Friendship In Love

Friendship In Love
Sebab dan Akibat



Agung terbangun ketika handphonenya berdering. Ibunya meneleponnya meminta Dia datang kerumah. Alexa mengurung diri didalam kamar. Agung terkejut, tidak biasanya adiknya begitu lemah mengenai hal pribadi. Agung pun langsung menyetujuinya. Dia bergegas mandi dan bersiap-siap. Lalu meluncurkan mobilnya mengarah ke rumah orangtuanya.


Tanpa basa basi, Agung langsung menuju kamar Alexa. Mencoba meminta untuk membukanya. Hampir tiga puluh menit, Alexa sama sekali tidak mempedulikannya. Namun kemudian pintu tiba-tiba terbuka. Alexa hanya terdiam. Agung mencoba bertanya dan menghiburnya. Namun Alexa benar-benar tidak peduli.Agung pun keluar dari kamar tersebut dan menghubungi Eko. Lalu Eko pun memberitahu kronologi kenapa Alexa seperti itu. Tanpa pikir panjang, Agung langsung kelamar Alexa dan akan melaporkan ke polisi.


" Itu pencemaran nama baik Lexa."


" Tidak Kak. Itu akan mencoreng nama baik keluarga Kita." Alexa melarangnya. Dan penyebab Dia mengurung seperti itu bukan hanya itu. Namun kekasihnya yang memutuskan hubungan. Agung pun langsung menuju kampus adiknya. Tanpa sepengetahuan Alexa.


Dengan langkah mantap Agung menyelusuri koridor. Para mahasiswa yang hilir mudik terlihat meliriknya. Namun Agung merasa sangat asing di antara kesibukan mahasiswa di fakultas ini. Tapi Dia tidak peduli. Dia menuju ruang tata usaha untuk mencari tahu tentang kekasihnya Alexa tersebut. Akhirnya pihak kampus memanggil orang yang bersangkutan.


Selang beberapa menit, terlihat seorang pemuda melangkah menghampiri Agung. wajahnya tampan. Rambutnya yang hitam terlihat tertata rapi. Pakaiannya necis dan sepadan dengan sepatu yang dikenakannya. Barangkali sesuai dengan fakultas kedokteran yang ditekuninya. Itu sebabnya , tidak heran juga kalau Alexa begitu kacau saat ini.


" Saudara Revan?" Agung memastikan.


Pemuda tersebut menganggukkan kepalanya.


" Hallo, Saya Agung. Kakaknya Alexa." Jelas Agung memperkenalkan diri.


Revan langsung terkejut mendengarnya. Bagaimanapun juga Alexa pernah menceritakan padanya.


" Saya ingin berbicara dengan Anda." Tambah Agung.


" Soal Alexa?"


"Ya." Agung menganggukkan kepalanya.


" Saya rasa tidak ada persoalan lagi. " Sahutnya.


" Maksudnya?" Agung bingung.


" Sekarang hubunganku dengan Alexa tak lebih dari seorang teman biasa."


" Kau telah terpengaruh dengan perkataan orang lain?" Tanya Agung menatap tajam mata pemuda didepannya saat ini.


Revan membalas tatapan Agung. Dia dapat melihat kilat -kilat dimata laki-laki tersebut. Agung tersenyum untuk mengurangi ketegangan.


" Saya rasa bukan itu persoalannya. " Ujar Revan.


" Mengenai Alexa. Pendapatmu bagaimana?"


" Sifat Alexa memang baik. Tindak tanduknya selama kukenal begitu mengesankan. Tapi soal kepribadiannya, Saya masih meragukan. Maaf, kalau Saya berbicara secara terbuka padamu. Anda tidak boleh marah, sebab masalah ini bisa Kita diskusikan. Masing-masing Kita mempunyai argumentasi."


" Ya, teruskan saja." Agung mencoba memahami dan mengerti arah pembicaraan Revan.


" Tentu saja ada sebabnya, Kalau Saya meragukan kepribadiannya. Sebab kepribadian yang buruk ataupun moral, masih bisa ditutupi dengan tindak tanduk manusia. Orang mengatakan munafik. Berlagak alim tapi rusak. Nah, menyangkut masalah Alexa, kepribadiannya terbentuk karena silsilah dan keturunannya atau lingkungannya."


" Jadi menurut pendapatmu, keturunan keluarga Kami rusak, begitu?" Nada suara Agung tinggi.


Mereka duduk berdua di pojok ruangan tersebut. Suasana ruangan itu hening dan sepi.


" Saya tidak menetapkan begitu. Tapi hidup ini bagai ditetapkan baik dan buruknya setiap perbuatan manusia. Itulah sebabnya, hidup ini tidak lepas dari karma. Sebab dan akibat. Saya tidak perlu berkata Anda itu siapa? Lalu Anda bagaimana? Mungkin Anda lebih tahu siapa diri Anda. Dan apa yang Anda inginkan dalam hidup ini. Wanita, nafsu, harta, kemewahan, kedudukan, kebahagiaan atau masih banyak yang lainnya. Jadi persoalan Alexa, Anda bisa telusuri sebab dan akibat itu." Jelas Revan panjang lebar menyindir Agung sebagai pria yang terkenal telah banyak mempermainkan wanita demi kesenangannya sendiri. Hingga akhirnya kini salah satu wanita itu menjebak dan menjerumuskan adiknya, untuk membalas dendam padanya.


