
"Vincent, apa yang sebenarnya yang kamu pikirkan?"
Itu adalah pertanyaan yang pertama kali Celestine lontarkan pada Vincent yang sedang duduk di sofa sambil menikmati sebatang rokok. Wajahnya cemberut, jelas tidak senang akan sesuatu yang Vincent tidak ketahui. Celestine berjalan ke arah Vincent dengan tergesa-gesa dan mulai melototinya.
"Apa yang kamu bicarakan?" Vincent bertanya, mencoba mencari apa yang menyebabkan pertanyaan itu.
"Kamu membawa seorang wanita ke manor ini, dan menurut laporan para pelayan, wanita itu adalah pelacur dari cara wanita itu berpakaian! Seorang pelacur Vincent! Seorang pelacur dalam segala hal! Apa yang kamu pikirkan?!" Nada Celestine makin meninggi di setiap kalimatnya, jelas marah dengan apa yang dilakukan Vincent.
"Kamu tahu bukan, bahwa manor ini bukan milikmu? Ini hanya akomodasi yang di sediakan keluargaku karena kamu telah menyelamatkan adik perempuanku. Kamu tidak bisa melakukan hal ini tanpa sepengetahuan kami! Bagaimana jika wanita itu adalah mata-mata atau pembunuh yang mengincar nyawanmu atau salah satu nyawa keluarga dari Duke of Mandoze?!"
"Tenanglah Celestine, aku-..."
"Tenang katamu?! Apakah kamu punya informasi tentang wanita ini? Apakah kamu tahu siapa Wanita ini? Karena aku ragu dia hanya seorang pelacur acak!" Potong Celestine, tidak membiarkan Vincent menyelesaikan kalimatnya.
Vincent memutuskan untuk tidak membuka mulutnya dan hanya menunggu dengan sabar saat Celestine terus mengoceh dengan marah dan menyalahkan dirinya.
Dari semua gadis bangsawan yang Vincent kenal, dan sebenarnya hanya tiga dari mereka semua. di antara ke tiga gadis bangsawan tersebut, Celestine adalah orang yang paling tenang dan penuh dengan perhitungan. Namun saat ini Vincent melihat dia begitu marah padanya, jelas ada masalah serius di dalamnya.
Beberapa menit berlalu dan Celestine tampak mulai tenang. Vincent yang masih duduk di sofa menunjuk sofa di seberangnya, mempersilahkan Celestine untuk duduk.
"Kamu sudah tenang? Biar aku menjelaskan, mengapa aku membawa wanitu itu." Kata Vincent yang menyalakan sebatang rokok baru. Vincent menunggu beberapa saat, dan Celestine hanya mengangguk ke arahnya. Vincent menjelaskan niatnya.
"Matilda, bukan ancaman. Adapun jika dia berbalik menyerang aku atau keluargamu, akulah yang akan menjatuhkannya dengan tanganku sendiri terlebih dahulu."
"Apa kamu bisa menjamin hal itu?" Tanya Celestine, masih mempertanyakan penilaian Vincent yang terlalu percaya diri.
"Tentu, aku menjaminnya."
"Aku butuh bukti Vincent, bukan omong kosong tentang janji dan jaminan. Buktikan bahwa wanita itu bukan mata-mata atau pembunuh." Kata Celestine yabg membuat Vincent diam. Sejauh ini Vincent memiliki kecurigaannya sendiri, namun untuk membuktikan hal terkait Matilda, dia tidak memiliki petunjuk sedikitpun.
Jeda hamil muncul saat Vincent mencoba mencari jawaban yang bisa membuktikan bahwa Matilda bukan seperti yang di pikirkan Celestine. Namun dengan beberapa saat dia berpikir, Vincent tidak bisa memberikan apa pun untuk mengklaim apa yang dia katakan tentang Matilda, dan sepertinya Celestine melihat itu di wajah Vincent.
"Dua hari." Kata Celestine, membangunkan Vincent dari pemikirannya. "Buktikan bahwa wanita itu bukan ancaman dalam dua hari. Dan jika kamu tidak bisa membuktikan hal itu, wanita itu akan berada dalam belas kasihan keluarga Mandoze."
