EX-SOLDIER: In Another World

EX-SOLDIER: In Another World
Kota Damai sebelum Badai - Part 5



Jika seseorang bertanya pada Sofia tentang: Apakah dia pernah melihat neraka? Jawabannya adalah ya, karena Sofia sendiri sedang menatap neraka saat ini.


Kota Angelbarrow yang di banggakan sebagai Kota Benteng yang tak tertembus kini sedang di lalap api. Bukan karena kebakaran biasa, namun sesuatu yang sengaja untuk membuat kekacauan di dalam kota. Buktinya, beberapa penjaga ditemukan tewas dengan pintu yang digunakan oleh para penjaga untuk memasuki benteng telah di bobol. Hal yang tidak pernah Sofia pikirkan karena kejadian ini belum pernah terjadi sebelumnya. Sofia terlalu bangga dan percaya akan reputasi Kota Benteng yang tidak tertembus dan dia membuat kesalahan tentang hal ini.


Kepanikan telah menyebarkan ke semua warga kota dengan banyaknya bangunan yang telah terbakar. Para kesatria dan warga kota berusaha memadamkan api namun terbukti sia-sia karena cepatnya penyebaran api dengan banyaknya titik yang terbakar. Teriakan dan jeritan putus asa terdengar di setiap penjuru kota, para ibu yang menangis, pedagang-pedagang yang frustrasi dan para kesatria yang terlalu sibuk untuk menenangkan masa dan memecahkan masalah di saat yang sama.


Singkatnya, ini adalah neraka.


"Evakuasi para warga! Padamkan api dan selamat orang-orang yang bisa di selamatkan!"


Sofia meneriakkan perintah pada para bawahannya di tengah kekacauan. Segalanya menjadi tidak efektif dengan warga sipil yang panik menghalangi upaya para bawahannya.


...TING!! TONG!! TING!! TONG!! TING!! TONG!!...


"SERANGAN MUSUH!!"


Segalanya menjadi lebih buruk saat dia mendengar lonceng peringatan dengan laporan dari salah satu bawahannya bahwa mereka melihat satu peleton prajurit musuh yang sedang mendekati kota dengan para penjaga dan sebagian Orde-nya sedang bertarung melawan para penyusup berjubah hitam untuk mempertahankan gerbang.


'Bagaimana ini bisa terjadi? Apakah Kerajaan telah dikalahkan atau ... ' Sofia berhenti sejenak dalam pikirannya, dia tidak menyukai ide ini bahwa, 'Seseorang telah mengkhianati kerajaan dengan menyelundupkan tentara musuh.'


Sofia menggelengkan kepalanya dengan pemikiran terakhir, namun dia tidak menyukai pemikiran pertama. Bagaimana pun Kerajaan memiliki lebih dari 100.000 tentara, tidak mungkin Kerajaan di kalahkan dengan mudah apalagi dengan jeda waktu yang sangat singkat setelah dia melakukan retreat.


"Sial!"


Gumam Sofia, dia kesal dan frustrasi dengan keadaan ini. Bertanya-tanya apa kemungkinan yang menyebabkan kejadian ini, namun ini bukan saatnya untuk berpikir, dia harus menyelamatkan kota, harus.


Dengan tekad yang telah bulat, Sofia mulai mengkoordinasikan kembali para kesatria dan penjaga kota untuk melakukan evakuasi warga sementara sebagian tentara di tugaskan untuk mempertahankan benteng agar tidak jatuh ke tangan musuh. Dengan mata yang mencerminkan amarah, Sofia bertekad demi kehormatan dan harga dirinya sebagai bangsawan untuk mempertahankan kota ini dari bahaya apa pun.


...…...


"Hm?"


Vincent mengangkat kepalanya saat di mendengar keributan di luar penjara, seperti ada sesuatu yang salah. Dia berkonsentrasi untuk mendengar apa yang tejadi dalam keributan yang dia dengar hingga dia menangkap kata: 'Kebakaran dan Penyerang'.


'Mungkinkah kota ini telah di serang oleh musuh?'


Pikir Vincent saat dia memutuskan untuk mendengar lebih banyak untuk meyakinkan pemikirannya. Ini bukan hal yang diharapkan Vincent, namun dia tidak bisa melewatkan kesempatan ini untuk membebaskan diri sementara para prajurit dan kesatria sibuk dengan musuh mereka.


Di sisi lain, Lisa sedang tertidur dengan posisi duduk di pelukan Vincent. Mantel panjang Vincent telah menjadi selimut darurat untuk menambah kenyamanannya, wajahnya damai seolah dia adalah seorang anak yang polos. Dia tampak sangat cantik saat seperti ini, hanya kepolosan murni tanpa kilatan nakal di matanya seperti saat dia menatap Vincent.


"Lisa..."


Kata Vincent dengan nada yang lembut, sedikit goyangan di bahu Lisa untuk membuatnya terbangun. Sebenarnya Vincent ingin mengagumi lebih lama lagi untuk wajah tidur Lisa, namun ada hal yang lebih penting dari itu sekarang.


Setelah beberapa kali percobaan, akhirnya Lisa bangun. Wajahnya masih terlihat mengantuk, kemudian dengan menggosok matanya untuk menghilangkan kantuk, Lisa terbangun dan menatap Vincent.


"Vinnie?"


"Ya, aku di sini. Sekarang bangunlah, kita akan keluar dari sini."


"Keluar?"


"Ya, lebih tepatnya kabur dari penjara."