Agung tertunduk diam. Merenung segala perbuatan yang selama ini dilakukan. Berarti karma? Apa yang dialami Alexa bukan dijerumuskan tetapi karma. Agung tetap tidak setuju dengan pernyataan tersebut. Bagaimanapun Agung dan Alexa berbeda sifat, pemikiran dan cara memandang hidup ini.


" Hidup memang tidak terlepas dari nasib dan karma. Saya tahu itu. Tapi cobalah ditelusuri, seperti apa yang barusan Kau katakan. Kejadian yang menimpa Alexa buka karma. Ada penyebab lain uang sengaja menjerumuskan dia.Asal Kau tahu saja, bahwa seseorang telah menjerumuskannya."


" Tentu ada sebabnya, kenapa orang tersebut sampai hati menjerumuskan adikmu seperti itu."


" Memang. Dia ingin membalas sakit hatinya padaku."Gumam Agung.


" Anda tak perlu bercerita, Saya sudah tahu."


" Apakah Kau juga sudah tahu kepribadian orang yang menjerumuskan adikku?"


Revan mengangguk-anggukkan kepalanya sambil berkata.


"Elvira bukan wanita yang baik. Glamour, egois dan materialistis. Sudah sering kali Saya menasehati Alexa, agar jangan terlalu dekat dengannya. Tapi rupanya, Alexa tidak menggubrisnya. Sampai akhirnya Dia mengalami hal seperti itu. Jadi Anda jangan menyalahkan Saya. Kalau Saya memutus hubungan dengan Alexa." Ucap Revan.


" Saya mengerti. Dan sebenarnya Saya tidak mau ikut campur dalam persoalan Kalian. Saya hanya ingin tahu tanggapanmu yang logis. Setelah tahu begini. Aku merasa puas.Meskipun Kau memutuskan hubungan dengan adikku." Jelas Agung.


" Saya memutuskan karena merasa diabaikan. Disamping Saya juga meragukan kepribadiannya." Sahut Revan.


" Saya tidak mau mengatakan, bahwa Alexa mempunyai kepribadian yang baik. Sebab itu akan menimbulkan anggapan yang bodoh. Sebagai seorang kakak pasti akan membela adiknya. Semua yang terjadi kini akibat pergaulan yang menjerumuskan Dia. Dan kalau Saya boleh menilai, Kau belum mendalam menyelami kepribadiannya. Kau hanya terpengaruh oleh kata-kata orang lain. Kurasa cukup Kita berbincang-bincang." Ucap Agung seraya beranjak.


" Tunggu." Revan ikut bangkit.


" Ada yang perlu diperbincangkan lagi?" Agung menoleh.


" Kenapa, hampir seminggu Alexa tidak masuk kuliah?"


" Dia merasa dikucilkan difakultasnya gara-gara desas-desus berita tersebut. Jadi semua teman-temannya mencibir, mengejek dan mencemooh. Termasuk Kau." Agung merasa kesal.


" Saya tidak begitu." Revan mengelak.


" Ah, Sudahlah." Agung mengayunkan langkah, sementara Revan mengikutinya.


" Apakah Alexa membenci Saya?"


" Aku tidak tahu.Cuma menurutku pendirianmu terlalu picik."


" Picik?"


" Ya. Kau tega memutuskan hubungan disaat adikku baru terkena musibah. Hingga Dia nekat mengurung diri. Bahkan tidak mau makan sama sekali." Jelas Agung.


" Alexa sampai seperti itu?" Tanya Revan dengan suara parau.


"Ya." Sahut Agung langsung beranjak meninggalkan Revan.


Pak Dion yang baru pulang dari luar negeri duduk diam. Beliau tampak murung, kecewa sekaligus malu. Sedang di kursi lainnya duduk seorang perempuan setengah baya. Wajahnya sedih setelah mendengar kabar yang dialami Alexa. Hingga Alexa memilih mengurung diri didalam kamar seperti itu. Di matanya berlinang air mata yang berkilau-kilau. Beliau Ibunya Agung.


" Dari mana Kau? Kenapa pulang ke apartemen. Tidak kerumah? Sudah tahu adikmu sedang tidak baik-baik saja."


" Maaf Pa, Pikiran sedang kalut."


" Kalut bukan lantaran adikmu, tapi lantaran terlalu banyak berurusan dengan pacar-pacarmu."


Agung tak bersuara. Dia tertunduk merenungi lantai.


" Kau sudah tahu, apa yang terjadi pada diri adikmu. Tapi kenapa Kau tidak mau ambil tindakan. Kenapa Kau diam saja?" Bentak Pk Dion pada putranya tersebut.


To be continued