Friendship In Love

Friendship In Love
Ujian



Nina menganggukkan kepalanya. Agung menghela nafas panjang. Dia terlihat bingung juga bagaimana caranya meyakinkan Nina.


" Aku tahu Kau jelas meragukanku. Tapi Aku akan buktikan jika Aku serius dengan kata-kataku." Jelas Agung.


Agung kembali mengemudikan mobilnya menuju perusahaan. Mereka kembali terdiam dengan pikiran masing-masing. Sampai di depan perusahaan. Nina langsung melepaskan sabuk pengamannya dan buru-buru keluar dari mobil Agung. Dia tidak ingin karyawan-karyawan lain mengetahuinya.


Namun apalah daya, tetap saja ada yang melihatnya. Pagi itu juga terdengar desas desus tentang Mereka.


" Aku melihatnya sendiri." Ucap salah satu karyawati.


" Aku benar-benar tidak menyangka Bu Nina juga terjerat dengan pesona boss Kita."


" Wajar lah Boss muda Kita sudah tampan, cool dan tajir pula."


" Tapi kan Dia player banget. Kau tidak lihat kekasih yang terakhir saja seorang artis terkenal." Ujar salah satunya.


Linda yang mendengar desas desus itu langsung terkejut dan buru-buru melangkahkan kakinya. Berkali-kali desas desus itu terdengar sepanjang lorong kantor.


Linda membuka pintu dan langsung melihat Nina yang sudah sibuk dengan pekerjaannya. Nina menoleh terkejut mendengar pintu terbuka.


" Apa gosip itu benar?" Tanya Linda to the points seraya menaruh tasnya dilaci meja kerjanya.


" Menurutmu?" Nina tanya balik.


" Aku tidak percaya. Kau sama sekali tidak pernah membicarakan ketertarikanmu pada Pak Agung." Jelas Nina seraya menghidupkan laptopnya.


" Kau pintar. Aku juga meragukan itu. " Sahut Nina seraya tersenyum saat mendengar pernyataan teman sekantornya itu.Linda pun memperhatikan Nina dengan penuh selidik. Sepertinya ada sesuatu yang Nina sembunyikan darinya. Nina terlihat tidak ingin membicarakan desas desus itu. Linda pun fokus ke pekerjaannya.


Siangnya saat makan siang. Semua mata memandang ke arah Nina. Nina pun terlihat kikuk jadinya.


" Hari ini Kau seperti artis yang terkena scandal." Ujar Nina.


" Dan Kau manajer yang harus mengatasinya." Sahut Nina.


" Aku tidak sehebat itu." Linda mengerucutkan bibirnya.


Setelah selesai makan siang. Linda dan Nina kembali ke ruangannya. Tanpa disengaja Mereka berpapasan dengan seorang wanita yang tidak asing bagi Mereka. Sosok artis terkenal yang sedang naik daun saat ini. Viandra terlihat berjalan menuju ruang Direktur.


" Sainganmu berat." Bisik Linda.


" Hmmm. Aku jelas mundur kalau disuruh bersaing." Sahut Nina.


" Jadi Kau juga..."


"Tidak. Aku hanya bilang, Aku tidak suka bersaing untuk masalah pria." Jelas Nina langsung masuk ke dalam ruangannya.


Namun diam-diam Nina berpikir. Kenapa wanita itu datang menemui Agung? Apakah Mereka benar-benar menjalin hubungan. Lalu apa arti pernyataan Agung tadi pagi. Apa Agung hanya benar-benar kasihan padanya. Karena Nina sedang mengalami masalah finance dalam keluarga.


Dan pernyataan itu hany untuk meyakinkan Nina, agar tetap menjalani kesepakatan Mereka. Nina semakin bingung. Tidak lama hanphone Nina berbunyi. Sebuah telepon dari Riri.


" Nin, Apakah besok malam Kau akan pergi ke reuni?" Tanya Riri. Nina terkejut, Dia sedikit lupa tentang acara reuni tersebut.


" Iya Ri." Ucap Nina sedikit ragu. Mengingat reuni terakhir Mereka. Dia datang dengan Dimas. Dan semua salah paham tentang hubungan Mereka. Termasuk Adelia, yang saat itu datang dan masih menanyakan kabar tentang Agung.


" Baiklah. Sampai jumpa besok malam." Sahut Riri.


Setelah mematikan hanphonenya. Nina kembali fokus ke kerjaannya.


" Apakah data jenis barang tidak perlu dicantumkan dalam file ini?" Tanya Linda membuat Nina terhenti sejenak dan menoleh ke arah Linda.


