
Agung termenung. Pikirannya melayang mengingat sebulan yang lalu.
Flashback
Agung dan teman-temannya sedang berdiskusi mengenai gadis-gadis yang akan Mereka temui.
" Apa Kau percaya akan cinta sejati?" Tanya Tian.
" Aku percaya." Sahut Eko.
“Aku tak ingin cinta sejati, Aku hanya ingin seseorang yang dapat menghiburku ketika diriku bosan." Ujar Agung.
" Kau benar-benar playboy cap buaya Gung." Ujar Tian salah satu teman nongkrongnya. Sedangkan Eko hanya geleng-geleng kepala. Dia tak yakin dengan kata-kata sahabat sebangkunya tersebut. Agung sepertinya hanya melarikan diri dari bayangan yang tak pasti.
" Kau pasti sedang bergurau. " Bisik Eko.
Agung melirik Eko.
" Aku tahu Kau mendengar kabar itu. Dan itu diam-diam membuatmu gelisah bukan?" Ejek Eko.
" Kau sok tahu. " Agung mengelaknya.
" Kalau Kau tidak bertindak. Kau akan benar-benar kehilangan Dia." Ujar Eko.
Agung berpikir sejenak. Akhir-akhir ini bayangan wajah Nina selalu muncul dalam benaknya. Apalagi semenjak kabar pernikahan Nina dengan Dimas.
" Kau harus cari informasi. Dan menggunakan sebuah taktik untuk mendekatinya. Atau Kau akan kehilangan Dia selamanya." Ujar Eko.
Flashback end
Agung membuka handphonenya. Dia melihat foto-foto lama yang masih tersimpan. Bagaimanapun kesepakatan Mereka dan desakan Ibunya merupakan suatu peluang baginya. Namun bagaimana Nina bisa menerima dirinya. Sedangkan Agung sendiri sudah terkenal suka mempermainkan wanita. Nina pasti juga berpikir negatif tentangnya. Dan Dia pasti akan menolak dan meragukannya.
Agung nendengus kesal. Faktanya saat ini, Dia telah menelan omongannya sendiri. Dia butuh cinta sejati, yang bisa menerima Dia apa adanya. Tanpa memandang masa lalu yang telah dilewatinya.
Agung melangkahkan kakinya menuju balkon kamarnya. Angin malam merasuk ke dalam pori-pori tangannya. Terasa dingin, membuat Agung melipatkan kedua tangannya.
Dilain tempat, Nina juga sedang bingung. Rasanya Dia benar-benar terjebak kedua kalinya. Dimas dan Agung, sama-sama tidak ada bedanya. Mereka hanya menawarkan sebuah materi untuk menjerat Nina.
" Sepertinya hidupku memang penuh drama, " Nina menatap langit-langit dikamarnya. Bagaimana bisa Dia terjebak dalam kesepakatan konyol itu. Tidak ada bedanya dengan jalan sebelumnya. Hanya berbeda pemerannya.
Nina menghembuskan nafas berat. Disatu sisi Dia tidak ingin terjebak dalam kesepakatan itu,kesepakatan yang tidak sesuai dengan awalnya. Disisi lain Agung jujur Nina pernah mengharapkan Agung.
" Dia bukan Agung yang dulu. Ingat itu." Ucap Nina memupuskan harapan hatinya sendiri.
...***...
Suara alarm pagi, membuat Nina terbangun dan langsung bergegas menyambar handuk lalu ke kamar mandi. Setelah selesai Dia langsung bersiap-siap dan sarapan pagi.
" Kunci mana kunci?" Tanyanya pada diri sendiri. Ibunya terlihat bingung. Kenapa Nina terlihat bingung begitu sampai digarasi mobil rumah Mereka.
" Apakah Kau lupa , kemarin Kau diantar Agung?" Tanya Ibunya.
Nina langsung menepuk jidatnya. Tidak selang lama. Sebuah mobil BMW keluaran terbaru berwarna hitam memasuki halaman rumahnya. Mobil itu terlihat berhenti tepat dihalaman rumah. Lalu sosok Agung keluar dari mobilnya. Agung terlihat rapi dan berkarisma, dengan setelan jas hitam, baju kemeja putih dan celana berwarna hitam. Dipadukan dengan sepatunya yang sepadan dengan warna jas dan celananya.
" Sepertinya Dia tertarik padamu." Bisik Ibunya pada Nina.
" Tidak mungkin Ma. Kami hanya sahabat, lebih tepatnya Dia boss dan Aku karyawannya. Lagian Dia sudah mempunyai banyak wanita." Sahut Nina setengah berbisik.
