pura, padahal dalam hati ingin hidup keduanya berakhir secepatnya.


"Baik." Dokter pun melakukan tindakan sesar untuk menyelamatkan bayi dalam perut Kayla.


Beberapa jam kemudian.


"Bagus dokter?" tanya Josh seolah benar-benar khawatir. Di belakang mereka Gibran mengintip untuk mengetahui kabar Kayla.


"Bayinya selamat tapi harus di rawat di inkubator sedangkan ibunya mengalami koma."


Penjelasan dokter membuat Gibran terkejut dan segera menemui bayi Kayla yang ada diruang NICU.


Sementara Josh langsung menelpon Jeremy.


"Selamat Tuan, tapi harus diletakan di inkubator."


"Ya biarkan saja, bagaimana pun dia adalah anak Arshaka, aku tak tega jika harus membunuhnya."


"Sekarang apa yang harus kita lakukan Tuan?"


"Aku tahu saat ini Arshaka tidak bisa pulang karena di bandara tempat ia akan melakukan penerbangan sedang ada badai. Jadi penerbangan katanya ditunda."


"Jadi?"


"Saya akan menelponnya dan mengatakan istrinya sudah meninggal. Kau tolong bawakan kain jarik ke sini!"


"Baik Tuan."


Setelah melakukan drama, Jeremy langsung menyuruh anak buahnya untuk membawa Kayla pergi jauh dari rumah sakit bahkan jauh dari kota Jakarta dan membunuh wanita itu di tempat yang sepi.


Josh berpura-pura marah karena pelayanan rumah sakit di sana tidak bagus dan memutuskan untuk memindahkan Kayla ke rumah sakit lainnya.


Gibran yang mengetahui semuanya menyusul dan menyelamatkan Kayla dengan menyamar menjadi orang lain padahal waktu itu dia juga ditugaskan untuk mengawasi anak buahnya yang lain karena takut tidak menjalankan tugas dengan baik.


Gibran meninggalkan Kayla di sebuah rumah sakit dan menjamin biaya wanita itu sampai pulih.


Flashback Off.


"Jadi kau sebenarnya yang menyelamatkan Kayla?" tanya Arshaka saat Gibran menyudahi ceritanya.


"Iya, tapi hanya sekecil itu bantuan yang bisa kuberikan dan mohon maaf selama ini tidak memberitahu keberadaan Kayla di mana karena setelah saya cek lagi waktu itu di rumah sakit, Kayla sudah tidak ada di sana lagi dan saya tidak menemukan wanita itu dimana-mana."


"Tidak apa-apa Gibran, terima kasih atas bantuanmu dan saya juga harus mencari bukti agar bisa menjebloskan mereka ke penjara. Sepertinya kalau hanya mengandalkan ceritamu tidak akan mempan pada mereka."


"Sama-sama Arshaka, semoga kamu bisa menemukan Istrimu lagi dan semoga saja dia masih hidup terlebih menemukan bukti-bukti nyata yang bisa menjerat mereka semua atas kejahatan-kejahatan yang sudah mereka perbuat."


"Ya, terima kasih atas doanya."


Setelah menutup telepon, Emeli ditelpon seseorang.


"Iya Paman, ada apa?"


"Saya setuju dengan permintaanmu. Kau tentukan bisnis apapun yang ingin kamu jalani dan saya yang akan membiayai semuanya dan aturannya, kita bagi berdua hasilnya."


"Siap Paman."


"Bagus, berdiskusilah dengan ayahmu!"


"Oke Paman."


"Siapa Emeli?" tanya Arshaka.


"Paman pemilik cafe tempat Emeli menyanyi sekaligus pemilik rumah sakit tempat Emeli dilahirkan."


"Oh."


***


Satu bulan kemudian.


"Bagaimana jualan online-nya Emeli?"


"Sukses Paman, ini bagian Paman," ujar Emeli sambil memberikan setumpuk uang.


"Wah keren, senang bekerjasama denganmu. Kalau ada keinginan lain bisa sampaikan pada Paman."


"Emeli ingin menjadi property agent, tapi butuh waktu dan modal yang besar Paman."


"Untuk menjadi agen properti tidak membutuhkan dana besar Emeli. Yang penting kecerdasan dalam menggaet pelanggan dan meyakinkan pemilik properti bahwa kamu mampu menjual produk mereka baik itu berupa rumah, vila ataupun apartemen. Butuh pengetahuan dan pengalaman yang kompleks. Jika kau sanggup nanti saya akan mengenalkanmu pada beberapa orang yang bisa membuatmu mewujudkan keinginan itu."


"Maksud Emeli bukan perantara paman tapi ingin langsung bekerja jual rumah."


"Oh gitu?" Pria itu tertawa renyah.


"Tuan, jangan terlalu dipikirkan keinginan Emeli khayalannya terlalu tinggi," ucap Arshka tak enak pada pria di sampingnya.


"Tidak apa-apa Tuan Arshaka. Menurutku cita-citanya bagus. Sebagai orang tua kita harus mendukung dan memfasilitasi anak yang mempunyai cita-cita setinggi langit."


Ucapan Kiano membuat Emeli tersenyum senang.


"Boleh Emeli, nanti Paman usahakan biayanya ada."


"Aaaa ... Beneran Paman?"


"Yup, Paman senang jika kamu berkembang."


"Kenapa Paman perhatian dan percaya pada Emeli?"


"Wajahmu yang albino ini membuat Paman mengingat putri paman yang sudah tiada.


Bersambung.