
Nina kembali ke dalam ruangannya. Wajahnya masih terlihat kesal. Dalam dirinya berkecamuk kemarahan yang terpendam. Merasa dimanfaatkan, membuat Nina benar-benar ingin mengakhiri kesepakatan konyol tersebut.
Linda yang diam-diam mengamati pun penasaran.
" Kau ada masalah?"
Nina hanya menggelengkan kepala. Dia berusaha menyembunyikan masalahnya. Namun dalam pikirannya berkecamuk kekesalan serta kemarahan dirinya kepada Agung.
Nina kembali memfokuskan diri ke pekerjaannya. Rasa lelah dan frustasi jelas membuat Nina semakin tidak fokus dalam bekerja. Namun tuntutan masalah finance keluarganya menjadi semangatnya dalam bekerja.
Tanpa terasa waktu menunjukkan pukul 17.00. Sudah waktunya pulang. Nina dan Linda sibuk mematikan laptop, AC dan lampu ruangannya. Begitu keluar dari ruangan, Nina dan Linda langsung melangkahkan kaki Mereka menuju lift. Seperti tadi pagi, Nina masih menjadi sorotan mata para karyawan. Khususnya karyawati karena datang ke kantor bersama Agung.
" Kau benar-benar menjadi trending topik hari ini di Kantor." Bisik Linda seraya menekan tombol 1 .
" Harusnya Kau konfirmasi. Bahwa tidak ada apa-apa antara Aku dan Pak Agung " Jelas Nina.
" Aku tidak bisa. Secara Aku sendiri melihat Kalian seperti ada hubungan." Ujar Linda.
" Kami hanya berteman saat SMP dan SMA. Tidak lebih dari itu." Jelas Nina.
Linda terkejut. Bagaimanapun juga, ternyata Mereka adalah teman sekolah.
" Jadi Kau dan boss teman sekolah?" Tanya Linda memastikan ulang.
" Iya." Jawab Nina menganggukan kepala.
" Kau sangat beruntung mempunyai teman setampan dan setajir Pak Agung." Linda memuji Nina.
" Busyet. Kau salah. Walaupun begitu, Dia teman yang menyebalkan." Jelas Nina.
" Apa Pak Agung masa sekolah juga sudah playboy?" Tanya Linda penasaran.
Dan saat itu Nina kembali mengingat masa persahabatannya dengan Agung. Seingat Nina, Agung dulu tidak playboy seperti sekarang.
" Tidak." Sahut Nina.
" Namun Dia sadis." Tambah Nina membuat Linda penasaran.
" Maksudnya?"
" Ehm ehm." Suara batuk dibelakang Mereka menghentikan pembicaraan Nina dan Linda.
" Eh Pak Agung. Pulang Pak?" Sapa Linda langsung terlihat kikuk. Sedangkan Nina langsung mengerucutkan mulutnya. Agung langsung melirik Nina dengan pandangan tidak bisa diartikan.
Hari kemudian,
Nina masih sibuk mengerjakan pekerjaannya. Tiba-tiba Agung datang dan membawa dokumen.
" Ini data para investor. Tolong pahami sebelum Kita bertemu dengan Mereka."Pinta Agung langsung kembali keluar dan melangkahkan kakinya menuju ruangannya.
" Tapi Pak. Saya masih banyak pekerjaan." Ujar Nina.
" Ini perintah. Bukan untuk dinegosiasikan." Jelas Agung tiba-tiba menjadi arogan.
Nina mendengus kesal. Sepertinya Agung sedang tidak bisa dinegosiasi.
Agung tersenyum. Dia hanya mencari alasan untuk melihat Nina sebelum bekerja.
Sampai didalam ruangan, Agung pun tersenyum. Selang dua jam kemudian. Lagi-lagi Agung menelepon ke ruangan Nina.
" Mohon keruangan sekarang. Jangan lupa laporan kuartal perusahaan. " Pinta Agung.
" Baik Pak." Sahut Nina. Dia pun langsung mengambil dokumen yang dimaksud oleh Agung dan membawanya ke ruangan Agung.
Nina mengetok pintu ruangan tersebut. Sahutan masuk pun terdengar ditelinga Nina. Nina terlihat melangkahkan kakinya menuju meja Agung. Agung sedang fokus memperhatikan layar monitornya.
" Ini dokumennya Pak." Ujar Nina seraya meletakkan dokumen tersebut diatas meja Agung. Agung langsung mengalihkan pandangan matanya ke dokumen tersebut. Dan lalu ke arah Nina.
" Ok. " Sahut Agung lalu mempersilahkan Nina kembali ke ruangannya kembali.
