Friendship In Love

Friendship In Love
Meeting



Selang beberapa menit Agung keluar. Dia lalu menanda tangani semua dokumen yang diperlukan.


Lalu menyerahkan kepada Nina.


"Untuk meeting dengan investor. Saya sudah menginformasikan sendiri. Jadi Kau tidak perlu merisaukannya."


Nina pun mengerti. Dia pun lalu pamit untuk balik ke kantor kembali, tanpa kata-kata lagi.


Agung sendiri terduduk diam. Dia teringat akan persahabatan Mereka.Saat Mereka dulu masih SMP bahkan sampai SMA.


Hari berikutnya, Agung pagi-pagi sudah dikantor. Bahkan sesekali Dia melirik jam tangannya. Hingga waktu yang ditentukan. Dia menelepon ruangan kerja Nina.


" Siapkan semua dokumen yang dibutuhkan. Kita mau ada meeting diluar." Titah Agung.


" Baik Pak."


Nina pun terlihat menyiapkan dokumen-dokumennya. Hari ini Mereka akan ada meeting dengan perusahaan lain, membahas tentang kerja sama.


Tidak selang lama, Agung keluar dari ruangannya.Dia mengetok ruangan Nina dan mengajaknya pergi. Nina yang sudah menyiapkan semuanya, Dia pun langsung melangkahkan kakinya mengikuti Agung. Mereka terlihat menuju lift. Hingga sampai lantai dasar, Mereka langsung menuju parkiran mobil.


Nina pun melangkahkan kakinya menuju mobilnya. Namun baru mau belok. Sebuah tangan menariknya.


" Kau pikir mau pulang?" Tanya Agung mengingatkan. Nina pun sadar, bahwa Mereka akan meeting diluar. Nina pun mengikuti langkah Agung kembali menuju mobilnya.


Agung membukakan pintu samping. Padahal Nina berniat mau duduk dibelakang. Namun lagi-lagi Agung menarik lengan bajunya.


" Ingat, Aku bukan sopir." Ujar Agung saat Nina mau duduk dibelakang.


Mau tidak mau Nina duduk di samping kursi pengemudi. Perlahan Nina memasang sabuk pengamannya. Seraya memperhatikan Agung yang sedang menyalakan mesin mobilnya. Lalu Agung mengemudikan mobilnya menuju sebuah Coffe shop. Dimana Mereka telah menyewa sebuah ruangan untuk meeting.


Pagi itu, jalanan masih terlihat sangat padat.


Banyak kendaraan berlalu lalang. Tiada pembicaraan berarti yang Mereka bicarakan. Hanya sebuah musik pop yang mengiringi perjalanan Mereka. Agung terlihat fokus mengemudi. Dan Nina terlihat mengarahkan pandangannya keluar jendela.


" Kapan Kalian akan menikah?" Tanya Agung tiba-tiba memecah keheningan Mereka berdua.


Nina terlihat terdiam. Bagaimanapun juga, Dia dan Dimas belum ada rencana ke sana. Itu hanya rencana ibunya Dimas. Dan jelas Nina belum ada kata menyetujuinya. Secara hatinya masih bimbang.


" Entahlah." Sahut Nina membuat Agung mengerutkan keningnya. Sedangkan Nina membenarkan poninya yang tertepa angin. Angin dari arah jendela mobil yang terbuka, menerpa rambut poninya. Agung diam-diam memperhatikannya. Nina sudah berubah juga, Dia tidak setomboy yang dulu saat sekolah. Kini sikap dan tingkah lakunya lebih terlihat feminim. Mungkin waktu yang begitu lama telah mengubahnya.


" Tapi bukankah sebuah pernikahan harus dilandasi saling cinta." Ujar Agung. Nina hanya menoleh sekilas dan kembali mengarahkan pandangannya ke jendela.


" Tentu saja." Sahut Nina.


" Jadi apa Kau mencintai Dimas?" Pertanyaan Agung yang sepertinya menjebak Nina. Nina spontan langsung menoleh ke arah Agung. Agung terlihat fokus menatap ke arah jalan. Namun ekor matanya seperti melihat reaksi Nina atas kata-katanya.


" Itu tidak perlu dipertanyakan." Sahut Nina terdengar ambigu. Namun justru membuat Agung langsung berubah ekspresi. Dari yang tadi meragukan, Kini menjadi percaya. Hatinya pun tiba-tiba terasa cemburu mendengarnya. Tanpa sadar Agung menambah kecepatan dalam mengemudinya.


Nina pun sadar. Dan langsung melihat spidometer mobil Agung.


