
" Apa yang Kau lakukan? Lepaskan Aku!" Nina mencoba memberontak dan melepaskan diri.
Agung pun langsung melepaskan pelukannya dan keluar dari mobilnya. Dia hanya menyapa Dimas dengan menundukkan kepalanya dan sebuah senyuman yang tidak bisa diartikan. Tidak ada kata sedikitpun keluar dari mulutnya. Bahkan sebuah basa basi karena Mereka lama tidak berjumpa.
Dimas yang masih terkejut hanya terpaku. Jelas Dimas cemburu. Nina sendiri masih terlihat kesal. Dia tidak mengerti, kenapa Agung seperti itu.
" Apakah Kau sudah lama menunggu?" Tanya Nina membuat Dimas tersadar. Walaupun Nina ingin rasanya mengejar Agung dan memberikan pelajaran terhadapnya.
" Belum. Ayo Kita makan !" Ajak Dimas. Seolah tidak ada terjadi apa-apa.
Mereka pun ke tempat restoran terdekat. Nina terlihat diam saja. Seolah Dia sedang memikirkan sesuatu. Dimas diam-diam memperhatikannya.
" Kalian menjalin hubungan?" Tanya Dimas tiba-tiba.
" Tidak." Jawab Nina.
" Jadi tadi apa?"Tanya Dimas hati-hati ditengah gejolak rasa cemburunya.
" Entahlah. Mungkin Dia memang ingin buat Aku kesal." Sahut Nina seraya mengarahkan matanya ke arah jendela mobil.
Tidak selang lama Mereka sampai di restoran yang Mereka tuju. Dimas menawarkan banyak makanan ke Nina. Namun Nina bilang kalau Dia sebenarnya sudah terlalu kenyang saat meeting tadi. Nina pun hanya memesan makanan berkuah.
" Bagaimana tawaran Ibuku? Apa Kau sudah memikirkannya?" Tanya Dimas.
Nina jujur belum memikirkannya. Entah mengapa walaupun sudah lama Nina bersahabat dengan Dimas. Namun hatinya sedikitpun belum ada rasa. Sedangkan katanya memang tidak ada kata persahabatan diantara cewek dan cowok. Kalaupun tidak kedua-duanya. Pasti salah satunya ada yang berharap. Dan bersama Dimas, mungkin memang Dimas yang berharap. Namun tidak dengan Nina.
Sedangkan Nina sendiri tidak enak hati dengan semua kebaikan Dimas selama ini. Baginya Dimas selalu ada disaat suka dan dukanya. Apalagi keluarganya, sudah welcome sekali dengan Nina. Salah satunya Ibu Dimas. Beliau sangat berharap Nina menjadi menantunya.
Dalam kebimbangan tersebut. Ingin rasanya Nina tidak egois dan memaksakan kehendaknya sendiri. Bagaimanapun juga, orang yang pernah Nina harapkan. Kini sudah berubah seratus persen. Tak ada kata tersisa. Dari sikap dan cara hidupnya. Semua itu sudah jauh dari kriterianya.
"Nin. Kenapa malah melamun?" Tanya Dimas.
" Hmm, Maaf Dim. Berikan Aku waktu lebih lama untuk berpikir." Jawab Nina.
" Baiklah. Nanti akan kusampaikan pada Ibuku." Ujar Dimas.
Setelah makan siang selesai. Dimas mengantar Nina kembali ke kantornya. Nina pun kembali melangkahkan kakinya masuk ke gedung kantor. Dia melewati bagian resepsionis dan menuju ke arah lift. Di dalam lift Nina berpikir untuk memberikan pelajaran terhadap Agung. Dia membayangkan bagaimana caranya memberikan pelajaran terhadapnya. Bayangan-bayangan pembalasan itu bermunculan dari men*nj*k hidungnya, men*mp*r wajah tampannya, bahkan m*n*ndangnya sampai melayang ke tembok. Nina rasanya puas sekali kalau bisa melakukan itu semua.
Begitu keluar lift tiba-tiba Nina ragu.
Jangan memikirkan hal itu, kata Nina dengan tegas kepada dirinya sendiri. Sudah
cukup buruk bahwa tadi Agung tiba-tiba memeluknya, Bagaimana kalau nanti malah lebih parah dari itu.
Nina pun mengurungkan niatnya.
Dia memutuskan ke ruangannya, namun di tengah jalan Dia berpapasan dengan Agung yang baru saja keluar dari ruangan kerjanya. Ingin rasanya Nina memaki-maki dirinya, namun tampaknya Agung tidak mengerti bagaimana perasaan Nina.
