Friendship In Love

Friendship In Love
Tak terduga



Siangnya, Agung mengusap wajahnya. Lalu Dia menarik nafas dalam-dalam untuk menenangkan diri. Waktunya untuk bicara terus terus terang. Mengatakan sejujurnya apa yang Dia pikirkan. Mulai usaha terakhirnya, sebelum Dia menyesal seperti dulu.


Agung berjalan ke jendela, mengumpulkan pikirannya. Seraya Dia melihat lalu lintas jauh dan halaman gedung dibawah sana.


Lagi-lagi sebuah ketukan pintu ruangannya.


" Masuk!"


Agung memalingkan kepalanya dari jendela dan menatap matanya.Nina lagi-lagi membawa setumpuk dokumen. Sepertinya lima hari Agung tidak masuk, banyak pekerjaan yang menunggunya.


Untuk sesaat Mereka saling bertatapan dan terdiam. Nina hany menatap mata Agung, untuk sesaat. Lalu Dia meletakkan dokumen diatas meja Agung.


" Ini laporan lima hari ini yang belum Bapak lihat." Ujar Nina.


" Ok." Sahut Agung.


Dia melihat dokumen tersebut. Nina pun pamit keluar dari ruang.


" Nin," Suara Agung, Saat Nina berbalik dan sudah memegang knop pintu, tiba-tiba Agung memanggilnya.


" Iya Pak." Sahut Nina seraya membalikkan badannya.


Nina menatap Agung kembali, Nina mencari tahu kenapa Agung memanggilnya. Nina tidak begitu yakin. Tapi Dia tahu saat menemukannya. Karena ada sesuatu yang berubah di mata Agung. Matanya sedikit menjadi lebih lembut.


" Kau..., " Agung terlihat ragu ingin menanyakan langsung pada Nina tentang hubungannya dengan Dimas. Nina terlihat menunggu, apa yang diinginkan manusia dingin didepannya saat ini. Dingin disaat dengannya, Namun tidak dengan wanita-wanita lainnya.


" Kau yakin, semua laporan ini sudah benar?" Tanya Agung membatalkan pertanyaan sebelumnya.


" Iya Pak. Sudah Saya teliti, bahkan sampai tiga kali." Jelas Nina, dalam hatinya sedikit kesal. Bagaimana bisa, Dia menanyakan hal itu. Kalau belum benar, ngapain juga Nina laporkan. Nina menggelengkan kepalanya.


Setelah Nina pergi, Agung kembali duduk dikursinya. Dia melihat dokumen yang menumpuk didepannya. Tiba-tiba pintu terbuka. Alexa mengukuhkan tangannya diambang pintu dan melongok masuk. Dia hanya menggelengkan kepala melihat meja kerja Agung.


" Dimana Dia?"


" Siapa?" Agung mengerutkan keningnya.


" Wanita itu."


Agung langsung terkejut. Apa adiknya tidak ada pekerjaan lainnya, Kenapa Dia ikut campur masalah pribadinya. Agung menatap adiknya dengan tatapan tidak setuju. Alexa menoleh kearah Agung. Dan suaranya tegang.


"Aku baru saja berpikir tentangmu. Kau playboy yang bodoh memurutku."Alexa duduk seraya


mencengkeram kedua tangannya, sepertinya Dia sedang berpikir untuk


untuk membuat Agung sadar.


" Ok kalau begitu."


Alexa lalu tersenyum. Tapi matanya mengucapkan sesuatu yang


sama sekali berbeda.Ini sedikit menyeramkan.Dia lalu keluar dari ruangan. Agung langsung berlari ke pintu. Melihat ke arah mana, Alexa berjalan. Namun Dia hanya terlihat melangkahkan kakinya lurus dilorong, melewati setiap ruangan kerja yang dilaluinya. Agung pun masuk kembali ke ruang kerjanya dan terlihat lega.


Jangan meremehkan Alexa, jelas Alexa mengetahui dari Eko. Nama wanita yang sepertinya membuat Agung menjadi kacau seperti itu. Alexa diam-diam berputar balik dan masuk sebuah ruangan. Linda menghentikan pekerjaannya, ketika seorang wanita cantik masuk tergesa-gesa diruangan kerjanya.


" Apakah Anda Kak Nina?" Tanya wanita itu kepada Linda.


" Maaf bukan." Sahut Linda.


" Nina sedang keluar ke divisi pemasaran."


Tambah Linda.


Linda mengawasi wajah wanita yang baru datang itu. Cantik sekali, Namun raut wajahnya mirip dengan? Linda berpikir sejenak. Iya, mirip dengan Agung. Tak salah lagi, kalau wanita ini mungkin saudara atasannya tersebut.


