
Tidak terasa Mereka sampai dirumah orang tua Agung. Mobil Agung berhenti didepan sebuah rumah.Rumah gedung yang bentuk bangunannya terlihat megah dan elegan.
" Ayo turun! " Ajak Agung kepada Nina. Nina masih terlihat ragu. Namun akhirnya Dia bergegas turun dari mobil. Walaupun Nina nampak kurang bersemangat. Mereka melangkahkan kaki memasuki halaman rumah orangtuanya Agung. Rumah itu nampak mewah dan elegan. Terlihat dari luar, tanaman bunga tertata dengan rapi. Mencerminkan keluarga yang berada. Dan seorang setengah baya menyambut kedatangan Mereka. Dipintu perempuan itu setengah terkejut, namun lalu tersenyum ramah.
" Selamat sore Tante."Nina pun menyapanya seraya tersenyum.
" Sore." Mata Ibunya Agung penuh tanda tanya.
" Oya Ma, Perkenalkan ini kekasih Agung Ma." Ucap Agung langsung membuat Nina terbatuk. Rasanya aneh mendengarnya.
Dengan tersenyum Ibunya Agung dan Nina bersalaman. Beliau terlihat gembira, tapi Nina menelan ludahnya yang dirasa pahit.
" Alexa tidak kelihatan? Ke mana Dia, Ma?"Tanya Agung khawatir.
" Ada di dalam kamar." Sahut Ibunya.
Tidak lama Pak Dion muncul dan sangat terkejut.
" Nina?"
" Iya Pak." Nina tiba-tiba terasa tubuhnya kaku.
Sedangkan Alexa yang merasa sudah sedikit baikan karena kunjungan Devan tadi siang. Langsung keluar dari kamarnya, mendengar suara kakaknya.
" Selamat Sore Pak." Sapa Nina.
" Sore." Sahut Pak Dion. Masih merasa tidak percaya. Agung memperkenalkan Nina sebagai kekasihnya.
" Papa sudah mengenalnya?" Istrinya penasaran.
" Tentu saja Ma. Nina ini orang kepercayaan Papa dikantor." Jelas Pak Dion langsung membuat istrinya terlihat senang.
Lalu Ibunya Agung pun langsung mempersilahkan masuk. Diruang tamu Mereka duduk berkumpul. Alexa yang penasaran pun langsung menyapa Nina.
" Selamat sore Kak." Sapa Alexa. Agung setengah terkejut. Alexa sudah kembali ceria.
" Selamat sore."
Kedua wanita tersebut saling berjabat tangan.
Semua terlihat berwajah ceria. Yang nampak murung hanya Nina. Secara Nina tahu pasti, semua ini hanya sebuah kenangan yang akan tercipta kembali.
Alexa diam-diam memperhatikan Nina dan kakaknya tersebut. Rasanya ada yang aneh dengan hubungan Mereka berdua. Tidak kelihatan seperti pasangan pada umumnya.
" Jadi kapan Kalian akan menikah?" Tanya Ibunya Agung langsung membuat Nina tersedak. Sedangkan Alexa jadi semakin curiga.
" Eee..." Nina gugup dan tidak tahu harus jawab apa. Dia menelan ludah yang terasa pahit, getir. Karena kontrak Mereka sebatas hanya kekasih saja.
Agung yang melihat hal tersebut langsung mencoba membantunya.
" Maksudnya Nina, Dia belum ingin Kita buru-buru menikah Ma." Jelas Agung.
" Tapi, Umur Kalian sudah cukup dewasa. Sudah waktunya untuk menikah. Apalagi yang Kalian tunggu?" Tanya Ibunya.
" Dan Kau Gung. Kau tidak berniat main-main lagi kan?" Tambah Ibunya membuat Nina dan Agung syok seketika itu.
" Tentu saja tidak Ma. Kita serius, benar kan sayang?" Tanya Agung seraya menoleh ke Nina. Dan matanya mengisyaratkan untuk menyetujuinya. Alexa yang diam-diam memperhatikan Mereka, jadi tambah semakin curiga.
" Kalau begitu secepatnya saja.Akan lebih baik jika secepatnya." Ujar Ibunya Agung benar-benar membuat Nina dan Agung sangat syok.
Alexa memandang wajah Mereka berdua yang terlihat sangat terkejut. Nina terpaku, tak ada kata sedikitpun keluar dari mulutnya. Sedangkan Agung terlihat memutar otaknya. Apa yang tengah dipikirkannya? Alexa penasaran.
" Bagaimana, Nak Nina?" Tanya Ibunya Agung membuat Nina tergagap. Pak Dion, Istrinya, Alexa dan Agung sendiri menangkap kegelisahan di mata Nina.