" Oh My God!" Teriak Nina.


" Apa yang Kau lakukan? Pelankan kecepatan!" Pinta Nina.


Agung pun melirik spidometer mobilnya dan terkejut sendiri. Dia pun akhirnya mengurangi kecepatan mengemudinya. Nina yang melihat hal tersebut hanya geleng-geleng kepala.


" Kau benar-benar berubah." Ujar Nina.


" Tidak hanya cara hidupmu mengenai wanita. Namun sikapmu juga." Tambah Nina. Agung terdiam, Dalam hati Dia ingin mengutarakan kepada Nina. Kenapa Dia berubah seperti itu. Namun apa gunanya sekarang. Bahkan Nina sendiri sudah akan menikah dengan Dimas. Orang yang bagi Agung telah merebut Nina darinya.


Dilengkapi meja kursi yang nyaman dan pendingin udara yang memadai, kegiatan kerja maupun meeting dijamin lancar. Terlebih lagi sajian makanan dan minuman di sini cukup nikmat menggugah selera. Bisa memesan roasted chicken risotto, iga bakar rica, aneka pasta, salmon steak, hingga basque cheesecake, dan hazelnut choco cake.


Setelah Mereka memesan makanan, Mereka pun menuju ruangan meeting yang Mereka sewa. Mereka terlihat sudah menunggu Agung dan Nina. Setelah saling memperkenalkan diri, Mereka pun langsung membahas tentang kerja sama. Agung belum lama menggantikan Ayahnya, Namun Dia sudah terlihat lihat dalam hal tersebut.


Hingga akhirnya meeting tersebut selesai.


Saat perjalanan pulang ke kantor. Lagi-lagi suasana hening. Agung sibuk dengan pemikirannya sendiri, begitu juga Nina. Hingga akhirnya Nina menoleh ke arah Agung.


" Kenapa Kau tidak memberitahuku saat Kau mau ke USA?" Tanya Nina pemasaran.


" Apa itu penting?"Agung menoleh sekilas.


" Iya." Nina menganggukan kepalanya.


Bagaimanapun juga waktu itu Nina sangat kecewa dengan keputusan Agung. Yang tiba-tiba menghilang dari hidupnya.


" Aku merasa itu tidak perlu." Ujar Agung.


"Kenapa? "


" Karena bagiku. Kau bukan sahabatku lagi." Jelas Agung.


Nina terkejut dengan kata-kata Agung. Bagaimana bisa Dia semudah itu mengeluarkan Nina dari daftar sahabatnya.


" Apa Kau marah mendengarnya?" Tanya Agung menebaknya.


" Tentu saja." Sahut Nina seraya menatap Agung yang sedang fokua mengemudi.


" Kau tidak tanya alasannya?" Tanya Agung membuat Nina tidak mengerti.


" Apa karena Dimas?" Nina menebaknya.


" Salah satunya itu. Dan yang paling membuatku kesal saat itu. Aku tersadar bukan ..." Kata-kata Agung terpotong oleh suara dering handphone Nina yang berdering.


Nina pun mengangkat Handphonenya.


" Hallo."


" Kau dimana?"


" Masih diluar, habis meeting Dim."


" Ok , Aku menunggumu didepan tempat kerjamu." Jelas Dimas membuat Nina langsung membelalakkan matanya.


" Aku ingin mengajakmu makan siang."Tambah Dimas.


" Baiklah." Sahut Nina bingung.


Nina pun langsung menoleh ke arah Agung. Agung terlihat fokus mengemudi. Namun ekspresi wajahnya jelas tak dapat diartikan.


Ekspresi Agung mengingatkan Nina dulu. Saat Dia menjauhi Nina tanpa alasan yang jelas. Ekspresi itu sekarang muncul kembali. Agung segera membelokkan mobilnya ke arah kantor Mereka.


Disitu jelas, Dimas terlihat berdiri disamping mobilnya. Dia terlihat melirik jam tangannya. Dan Agung dengan sengaja parkir disebelah mobilnya. Hal itu membuat Dimas sangat terkejut. Apalagi melihat Agung dan Nina satu mobil. Dimas terlihat antara percaya dan tidak. Nina langsung melepaskan sabuk pengamannya. Begitu Nina mau membuka pintu mobil. Agung tiba-tiba menarik ke dalam pelukannya. Nina pun langsung membelalakkan matanya, Dia sangat terkejut. Begitu juga Dimas, dengan mata kepalanya sendiri. Dimas melihat, Agung memeluk Nina didepan matanya saat ini.


To be continued