" Sudah lam perginya?" Alexa duduk dikursi Nina.


Linda menganggukan kepala. Lalu meneruskan pekerjaannya. Menyalin angka jumlah gaji karyawan yang akan dikeluarkan hari ini. Sedang Alexa duduk termenung. Dia membayangkan wanita seperti apa Nina itu? Kalau memandang Linda, Maka Dia akan menemukan seraut wajah manis. Mempunyai daya tarik yang tak kalahnya dengan kekasih kekasih Agung yang pernah dikenalkan padanya. Pasti wanita itu lebih cantik dari Mereka semua. Lantas bagaimana rupa dari kecantikannya itu?


Pintu ruangan terbuka. Agung membelalakkan matanya melihat adiknya diruangan tersebut.


Alexa terbangun dari lamunannya. Dia terkejut dan spontan menoleh. Ternyata Agung berdiri dengan wajah yang tidak bisa dimengerti.


" Sudah lama Kau disini?" Tegur Agung.


" Belum." Alexa mengutuk dirinya sendiri. Bagaimana Dia bisa ketahuan seperti ini.


" Kalau Kau sampai kesini pasti sangat penting." Ujar Agung menepuk bahu adiknya.


" Begitulah."


"Kalau begitu, Ayo makan siang dulu!" Ajak Agung pada adiknya.


" Oya Linda. Jangan lupa sampaikan pada Nina. Laporan sudah Saya lihat semua."


"Baik Pak."


Agung langsung menggandeng adiknya keluar dari ruangan tersebut. Dan mengajaknya makan siang diluar kantor. Tanpa sengaja Mereka berpapasan dengan Nina. Nina hanya tersenyum dan menundukkan kepalanya. Sedangkan Alexa sendiri tidak mengetahui kalau itu Nina. Agung terlihat menggandeng adiknya. Adiknya yang baru kali itu kekantor tersebut, membuat karyawan lain berbisik-bisik.


" Benar-benar. Sainganku berat sekali." Keluh salah satu karyawati.


" Sepertinya tidak ada peluang sama sekali." Sahut lainnya.


Agung hanya tersenyum, sedangkan Alexa mengelus dada. Bagaimana bisa Mereka masih tertarik sama Agung, yang jelas-jelas playboy cap buaya.


" Stupid." Celetuk Alexa.


Mereka berdua masuk ke dalam lift.


Jadi, menurut Alexa. Dia bisa berbuat sesuka hatinya. Jelas Agung terlihat khawatir.


" Kau pergi untuk mengunjungi Nina?"


" Yes."


Agung langsung melotot pada Adiknya tersebut.


" Aku bilang, Aku akan mengatasinya sendiri."Ujar Agung.


Sedangkan dilain tempat. Begitu Nina msuk kedalam ruangan. Linda langsung menyampaikan amanah dari Agung. Nina pun kembali fokus kerja. Begitu jam istirahat, Nina hanya memesan makanan secara online. Secara masih banyak pekerjaan yang harus Dia kerjakan.


Saat jam pulang kerja, Dimas menelepon Nina. Dia bilang akan menjemputnya, Karena Ibunya ingin bertemu. Nina pun menyetujuinya. Secara sudah lama, Nina tidak bertemu dengan Ibunya Dimas tersebut.


Nina menunggu Dimas didepan gedung kantornya. Sesekali Dia membenarkan rambutan yang keterpa angin. Seperti biasa sepasang sosok mata melihatnya. Dia pun tak ingin memandang pemandangan itu lama-lama. Agung langsung masuk ke mobil dan meluncurkan mobilnya keluar dari area kantor. Dimas yang terlihat berpapasan dengannya, merasa tidak asing dengan wajah tersebut. Dia pun berusaha mengingatnya.


Nina langsung masuk mobil Dimas. Dia bertanya mengapa ekspresi Dimas seperti itu.


" Aku seperti melihat seseorang yang kukenal."


" Siapa?" Tanya Nina seraya memasang sabuk pengamannya.


" Agung. Iya , tadi seperti Agung teman SMA Kita," Ujar Dimas membuat Nina langsung terkejut.


" Apa Dia sekantor denganmu?"


Nina pun menganggukkan kepalanya. Dimas terlihat membelalakkan matanya.


" Kenapa Kau tidak pernah cerita?"


" Belum ada sebulan, Dia menggantikan Ayahnya." Jels Nina.


" Dan Dia juga sepertinya tidak mengingatku sama sekali." Tambah Nina.


" Kita benar-benar seperti orang asing. Dia benar-benar sudah berubah."


Dimas langsung terheran-heran mendengar cerita Nina. Bagaimana bisa Agung tidak mengingat persahabatan Mereka sama sekali .


To be continued