Genius Little Girl

Genius Little Girl
Bab 17. Pingsan



Pagi-pagi sekali sebelum para karyawan datang ke kantor, Kayla dan Emeli pamit untuk berjalan-jalan di luar. Sengaja mereka pergi pagi agar para karyawan tidak melihat keberadaan mereka di sana sehingga akan menimbulkan tanda tanya di hati setiap orang. Kayla tidak ingin para karyawan Arshaka menatap pria itu dengan iba.


"Ayah, boleh kami bawa gitar ini?" tanya Emeli sebelum mereka pergi.


Arshaka mengernyitkan dahi, bingung kenapa Emeli tertarik pada gitar sebab sebelumnya alat musik petik itu tidak tersentuh oleh Emeli meskipun di rumahnya juga ada dua gitar yang terbengkalai karena sudah lama tidak terpakai.


"Boleh ya Ayah, please!" Emeli merajuk dengan wajah yang terlihat begitu imut.


Arshaka terkekeh geli. Jarang-jarang Emeli seperti itu. Kehadiran Kayla benar-benar mengubah anak yang keras kepala menjadi begitu menggemaskan di mata Arshaka.


"Boleh, tapi apa kamu yakin? Bukankah kamu tidak bisa memakai alat musik yang satu ini?"


"Tenanglah Ayah, Tante Kayla katanya bisa."


"Oh, yasudah, pakailah!"


Emeli mengangguk dengan mata berbinar. Ia menatap gitar di tangan seolah berharap banyak pada alat musik petik itu.


"Makasih Ayah. Ayah Arshaka tiada duanya," ucap Emeli lalu pipinya menggelembung membuat Arshaka semakin gemas pada putrinya.


"Pergilah dan jangan lupa bawa kembali gitar itu nanti. Gitar itu memiliki banyak kenangan masa lalu bagi Ayah," ucap Arshaka dengan tatapan penuh rindu. Rindu pada mendiang sang istri yang dulu sering memetik gitar itu dan bernyanyi bersama di masa-masa mereka masih sama-sama berkuliah.


"Baik Ayah, pesan Ayah pasti Emeli ingat dan kabulkan," sahut Emeli dengan senyum yang menghiasi bibir tipisnya.


"Bagus, pergilah sebelum hari semakin siang!"


Emeli mengangguk.


"Kayla, hati-hati, dan aku titip Emeli lagi."


"Baik Tuan."


Kali ini Arshaka yang mengangguk. Kayla pamit pergi lalu mendorong kursi roda Emeli keluar dari ruangan Arshaka.


"Kita akan kemana ini?" tanya Kayla saat mereka sudah berada di dalam angkutan umum.


"Kemana saja Tan, nanti kalau ada tempat yang ramai kita turun," jawab Emeli dengan wajah yang begitu santai. Berbeda dengan Kayla dimana wajahnya terlihat begitu murung memikirkan nasib mereka ke depannya.


"Eh Pak berhenti di sini saja!" seru Emeli saat melihat ada keramaian di pinggir jalan raya.


Pak sopir mengangguk lalu menghentikan mobilnya kemudian melanjutkan perjalanan setelah menurunkan mereka berdua dan menerima ongkos.


"Wah ada ondel-ondel. Sepertinya ada karnaval," ujar Emeli. Meskipun dia jarang keluar rumah, tetapi ia sering melihat acara tersebut di televisi maupun media sosial.


"Emeli mau melihatnya? Kalau begitu kita tunggu saja di sini, sepertinya acara masih belum dimulai."


"Emeli tidak mau melihat pertunjukan Tante, tetapi ingin melakukan pertunjukan sendiri." Gadis itu cekikikan membuat Kayla yang gemes langsung mencubit kedua pipinya.


"Emeli lapar," rengeknya tatkala melihat seorang penjual karedok di pinggir jalan.


"Kalau lapar makan nasi saja," saran Kayla.


"Apapun itu Tante, yang penting dapat mengganjal perut."


"Oke kalau begitu kamu tunggu di sini sebentar ya! Tante akan memeriksa di sana. Ingat jangan kemana-mana!"


"Oke, Tante." Emeli fokus melihat-lihat gitar dan memetik gawainya sembarangan hingga menghasilkan suara sumbang yang terdengar mengusik telinga orang-orang yang mulai berdatangan untuk menyaksikan acara. Entah itu benar acara karnaval atau pertunjukan lainnya, Emeli tidak perduli. Yang ia butuhkan hanya keramaian yang mungkin saja bisa menyumbangkan uang untuk biaya hidup Emeli dan keluarga. Saat ini Emeli tidak butuh hiburan, tetapi tempat tinggal agar bisa berteduh dengan nyaman.


Bukan hanya suara gitar yang menjadi pusat perhatian mereka, tetapi penampilan Emeli juga menjadi fokus perhatian semua orang.


"Tuh lihat ada anak bule kesasar," ujar seorang ibu-ibu yang membuat ibu-ibu lainnya langsung menoleh karena penasaran.


"Iya yah, cantik tapi juga tuh anak. Coba aja rambutnya cokelat gitu bukan putih pasti akan terlihat lebih cantik," timpal ibu lainnya.


"Sayang lumpuh ya padahal cantik banget," ujar yang lain lagi.


"Eh bukankah itu anak yang pernah viral juga olimpiade matematika dan pandai ngehacker?"


"Sepertinya atau kita mungkin salah orang. Anak itu adalah anak pengusaha sedangkan yang ini sepertinya pengamen jalanan."


