
Pak Ferdi nampak gelisah. Sebentar-sebentar Dia menghentikan membaca koran harian sore. Hampir setiap hari lelaki setengah baya itu menghabiskan waktunya dengan membaca dan membaca.
Bagi istrinya itu hal yang membosankan. Tapi itu kebiasaan suaminya untuk menghabiskan hari-hari tuanya. Bu Rina menghampiri suaminya yang duduk dikursi.
" Sejak pulang kantor, Nina tak kelihatan kemana?" Tanya Pak Ferdi selaku Ayah Nina.
" Entahlah, Tadi saat pulang raut wajahnya terlihat sembab." Jelas Ibu Rina menggambarkan tentang kondisi putrinya.
" Barangkali ada suatu problem yang sedang dihadapi?"
" Mungkin Pa, tapi Mama tadi tanya Katanya tidak ada apa-apa."
Pak Ferdi pun terlihat bingung. Dan lalu beliau tanya tentang hubungan Nina dan Dimas pada istrinya tersebut.
" Sepertinya Nina masih memikirkannya Pa." Sahut Bu Rina. Masalahnya kemarin Kedua orang tua Dimas bersilaturahmi ke rumah Mereka. Dan berbincang perihal keinginan Mereka untuk melamar Nina.
" Tidak baik lama-lama menjawabnya." Ujar Pak Roni.
Kenyataan atau bukan, faktanya hari Agung benar-benar membuat Nina sangat syok. Seseorang yang pernah dianggap menjadi sahabatnya, kini telah menyakitinya. Nina tidak tahu cara hidup Agung di USA sana. Mungkin sebuah ciuman baginya biasa saja. Namun tidak untuk Nina. Itu sangat berharga. Dan Nina benar-benar ingin menjaganya, Hal itu hanya untuk pasangan resmi Nina kelak.
Air mata Nina telah kering. Dia memutuskan untuk benar-benar menjauhi Agung. Karena bagi Nina cinta itu adalah mulia. Jika berani merusaknya diawal, berarti itu hanyalah hasrat semata. Dalam lubuk hati yang paling dalam saat ini, Nina benar-benar membenci Agung.
Agung sendiri terlihat pulang ke rumah orangtuanya. Ayahnya belum pulang, masih di USA.
Hanya ada Ibunya dan Alexa, juga beberapa asisten dirumah besar orang tuanya tersebut. Tanpa berpikir panjang Alexa menghampiri Agung.
" Apa ada masalah?"
" Aku sepertinya telah melukai hatinya."Ujar Agung lesu.
Lalu Agung pun bercerita kronologinya.Alexa terlihat menyimak dengan baik. Namun Dia langsung kesal mendengar Agung yang tidak bisa mengendalikan dirinya karena terbakar cemburu.
Alexa pun menghela nafas panjang.
" Stupid!" Celetuk Alexa.
"Makanya Kubilang. Biar Aku yang menyelesaikannya." Ujar Alexa.
Agung menatap adiknya. Lalu Dia mengalihkan pandangannya menuju jendela.
Hari berikutnya,
Dimas terlihat baru saja bangun. Jam sudah menunjukkan pukul sembilan siang. Iya, tadi malam Dimas begadang. Gara-gara kepikiran kejadian siang kemarin. Agung terlihat memang terang-terangan ingin merebut Nina darinya.
Aku harus menemui Nina! Niatnya meletup-letup di dalam dada. Dia meluncurkan mobilnya dijalan raya. Tidak peduli dengan wajah lusuh dan pakaiannya yang kusut. Yang penting Dia mendapatkan jawaban Nina secepatnya. Agar tidak merasa digantung perasaannya.
Sesampainya didepan gedung kantor tempat Nina bekerja. Dia langsung menghampiri resepsionis.
" Selamat siang. Ada yang bisa Saya bantu."Sapa resepsionis sopan.
" Saya ingin bertemu Nina Asyana Karya Cipta Sentosa." Secara disitu sebuah perusahaan yang tergabung dari beberapa anak perusahaan.
" Baik tunggu sebentar. Silah menunggu diruang tunggu."
Dimas pun melangkahkan kaki menuju ruang tunggu. Dan Dia sekarang mengulang kenangan masa lampau. Duduk menunggu Nina yang sedang interview, saat Nina mendapatkan panggilan kerja disitu.
" Dimas? " Nina memastikan.
Nina bingung, mengapa Dimas datang disaat jam kerja begini.
