Friendship In Love

Friendship In Love
Kesepakatan



Pagi ini Nina sudah terlihat didalam ruangannya. Dia berusaha menyelesaikannya dengan cepat semua pekerjaannya. Mengingat hari ini, Dia ada janji dengan Ibunya Dimas untuk merencanakan persiapan pernikahan Mereka. Tidak selang lama Linda datang. Dia terkejut. Tidak biasanya Nina pagi-pagi datang. Nina yang sadar akan kehadiran Linda, langsung menoleh dan menyapanya.


Linda pun langsung duduk dan mengerjakan pekerjaannya. Satu jam kemudian. Nina terlihat beranjak dari tempat duduknya seraya membawa sebuah dokumen. Dia melangkahkan kakinya menuju ruang kerja Agung. Nina mengetok pintu ruangan tersebut.


" Masuk." Sahut Agung dari dalam.


Agung terkejut. Sudah hampir seminggu rasanya Nina tidak masuk keruangan tersebut. Semenjak kejadian waktu itu.


" Ini dokumen yang perlu Bapak tanda tangani." Ujar Nina dengan nada dingin.


Agung memperhatikan Nina yang tertunduk tanpa memandang ke arah wajahnya. Agung memainkan pulpen ditangannya. Berharap Nina bakal komplain karena menunggu lama. Namum Nina hanya terdiam. Agung mendengus kesal, reaksi yang sangat tidak Agung harapkan. Agung berharap Nina bereaksi kesal terhadapnya. Namun sepertinya Nina tidak terpancing dengan kelakuan Agung. Terpaksa Agung menanda tangani.


" Kau akan segera menikah?" Tanya Agung seraya menandatangi setiap lembar dokumen tersebut.


" Iya." Jawab Nina tanpa kepo Agung tahu darimana kabar tersebut. Yang jelas Nina lagi tidak mood untuk berdebat atau mencari masalah dengan Agung.


" Aku pikir Kau tidak mencintainya." Ucap Agung.


" Bapak salah. Saya sangat mencintainya." Sahut Nina.


Agung langsung mendongakkan kepala. Mereka saling menatap. Dan jelas Nina menatap Agung dengan penuh kebencian.


" Kenapa begitu formal? Kau belum memaafkanku?"


"Itu tidak perlu Bapak tanyakan. Mungkin itu biasa bagi Anda. Namun Saya tidak." Ujar Nina seraya merapikan dokumen-dokumen yang sudah ditandatangani Agung.


Agung pun benar-benar merasa bersalah dan simpati. Bagaimanapun juga, Dia waktu itu tidak ada niat untuk seperti itu ke Nina. Namun tidak tahu kenapa, Dia tiba-tiba tidak bisa mengendalikan emosinya saat mendengar kabar hubungan Nina dengan Dimas. Namun saat ini, Agung terlihat simpati. Secara Nina seperti terpaksa melakukan itu semua.


" Bagaimana kalau Aku membantumu melunasi hutang-hutang Ayahmu, tanpa Kau terpaksa menikah dengan siapapun." Ucap Agung tiba-tiba membuat Nina terkejut.


" Maksud Anda?"


" Aku tahu semuanya. Kau mau menikah karena hutang Ayahmu." Ujar Agung.


Nina terlihat terkejut. Dia menatap Agung penuh tanda tanya. Bagaimana bisa Agung mengetahuinya. Bahkan Dimas juga tidak mengetahuinya. Hanya Nina san Ibunya Dimas yang mengetahui soal itu. Karena hutamg tersebut sudah lama, saat Nina masih kecil. Dan Mereka masih bertetangga. Hingga akhirnya Dimas dan keluarga pindah dan kembali lagi.


" Aku tidak tahu Bapak tahu semua itu darimana. Namun satu, Itu urusan Saya bukan urusan Anda. " Ucap Nina.


Nina langsung membalikkan tubuhnya dan ingin keluar dari ruangan tersebut.


" Bagaimana kalau Aku membantumu. Tanpa Kau harus menikah denganku. Namun Kau cukup berpura-pura menjadi kekasihku, di depan Ibuku."Ucap Agung menghentikan langkah Nina.


Nina menoleh.


" Kau serius hanya menginginkan itu?" Tanya Nina tidak yakin dan ragu. Apakah Agung bisa menepati janjinya.


" Iya. Kau bebas berkencan dengan siapa saja. Begitu juga Aku. Kita mempunyai kebebasan masing-masing. Bukankah Kita dulu pernah bersahabat? Apa salahnya Kita mengembalikan persahabatan itu kembali." Jelas Agung. Nina sedikit tertarik dengan tawaran tersebut. Namun Nina sedikit takut, secara Dia pernah ada perasaan terhadap Agung saat itu. Saat Agung belum berubah seperti sekarang menjadi Playboy.


