
Agung menghela napas dalam-dalam. Dia memaksakan diri bangkit dari sofa. Lalu berjalan menuju pintu. Dan itu membutuhkan waktu baginya.
Setiap langkah kakinya semakin berat dan sakit.Flu terkutuk, batinnya. Agung membuka pintu dan menghadapi adiknya. Alexa menggenggam iPhone terbaru ditelinganya, dengan satu tangannya yang terawat sempurna.
Rambut panjangnya dikucir dibelakang, sederhana namun elegan. Serta memakai tas warna hitam tua yang tergantung dibahunya, senada dengan celananya. Dibelakangnya nampak pria berwajah menyesal dalam setelan jas hitam. Dia adalah sahabat Agung dari dulu sampai sekarang,Eko.
" Ya Tuhan!" Alexa berteriak ngeri.
" Apa yang terjadi padamu?"
Agung hanya memandang wajah adiknya dengan wajah datar. Dia tidak menjawabnya. Agung seperti tidak mempunyai energi. Dia hanya meninggalkan pintu terbuka dan kembali ke kasur empuknya.
Meskipun mata Agung terbenam dalam bantal, Agung bisa merasakan adiknya dan sahabatnya berjalan perlahan ke dalam apartemen. Agung membayangkan betapa terkejutnya wajah mereka melihat kondisi Agung saat ini.Agung mengintip dari balik bantalnya.
" Gung?" Alexa bertanya dengan nada penuh kekhawatiran. Melihat Agung tak meresponnya. Alexa pun menoleh ke Eko dan marah kembali.
" Kenapa Kau tidak segera meneleponku? Bagaimana Kau bisa membiarkan ini terjadi?"
" Aku juga baru melihatnya Lex!" Kata Eko cepat.
Lalu Alexa duduk disamping Agung yang sedang menenggelamkan wajahnya ke bantal tersebut.
" Gung?" Tanya Alexa pelan. Dia mengelus rambut kakaknya dengan pelan.
" Kakak Sayang?" Suara Alexa begitu khawatir, Sifat keibuannya muncul, mengingatkan Agung pada Ibu Mereka. Ketika Agung masih anak-anak dan sakit di rumah, Ibu akan datang ke kamarnya dengan membawa sup di atas nampan. Lalu Dia akn mencium kening Agung dan memeriksanya apakah masih demam, atau sudah reda.
Ibunya selalu membuat Agung lebih baik. Memori dan tindakan serupa adiknya menyebabkan mata Agung berkaca-kaca. Dia benar-benar merasa sedang kacau.
" Aku baik-baik saja, Alxa." Jawab Agung, dengan suara pelan.
" Aku hanya flu,"
Alexa membuka kotak pizza dan lalu menutup hidungnya.
" Sakit bukan alasan untuk diet Gung."
Alexa mulai membersihkan bungkus-bungkus makanan dan sisa-sisa makanan. Dia tahu kakaknya itu sepertinya sedang kacau. Tidak biasanya Dia begitu. Dia biasa suka kerapian, seperti dirinya.
Alexa membereskan satu per satu sambil menarik napas dengan tajam, menilai bau yang bergabung dengan aroma pizza beberapa hari.
Mungkin tidak akan jadi seperti ini, kalau kakaknya tersebut mempunyai kekasih yang benar-benar bisa mengakhiri petualangannya. Karena setahu Alexa selama ini Agung hanya main-main dengan seorang wanita. Bahkan kekasihnya paling lama hanya satu bulan saja.
" Kak Agung!" Alexa menggoyang bahu Agung dengan lembut.
Agung menyerah, Dia pun bangun dan duduk. Lalu menggosok matanya yang kelelahan.
" Bicaralah padaku," Alexa memohon.
" Ada apa?Apa yang terjadi?"
Saat Agung melihat ekspresi galau dari adiknya tersebut, Agung terlempar ke masa lalu. Dimana saat itu Dia memutuskan untuk pergi ke USA ikut Ayahnya. Tanpa pamit ke Nina. Dan seperti hari itu, kebenaran yang menyakitkan mengoyak dari paru-parunya.
" Ini akhirnya yang terjadi."Sahut Agung.
" Apa yang terjadi?" Alexa belum mengerti.
" Apa yang telah Kau harapkan bertahun-tahun." Bisik Agung.
