Friendship In Love

Friendship In Love
Masa lalu



" Alexa melarangku untuk bertindak apapun. Untuk menjaga nama baik keluarga Kita, Pa. Kalau kejadian itu sampai diadukan ke polisi dan tercium oleh wartawan. Semua akan tahu, Pa." Jawab Agung.


" Tidak peduli. Pokoknya laporkan ke polisi, supaya orang yang menjerumuskan adikmu bisa dibekuk. Harus menerima hukuman yang setimpal!" Kata Pak Dion bersikeras.


" Tapi Alexa sudah berpesan begitu, Pa. "


" Ini akibatnya Kau tidak menuruti nasehat Mama." Kata Ibunya yang mulai terisak-isak. Suara perempuan itu terdengar serak dan tenggorokannya kering.


" Maafkan Agung, Ma." Agung berkata dengan perasaan sedih.


" Penyesalanmu sudah tiada guna lagi. Kalau dari dulu Kau menuruti nasehat Mama. Tak mungkin akan terjadi begini. Alexa tidak akan jadi korban sakit hati wanitamu itu."


" Mama kira Elvira wanita baik-baik."


" Aku lebih mengetahuinya,Ma. Dia bukan wanita pilihan yang pantas untuk Kujadikan istri." Ujar Agung. Iya, Ibunya sempat hampir menjodohkan Agung dengan teman adiknya tersebut. Secara Elvira terang-terangan menyukai Agung dan meminta bantuan pada Alexa untuk mendekati kakaknya tersebut. Namun faktanya, Agung menilai wanita tersebut hanya gila akan hartanya. Dimana saat kencan, Mereka kebanyakan shopping ini itu. Dan jelas membuat Agung bosan.


" Lalu wanita seperti apa yang menjadi pilihanmu Gung? Tunjukkan pada Mama. Mama ingin tahu. Wanita macam apa yang Kau sukai."


Agung terdiam, Dia masih belum bisa menjawab. Tapi kecamuk hatinya meletup-letup. Seandainya Agung tidak membuat kesalahan, sehingga bisa membuat Nina jatuh cinta padanya. Mungkin wanita seperti Dia lah yang Agung dambakan. Wanita yang pintar, kerja keras dan tabah menghadapi bantingan-bantingan hidup yang getir. Walaupun banyak masalah, bahkan masalah keluarganya yang Dia hadapi.


" Jawab, Gung! Mama jenuh dan muak dengan kebiasaanmu yang hanya mempermainkan para wanita. Setelah bosan, lalu Kau tinggalkan." Kat Ibunya kesal.


" Bersabarlah Ma. "


" Mama sudah tidak sabar."


Agung pun teringat akan taktiknya yang telah membuat Nina menandatangani sebuah kontrak kesepakatan. Dan jelas ini solusi yang tepat untuk menyelesaikan masalahnya dengan keluarga.


" Baiklah Ma. Minggu ini akan Agung kenalkan." Ujar Agung. Lalu Dia bangkit dan masuk ke kamarnya.


Pak Dion dan istrinya hanya bisa mengelus dada. Memandang Putranya hilang dibalik pintu kamar.


" Aku tidak menginginkan kemelut ini tambah berlarut. Agung harus secepatnya menikah." Ujar Ibunya.


Hari berikutnya, Begitu selesai mandi. Agung bersiap-siap. Dia memakai kemeja biru dongker, celana hitam dan sepatu hitam. Rambutnya tersisir rapi. Agung pun segera melangkah pergi. Di dalam Dia tergesa-gesa menghidupkan mesin mobilnya. Dia ingat hari ini banyak sekali urusannya di kantor. Walaupun Ayahnya sudah pulang. Namun Ayahnya sudah memutuskan bahwa Agung yang harus mengelola perusahaan tersebut.


Agung terlihat melajukan mobilnya menuju perusahaan. Disamping itu, Dia ingin lekas bertemu dengan Nina. Membicarakan kesepakatan yang Mereka tanda tangani. Namun ketika Agung tiba dikantor, kursi Nina masih terlihat kosong.


Kepagiankah Aku? Pikir Agung sembari melangkah. Dan sesekali membalas sapaan para karyawannya dengan senyuman dan anggukan kepala. Agung terus melangkah menuju ruang Direktur.


Nina terlihat buru-buru absen dan lalu masuk lift. Sesekali Dia melirik jam ditangannya. Didalam lift handphonenya tiba-tiba berdering.


" Jam berapa ini?" Suara yang tidak asing bagi Nina.


" Maaf Pak. Saya terlambat."


" Langsung ke ruangan Saya."


" Baik Pak."


Agung puas setelah mendengar suara Nina. Dia bolak balik terlihat mondar mandir. Mencari cara bagaimana Dia bilang ke Nina untuk membantunya menghadapi Ibunya.