" Coba Kulihat." Nina membaca data file tersebut.


" Wah, ini mesti ditanyakan Pak Agung. Jenis barang apa yang dikirim."Jelas Nina.


" Bukankan Dia masih ada tamu?" Nina mengingatkan. Namun Linda sudah beranjak dan keluar dari ruangan.


Namun Linda terhenti didepan pintu. Terdengar sebuah pembicaraan yang sedang serius sepertinya.


Agung mengetuk-ngetukkan sebuah bolpoint diatas mejanya.


" Seperti yang telah Kukatakan sebelumnya. Aku sudah mengakhiri hubungan Kita." Jelas Agung.


" Kumohon Gung. Aku berjanji tidak akan membohongimu lagi." Ujar wanita didepannya saat ini.


" Maaf Vi, Aku tidak bisa. Aku sudah mempunyai kekasih lagi." Sahut Agung dengan santainya.


"Kau!" Viandra terkejut. Baru sebulan yang lalu Mereka putus. Sekarang sudah ada penggantinya.


" Iya. Seperti inilah Aku. Jadi sebenarnya Kau tidak perlu repot-repot kesini dan membuang-buang waktumu."


Linda tidak sengaja menjatuhkan flash disknya. Membuat Agung dan Viandra menoleh ke arah pintu. Linda pun terpaksa langsung mengetuk ruangan pintu tersebut.


" Masuk." Sahut Agung.


Linda lalu masuk. Dia terlihat kikuk karena telah mengganggu pembicaraan bossnya tersebut.Linda pun menjelaskan maksud kedatangannya ke ruangan tersebut. Dan bertanya akan hal yang tadi dibicarakan dengan Nina, soal jenis barang. Setelah selesai, Linda langsung buru-buru pamit keluar dari ruangan.


" Oya Lin. Suruh Nina ke ruangan Saya." Pinta Agung.


Linda yang sedang buru-buru terlihat mendadak berhenti didepan pintu dan langsung menoleh.


" Baik Pak." Jawab Linda.


Begitu sampai ruangan. Linda langsung menyampaikan perintah Agung.


" Tidak disuruh bawa dokumen apa gitu." Nina masih memastikan.


" Tidak. Pak Agung hanya menyuruh datang je ruangannya."


" Hmm baiklah. " Nina beranjak ragu. Namun Dia tetap melangkahkan kakinya menuju ruangan Agung. Tidak selang lama Nina sampai didepan ruangan Agung dan mengetuk pintu ruangan tersebut.


" Masuk." Sahut Agung dari dalam.


Nina terlihat terkejut. Wanita itu ternyata masih ada diruangannya Agung. Nina pun tersenyum dan menyapanya. Sedang Agung langsung beranjak dan menggandeng Nina. Membuat Nina syok dan bingung.


" Oya Vi. Kenalkan Nina, Dia kekasihku sekarang." Ujar Agung memperkenalkan Nina pada Viandra. Nina langsung benar-benar syok. Bagaimanapun juga, Nina merasa sangat insecure begitu dikenalkan dengan seorang artis yang terkenal. Bagi Nina satu banding seratus, antara Dia dan Viandra.


" Nina." Ucap Nina seraya mengulurkan tangannya. Namun Viandra tidak merespon jabatan tangan tersebut.


" Viandra." Sahut Viandra terlihat kesal.


"Senang bisa berkenalanmu. Semoga Kau tidak jadi korban berikutnya." Tambah Viandra memberi peringatan pada Nina, lalu langsung beranjak dan keluar dari ruangan Agung.


Nina tambah syok mendengar ucapa Viandra.Lalu menepis tangan Agung yang masih menggandeng tangannya.


" Jadi Kau memanfaatkan kesepakatan ini untuk memutuskan kebosananmu." Ujar Nina to the points.


" Sepertinya Aku salah menerima tawaranmu." Ucap Nina lalu keluar dari ruangan tersebut. Tanpa menghiraukan Agung yang terlihat berusaha menjelaskan padanya.


" Tunggu Nin..."


Nina sudah keluar dari ruangan. Agung hanya bisa mengepalkan tangannya karena kesal. Kenapa Viandra tiba-tiba mencarinya sampai kekantor. Dan kenapa Nina juga tidak mau mendengarkan penjelasannya. Agung duduk seraya memegang keningnya. Dan Dia merasa frustasi. Bagaimana caranya meyakinkan Nina kembali. Rasanya ada saja ujian yang datang menghampirinya. Disaat Dia benar-benar ingin serius berkomitmen.


To Be Continued