Alexa ingin kakaknya itu benar-benar jatuh cinta, layaknya orang yang jatuh cinta. Alexa tidak pernah setuju dengan cara hidup Agung yang tidak mempunyai hubungan tetap dengan kekasih-kekasihnya itu. Bahkan Alexa sendiri sebagai adiknya sudah ada calon. Namun Dia harus menunggu, setidaknya Agung mempunyai kekasih yang benar-benar untuk selamanya.
Agung mendongakkan kepalanya. Dia melihat ekspresi Alexa yang tersenyum.
" Tapi, Dia akan menikah dengan orang lain. Dia tidak menginginkanku. Tidak! Bahkan Kita benar-benar seperti orang asing saat ini." Ucap Agung membuat adiknya itu langsung berubah menjadi ekspresi simpati.
Alexa terlihat memutar otaknya, Alexa tipe orang yang tidak akan menyerah begitu saja. Dia pun tahu kakaknya itu sedang kacau.
" Ok. Kita akan memperbaiki situasi ini." Ujar Alexa, Dia terlihat jauh lebih dewasa dalam berpikir.
" Pergilah! Mandi air hangat. Aku akan membersihkan kekacauan ini.
Kemudian Kita bertiga akan keluar."
" Aku tidak bisa keluar. Aku sedang flu."
" Kau perlu makanan panas yang enak. "
Lalu Agung terlihat sadar. Apa yang Dia lakukan selama lima hari ini. Mengurung diri diapartemen. Tidak menjadikan dirinya lebih baik
Dalam perjalanan ke kamar mandi, Agung tidak bisa mencegah untuk
berpikir,bagaimana semua ini terjadi. Dia merasa mempunyai kehidupan yang
baik sekali. Sebuah kehidupan yang sempurna. Dan kemudian
semuanya berantakan gara-gara melihat kebersamaan Mereka dan mendengar gosip itu.
Paginya Agung sudah mulai bekerja kembali. Sapaan dan bisik-bisik karyawan silih berganti menghampirinya. Belum ada sebulan, Namun para karyawan pintar sekali kalau tentang ghibah dan gosip tentang hidupnya. Dia pun terus berjalan melewati setiap ruangan dikantor tersebut. Banyak karyawan, khususnya karyawati yang terpesona akan dirinya.
Ketika Dia melewati ruangan Nina. Sepertinya Nina belum datang. Dia pun masuk ke ruangan. Begitu sampai diruangan, Agung duduk dan lalu membungkuk dimejanya.
Dia sedang memikirkan sesuatu. Antara mau bersikap dingin atau bersikap lembut. Faktanya cara hidupnya sekarang membuat Agung kikuk dengan Nina. Nina sendiri tidak pernah membahas persahabatan Mereka dulu. Mungkin Dia sudah melupakannya.
Agung mengakui, perasaan yang dulu bukanlah cinta monyet semata. Dia memang tidak bisa melihat Nina bersama cowok lain.
Dan kini Dia menyadarinya. Namun Dia menangani perasaannya dengan buruk. Dia malah mengekspresikan ketidak peduliannya dari awal bertemu. Dan itu demi melindungi diri Agung sendiri.
Tidak bisa membantah alasan itu.Agung mengangkat kepalanya. Dia sepertinya sudah ada diruangannya sekarang.Batin Agung.
Dulu Agung dan Nina bersahabat, malah seperti saudara.Dan Dia tipe tomboy, Namun Dia bukan tipe wanita yang menjadi budak cinta. Agung yakin itu. Namun Nina tipe orang yang menjalin hubungan serius sepertinya. Mengingat sampai saat ini saja, Dimas masih disampingnya.Dia sepertinya sudah bersama orang yang tepat, Orang yang serius untuk hubungannya. Sedangkan Agung, Agung seorang playboy. Sudah banyak yang mengetahui tentang itu.
Agung frustasi sendiri didalam ruangan kerjanya. Hingga sebuah ketukan terdengar dipintu ruangannya. Agung langsung merapikan rambutnya yang sedikit berantakan karena menunduk dimeja tadi.
" Masuk " Sahut Agung.
Nina masuk dengan wajah profesionalnya. Dia membawa setumpuk dokumen. Dan lalu menyerahkan kepada Agung.
" Saya dengar Anda flu. Apakah sekarang sudah baikan?" Nina mencoba berbasa basi dengan Agung.
" Sudah." Jawab Agung singkat dan terkesan dingin, membuat Nina jadi langsung berpamitan keluar dari ruangan tersebut.
Agung sendiri jadi merasa frustasi kembali, Entah kenapa setiap berhadapan dengan Nina. Dia benar-benar jadi beubah dingin
To be Continued