
Siang ini, Nina melangkah ke dalam kantor sambil membalas teguran-teguran para karyawan lainnya. Nina memang terkenal ramah oleh sebagian besar karyawan di perusahaan kontraktor tersebut. Sebagai karyawati yang sudah lama bekerja disitu, Nina telah mampu menjadi orang kepercayaan Pak Dion.
Siang itu Nina baru saja pulang dari tugas audit dicabang luar kota bersama rekannya Reni. Ketika Dia baru masuk ke dalam kantor dilihatnya Agung sedang berbincang-bincang dengan seorang wanita dan berpenampilan glamour. Disitu Agung tidak terlihat dingin, Dia penuh canda sembari tertawa ceria.
" Dengar-dengar , Pak Agung palyboy."Bisik Reni.
" Gosip darimana lagi Kau Ren?"
Reni hanya nyengir. Rasanya hanya Nina yang tidak begitu cepat tahu gosip terbaru. Nina kembali ke ruang kerjanya.
Playboy? Bukankah artinya? Nina menggelengkan kepalanya. Rasanya sangat berbeda dengan Agung yang dahulu sebagai sahabatnya.
Tiba-tiba telepon ruangan Nina berdering.
" Apakah sudah beres urusanmu?" Tanya Agung to the points.
"Sudah Pak."
" Kalau begitu, ke ruangan sebentar."
" Baik Pak."
Nina masuk keruangan kerja Agung. Agung memperkenalkan Nina dengan wanita tersebut.
" Perkenalkan , Linda. Linda ini Nina."
" Nina."
"Linda."
" Tolong pelajari buku promosi ini,
begitu selesai langsung buat laporan." pinta Agung seraya menyerahkan dokumen kepada Nina.
" Baik Pak." Nina langsung pamit keluar dari ruangan begitu dokumen sudah ada ditangannya.
Begitu Nina keluar, Linda langsung menggoda Agung.
" Sekretarismu itu cantik sekali Gung." Puji Linda.
" Jelas dong." Sahut Agung.
" Pasti sudah Kau pacari kan?" Tanya Linda.
Agung tertawa.
" Itu rahasia perusahaan." Jawab Agung.
Linda tersenyum dan lalu pamit.
" Aku permisi dulu Gung. Lain kali Kita bisa bertemu lagi." Pamit Linda.
" Okey sampai bertemu lagi Lin."
Agung mengantar Linda cuma sampai depan pintu ruangannya.
Sedangkan Nina sibuk dengan pekerjaannya.Waktu tidak terasa menunjukkan jam pulang. Nina langsung bergegas, secara Dia ada janji dengan Dimas untuk menghadiri pernikahan Riri.
Nina pun keluar ruangan dengan terburu-buru. Tanpa sengaja Dia hampir menubruk Agung yang sedang berjalan menuju lift juga.
" Maaf." Ucap Nina lalu memelankan langkahnya. Berharap Agung cepat berlalu darinya. Namun usahanya sia-sia faktanya Mereka masih satu lift begitu turun.
Sesekali Nina melirik jam ditangannya. Takut kalau Dia telat turun dan Dimas sudah menunggunya di depan gedung kantornya. Bisa-bisa Dia akan heboh begitu melihat Agung.
Secara ingatannya tentang Agung juga masih mengingatnya.
Begitu sampai bawah, Meysha langsung menuju finger untuk absen pulang. Dan lalu mengambil kartu karyawan disecurity. Setelah itu Nina langsung melangkahkan kakinya menuju mobilnya yang terparkir. Namun tiba-tiba Dimas sudah menjemputnya dan menyuruh Nina meninggalkan mobilnya sementara dikantor tersebut.
Dimas pun membukakan pintu untuk Nina.Diam-diam ada sepasang mata yang melihat Mereka dengan ekspresi yang tidak bisa diartikan.
Nina duduk disamping Dimas. Dan mobil yang dikemudikan Dimas meluncur cepat ke arah kediaman Riri. Dimana acara resepsi pernikahan Riri dilaksanakan. Begitu sampai lokasi. Para tamu undangan masih banyak terlihat berlalu lalang, walaupun hari sudah sore.
Dibawah cahaya sorot pelaminan, Riri terlihat sangat cantik dengan gaun pernikahannya. Setelah mengisi daftar tamu dan memasukkan amplop. Meysha dan Dimas mengambil makanan di prasmanan. Setelah selesai makan, baru Mereka menyapa Riri dan suaminya di pelaminan.