" Maaf, " Jawab Nina terhenti membuat Agung khawatir. Jangan-jangan Nina mau membatalkan kesepakatan Mereka.
" Ma. Kita..."
"Maaf Tante. Saya mohon diberi waktu untuk berpikir." Kata Nina.
Agung langsung mengangkat kepalanya. Pandangan matanya bentrok dengan mata bening Nina. Mata yang indah namun diselimuti dengan kegelisahan. Membuat jantung Agung berdebar.
Namun mata indah itu diselimuti dengan kegelisahan. Kegelisahan di mata Nina membuat perasaan Agung menjadi iba.
Ada apa denganku? Apa Aku benar-benar masih mempunyai perasaan padanya? Barang kali, desah Agung, yang menjadi ikut gelisah dan bimbang.
" Tidak apa-apa. Pernikahan memang harus dipikirkan matang-matang." Ucap Pak Dion membantu Nina dari desakan istrinya.
" Barangkali Kita terlalu mendesak. Sebaiknya Kita mengobrol topik yang lain saja dulu." Tambah Pak Dion.
" Ya, Kita bisa membicarakan peresmian hari yang tepat untuk melamar kekeluarga Nina. " Jawab Istrinya masih belum menyerah.
Agung langsung garuk-garuk kepalanya. Nina kembali menelan ludahnya yang terasa pahit. Alexa menopang dagunya. Sedangkan Pak Dion tidak bisa berkata-kata lagi. Akhirnya Nina hanya bisa mendengarkan dengab sabar. Topik yang tidak jauh dari yang Dia alami sebelumnya, saat bersama Ibunya Dimas. Nina menghela nafas panjang. Mungkin semua ini memang sudah jalannya. Dan tidak bisa dihindari.
Satu jam kemudian. Nina pamit pulang. Agung mengantarkan. Selama perjalanan Mereka terdiam. Nina memikirkan bagaimana baiknya. Sedangkan Agung terlihat khawatir. Takut kalau Nina akan semakin membencinya karena desakan Ibunya.
" Aku harap Kau tidak membenciku." Pinta Agung disela-sela keheningan Mereka.
" Memang tidak pantas kalau Aku membencimu. Kau hanya berniat menolongku." Ucap Nina.
"Namun kini Aku terjebak." Tambah Nina.
" Maaf. Aku tidak tahu rencana Ibuku."
" Aku mengerti."
" Kau menyesal?"
" Aku tak tahu." Sahut Nina seraya memandang ke arah jendela mobil.
Agung terlihat merasa bersalah. Bagaimanapun juga semua ini taktik Agung. Namun bukan seperti rencana Ibunya. Ibunya langsung mendesak Mereka buat menikah.
Tidak terasa Mereka sampai rumah Nina. Ibunya Nina terkejut, Nina diantar seorang pria. Namun jelas bukan Dimas. Ibunya memperhatikan dengan seksama dari kejauhan. Beliau merasa tidak asing dengan wajah tersebut. Hingga akhirnya Agung menyempatkan diri untuk menyapa Ibunya Nina.
"Sore Tante."
" Sore."
" Kau?"
" Agung tante." Sahut Agung.
" Agung. Lama sekali sudah, Kau tidak kesini "
" Iya tante. Maaf." Sahut Agung merasa menjadi seperti dulu kembali.
Nina hanya tersenyum masam melihat keakraban tersebut.
" Masuk Gung! ngopi-ngopi dulu." Ajak Ibunya Nina ramah.
...***...
Manakala Agung sudah berbaring dirumah. Kecamuk didalam hatinya terus berkepanjangan. Bayangan Nina kini memenuhi benaknya. Bahkan berkali-kali dering dari wanita-wanitanya itu , Dia abaikan.
Dan jika sudah begini. Bisa-bisa Dia terserang flu kembali. Sam seperti saat awal-awal bertemu Nina. Ketabahan dan kerja keras Nina dalam menghadapi kerasnya kehidupan, membuat Dia berbeda dengan wanita manapun yang pernah Agung kencani.
Sepertinya hanya Nina,wanita yang bisa mengubahnya sedikit demi sedikit. Kembali menjadi Agung yang dulu. Agung bolak balik mengecek hanphonenya. Namun tidak ada satupun chat dari Nina. Semuanya dari wanita-wanita yang Agung kencani secara singkat dan ditinggalkan begitu saja.
Agung menghela nafas berat. Dia beranjak dari tempat tidurnya dan mengambil air mineral dikulkas. Dalam pikirannya masih merasa aneh dengan dirinya sendiri.
To be continued