Friendship In Love

Friendship In Love
Kejujuran



Nina sedang membereskan dokumen-dokumennya. Sedangkan Linda sudah pamit pulang duluan. Nina mematikan laptopnya. Lalu mematikan AC dan lampunya. Hingga pintu tiba-tiba terbuka. Nina kira Linda kembali karena ada barangnya yang ketinggalan. Namun faktanya Agung.


Dia hanya mendongakkan kepalanya.


" Aku tunggu diparkiran." Ujarnya.


" Baik." Sahut Nina.


Dan Agung kembali melangkahkan kakinya menuju lift. Seraya sesekali merespon sapaan para karyawannya.


" Boss muda Kita benar-benar begitu tampan." Bisik salah satu karyawannya.


" Benar. Sayangnya playboy." Sahut satunya.


" Wajar saja, namanya juga tampan dan kaya." Sahut satunya lagi.


" Pasti banyak menyeleksi dulu."


" Moga saja gue lolos seleksi." Sahut salah satu karyawati tersebut. Teman-temannya pun langsung memandangnya dari ujung kaki sampai kepala. Tidak lama Nina terlihat melewati Mereka. Mereka langsung menghentikan candaan dan menyapanya. Lalu mencari tahu tentang Boss Mereka kepada Nina. Nina hanya tersenyum dan menjawab seperlunya. Secara Nina sendiri tidak tahu tipe wanita yang disukai Agung saat ini.


Nina kembali melangkahkan kakinya menuju lift. Lalu absen pulang dan mengambil kartu nama di poss security. Kemudian Dia melanjutkan langkahnya menuju parkiran. Agung menyarankan untuk meninggalkan mobilnya dan besok Dia yang akan menjemputnya. Nina pun menyetujuinya. Daripada Mereka bolak balik ke perusahaan. Tidak nyaman juga.


Sepanjang perjalanan Nina terlihat diam. Suasana menjadi hening dan sunyi. Rasanya kondisi sama seperti dulu. Bedanya dulu Mereka masih terlihat asik. Banyak yang bisa dibicarakan. Bahkan dari topik A sampai topik Z. Dari msalah PR, teman-teman bahkan guru-guru Mereka. Namun kini berbeda. Mereka seperti tidak mempunyai bahan pembicaraan sama sekali.


Nina mengalihkan pandangannya keluar jendela. Agung sesekali terlihat memperhatikan Nina. Ada rasa tidak nyaman menyelimuti Mereka.


" Sudah berapa lama Kau bekerja di perusahaan Ayahku?" Tanya Agung terlihat hati-hati membuka pembicaraan.


" Sejak lulus kuliah." Nina menoleh ke arah Agung. Agung terlihat fokus menyetir. Lalu menoleh ke Nina.


" Lama juga." Sahut Agung.


Hanphone Nina terdengar sebuah notif chat masuk


" Iya." Sahut Nina seraya mengecek Hanphonenya. Sebuah pesan dari Riri masuk.


^^^" Aku dengar Kau membatalkan pernikahanmu dengan Dimas?"^^^


" Iya Ri."


^^^" Tapi kenapa?"^^^


" Aku hanya tidak ingin menyakiti hati Dimas terlalu jauh."


^^^"Baiklah. Pasti ads sesuatu yang lain menjadi alasanmu. Lain kali Kita harus bertemu."^^^


" Ok."


Nina malas membahas itu lebih lanjut. Dia memilih memasukkan handphonenya kembali ke dalam tasnya.


" Siapa?" Agung penasaran.


" Riri. Teman SMA Kita." Jelas Nina. Entah Agung masih mengingatnya atau tidak. Agung hanya merespon dengan manggut-manggut saja.


Mereka terdiam kembali. Lagi-lagi suasana menjadi hening. Hanya ada suara musik yang sengaja Agung putar untuk menutupi kesunyian Mereka. Sebuah lagu yang tidak begitu asing di telinga Nina. Lagunya Melly Goeslaw feat Ari Lasso.


Tiba tiba engkau ada


Kemudian engkau hadir


Laksana kerdil, kumemeluk


Lihat aku lebih dalam


Di matamu kumelihat


Ada cinta yang tersirat


Sirami hati merebak


Barangkali aku salah


Ku terdiam bukan bisu


Ku tahu engkau besar malu


Tutupi rasa gelisah


Biar saja waktu nanti


Yang menikmati kisah ini


Bersamamu aku senang


Belum juga kah kau menyadarinya


Akulah yang pantas untuk kau cintai


Di bawah langit biru aku bersumpah


Diriku tanpamu apa artinya cinta


Siang malam hanya untuk fikirkan engkau


Sejuta kali aku berani bersumpah


Diriku tanpamu apa artinya cinta


Biar saja waktu nanti


Yang menikmati kisah ini


Bersamamu aku senang


Belum juga kah kau menyadarinya


Akulah yang pantas untuk kau cintai


Di bawah langit biru aku bersumpah


Diriku tanpamu apa artinya cinta


Arti cinta ini sudah menelan waktuku


Siang malam hanya untuk fikirkan engkau


Sejuta kali aku berani bersumpah


Diriku tanpamu apa artinya cinta


Hingga lagu selesai tak ada obrolan diantara Mereka. Agung tiba-tiba menghentikan mobilnya didepan super market.