Aku tahu ini membuatmu frustrasi. Jaga sikapmu dan semuanya akan baik-baik saja. Berhati-hatilah dan jangan melakukan apapun dengan gegabah.Pikir Nina. Sementara Dia melewati Agung. Nina pura-pura mengabaikan tatapan penuh senyuman licik. Nina langsung menuju ruang kerjanya. Setidaknya Dia telah melawan godaan
untuk tidak membuat perhitungan dengan Agung.Bahkan Nina menganggap perilakunya saat ini sangat baik, mengingat betapa frustrasi dan marah perasaannya terhadap Agung.
Agung sendiri merasa puas setelah siang tadi berhasil membuat Dimas cemburu. Seakan sakit hatinya saat dulu terbalaskan. Namun melihat Nina yang mengabaikannya. Agung jadi merasa bersalah. Pasti Nina berpikir Agung begitu tidak sopan padanya. Dia kurang ajar. Dan lalu, Nina akan memilih Dimas. Agung tidak ingin itu terjadi. Dia tidak ingin kehilangan Nina untuk kedua kalinya.
" Nin, disuruh ke ruangan Pak Agung." Ucap Linda.
Rasa kesal yang masih menguasai di hati Nina. Membuat Nina enggan beranjak dan keluar dari ruangan kerjanya. Namun tidak mau, Dia melangkahkan kakinya keluar dan menuju ke ruang kerja Agung.
Seperti biasa, Nina mengetuk pintu dahulu.
" Masuk."
Nina pun membuka pintu dan masuk ke ruangan tersebut. Melihat Agung yang sedang sibuk menatap layar monitor. Ingin rasanya Nina meluapkan kekesalannya.
" Ada apa Pak?" Tanya Nina geregetan.
Agung mendongakkan kepalanya. Wajah Nina benar-benar mengalihkah semua perhatiannya saat ini. Dia terpaku tanpa disadari.
"Pak?" Nina terlihat tidak sabar.
" Eee... Maaf atas sikapku tadi. Aku tidak bermaksud kurang ajar padamu." Jelas Agung.
Nina menghela nafas. Enak betul, Agung seenak itu minta maaf. Sedang Nina sendiri merasa Agung terlihat sengaja melakukan itu.
" Maaf, Aku tidak bisa semudah itu memaafkan." Sahut Nina.
" Apa ada keperluan lainnya Pak?" Tanya Nina merasa sudah tidak ada keperluan diruang tersebut.
Agung menatap mata Nina lekat-lekat. Dia berdiri dan mengitari meja kerjanya. Menghampiri Nina yang masih duduk sopan.
" Sebenarnya, Aku lelah menjauhimu." Bisik Agung. Nina spontan langsung berdiri. Nina merasa Agung sudah tidak biasanya. Dia pun melihat mata Agung yang penuh hasrat akan dirinya.
" Tapi maaf. Aku bukan seperti wanita lainnya, yang bisa Kau permainkan." Sahut Nina. Namun Agung malah semakin mendekati Nina dan Nina selangkah demi selangkah mundur menghindari Agung yang semakin mendekati dirinya.
" Apa Kau yakin, Kau tidak tertarik padaku sama sekali?" Agung menjadi tidak terkontrol mendengar ucapan Nina.
" Iya." Sahut Nina.
" Iya tertarik atau iya tidak?"
" Tidak. Aku tidak tertarik dengan dirimu yang sekarang." Jelas Nina. Namun sepertinya kata-kata itu semakin memicu Agung untuk mendekati wanita didepannya saat ini.
" Jadi Kau apa Kau benar-benar sudah mencintainya?" Tanya Agung. Dan Nina sudah terpojok sampai mepet dimeja kerja diruang tersebut.Nina berpikir untuk membohongi Agung. Dia berharap Agung akan menjauhinya.
" Iya." Sahut Nina. Namun jawaban tersebut membuat Agung termakan api cemburu.
Tanpa seijin Nina, Agung menarik Nina dan menciumnya dengan liar. Nina yang syok langsung mendorong Agung sekuat tenaganya. Nina benar-benar tidak menyangka Agung senekad itu padanya. Tanpa terasa air mata Nina menetes membasahi wajahnya, menahan emosi.
Agung yang tersadar langsung meminta maaf. Namun Nina tidak memperdulikannya dan langsung keluar dari ruangan tersebut. Nina berlari menuju ke toilet wanita. Dia menenangkan dirinya disana. Dia menyeka air mata dan membasuh wajahnya. Agung tanpa seijinnya telah mencuri ciuman pertamanya.
Sedangkan Agung langsung menghempaskan diri duduk di kursi kerjanya. Dia yang sebelumnya ingin memperbaiki situasi, tapi nyatanya malah memperburuk situasi. Agung memukul-mukul jidatnya sendiri.
" Apa yang telah Kulakukan? Bodoh! bodoh! bodoh!" Gerutu Agung meyalahkan diri sendiri.
To be continued