" Kau tidak masuk kantor?" Tanya Nina seraya memperhatikan pakaian Dimas yang kusut, rambut awut-awutan dan sepasang matanya di bagian sudut nampak merah.
Dimas cuma menggelengkan kepalanya.
" Katakan, Apa kekuranganku?" Tanya Dimas to the points.
" Apa maksudmu?" Nina bingung. Kenapa juga Dimas tiba-tiba ke tempat kerjanya dan membahas hal pribadi.
" Apa yang harus Kuperbaiki. Agar Kau bisa memberikan kepastian padaku Nin?" Tanya Dimas.
Sedangkan Agung terlihat menelepon ruang kerja Nina. Sejak tadi pagi, Nina tidak ada terlihat batang hidungnya. Biasanya Dia yang bolak balik meminta tanda tangan padanya. Namun mulai tadi pagi, Linda yang bolak balik meminta tanda tangannya. Nina seperti tidak ingin masuk ke ruang kerja Agung.
Selain merasa bersalah, Agung pun tidak ingin masalah pribadinya menjadi berpengaruh terhadap pekerjaan Mereka. Agung pun menelepon ruang kerja Nina. Namun lagi-lagi Linda yang menjawab teleponnya. Dan menjelaskan Nina baru saja keluar dari ruangan karena ada tamu. Agung pun penasaran. Tidak biasanya Nina ada tamu tanpa konfirmasi ke Agung. Agung kira itu masalah pekerjaan. Agung pun terlihat melangkahkan kakinya, berniat mengecek ke ruang tunggu. Siapa tamu yang ditemui Nina.
Seraya mengedarkan pandangannya dan menyahut sapaan para karyawan dan karyawatinya. Agung menuju lift. Dia masuk lift dan menuju lantai dasar. Begitu keluar dari lift, Dia melangkahkam kakinya menuju ruang tunggu. Namun langkah Agung pun terhenti. Saat melihat yang Nina temui adalah Dimas.
Nina tak bereaksi. Nina masih bingung dengan kedatangan Dimas yang tiba-tiba baginya.
" Jawab Nin?" Dimas masih belum menyerah.
Tanpa Mereka ketahui. Agung sedang memperhatikan Mereka berdua.
" Maafkan Aku." Sahut Nina lirih.
" Aku tidak bisa memaksakan hatiku Dim." Tambah Nina.
Dimas yang tidak ingin Nina menjadi milik pria lain, langsung memeluk Nina.
" Tapi Aku tidak bisa jauh darimu.Kumohon mengertilah!" Nina yang merasa posisi Mereka sedang dikantor berusaha melepaskan pelukan Dimas.
" Sekali lagi maaf." Sahut Nina.
Agung yang sepertinya melihat situasi yang menguntungkan baginya. Dia pun menghampiri ke ruang tunggu.
"Ehm! Ehm! Mohon maaf, kalau berkencan jngan dikantor Saya." Tegur Agung.
Dimas langsung menoleh ke arah Agung. Rasa kesal dan emosi jadi muncul begitu melihatnya. Dia pun berdiri dan lalu menghampiri Agung.
" Kau memang berniat merusak hubungan Kami kan?" Tuduh Dimas.
" Maaf bung. Jangan asal tuduh begitu. Tapi kalau Kalian memang saling mencintai. Seharusnya tidak masalah atau berpengaruh dengan adanya pihak ketiga bukan." Cibir Agung.
Nina yang tidak ingin ada perdebatan, yang mungkin bisa berujung perkelahian langsung menengahi Mereka. Dan menggandeng Dimas keluar dari ruanh tunggu tersebut. Sedangkan Agung terlihat cemburu karena Nina lebih memilih membela dan memperhatikan Dimas, Dibandingkan dirinya.
Dengan kesal Dimas menuruti Nina untuk keluar dari kantor. Dia pun mengantar Dimas sampai mobilnya. Melihat kondisi Dimas yang sepertinya habis begadang malam-malam itu, Nina pun menawarkan untuk mengantarnya. Namun Dimas dengan tegas menolaknya. Nina pun merasa kasihan padanya. Ingin rasanya Nina menerima Dimas. Namun hatinya yang paling dalam menolaknya. Bagaimanapun hubungan yang diawali dengan rasa kasihan, itu biasanya malah akan menjadikan rasa itu sebuah kepalsuan.
Barangkali karena cinta yang tulus selalu menerima seutuhnya pasangan, bukan hanya karena kelemahan yang berujung pada kasihan.
To be continued