Dengan itu Vincent berdiri, membuka inventaris miliknya dengan mengatakan "Interface" dan layar mengambang dihadapannya, kemudian memilih senjata yang paling cocok untuk situasi ini.


'Shotgun akan menjadi senjata yang cocok untuk mendobrak pintu, apalagi dengan gembok primitive seperti ini tidak akan menjadi masalah.'


Vincent mengeluarkan shotgun Banelli M4 Super 90, dengan ammo tujuh tambah satu. Kemudian Vincent kembali ke layar di depannya.


'Aku membutuhkan senjata yang menembus baju besi kesatria, shotgun tidak akan masuk dalam hitungan dengan banyaknya kesatria, itu akan menjadi merepotkan jika aku harus mengisi ulang setiap 8 tembakan melawan banyak prajurit yang ada.'


"Mundur."


Kata Vincent pada Lisa saat dia membidik gembok dengan shotgun yang telah dia keluarkan. Butuh dua kali tembakan untuk melepaskan besi tua tersebut, dan akhirnya mereka berdua bebas.


Saat mereka keluar, banyak tahanan yang berteriak padanya yang Vincent abaikan begitu saja. Dia tidak peduli para tahanan, mereka di sini karena kesalahan mereka dan itu bukan urusannya. Lebih penting lagi dia harus keluar dari sini.


Pelariannya berjalan lancar dengan jarangnya penjaga di bangunan tempat Vincent di tahan. Itu mungkin karena sebagian besar dari mereka terlalu sibuk untuk mempertahankan kota atau mencoba memadamkan api.


Mereka terus maju mencapai mereka berada di pintu keluar. Namun bukannya meneruskan pelarian mereka, Vincent mematung di tempatnya saat dia melihat keadaan kota.


Pemandangan itu hanya bisa di sebut mimpi buruk bagi Vincent. Lautan api yang membakar sebagian besar bangunan, teriakan putus asa bergema di seluruh kota dengan banyaknya mayat yang tergeletak di jalanan, entah itu di bunuh atau korban kebakaran.


Pikirannya tenggelam saat dia melihat seorang ibu yang melindungi anaknya dalam pelukan, melindungi generasi masa depan dari seorang kesatria biadab yang mengancam mereka dengan pedang. Apa yang dilihat Vincent membalikkan sakelar di otaknya, semua ketenangan yang dia miliki hilang begitu saja dan di gantikan oleh kemarahan yang tak terbendung.


Satu hal yang selalu dia pegang bersama tentara lainnya di dunia sebelumnya untuk tidak pernah melibatkan warga sipil dalam perang, tidak ada gunanya untuk membunuh secara membabi buta apalagi pada mereka yang tidak bisa melawan. Itu adalah kehormatannya sebagai seorang tentara, untuk melindungi negara dan orang-orang di dalamnya, untuk melindungi yang lemah dan membela keadilan.


Tetapi apa yang dia lihat bukan seorang tentara, itu hanya orang biadab yang haus akan kekuasaan. Vincent tidak bisa memaafkan hal ini.


Dengan keputusan itu, Vincent berlari ke arah kesatria tersebut dengan teriakan perang.


"BAJINGAN!!"


Dalam waktu kurang dari sepuluh detik, Vincent berhasil mendekati kesatria tersebut. Kesatria yang telah siap mengayunkan pedangnya untuk mengakhiri nyawa sang ibu, terganggu oleh teriakan Vincent dan menoleh hanya untuk mendapatkan pukulan di kepala berhelmnya dengan popor shotgun, membuat kesatria itu terhuyung mundur sebelum Vincent melepaskan tiga tembakan kebencian ke arah kesatria tersebut, membuatnya mati seketika dengan tubuh penuh lubang seperti keju Swiss.


"VINCENT!"


Mantan putri bangsawan yang menjadi petualang berteriak saat melihat Vincent berlari begitu saja dan membunuh kesatria musuh. Itu membuatnya khawatir untuk sedikitnya, namun Vincent mengabaikan teriakan Lisa dan mulai membantu sang ibu yang ketakutan.


"Apalah kalian baik-baik saja?"


Tanya Vincent dengan lembut, dia menawarkan tangannya untuk membantu sang ibu berdiri. Meskipun sang ibu gemetar, dia memaksakan dirinya untuk berdiri dan berterima kasih pada Vincent.


"Lisa! Bawa mereka ke tempat yang aman."


Kata Vincent, nada suaranya tidak memberikan argumentasi apa pun saat dia melihat area di sekitarnya.


"Tetapi!"


"Pergi! Aku akan berurusan dengan orang-orang biadab ini. Dan untukmu, tetap aman. Aku tidak ingin kamu melihat kengerian ini atau sampai terbunuh, jadi aku mohon kepadamu, pergilah dan cari tempat perlindungan."


"Tetapi Vincent!"


"Pergilah, aku mohon."


Kata Vincent dengan lembut, itu menggetarkan hati Lisa. Meskipun Lisa ingin menolak gagasan itu, tetapi setelah mendengar permohonan Vincent, akhirnya Lisa mengalah.


"Baik, tetapi sebelum kamu pergi. Berjanjilah kamu akan kembali kepadaku."


"Aku berjanji."


Kata Vincent dengan keyakinan baja. Lisa mendekati Vincent dan memberinya ciuman cepat di pipi, kemudian bersiap untuk mencari tempat perlindungan bersama ibu dan anak yang telah di selamatkan Vincent.


"Tetap aman Vinne."


"Aku Akan."


Dengan itu, mantan tentara kembali terjun ke dalam peperangan sekali lagi.