
Begitu pintu lift terbuka. Nina terlihat lega dan membiarkan Agung keluar duluan. Agung terlihat benar-benar sedingin es batu. Lain, lebih ke es balok.
Nina menghela napas lega menyaksikan punggung Agung yang mulai menghilang dibalik pintu ruangannya. Sampai siang, sepertinya Agung telah beradaptasi dengan pekerjaannya. Dia tidak ada sama sekali telepon ke ruangan Nina. Hingga saatnya makan siang tiba.
" Mau makan siang dimana Nin?" Tanya Mira tiba-tiba membuka pintu ruangan kerja Nina. Nina masih membereskan dokumennya.
" Aku skip dulu deh Mir, Aku lagi mager, mau pesan online saja." Sahut Nina seraya menunjukkan aplikasi online di handphonenya.
Alis Mira terangkat.
"Tumben,"
" Iya Mir, mumpung ada promo bebas ongkir juga." Jelas Nina. Padahal Dia memang lagi tidak mood turun. Mengingat Dia sedang menghadapi orang pajak. Dan itu membuat Dia pusing dan stress.
" Ok dah. Aku duluan kalau begitu."
Mira menutup pintu ruangan kerjanya Nina.
Sambil menunggu makanan datang. Nina melihat-lihat media sosialnya. Riri terlihat baru saja posting tentang gaun pernikahannya. Nina pun koment dengan mengatakan semoga semuanya lancar. Nina terkejut saat tiba-tiba telepon ruangannya berdering saat jam istirahat. Tidak biasanya telepon berdering diluar jam kerja. Nina pun mengangkatnya.
" Hallo."
" Bisa ke ruangan Saya sebentar." Suara Agung jelas terdengar ditelinga Nina, sontak Nina terkejut.
" Baik Pak."
Nina menghela napas berkali-kali untuk menghilangkan rasa gugup. Perlahan Nina melangkahkan kakinya menuju sebuah ruangan yang tidak jauh darinya. Hanya dihalangi satu ruangan, yaitu ruang meeting. Nina mengetuk pintu ruangan Direktur. Setelah Nina mendengar seruan masuk dari dalam sana. Nina meraih gagang pintu dan membukanya. Saat pintu terbuka, Nina kembali merasakan detak jantungnya yang berdebar. Nina masuk ke dalam sana dengan langkah kaki pelan. Agung yang sedang duduk dibalik meja tersebut belum menoleh ke arahnya. Di masih fokus dengan handphonenya.
" Ada apa Pak?" Tanya Nina begitu sudah sampai di depan meja Agung.
Agung mendongakkan kepalanya ketika mendengar suara Nina. Tatapan Mereka berdua bertemu. Namun tatapannya hanya menampilkan wajar datar dan dingin.
" Temanin Saya makan siang." Pinta Agung membuat Nina membelalakkan matanya.
" Maaf Pak. Tapi Saya sudah memesan makanan juga."
" Ini perintah! Kau bisa kasih makan siangmu ke security." Ucapnya dengan nada memerintah. Membuat Nina jadi diam tak berkutik. Perintah yang tidak masuk akal batin Nina.
" Baik Pak." Nina terpaksa mengalah. Dan jadi merasa aneh. Apakah diam-diam Agung masih mengingatnya. Namun Dia pura-pura tidak mengenal Nina. Nina menggelengkan kepala. Menepis semua itu, faktanya Dia sama sekali berbeda dengan Agung yang dulu. Dia benar-benar seperti orang asing bagi Nina.
Agung langsung beranjak dari tempat duduknya. Lalu melangkahkan kakinya menuju meja makannya yang terdapat dipojok ruangan tersebut. Ternyata Agung sudah memesan makan siangnya.
Nina terkejut, namun Dia tidak berani bertanya. Mengingat saat ini hubungan Mereka hanya sebatas Boss dan karyawan. Dan Nina terlihat ragu.
" Baik Pak." Mau tidak mau. Nina duduk dan makan bersama Agung. Nina pun jadi teringat persahabatan Mereka dulu. Namun Nina langsung menepisnya. Secara sekarang Mereka bagaikan orang asing yang tidak saling mengenal.
Setelah selesai makan siang. Handphone Nina berdering, ternyata pesanan makanannya sudah datang. Nina pun berpesan untuk memberikan pada securitynya saja.
Agung terlihat masih belum selesai minum. Hingga akhirnya makan siang Mereka selesai.
" Sepertinya jam makan siang hampir selesai. Saya pamit dulu Pak. Terima kasih banyak atas makanannya Pak." Ucap Nina dan hanya dibalas dengan deheman dari Agung.