" Setidaknya Kita membawa sedikit oleh-oleh untuk berakting. " Ujar Agung.


" Benar juga." Sahut Nina.


Mereka pun keluar dari mobil dan melangkahkan kaki masuk ke supermarket tersebut. Nina memilih buah-buahan dan makanan kesukaan Pak Dion dan istrinya.


Baru kali ini Agung belanja seperti itu. Ada sebuah rasa aneh yang membuat Agung terpaku dan terdiam. Saat Nina dengan teliti memilih belanjaan Mereka.


" Sudah." Ucap Nina lalu menarik kereta dorong yang Agung pegang. Dan berjalan ke arah kasir. Suara Nina juga terdengar ceria seperti saat Mereka bersahabat dulu.


Setelah selesai membayar. Mereka pun kembali ke mobil. Agung membuka bagasi mobilnya untuk meletakkan barang-barang belanjaannya. Lalu Mereka melanjutkan perjalanan kembali ke rumah orangtuanya Agung. Dalam perjalanan, Nina sudah terlihat mulai gugup. Bagaimana bisa Dia tiba-tiba datang sebagai kekasih Agung. Ditengah perjalanan, hujan tiba-tiba turun. Agung yang melihat Nina tanpa mengenakan jaket. Dia menanggalkan jasnya dan memberikannya pada Nina.


" Ini tidak perlu." Ujar Nina menolaknya.


" Aku tidak ingin Kau sakit dan tidak bisa membantuku." Sahut Agung setengah memaksa.


Mau tidak mau ,Nina memakainya. Nina merasa sedikit hangat. Dan bau parfum Agung tercium jelas dihidung Nina. Parfum yang tidak asing bagi Nina. Iya, Agung masih menggunakan parfum favorit Mereka dulu.


Nina diam-diam tersenyum mengingat masa lalu tersebut.


" Kenapa Kau diam saja sejak tadi." Agung kembali membuka pembicaraan diantara Mereka.


Nina yang sedang melamun pun langsung tersadar.


" Tidak ada yang perlu dibicarakan." Sahut Nina.


" Bagaimana kalau Kita membicarakan masa lalu." Ujar Agung memancing topik pembicaraan.


Nina sedikit menghela nafas. Secara masa lalu Mereka kini hanya sebuah kenangan belaka.


" Yang mungkin masih mengganjal dibenak Kita masing-masing." Tambah Agung


Nina berpikir sejenak. Lalu Dia teringat akan akhir-akhir persahabatan Mereka yang menjadi renggang.


" Kenapa Kau menghindariku begitu Dimas hadir." Nina mempertanyakan hal yang benar-benar masih membuat Nina bingung dulu.


" Aku dulu tidak mengetahuinya. Tapi kurasa Aku cemburu." Sahut Agung sambil tertawa. Karena jelas itu lucu baginya.


" Cemburu?" Nina memastikan.


Agung menganggukan kepala mengakuinya.


" Bagaimana bisa?" Tanya Nina. Secara waktu itu Agung sedang menjalin hubungan dengan Adelia juga.


" Rasanya dulu Aku belum tahu tentang cinta. Yang kutahu Aku nyaman dengan persahabatan Kita. Dan berkencan dengan Adelia itu sebuah keputusan yang membuatku sadar. Itu sebuah kesalahan. Aku tidak mendapatkan kenyamanan seperti dalam persahabatan Kita. Dan fakta terakhir, Aku tidak rela saat Dimas mendekatimu." Jelas Agung blak-blakkan. Lalu Dia menoleh menatap Nina yang terlihat terkejut. Karena perasaan Nina dulu juga seperti itu.


" Dan saat itu Aku memutuskan pindah keluar negeri. Selain untuk menghindari perasaan bersalah yang terus menghantuiku, karena berpura-pura menjauhimu. Nenekku juga sedang posisi tidak baik-baik saja." Agung tersenyum mengingat itu semua.


" Dan kenapa sekarang Kau terkenal playboy?"


Agung tertawa sebelum menjawab pertanyaan Nina.


" Yang jelas Aku hanya tidak ingin menjalani hidup yang terkekang. Kau tahu sendiri saat Aku berkencan dengan Adel saat SMA. Dia menjadikanku seakan Aku miliknya seutuhnya. Aku tidak mau seperti itu." Jelas Agung panjang lebar.


Nina langsung terkejut. Faktanya memang Agung tidak ingin mempunyai komitmen dengan siapapun. Dan jelas Nina tidak boleh berharap lebih dari saat ini. Secara semua ini juga hanya kesepakatan semata. Namun entah mengapa ada kepedihan tersendiri yang Nina rasakan. Dia tidak menyangka Agung akan setrauma itu dengan yang namanya sebuah hubungan. Agung terlihat sedikit melirik, melihat reaksi Nina melalui ekor matanya.


To be continued