Friendship In Love

Friendship In Love
Apartement



Agung pulang ke rumah orangtuanya. Jelas ada adiknya, Alexa yang menyambutnya.


Dia tertawa. "Ya Tuhan, Bisakah kau sedikit rileks.Aku belum


pernah melihat Kau begini tegang, belum pernah.


Sekarang setelah Kau tidak lagi mengenaskan dan sedih, sebenarnya


ini cukup menyenangkan."


Agung menghela nafas dan duduk disofa ruang tengahnya.


Statusnya sekarang dengan Nina saat ini seperti istana dari kartu. Agung sudah berhasil membangun sendiri beberapa lantai, tapi jika ada satu


getaran kecil maka semuanya akan hancur berantakan.


"Kalau kau mengacaukan ini untukku, Aku akan..."


"Kau tahu stres menyebabkan rambut beruban terlalu dini. Kalau Kau


terus begini, Kau akan terlihat seperti Ayah sebelum berumur tiga


puluh." Ucap Alexa memotong kata-kata Agung.


" Aku senang, Kau menganggap semua ini lucu. Tapi Aku tidak akan menerima ikut campurmu terhadap kehidupan pribadiku."


Ini menyadarkannya. Kepalanya miring ke samping. Menilai Agung. Dan


kemudian suaranya tidak lagi meledek.


Sekarang lembut, tulus.


"Aku bangga padamu, Kau tahu. Kau tetap bertahan. melanjutkan


usahamu sampai selesai. Kau sudah dewasa." Alexa tersenyum


lembut.


"Tak pernah terpikirkan kalau Aku akan melihatmu jatuh cinta seperti ini." Dan


kemudian Alexa memeluk kakaknya itu.


"Semuanya akan baik-baik saja.


Aku janji."


Ujar Alexa. Ketika Agung SMA, neneknya terkena serangan


jantung. Setelah Dia memutuskan ke USA, berangkat ke rumah sakit, Alexa berjanji bahwa semuanya akan baik-baik saja.


Ternyata tidak.


"Apa Eko memberitahumu?"


Alexa menggeleng.


"Tidak secara spesifik."


"Jadi bagaimana Kau tahu?"


Alexa mengangkat bahu lagi.


" Aku tidak akan memberitahumu. " Ucapnya lalu berlalu dari hadapan Agung.


Sedangkan dilain tempat, ternyata Ibunya Dimas ingin bertemu Nina karena untuk membicarakan keinginannya. Beliau ingin Nina menikah dengan Dimas. Nina terlihat syok mendengarnya. Bagaimanakah juga Nina menganggap Dimas hanyalah seorang sahabat. Walaupun Dimas pernah terang-terangan menyukai dirinya.Nina memandang Dimas, sedangkan Dimas hanya mengangkat bahunya. Seakan Dia mengatakan kalau Dia juga tidak tahu, Ibunya akan meminta Nina untuk menikah dengan Dimas.


Paginya,


Nina berjalan ke kantor. Dia menuju ruangannya. Lalu menyalakan Laptop, AC dan lampunya. Dia di meja kerjanya sedang menulis dengan cepat di


buku tulis kuning. Saat itu Linda datang.


"Aku kembali. Apa kau merindukanku?"


Nina tidak mendongak.


"Sangat."


" Jadi kerjakan semua dokumen ini." Ujar Nina. Linda langsung memutar kedua bola matanya. Dia baru datang sudah disuguhi dokumen tiga dus.


" Dan segera laporkan padaku, sebelum Aku dimakan Boss yang Kau idam-idamkan itu." Sindir Nina mengingat Linda begitu terobsesi dengan Agung juga.


Selang satu jam berlalu, tiba-tiba telepon ruangan berbunyi.


" Hallo, Dengan Nina sendiri. Ada yang bisa dibantu?"


" Baik Pak!"


Nina lalu mengambil berkas yang sudah disiapkan. Lalu Dia keluar dari ruangan dan menuju ruang kerja Agung. Nina pun mengetok pintu sebelum masuk.


" Masuk." Sahut Agung dari dalam.


Agung terlihat sedang sibuk dengan laptopnya.Sebelum akhirnya mendongakkan kepalanya dan menatap Nina yang terlihat sedang meletakkan dokumen tersebut.


"Nina."


" Iya Pak?" Nina menatap Agung.


" Kau masih bersamanya?" Tanya Agung tiba-tiba membuat Nina terkejut. Bagaimanapun juga hampir sebulan ini, Agung tidak pernah mengungkit masalah pribadi Mereka. Apalagi masa lalu itu.


" Maksudnya Pak?" Nina berpura-pura belum mengerti.


" Dimas. "


" Iya Pak." Sahut Nina.


" Baguslah. Semoga langgeng dan lancar acaranya." Ucap Agung membuat Nina tidak mengerti.


