Friendship In Love

Friendship In Love
Rasa penasaran



Begitu acara reuni selesai. Nina melangkahkan kakinya menuju parkiran. Sedangkan Agung sepertinya sedang nostalgia dengan Eko dan kawan-kawan tongkrongan Mereka dulu.


Sekali-sekali Nina melirik jam ditangannya. Agung belum ada muncul. Sedangkan Dimas terlihat baru keluar. Melihat Nina sendirian, Dimas menghampirinya.


" Hei!" Suara Dimas membuat Nina terkejut


" Hei Dim." Sahut Nina.


" Kau menunggu Agung?"


Nina menganggukkan kepala.


" Aku hanya mau minta maaf atas kelakuan Ibuku." Ujar Dimas. Dimas merasa bersalah karena Ibunya melakukan tindakan diluar sepengatahuan.


" Walaupun Aku tahu, itu demi kebahagiaanku. Tapi bukan kebahagiaan untukmu." Ucap Dimas seraya menatap Nina.


" Maafkan Aku." Nina juga tidak tega dengan sahabat masa kecilnya tersebut. Namun bagaimana lagi. Perasaannya tidak bisa dipaksakan.


" Jadi, Apa Kalian berkencan?" Nina Bingung menjawabnya. Dan seketika itu Agung muncul dibelakang Mereka.


" Iya, Kami berkencan." Sahut Agung langsung membukakan pintu mobilnya.


" Ayo Kita pulang. Aku tidak ingin terlambat mengantarmu!" Ujar Agung.


Mau tidak mau Nina masuk ke mobil.


" Sampai jumpa Dim."


" Sampai jumpa." Sahut Dimas.


Sebelum Agung masuk ke mobil. Dimas menahannya dengan pertanyaan.


" Apa Kau mempunyai perasaan padanya?" Tanya Dimas.


" Kenapa Kau ingin tahu? Kenapa Kau selalu ikut campur tentangnya?" Agung terlihat kesal. Dia menatap Dimas dengan raut wajah emosi.


"Dia spesial bagiku. Tapi Aku tidak tahu kenapa Dia lebih memilihmu. Aku tahu dan bisa meluhat, Dia dari dulu menyukaimu." Tambah Dimas membuat Agung terkejut. Nina menyukainya dari dulu. Agung tidak pernah peka akan hal itu. Yang Agung tahu, Dia cemburu terhadap hubungan Nina dan Dimas.


" Jadi jangan sekali-kali Kau menyakitinya. Seperti yang Kau lakukan kepada wanita-wanita lain. Aku tidak akan menoleransi itu." Ucap Dimas menatap tajam ke Agung. Dan lalu beranjak pergi.


Nina didalam mobil tidak begitu mendengar pembicaraan Mereka. Dengan raut wajah kesal, Agung masuk ke dalam mobilnya.


Nina yang melihat Agung menekuk wajahnya itu, jadi sungkan ingin bertanya. Agung lalu memasang sabuk pengaman dan menyalakan mesin mobilnya. Suasana jadi hening. Agung terlihat memikirkan sesuatu. Dia mengingat akan perkataan Dimas. Dan Dia merasa kesal pada dirinya sendiri. Kenapa dulu Agung tidak menyadari hal itu.


Sedangkan Nina ingin bertahan namun Dia ragu. Nina pun menghembuskan nafa dalam-dalam, sebelum akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.


" Ada apa?"


" Tidak ada." Sahut Agung.


Nina pun kembali terdiam. Dia tidak ingin mengganggu mood Agung, yang sepertinya sedang nano nano. Sepanjang perjalanan Mereka terdiam. Agung mengingat masa lalunya. Masa dimana Dia dan Nina bersama dalam suka dan duka. Dimana Mereka saling mengandalkan satu sama lain.


Nina mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Lampu jalanan terlihat berlarian dalam pandangannya. Dan Agung diam-diam melirik Nina. Dia mengingatkan perkataan Dimas. Benarkah Nina menyukainya dari dulu? Tetapi kenapa Dia tidak bilang apa-apa. Apakah Dia juga sepengecut diriku? Batin Agung bertanya-tanya.


" Nin!" Panggil Agung.


" Iya." Nina pun menoleh kearah Agung dengan penuh tanda tanya.


" Ada apa?" Nina penasaran karena semenjak tadi Agung diam membisu, setelah berbicara dengan Dimas.


" Apa Kau menyukaiku dari dulu?" Tanya Agung membuat Nina terkejut.


Nina pun langsung tertawa untuk menutupinya.


" Bagaimana Aku bisa menyukaimu playboy, sepertimu Ditambah devil yang berubah-ubah sepertimu." Jelas Nina.


To be continued