Nina pun memeluk Riri dengan rasa haru. Secara sahabat dekat Nina, sekarang sudah berhasil melepas masa lajangnya. Ada rasa bahagia tak terkira yang Nina rasakan. Lalu Nina melepaskan pelukannya dan mengucapkan selamat juga doa yang terbaik buat sahabatnya tersebut.
Hari berikutnya, Nina ingin minta tanda tangan Agung. Namun sampai siang, Agung sama sekali belum terlihat batang hidungnya.
Dan saat Nina telepon, suara Agung memang terdengar sedang sakit. Nina pun terpaksa menggunakan tanda tangan Agung, Namun dengan seijinnya.
Selama Agung hidup di USA, Dia memang berubah menjadi seorang playboy. Karena baginya itu lebih menyenangkan. Dan tidak terikat dengan wanita manapun. Namun kehidupan sempurnanya jungkir balik lagi, ketika Nina muncul kedalam kehidupannya kembali, sampai akhirnya Dia terserang flu.
Pagi ini Dia tidak berangkat ke kantor padahal baru Seminggu saja, Dia bekerja di perusahaan Ayahnya. Sebenarnya yang terjadi adalah Agung menolak mengakui Nina, masih menjadi bayangan masa lalu yang kini terasa hadir kembali. Dan Agung sakit hati, melihat faktanya Nina ternyata masih berhubungan dengan sahabat kecilnya tersebut.
Bahkan gosip beredar dikantor jika Mereka sudah bertunangan. Bahkan mungkin sudah mau menikah. Secara Mereka sering bersama.Dan sore itu pula, Agung melihatnya sendiri.
Agung bersin-bersin di kamar apartemennya. Setidaknya Dia cukup yakin dengan apa yang dideritanya tersebut. Itulah kenapa Agung telah bersembunyi di apartemennya. Dan ini sudah hampir lima hari.
Itulah kenapa Agung telah bersembunyi di apartemennya selama lima
hari terakhir. Bahkan Dia mematikan teleponnya, kenapa Dia
hanya meninggalkan kasur untuk memakai kamar mandi atau
membawa masuk makanan yang dipesan dari petugas pengiriman.
Berapa lama sih flu dapat bertahan? Sepuluh hari? Sebulan? Agung merasakannya lima hari yang lalu. Alarmnya berdering jam 05:00
pagi, seperti biasa. Tapi sekarang, bukannya bangkit dari tempat tidur untuk
pergi ke kantor, yang mana Dia adalah bintang utamanya, Dia malah melemparkan
jam itu ke seberang ruangan, hancur untuk selamanya.
'Jamnya menjengkelkan pula. Jam bodoh.' Bersuara bip-bip-bip.
Agung berguling dan kembali tidur. Ketika Agung akhirnya menyeret
tubuhnya keluar dari tempat tidur, Dia merasa lemah dan mual.
Dadanya terasa nyeri, kepalanya sakit. flu, kan? Agung tidak dapat
tidur lagi, jadi Dia mendekam di sini, di kamar terpercayanya. Terasa
begitu nyaman sehingga Dia memutuskan untuk tinggal di sini. Di apartemennya ini.
Namun sekarang ada gedoran di pintu apartemennya.
Terkutuk petugas penjaga pintu. Untuk apa Dia kemari? Dia akan
menyesal, Aku jamin. Batinnya.
Dia mengabaikan gedoran itu, meskipun muncul lagi.
Dan lagi, namun Kini sebuah suara.
" Kak Agung! Kak! Aku tahu Kau ada didalam sana! Buka pintunya!"
Oh tidak. Adeknya yang menyebalkan datang, Alexa. Ketika Agung mengatakan menyebalkan bukan berarti Dia tidak sayang sama adiknya tersebut. Tapi begitulah adeknya, Dia yang menuntut, berpendirian keras dan tak kenal menyerah.
" Jika Kau tidak membuka pintunya. Aku akan menelepon polisi untuk mendobraknya."
Paham kan apa maksud Agung? Begitulah Adeknya.
Agung menggenggam bantal yang telah berada di atas pangkuannya
sejak flu terjadi. Agung menekan wajahnya ke dalamnya dan menarik
napas dalam-dalam. Baunya seperti lavender. Segar dan dan membuat ketagihan.
"Kak! Kau dengar aku?" Teriak adeknya.
Agung menarik bantal ke atas kepalanya. Bukan karena baunya, tapi untuk menghalangi suara gedoran yang terus
berlangsung di pintu apartemennya.
"Aku mengambil ponselku! Aku mau menghubungi polisi!" Suara
Alexa berisi peringatan, dan Agung tahu, Dia tidak main-main.
To be continued