Kayla nampak berlari-lari ke arah Emeli dengan satu box makanan.


Selesai makan Emeli langsung menyerahkan gitar pada Kayla dan mulai menyapa dan memperkenalkan dirinya. Hari mulai panas dan Emeli mulai mempersembahkan lagu untuk pengunjung yang semakin banyak berdatangan.


Lagi pertama, lagu berbahasa Inggris sangat memukai para penonton. Emeli pandai mengambil nada juga dalam menghayati sehingga lagu yang bahkan tidak mereka pahami artinya sampai ke hati mereka.


Sorak sorai memenuhi udara dan beberapa orang langsung memberikan uang mereka ke dalam pangkuan Emeli.


Seorang pria yang tertarik dengan suara Emeli langsung menghampiri dan menantang dengan lagu berbahasa Indonesia. Emeli menerima tantangan tersebut dan akhirnya bisa membuktikan bahwa suaranya tetap stabil dalam bahasa apapun. Sorak sorai semakin riuh menyambut hari yang akan semakin siang. Orang-orang kagum dengan suara Emeli yang logat Indonesianya benar-benar kental padahal awalnya mereka yakin Emeli adalah orang luar negeri.


"Emeli kita kembali sekarang! Kamu tidak bisa berlama-lama di bawah terik matahari karena Tante takut kulitmu akan melepuh," ujar Kayla mengingatkan Emeli yang tampak asyik dengan sekitar.


Emeli mengangguk meskipun ia ingin berlama-lama di tempat itu.


"Tunggu! Aku ada penawaran baik untukmu," ujar seorang pria yang memberikan tantangan tadi pada Emeli.


"Katakan Om, saya tidak punya banyak waktu di tempat ini," ujar Emeli. Ia tidak suka berbasa-basi.


"Aku tertarik dengan suaramu yang unik, seunik orangnya."


"Maksud Om?"


"Bagaimana kalau kita kerjasama?"


Emeli mengerutkan kening.


"Kerjasama apa Tuan? Kalau sama-sama menguntungkan boleh," ujar Kayla.


"Saya ingin putrimu nyanyi di kafe saya bagaimana?"


"Kami akan mendapatkan apa?" tanya Emeli.


"Apa yang kamu mau?"


"Saya butuh tempat tinggal," ujar Emeli.


"Boleh kalau begitu sekarang ikut saya. Kebetulan saya ada satu rumah kontrakan yang kosong. Kalian bisa tinggal gratis di sana selama masih bernyanyi di kafe saya."


"Baik penawaran Om saya terima."


"Bagus, kalau begitu ayo ikut saya!"


Emeli dan Kayla saling tatap dan kemudian tertawa bersama. Mereka ikut pria tersebut dan benar saja pria itu mengantarnya pada sebuah rumah kosong yang masih terlihat rapi dan bersih.


Pulang dari rumah kontrakan tersebut Emeli langsung meminta Arshaka pindah ke rumah itu dan menceritakan semuanya. Arshaka tidak keberatan Emeli bernyanyi di kafe. Selain bisa mengembangkan bakat Emeli juga aman di sana karena tidak akan terpapar sinar matahari langsung.


Hari demi hari Emeli fokus dengan pekerjaannya di kafe dan Kayla tidak pernah absen menemani Emeli. Sampai-sampai mereka berdua akrab dengan pemilik kafe dan beberapa kali Emeli diajak ke rumah sakit milik pengusaha kafe tersebut.


"Oh ya Emeli, dulu di rumah sakit Om pernah ada yang melahirkan bayi albino sepertimu. Setahu saya hanya satu orang itu dan saat itu Om langsung mengecek sendiri ke ruangan NICU karena beritanya viral di kalangan karyawan rumah sakit dan bayi itu ada di dalam inkubator."


"Kapan Om?"


"Mungkin sekitar 7 tahun yang lalu. Ah, sudahlah, lupakan! Sudah sangat lama untuk diingat."


Cerita pria pemilik kafe sekaligus pemilik rumah sakit itu membuat Emeli penasaran dan bertanya pada Arshaka di rumah sakit mana Emeli dulu dilahirkan. Dia terkejut karena di rumah sakit itulah dirinya dilahirkan.


Hal itu membuat Emeli termotivasi untuk menyelidiki lebih lanjut. Dia yakin pasti ada rahasia dibalik momen kelahirannya itu.


Awalnya pemilik rumah sakit itu menolak saat Emeli meminta rekaman 7 tahun yang lalu dengan alasan ribet, tetapi setelah menjelaskan panjang lebar dan sedikit desakan dari Emeli membuat pria itu setuju menerima permintaan konyol tersebut.


Emeli sedikit terkejut melihat rekaman cctv di depannya. Baginya sangat aneh, wanita dalam rekaman seperti Kayla walaupun wajahnya hanya mirip sedikit saja. Dia langsung meng-copy dan memberikan pada Kayla.


Kayla terhenyak saat melihat rekaman yang ditunjukkan oleh Emeli. Jasad yang ditutupi kain jarik oleh Jeremy wajahnya persis dengan dirinya, hanya saja sekarang ada bekas luka yang menghitam sehingga membuat siapapun yang bertemu dengannya pasti sulit untuk mengenal Kayla. Lebih parahnya lagi wanita itu masih bernafas.


Kepala Kayla mendadak berdenyut kencang dan tiba-tiba ia pingsan.


"Tante!"


Bersambung.