Akhirnya suara ketukan pintu terdengar. Agung langsung duduk dengan tenang.


" Masuk." Sahut Agung.


"Pagi."


"Maaf Saya terlambat Pak."


" Ok. Lain kali jangan ulangi.


"Baik Pak."


" Dan nanti malam. Saya minta tolong sesuai kesepakatan sebelumnya. Saya meminta tolong untuk Kau berakting sebagai kekasih didepan Ibu dan Ayahku."


" Didepan Pak Dion? " Nina terkejut.


Agung menganggukkan kepalanya.


" Apa mungkin Pak Dion percaya?"


" Kenapa tidak." Sahut Agung.


" Bagaimana kalau Beliau beranggapan aneh-aneh tentang Saya." Ujar Nina sangat tidak enak hati.


" Jadi Kau mau membatalkan kesepakatan Kita dan membayar padaku." Agung kembali mengingatkan konsekuensinya atas pembatalan kesepakatan Mereka.


Nina menghela nafas panjang. Tidak mungkin Dia bisa membayar itu dalam jangka waktu yang singkat. Bisa-bisa lebih dari lima tahun baru lunas. Setidaknya ini hanya kesepakatan selama setahun. Setelah setahun,Nina bebas kembali dan masalah selesai. Nina meyakinkan diri sendiri.


"Baiklah. Hanya sebatas berpura-pura." Ujar Nina mengingatkan kesepakatan diantara Mereka.


" Tentu saja. Aku juga tidak ingin berkomitmen. Itu sangat merepotkan." Sahut Agung mencoba menenangkan Nina. Agar Nina tidak ragu untuk membantunya.


Dilain tempat, Dimas terlihat menggerutu sendiri atas tindakan Ibunya. Bagaimana bisa Ibunya tanpa memberitahu Dimas, tentang masalah tersebut. Dimas menjadi malu sendiri. Bagaimanapun juga Dimas tidak ingin memaksakan kehendaknya dengan cara seperti itu. Dimas ingin benar-benar merebut hati Nina dengan cara yang baik-baik. Kalau sudah begini, rasanya Dima hanya mempunyai sedikit peluang untuk mendapatkan Nina kembali.


Berkali-kali Dimas terlihat memandang hanphonenya. Dia terlihat ragu saat mau menghubungi Nina dan minta maaf atas kelakuan Ibunya. Dia benar-benar tidak mengerti cara pikir Ibunya. Walaupun mungkin hal itu untuk kebahagiaan Dimas.


Dimas beranjak dari tempat duduknya. Lalu memandang ke jendela luar. Gedung-gedung menjulang tinggi. Langit siang ini sedikit berawan. Kemungkinan akan terjadi hujan.


Dimas kembali ke tempat duduknya dan menoleh ke arah handphonenya. Walaupun sedikit ragu, Dimas akhirnya memutuskan menelepon Nina.


" Hallo."


" Maaf Nin telah mengganggu. Bisakah nanti pulang kerja makan bersama?"


" Maaf Dim. Aku telah ada janji." Sahut Nina.


" Oh baiklah. Maaf telah mengganggu." Ucap Dimas kecewa.


Dimas terlihat termenung. Dia berpikir, Nina janjian dengan siapa? Riri? Atau jangan-jangan ? Dimas menggelengkan kepalanya. Tidak mungkin. Mereka sudah tidak sedekat dulu.


Sedangkan Agung sendiri terlihat masih sibuk dengan pekerjaannya. Berkali-kali Dia terlihat tidak fokus. Namun berusaha memfokuskan diri. Rasanya pikiran Agung sangat kacau. Disatu sisi Dia memikirkan Alexa. Disatu sisi Dia memikirkan Ibunya. Sepertinya Ibunya sudah mempermasalahkan tentang gaya hidupnya itu.


Agung berhenti sejenak. Dia memegang keningnya dan kemudian menghempaskan diri ke kursinya. Lalu berputar arah memandang kejendela. Memandangi langit yang sekarang sudah tertutup awan pekat. Sepertinya mau hujan. Pikirannya menerawang jauh ke masa lalu. Dimana saat Dia dan Nina masih bersahabat. Dimana saat Dia belum tahu tentang apa yang namanya cinta dan nafsu. Disaat Dia hanya mengetahui tentang sebuah kenyamanan. Hingga persahabatan Mereka terjalin begitu lama tanpa ada masalah apapun. Hingga akhirnya sebuah kesalahan hadir satu per satu ke dalam hidupnya. Dan Agung tidak bisa mengulang waktu itu. Sekarang dibenak Agung hanya bagaimana cara memperbaiki itu semua.


To be Continued