
Agung lagi-lagi dengan semangatnya menjemput Nina dan menunggunya. Sedangkan Nina tanpa sadar mengambil kunci mobilnya. Namun Dia terkejut saat melihat Agung sudah datang menjemputnya.
" Kenapa Kau menjemputku?" Tanya Nina dengan polosnya.
Agung tertawa.
" Apa Kau lupa sekarang Kau kekasihku." Sahut Agung mengingatkan Nina.
" Bukan begitu. Maksudku bagaimana nanti tanggapan karyawan lainnya. " Keluh Nina .
" Kau tidak perlu memikirkan itu. Toh tidak ada yang salah dengan Kita. Kau masih single, Aku masih single." Jelas Agung seraya membukakan pintu mobil untuk Nina.
Nina masih ragu. Membuat Agung memaksanya.
" Sudahlah buruan masuk. Kau tidak ingin Kita telat bukan?" Agung mengingatkan Nina.
Nina pun masuk ke mobilnya Agung. Dan lalu memasang sabuk pengamannya. Jalanan pagi ini sudah terlihat padat merayap. Maklum , jam-jam orang berangkat kerja. Sesekali Nina melirik ke arah Agung yang sedang serius mengemudi.
Hingga akhirnya Mereka sampai diparkiran depan kantor. Jelas semua mata memandang ke arah Mereka. Seperti waktu itu. Nina langsung menundukkan kepala. Dan berniat untuk berlari saja. Namun siapa sangka, Agung justru menggandeng tangannya. Hal itu membuat Nina semakin tidak nyaman. Banyak karyawan dan karyawati yang berbisik-bisik dibelakang Mereka.
Nina mencoba melepaskan tangannya. Namun Agung justru mempererat genggaman tangannya. Nina pun menahan kesal dengan kelakuan Agung pagi ini.
" Sepertinya Aku salah menyukai orang." Ujar Nina setengah berbisik.
" Aku rasa juga begitu." Sahut Agung seraya mengolok Nina seperti anak kecil.
Sepanjang perjalanan dari lift sampai ruang kerja. Nina merasa waktu begitu sangat lama. Hingga akhirnya Nina sampai diruang kerja.
" Jangan lupa laporan hari ini." Agung mengingatkan Nina.
" Baik Boss!" Jawab Nina penuh penekanan. Agung menahan tawa melihat kekesalan Nina. Dengan kesal Nina langsung menyalakan laptopnya dan AC ruangan. Setelah itu Linda terlihat baru datang
" Jadi Kau dan Pak Agung benar-benar berhubungan?"
" Aku masih tidak percaya. Kau Nina. Ternyata juga menyukai Pak Agung. " Cerocos Linda membuat Nina tambah gerah.
" Aku juga bingung. Kenapa Aku bisa menyukainya. Sepertinya Aku khilaf." Sahut Nina.
" Tidak! Itu bukan khilaf. Justru keberuntungan hakiki Nina." Puji Linda. Secara Linda dan karyawati-karyawati lainnya diam-diam banyak yang menyukainya. Walaupun Mereka sudah mengetahui kelakuan bossnya yang suka mempermainkan para wanita. Begitu bosan, langsung diputuskan sepihak.
Nina menghela nafas panjang. Jari jemarinya dengan lincah menari diatas keyboard. Dia fokus mengerjakan pekerjaannya.
" Kau tahu. Semua karyawan iri padamu. Kau seperti Cinderella dikehidupan nyata." Tambah Linda masih membahas topik yang sama.
Linda mendengus kesal. Saat itu pulas telepon ruangan berdering. Dan jelas yang menelepon Agung. Dia meminta Nina segera membawakan laporannya. Secara jam 10.00 Rapat pemegang saham akan dilaksanakan hari ini. Nina pun langsung beranjak dari tempat duduknya dan melangkahkan kaki menuju ruangan Agung.Nina pun mengetuk pintu ruangan tersebut.
" Masuk!" Sahut Agung terlihat masik sibuk menatap layar laptopnya.
" Ini laporan yang Bapak minta. Dan ini laporan yang harus ditandatangani." Jelas Nina lalu berniat keluar dari ruangan tersebut.
" Tunggu!" Pinta Agung membuat Nina terhenti.
" Kau tahu. Investor atas nama Michael."
" Tentu saja. Kenapa?" Tanya Nina.
" Tidak apa-apa." Sahut Agung dan mempersilahkan Nina keluar.
Saat jam istirahat. Nina terlihat mengambil makanan dan menghampiri Linda dan sahabat lainnya. Namun Mereka semua langsung menyingkir melihat Agung datang.
" Aku sepertinya sudah kenyang." Ucap Lili.
" Aku hampir tersedak. Butuh minum tambahan. " Ucap Linda dan langsung beranjak.
Nina jadi bingung. Sepertinya Mereka sengaja menghindari Nina. Dan saat itu, Agung tiba-tiba duduk dihadapannya. Nina pun langsung paham, kenapa Linda dan Lili langsung beranjak pergi.
" Kau benar-benar membuatku terkena diskriminasi." Ujar Nina seraya ingin beranjak. Namun Agung mencegahnya.
" Kenapa Kau ingin pergi juga. Aku bukan harimau atau predator yang akan memakanmu." Celoteh Agung.
" Kau tahu ini sangat tidak nyaman." Ucap Nina.
" Kau sendiri yang membuat tidak nyaman. Aku belum menikah. Kau juga belum menikah. Jadi tidak nyamannya dimana." Sahut Agung seraya mulai memakan makan siangnya.
" Kau boss! Aku karyawan!" Ucap Nina penuh penekanan.
" Kau begitu. Mari Kita menikah! Jadi tidak ada kata Boss dan karyawan. Bagaimana?" Tanya Agung membuat Nina hampir tersedak mendengarnya.
" Tidak lucu." Nina kembali fokus makan.
" Siapa bilang menikah lucu. Ya memang tidak lucu. Kalau lucu itu namanya komedi." Ujar Agung semakin membuat Nina kesal.
Agung kembali dengan sifat aslinya seperti dulu. Humoris dan perhatian. Nina sepertinya membawa dampak positif dalam kehidupannya. Pengakuan Agung tentang jalan hidup yang pernah dilalui, sama sekali tidak menjadi pengganggu dalam hubungan Nina dan Agung saat ini. Dan akhirnya hubungan Mereka berkembang. Dari persahabatan, rekan kerja hingga kini Mereka berkencan. Hubungan Agung dan Nina tumbuh menjadi lebih baik. Bahkan Agung sudah dianggap seperti keluarga oleh keluarga Nina, begitu juga sebaliknya. Kebiasaan Agung berkumpul dan nongkrong di cafe dengan teman-teman wanita sudah hilang sama sekali.
...THE END...