
Agung masuk keruangan kerjanya. Dia memfokuskan diri untuk melanjutkan pekerjaannya. Namun bayangan Nina dan Dimas tadi mengganggu pikirannya.
Eko yang baru muncul terlihat terkejut dan heran.
" Kau sedang ada masalah?" Tanya Eko. Namun Agung hanya terpaku.
" Kenapa Kau kesini? Apa Alexa menyuruhmu?"
Eko mengangkat alisnya.
" Jadi apa yang bisa Kubantu?"
" Tidak ada." Sahut Agung lalu beranjak dari tempat duduknya dan keluar dari ruangan kerjanya. Dia melangkahkan kakinya menuju pantri.
Eko mengikutinya. Mereka membuat secangkir kopi.
" Apa Kau ingat Adelia?" Tanya Eko tiba-tiba.
Agung menganggukan kepalanya.
" Aku bertemu dengannya saat acara reuni. Sepertinya Dia masih berharap padamu. " Ujar Eko.
Agung terkesan tidak memperdulikannya. Namun tiba-tiba Dia menoleh Ke Eko.
" Apa Nina datang juga?"
" Iya, Dia datang bersama kekasihnya."
" Maksudmu Dimas?"Agung memastikan.
" Iya." Sahut Eko.
Agung kembali melangkahkan kakinya menuju ruang kerja. Lagi-lagi Eko mengikutinya seperti asisten.
" Apa Kau dibayar Alexa untuk mengikutiku?"
Eko hanya tertawa. Tanpa sengaja, Dia melihat Nina yang sedang sibuk dengan pekerjaannya. Agung terlihat meliriknya.
" Kau tahu. Gosipnya,Mereka mau menikah." Ujar Eko.
" Siapa?"
" Nina dan Dimas." Sahut Eko.
" Owh."
Eko berharap Agung bereaksi lebih. Namun Dia terlihat tenang. Tidak seperti yang Eko harapkan. Agung masuk ruangan kerjanya. Dia duduk kembali di kursi seraya sesekali minum ekpresso kesukaannya.
" Menurutmu. Apakah Nina membenciku?" Tanya Agung tiba-tiba.
"Tentu saja. Normal saja, siapa yang suka sama playboy sepertimu."
" Banyak." Sahut Agung percaya diri.
" Iya. Karena Mereka hanya mengincar harta dan posisi sebagai istri seorang CEO. Kalau Nina, Sepertinya Dia sama sekali tidak tertarik untuk itu." Jelas Eko.
" Bukannya wanita sama saja. Mereka mayoritas menyukai materi." Ujar Agung.
" Itu menurutmu." Sahut Eko.
" Oya Minggu depan ada acara reuni lagi. Apa Kau mau datang?"Tanya Eko.
" Boleh."
Nina kembali ke ruangan kerjanya. Tiba-tiba handphonenya berdering. Matanya melirik ke arah hanphonenya. Dimas meneleponnya. Nina pun mengangkat telepon tersebut. Namun Dia sangat terkejut. Nyatanya yang berbicara padanya bukan Dimas. Namun suara seorang wanita.
" Nina, Kumohon jangan Kau sakiti putraku seperti ini." Pintanya.
" Kau tahu bukan. Dia sangat menyukai dan mencintaimu."Tambahnya.
" Aku sebagai Ibunya tidak tega melihat Dia terpuruk seperti ini. Begadang dan minum." Ujar Beliau.
" Maaf." Jawab Nina.
" Kalau begitu sehari lagi, Ibu kasih waktu untuk berpikir matang-matang.
Telepon terputus sebelum Nina mampu menjawabnya. Pikiran Nina semakin kacau. Bagaimanapun juga Nina berhutang budi dengan keluarga Dimas, Disaat keadaan sulit yang melanda keluarga Nina. Hutang Ayahnya yang tertipu waktu itu jelas Nina belum mampu untuk membayarnya.
" Nin, mana laporan yang perlu tanda tangan Pak Agung?" Tanya Linda menyadarkan lamunan Nina.
Nina pun menyerahkan dokumen-dokumennya. Lalu Linda beranjak ke ruangan Agung. Linda mengetuk pintu.
" Masuk."
Linda masuk dan menyerahkan dokumen-dokumen yang dibawanya. Eko terlihat memperhatikan dari ujung kaki sampai ujung kepala.
" Cantik." Celetuk Eko. Linda langsung tersipu malu.
" Kenapa bukan Nina yang meminta tanda tangan ini?" Tanya Agung seraya menunjuk sebuah dokumen. Dan jelas itu laporan yang dikerjakan Nina.
" Maaf Pak. Nina sedang sibuk." Linda mencari sebuah alasan.
" Lain kali suruh Dia sendiri yang ke ruangan Saya. Saya tidak akan menandatanganinya kalau bukan Dia sendiri yang kesini." Jelas Agung terlihat serius. Raut wajah Agung terlihat menakutkan. Agung tahu Linda membohonginya. Nina jelas sedang menghindarinya.