" Benarkah?" Ibunya setengah terkejut.
" Tapi Dia memang seperti superstar."Ujar Ibunya.
" Hmmm." Nina jadi kesal mendengar pujian Ibunya pada Agung.
Agung tersenyum dan menyapa Mereka.
" Pagi Bu. Pagi Nina." Sapa Agung terlihat penuh semangat."
" Pagi Nak Agung. Terima kasih sudah repot-repot menjemput Nina." Ucap Ibunya Nina.
" Tidak repot Bu. Saya malah senang." Ucap Agung membuat Nina ingin muntah.
Setelah berpamitan dengan Ibunya Nina. Agung dan Nina lalu masuk ke dalam mobil. Nina terlihat memasang sabuk pengamannya. Sedangkan Agung mulai menyalakan mesin mobilnya. Perlahan mobil keluar dari area rumah orangtuanya Nina.
Dalam perjalanan Nina terlihat ingin mengeluarkan unek-uneknya. Namun terlihat ragu-ragu. Agung yang menyadari itu, terlihat melirik ke arah Nina.
" Apa ada yang ingin Kau katakan?"
" Iya."
" Katakan saja."
Nina terlihat diam sejenak sebelum akhirnya mengungkapkan isi dalam benaknya.
" Bagaimana kalau Aku tetap membayar hutangku dengan menyicil. Potong dari gajiku tanpa harus menikah denganmu." Ujar Nina.
Agung terkejut dengan kata-kata Nina. Jadi Nina benar-benar membencinya.
" Kau tahu Aku menyetujui kesepakatan itu karena hanya berpura-pura sebagai kekasihmu. Tapi kalau menikah. Maaf, Aku tidak bisa. Kau tahu, Menikah bukan permainan semata. Itu sebuah janji suci dan sekali seumur hidup bagiku. Aku tidak bisa menjadikan pernikahan itu sebagai sebuah permainan." Jelas Nina.
Agung menghela nafas panjang. Bagaimana caranya menyatakan pada Nina. Kalau Dia sebenarnya telah sedikit berubah karenanya.
" Bagaimana kalau Aku benar-benar menyukaimu. Apakah Kau akan setuju dengan pernikahan itu?" Tanya Agung dengan nada santainya.
Nina langsung terkejut. Dan membelalakkan matanya, menoleh dan menatap Agung yang terlihat sedang fokus mengemudi. Nina tertawa kecil.
" Itu tidak mungkin. Kau pasti bercanda." Ujar Nina.
" Kau pasti hanya kasihan padaku." Tambah Nina.
"Tidak. Aku serius." Tiba-tiba Agung mengubah arah jalur mobilnya. Ke tepi pinggir jalan dan menghentikan mobil tersebut. Hal itu membuat Nina bingung. Agung menatap mata Nina.Nina pun terlihat mengalihkah pandangannya. Agung pun memegang kedua bahu Nina dan mengarahkannya menghadap ke Agung.
" Nin. Aku tahu, Kau pasti infeel dan membenciku karena caraku mempermainkan wanita. Tapi jujur itu memang kesalahanku. Dimana Aku benar-benar tidak percaya akan cinta. Namun Aku merasa akhir-akhir ini, Aku berubah semenjak Kita bertemu lagi. Aku tidak ingin seperti dulu yang kehilanganmu karena kebodohanku. Aku rasa, Aku benar-benar menyukaimu. " Jelas Agung panjang lebar dan melepaskan tangannya dari bahu Nina.
Mata Agung terlihat serius. Namun Nina terlihat ragu. Antara percaya dan tidak percaya dengan pernyataan Agung. Dia benar-benar mengungkapkan isi hatinya. Namun Nina ingat akan kata-kata Agung yang tidak ingin berkomitmen.
" Bukankah Kau tidak ingin berkomitmen?"
Tanya Nina.
" Iya, namun itu sebelum Aku menyadari perasaan ini." Jawab Agung terlihat meyakinkan.
Nina masih terlihat ragu. Bagaimanapun juga, Dia masih belum sepenuhnya percaya dengan kata-kata Agung. Mengingat beberapa wanita yang pernah datang ke kantor mencarinya. Mereka semua terlihat lebih cantik dan menarik. Dan kenapa tiba-tiba Agung malah mengatakan perasaan padanya. Nina merasa sangat tidak masuk akal.
" Kau meragukan kata-kataku?" Tanya Agung terlihat menyadari akan hal itu.
To be Continued