" Acara?"


" Bukankah Kalian akan menikah?" Tanya Agung membuat Nina tambah Syok. Darimana Agung mengetahuinya. Secara Ibunya Dimas saja yang baru berpikir ke arah sana.


" Darimana Bapak mengetahuinya?"


" Jadi itu benar?" Agung malah tanya balik seperti yang Nina lakukan.


Sarkasme adalah pertahanan diri yang paling tua. Nina mengikuti


permainannya.


" Itu privasi Saya. Saya tidak perlu menjawabnya." Sahut Nina lalu membalikkan badannya untuk melangkah keluar dari ruangan tersebut.


" Katanya hanya sahabat." Sindir Agung mengingat dulu Nina pernah berkata, Mereka semua adalah sahabatnya.


Nina terhenti sejenak. Dan lalu menoleh sebentar.


" Saya pikir, Anda malah sudah melupakan itu semua." Sahut Nina lalu membuka knop pintu dan keluar dari ruangan Agung. Rasa kesal jelas menyelimuti Nina. Faktanya Agung benar-benar sudah berubah total.


Hari berikutnya, Agung benar-benar membuat Nina sibuk. Dan yang lebih menyedihkan, Pak Dion mengabarkan pada Nina bahwa untuk sementara Agung yang memegang perusahaan. Karena Pak Dion untuk sementara sedang mengembangkan perusahaan di cabang luar negeri. Mau tidak mau Nina harus bersabar. Agung mulai benar-benar keterlaluan.


Siang itu Nina terpaksa mengantarkan dokumen Agung ke apartemennya. Agung beralasan Dia bangun kesiangan dan tidak enak Boss datang siang-siang. Dia tidak ingin mencontohkan sesuatu yang tidak baik pada bawahannya. Nina yang mendengarnya, rasanya ingin muntah.


Nina menekan bell, setelah benar-benar memastikan itu apartementnya Agung. Sambil merapikan dokumen yang dibawanya, Nina sesekali melirik kearah pintu yang belum terbuka juga. Namum selang beberapa menit, pintu terbuka. Betapa terkejutnya Nina melihat wajah Agung yang masih setengah ngantuk. Sepertinya Dia benar-benar habis begadang tadi malam. Mata pandanya terlihat sangat jelas.


" Bagaimana dengan jadwal meeting siang ini dengan Investor?" Tanya Nina.


" Kau Nanya?"


" Iya,"


" Masuklah dulu!" Pinta Agung.


" Aku ingin langsung ke kantor kembali. Kerjaanku sangat banyak." Sahut Nina.


Agung langsung menarik Nina dan menutup pintunya. Nina sangat terkejut. Detak jantungnya tiba-tiba bedebar kencang.


Agung melihat mata Nina yang syok karenanya. Namun Dia juga gemes dengan wanita didepannya saat ini. Gejolak rasa itupun muncul. Membuat Agung langsung mendorong Nina ke tembok dan mengunci dengan kedua tangannya. Dipandangnya mata Nina lekat-lekat. Nina membuang muka.


" Kalau Kau dendam padaku. Kau tidak perlu menjebakku seperti ini."


Agung tertawa. Agung tahu, Nina berpikir yang tidak-tidak tentangnya. Sebagai seorang wanita, pasti Dia juga termakan rumor yang beredar dikantor Mereka.


" Kenapa? Kau takut? Takut setelah mendengar kenyataan. Bahwa Aku seorang playboy?" Tanya Agung.


" Iya. Aku tidak menyangka. Kau seberubah itu."Sahut Nina terlihat mencibir.


" Kau yang membuatku seperti ini. Kalau saja Kau dulu bisa memilih. Aku tidak akan seberubah ini." Jelas Agung. Dia ingin Nina tahu, bahwa Nina yang membuat Agung berubah.Nina pun langsung menatap Agung. Sahabat yang menghilang tanpa kata tersebut.


" Kau? Aku salah apa? Apa hubungannya denganku? Bahkan Kau pergi ke USA,Aku tidak tahu. Adelia yang memberitahuku." Jelas Nina. Bagaimanapun juga Nina tidak tahu maksud Agung.


Agung pun sadar. Waktu itu dirinya tidak pernah mengatakan suka pada Nina. Bahkan rasa itu Dia sendiri sadar saat Dimas hadir. Dan dirinya menjalin hubungan dengan Adelia. Agung pun langsung melepaskan tangannya dari tembok. Nina pun terlihat lega.Agung melangkahkan kakinya menuju ke kamar mandi.


" Letakkan dokumen diatas meja. Setelah Aku tanda tangani. Baru Kau bisa balik le kantor." Pintanya setengah berteriak.


Nina langsung meletakkan dokumen tersebut diatas sebuah meja. Dan Dia duduk seraya memikirkan kata-kata Agung.


To be continued