" Baik Pak." Jawab Linda dengan nasa gemetar.
Linda langsung pamit keluar dan melangkahkan kakinya kembali ke ruangan. Linda pun langsung menceritakan tentang yamg terjadi pada Nina. Nina mendengus kesal mendengarnya.
" Dia bilang begitu?"
Linda menganggukkan wajahnya.
" Dan raut wajahnya benar-benar sangat menakutkan." Ujar Linda.
Nina mengetuk-ngetukkan sebuah pulpen. Dia kelihatan berpikir. Dan akhirnya memutuskan untuk menghadapi Agung. Bagaimanapun juga, Dia tidak bisa terus menghindarimya.
Sorenya Nina terkejut saat Ibunya Dimas tiba-tiba meneleponnya disaat jam pulamg kerja. Nina pun menemui Beliau. Mereka terlihat minum teh bersama dicafe sekitar area kantor. Agung yang tidak sengaja melihatnya. Diam-diam mengikutinya. Karena tidak jelas mendengar pembicaraan yang sedang dibicarakan, terpaksa Agung memerintahkan orang kepercayaan keluarganya untuk menyelidiki lebih jauh. Agung sendiri hanya bisa melihat Nina dan wanita separuh baya tersebut dari jauh.
" Kalai Kau ingin Aku tidak mempermasalahkan hutang Ayahmu. Menikahlah dengan Dimas. Kalian sudah tumbuh bersama sejak kecil. Menurut Tante, tidak perlu ada yang dipermasalahkan lagi."
Ibunya Dimas terkesan memaksa Nina.
Disalah satu sisi hati Nina benar-benar bimbang. Nina tidak yakin dengan perasaannya sendiri. Dia pernah berharap pada Agung, tapi itu dulu. Sekarang jelas Agung sudah berubah. Bahkan banyak wanita disekelilingnya. Sedangkan Dimas, Dia memang selalu ada disisinya. Nina mempertimbangkan antara perasaan dan fakta uang terjadi. Dia pun akhirnya memutuskannya walaupun masih banyak keraguan dalam hatinya.
" Baiklah, Saya bersedia menikah dengan Dimas." Jawab Nina. Ibunya Dimas pun langsung terlihat bahagia.
" Aku tahu, Kau bisa diandalkan." Kata Ibunya Dimas.
Nina hanya membalas dengan senyuman. Dalam hati, Nina hanya berpikir demi keluarganya. Nina tidak ingin gara-gara keegoisan Nina. Ayah dan Ibunya terus memikirkan hutang Mereka.
Begitu selesai melakukan pertemuan dengan Ibunya Dimas. Nina langsung bergegas pulang. Dalam perjalanan, Dia terus memikirkan keputusan penting dalam hidupnya. Dan jelas-jelas sudah Dia putuskan. Dia akan menikah dengan Dimas.
Sedangkan dilain tempat, seseorang sedang melaporkan secara detail pembicaraan antara Nina dan wanita separuh baya tersebut yang diduga Ibunya Dimas.Agung manggut-manggut tanda memahami laporan tersebut. Setelah dianggap selesai Agung pun berterima kasih dan memberikan tips kepada orang kepercayaannya tersebut.
Agung pulang ke rumah orangtuanya. Alexa terlihat sedang menangis. Matanya penuh air mata. Agung terkejut, tidak biasanya adik semata wayangnya cengeng seperti itu. Agung pun mendekatinya.
" Ada apa?"
" Semua lelaki sama saja." Ujar Alexa seraya menatap Agung dengan tatapan benci.
Agung terkejut. Ada apa dengan adiknya? Apa Dia kesurupan? Agung menggelengkan kepala. Tidak mungkin Adiknya yang menyebalkan itu kesurupan. Setan pun sepertinya takut dengan omelan-omelannya.
" Sebenernya ada masalah apa?"
" Tidak ada." Sahut Alexa dan langsung beranjak dari tempat duduknya. Dia melangkahkan kakinya menuju ke kamar. Agung pun jadi bingung melihat adiknya itu. Dia menghampiri Ibunya dan menanyakan hal tersebut pada Ibunya. Namun Ibunya terlihat tidak mengerti juga, kenapa Alexa tiba-tiba seperti itu.
" Sepertinya Adikmu sedang bertengkar dengan kekasihnya. Kau sendiri kapan mempunyai kekasih yang benar-benar serius Gung?" Tanya Ibunya.
" Dari dulu Kau hanya memperkenalkan kekasihmu pada adikmu saja. Pada Mama belum pernah." Ujar Ibunya.
" Lama-lama Mama jodohkan dengan putri teman Arisan Mama.Dia cantik, sopan dan anggun."
Agung langsung membelalakkan matanya mendengar tentang perjodohan.
" Tidak perlu Ma, Agung akan memperkenalkan secepatnya kekasih Agung." Ucap Agung dan langsung beranjak.
To Be Continued