
Agung menepikan mobilnya dan berhenti. Membuat Nina bingung dan penasaran. Lalu Agung menoleh dan menatap Nina.Tatapan yang membuat hati Nina berdebar kencang. Nina yang tidak kuasa akan tatapannya, mengalihkan pandangannya ke arah depan.
" Tatap mataku!" Pinta Agung.
Namun Nina masing tidak bergeming. Dan masih memandang ke arah depan. Agung pun memegang kedua bahu Nina, untuk menghadap ke arahnya. Mau tidak mau,Nina memandang wajah Agung yang terlihat serius.
" Dimas sudah mengatakan semuanya." Ujar Agung.
Nina terkejut. Kenapa Dimas bisa mengetahuinya juga. Darimana Dia tahu tentang perasaan Nina.
" Kau tidak bisa mengelak lagi Nin. Aku sayang sama Kamu. Aku mencintaimu. Aku berjanji tidak akan pernah menyakitimu." Tambah Agung. Semua ucapan Agung meresap dihatinya. Tapi Nina belum berani mempercayai begitu saja. Sedangkan kesedihan kian membatu. Kepedihan makin menguasai perasaannya. Nina merasa perasaannya terhadap Agung belum hilang sama sekali. Bahkan rasanya semakin menjadi. Sepertinya kemarin-kemarin hanya mengendap karena tekanan dari diri sendiri. Nina menyadari itu.
" Jangan bilang begitu. Kita tidak ada hubungan apa-apa, selain persahabatan dan kesepakatan konyol yang Kita miliki." Ujar Nina masih berusaha menjernihkan kondisi dan mengingatkan persahabatan Mereka.
" Tidak Nin, Kau salah. Aku menyukai dan mencintaimu sejak lama. Aku mempermainkan wanita-wanita , karena Aku kira perasaanku padamu bertepuk sebelah tangan. Dan Aku jujur sangat sulit melupakanmu." Jelas Agung panjang lebar.
Agung menatap mata Nina lekat-lekat. Lalu Dia memegang tangan Nina. Digenggamnya dengan penuh kehangatan. Keduanya saling bertatapan.
Mata Nina pun berkaca-kaca mendengar kejujuran dan kesungguhan Agung. Tanpa terasa air matanya menetes dan mengalir, membasahi pipi manisnya. Agung pun mengusap lembut air mata yang membasahi kedua wanita yang dicintainya itu. Lalu Dia memeluk Nina. Membiarkan Nina menangis dalam pelukannya.
" Mari Kita arungi bersama hari esok yang penuh kebahagiaan." Agung melepas pelukannya. Dan kembali menatap Nina.
" Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu." Ucap Agung.
" Maaf..." Ucap Nina terhenti dan membuat Agung terlihat kecewa.
"Tapi Aku juga mencintaimu." Sahut Nina membuat Agung langsung berubah raut wajahnya. Agung tersenyum dan senang.
" Maaf." Jawab Nina. Lalu Mereka kembali melanjutkan perjalanan pulang. Tidak selang lama , Mereka sampai didepan rumah Nina. Seperti biasa, Agung mampir sejenak untuk meminum teh buatan Ibunya Nina. Masa-masa indah kembali terasa dibenak Mereka. Rasanya kembali ke masa-masa persahabatan Mereka dulu.
Setelah selesai, Agung pun pamit pulang. Nina mengantarkan sampai halaman.
" Lupakanlah semua kenangan pahit yang terjadi diantara Kita. Mari Kita kembali membangun hubungan yang serius, tenteram dan bahagia. " Ujar Agung seraya memegang tangan Nina.
" Aku mencintaimu Nin. Aku benar-benar mencintaimu." Tambah Agung.
" Kalau begitu jangan dekat-dekat dengan wanita-wanita lain lagi." Ujar Nina.
" Aku tipe pencemburu." Tambah Nina membuat Agung tersenyum dan mencubit hidung Nina.
" Kau sangat lucu." Ucap Agung.
" Baiklah. Aku hanya akan dekat-dekat denganmu saja." Bisik Agung membuat Nina tersenyum.
" Janji kelingking." Nina menunjukkan janji kelingkingnya seperti anak kecil.
" Ok. Janji kelingking." Sahut Agung seraya mengaitkan kelingkingnya.
" Selamat malam. Sampai jumpa besok." Ucap Agung.
" Malam. Iya sampai jumpa besok." Jawab Nina. Lalu Agung masuk ke dalam mobilnya. Nina masih memandanginya. Antara percaya dan tidak percaya. Kini Dia dan Agung menjalin hubungan, lebih dari persahabatan.
To be continued