Begitu keluar dari ruangan Agung. Kaki Nina rasanya lemas. Aura Agung yang jelas sangat berbeda membuat Nina merasa takut. Dia bersikap dingin dan cuek, seperti diakhir-akhir kenangannya itu. Ketika Dia menuntut Nina untuk memilih Dia atau Dimas. Dan Nina tidak bisa memilih satu-satunya, karena semuanya bagi Nina sahabat. Lalu Dia menjauhi Nina.
Namun Saat ini, Nina rasanya sadar, Dia pernah memiliki rasa terlarang,sebuah rasa lebih dari kata persahabatan.Tapi sekarang Dia sendiri tidak mau berharap, takut kecewa. Apalagi Nina juga sadar, posisi stata Mereka yang jauh berbeda. Nina hanya wanita biasa, sedang Agung ? Tidak perlu ditanyakan lagi. Dia dari keluarga yang berada.
Siang itu seperti biasa. Meeting setiap divisi untuk membahas target penjualan. Agung memperkenalkan dahulu sebelum memulai rapat. Terlihat banyak karyawan khususnya wanita yang tidak berkedip memandang wajah tampannya. Bahkan Mereka terlihat sangat terpesona oleh Agung.
Setelah selesai meeting. Nina kembali ke ruang kerjanya. Dan seperti biasa. Nina melaporkan hasil meetingnya kepada Agung. Begitu mengetuk pintu tak ada sahutan darinya. Takutnya ada seorang tamu didalam ruangan tersebut. Nina pun menunggu. Hingga akhirnya ada sahutan masuk dari Agung.
Nina pun memegang gagang pintu dan membukanya. Dia sangat terkejut. Ada seorang wanita di dalam ruangan tersebut. Nina tidak terlalu memperhatikan wanita tersebut. Nina hanya menyapanya dengan senyuman. Dan lalu Dia pun langsung sesuai tujuan. Menyerahkan laporan dan lalu pamit keluar dari ruangan kerja Agung. Dalam hati Nina penasaran, mungkin itu kekasih Agung. Namun Nina tidak ingin peduli lagi. Dan mulai sekarang Dia harus belajar move on dari masa lalu Mereka. Masa lalu yang bagi Nina masih berarti, Namun tidak untuk Agung. Hanya itu yang bisa Nina pikirkan. Dan Dia fokus bekerja kembali.
Nina melirik jam ditangannya yang menunjukkan hampir jam 17.00. Dia pun langsung membereskan dokumen-dokumennya. Lalu mematikan laptop, AC, dan lampu. Lalu keluar dari ruangan dan menguncinya.
Namun saat mau melangkah, terlihat Agung melewatinya. Secara ruangan Nina satu lorong dengan ruang kerja Direktur. Dan bagian Nina disitu selain bagian keuangan, Dia juga bagian Internal Control. Dan orang kepercayaan bagi Pak Dion. Secara Pak Dion merasa Nina pandai, cerdas dan amanah. Bahkan Pak Dion tidak mempunyai sekertaris tetap. Walaupun baik, tapi Pak Dion tipe orang pendiam. Diam-diam menilai dan tegas. Banyak sekretarisnya yang diam-diam tidak cocok dan diberhentikan. Dan sampai saat ini belum ada sekretaris penggantinya. Hingga mau tidak mau, Nina untuk sementara menghandle bagian tersebut.
"Makin betah nih. Kalau punya boss setampan itu. Moga selamanya, Dia menggantikan Pak Dion." Bisik salah satu karyawati begitu melihat Agung baru saja melewati Mereka.
" Tapi dinginnya itu nah. Seperti es balok." Celetuk teman satunya.
" Tidak peduli, yang penting tampan, pintar dan berwibawa."
" Sayangnya hanya bisa dibayangin. Ya kali, Dia bakal melirikmu. Tadi saja ada wanita cantik datang mencarinya." Obrolan Mereka masih berlanjut.
Nina yang dibelakangnya hanya bisa fokus dengerin, ghibahan para karyawan tersebut tentang Agung.
" Iyakah?"
"Iya, Aku sendiri yang menerimanya, " Jelas karyawati tersebut yang sepertinya bagian resepsionis.
" Orang setampan Pak Agung, tidak mungkin kalau belum mempunyai kekasih."Tambahnya. Membuat karyawati satunya terdengar kecewa. Sedangkan Nina hanya diam dan terus melangkahkan kakinya menuju lift untuk turun.
To be continued