Belum selang ada satu jam. Agung kembali menyuruh Nina keruangannya. Jelas itu membuat Nina kesal. Agung seperti sedang main-main dengan alasan pekerjaan.
" Ada apa lagi Pak?" Tanya Nina raut wajahnya terlihat benar-benar kesal.
" Kan Saya seorang yang sadis." Sahut Agung mengingatkan kata-kata Nina kemarin sore.
"Maaf Pak. Itu hanya sebuah gurauan."
" Ok. Kalau begitu bagaimana kalau permintaan maafnya dengan nanti malam datang ke reuni bersama?" Tanya Agung.
Nina terkejut, Bagaimana bisa lagi-lagi Nina merasa terjebak oleh Agung. Mau tidak mau Nina menyetujuinya.
" Ok. Nanti malam Saya jemput." Ujar Agung. Nina hanya menganggukkan kepala dan lalu keluar dari ruangan tersebut.
...***...
Begitu pulang dari pekerjaannya, Nina langsung mandi dan bersiap-siap untuk acara reuni sekolah. Nina tengah memilih setelan baju untuk dipakainya. Dan saat itu terdengar suara ramai diruang tamu. Sepertinya Agung sudah datang menjemputnya.
Nina buru-buru memutuskan pakaian yang cocok untuk dipakai malam ini. Sebuah pakaian yang nyaman dipakai. Setelah merasa yakin. Nina pun turun ke ruang tamu.
Nina kaget tatkala melihat Agung. Dia seperti seorang pangeran.
" Hai Nin. Sudah siap?"
" Seperti yang Kau lihat." Sahut Nina. Agung memandang Nina dari ujung kaki sampai ujung kepala.
" Cantik." Ujar Agung membuat Nina memutar kedua bola matanya. Rasanya ingin muntah mendengar pujian dari Agung. Sepertinya semua wanita disanjungnya. Batin Nina merasa tidak ingin terpesona dengan sanjungan dan pujian Agung terhadap dirinya.
Mereka pun terlihat pamit. Agung dan Nina masuk ke dalam mobil. Nina terlihat memasang sabuk pengaman. Begitu juga Agung, Lalu Agung mengemudikan mobilnya menuju tempat reuni sekolah Mereka.
Jalanan malam ini terlihat padat merayap. Secara malam Minggu, banyak muda mudi terlihat berduaan disepanjang jalan. Nina hanya tersenyum masam melihat semua itu. Dalam hatinya ada sedikit rasa iri. Mereka bisa berjalan bersama dengan orang yang disayangi dan dicintai.Diam-diam Agung melirik dan mempersilahkan Nina.
" Kau iri terhadap Mereka?"Tanya Agung.
" Iya." Sahut Nina.
" Apa Kau percaya cinta?" Tanya Nina menoleh ke arah Agung.
" Aku belum tahu." Sahut Agung.
" Kau sendiri?"
Nina berpikir sejenak sebelum menjawab pertanyaan Agung. Dia sedikit mengenang masa lalu Mereka.
" Aku percaya." Ujar Nina.
" Namun cintaku terasa telah mati terkubur oleh waktu." Tambah Nina.
Agung mengerutkan keningnya.
" Jadi Kau pernah jatuh cinta?" Tanya Agung terlihat cemburu.
" Iya." Nina mengakuinya.
" Namun sepertinya itu hanya sebuah cinta monyet." Tambah Nina.
Nina merasa perasaan cintanya dulu ke sahabatnya itu, hanyalah sebuah cinta monyet. Cinta anak SMA yang jelas bisa berubah kapan saja. Apalagi sudah termakan waktu. Walaupun kadang Dia sendiri masih mengingatnya. Namun itu hanyalah kenangan belakang.
" Kenapa Kau tidak pernah cerita padaku?" Tanya Agung.
" Kau sendiri sudah pergi ke USA tanpa sepengetahuanku." Ujar Nina terdengar ambigu. Faktanya Agung tidak mengetahui orang yang dimaksud Nina.
" Apa orang itu Dimas?" Tanya Agunv membuat Nina terkejut. Bagaimana bisa Dia menebak Dimas. Kalau itu Dimas tentu saja, Nina tidak bermasalah dengan rencana pernikahan yang hampir terlaksana itu.
Nina terdiam, Dia mengalihkan pandangannya keluar dari jendela mobil. Hiruk pikuk jalan dimalam Minggu ini jelas terlihat menarik dimata Nina. Daripada Dia menjawab pertanyaan Agung. Yang menurut Nina sudah tidak terlalu penting baginya sekarang. Apalagi orang yang dimaksud Nina sudah jauh berubah.
To be Continued