Agung yang merasa taktiknya sedikit berhasil. Raut wajahnya penuh harap. Agung benar-benar berharap Nina bisa masuk ke dalam taktiknya.


" Bagaimana? Apa Kau tertarik?" Tanya Agung.


Nina masih terlihat ragu. Bagaimana kalau iti semua hanya taktik dan jebakan Agung semata. Namun disisi lain, Dia juga tidak ingin menyakiti hati Dimas terlalu jauh. Apalagi kalau sampai Dimas mengetahui bahwa Dia setuju menikah gara-gara masalah keluarga Mereka. Nina bergelut dengan pemikirannya sendiri. Dan Agung memperhatikan Nina.


" Kalau begitu Saya ingin ada sebuah perjanjian diatas kertas. Apa Kau berani?" Tantang Nina.


Agung berpikir sejenak.


" Baiklah." Jawab Agung sedikit lega. Setidaknya Dia sudah berhasil menggagalkan pernikahan Nina dan Dimas. Agung lalu mengeluarkan sebuah cek.


" Ini, Isi sesuai yang Kau butuhkan. Dan buatlah perjanjian kontrak Kita." Tambah Agung menyerahkan semua urusan kesepakatan Mereka pada Nina.


Nina pun keluar dari ruangan Agung.


" Yes." Agung langsung terlihat girang. Saat itu juga tiba-tiba Nina masuk kembali. Dan Agung langsung pura-pura fokus ke layar laptopnya.


" Maaf Pak. Saya lupa tadi mau menyampaikan info. Untuk jadwal audit ke cabang Kutai hari Rabu besok. "Jelas Nina.


" Baiklah."


Nina kembali keluar dari ruangan Agung. Agung langsung terlihat lega. Dia menyanyi-nyanyi sendiri tidak jelas. Saat itu juga, Eko datang.


"Aku sudah memberikan pelajaran pada kekasih adikmu."


" Thanks." Ucap Agung.


Eko memperhatikan Agung yang terlihat tidak seperti biasanya. Agung terlihat bahagia.


Sorenya, Nina menemui Ibunya Dimas.Dan jelas Dimas terlihat bahagia. Sepertinya Ibunya telah menyampaikan kabar itu padanya.


" Hai Nin. " Sapa Dimas.


" Aku minta maaf atas sikapku yang terakhir kali. Aku tidak bermaksud mengganggu pekerjaanmu." Jelas Dimas.


" Iya Dim. Sebelumnya Aku juga minta maaf. Aku tidak bisa menikah denganmu." Ucap Nina membuat Dimas sangat terkejut.


Ibunya Dimas sangat terkejut. Belum ada dua puluh empat jam juga, Dimas merasa bahagia. Nina pun mengeluarkan sebuah cek dan mengembalikan hutang Ayahnya.


" Apa ini maksudnya?" Tanya Dimas.


Dimas menatap Nina dan juga Ibunya secara bergantian. Dimas tidak mengerti kenapa Nina tiba-tiba membatalkan rencana pernikahan dan menyerahkan sebuah cek.


" Maaf Mama Dim. Mama yang memaksa Nina ... " Belum selesai Ibunya menjelaskan. Dimas memotong pembicaraannya,


" Mama tidak perlu seperti itu untuk membahagiakan Dimas." Ucap Dimas seraya beranjak meninggalkan Ibunya dan Nina diruang tamu.


" Maafkan Saya tante." Ucap Nina seraya pamit. Ibunya Dimas tidak bisa berkata-kata lagi. Secara tidak ada lagi alasan buat Ibunya Dimas untuk memaksa Nina menikah dengan Dimas.


Nina langsung melajukan mobilnya menuju rumah. Dan jelas Ayah dan Ibunya sudah terlihat menunggu kedatangannya. Ayahnya terlihat bingung. Dan Ibunya juga penasaran.


" Bagaimana Kau bisa mengembalikan itu semua?" Tanya Ayahnya yang memang habis dapat telepon dari keluarga Dimas. Namun Nina diam sejenak. Tidak mungkin Dia jujur bahwa Nina membuat kesepakatan dengan Agung.


" Alhamdulillah Nina ada rejeki Pa." Jawab Nina. Lalu Nina melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah dan menuju kamarnya. Nina duduk sejenak dan termenung. Dia berpikir ulang, apakah keputusan dan tindakannya kali ini sudah benar. Secara Nina spontan memutuskan tawaran kontrak tersebut.


To be Continued