"Apa yang akan kamu lakukan padanya?" Tanya Vincent setelah menyerap apa yang Celestine katakan.
"Itu tergantung, aku bisa menggunakan sumber daya ayah untuk mengintrogasinya, membuat dia mengatakan yang sebenarnya dan jika wanita ini di duga terlibat seperti menjadi seorang mata-mata atau pembunuh. Aku akan mengeksekusinya sendiri."
"Bagaimana- ..."
"Vincent, dengarkan aku. Dunia ini bukan seperti dunia kita sebelumnya. Aku tahu lebih banyak tentang dunia ini lebih dari kamu, aku tahu sisi tergelap dari kerajaan ini, jadi jangan salah menilai. Norma di dunia ini berbeda dengan norma dunia lama."
Itu memang benar, Vincent tidak tahu banyak tentang dunia ini di bandingkan dengan Celestine yang lahir dan bereinkarnasi di dunia ini. Faktanya, Vincent hanya menghubungkan logikanya tentang dunia lamanya di sini untuk referensi, bukan murni pengetahuan tentang bagaimana dunia ini bekerja.
Mengetahui Vincent tidak lagi memiliki argumen yang valid untuk di perdebatan, dia mau tidak mau setuju dengan perkataan Celestine.
"Baik, aku akan menyelidikinya sendiri dalam dua hari." Kata Vincent sambil mengangguk, pikirannya berpacu pada banyak opsi yang mungkin untuk membuktikan klaimnya.
...XxXxX...
Sudah lima hari sejak Matilda tinggal di manor bersama Vincent dan 3 pelayan lainnya. Matilda sekarang yakin akan hal itu. Vincent tidak tahu apa-apa tentang dia. Dia tidak menawarinya tempat dalam bisnisnya untuk memastikan dia bisa mengawasinya dengan cermat. Dia tidak menawarinya tempat tidur yang nyaman dan makanan lezat untuk menipunya. Dia melakukan semua itu, karena dia benar-benar percaya bahwa dia adalah pelacur yang dilecehkan, yang hanya bisa bertahan hidup melalui jenis pekerjaan itu.
Pada hari pertama Matilda tinggal manor ini, dia banyak bertanya padanya seperti apa yang menyebabkan Matilda merendahkan dirinya seperti sekarang dan bahkan menawarinya perkejaan sebagai seorang asisten karena dia adalah bangsawan baru.
Hanya dalam waktu lima hari, Vincent telah mengubahnya. Awalnya, dia mencoba semua yang dia bisa untuk merayunya, tetapi sepertinya tidak berhasil. Sementara dia terus bekerja sebagai asisten pribadi Vincent, seperti memberi tahu jadwal atau hanya sekadar menyajikan teh dan berbicara dengan bebas dengannya.
Vincent juga membuat kontrak untuknya, dia menyebutnya dengan kontrak kerja. Dia akan di bayar perharinya dengan 50 koin perak, tidak terlalu besar namun jika di hitung dalam sebulan itu akan hampir sama dengan penghasilan terbesarnya menjadi seorang pelacur. Tetapi uang hanyalah sebagian dari mengapa dia menyukai pekerjaannya. Senang rasanya bisa menjual sesuatu selain tubuhnya. Dia bertanya-tanya berkali-kali apa jadinya dia, jika dia tidak dilahirkan di lingkungan itu.
"Terima kasih Matilda." Kata Vincent saat dia melihat Matilda membawakannya teh ke ruangan pribadinya.
Dia, tentu saja, adalah bagian lain dari mengapa dia sangat menikmati pekerjaannya. Dia merasa nyaman di sekitarnya. Dia takut dan terintimidasi pada awalnya, tetapi itu sudah hilang sekarang. Dia menemukan dia adalah salah satu orang pertama yang bisa bergaul dengan baik dengannya.
Realisasi dari semua ini muncul di benaknya hanya hari ini. lagi pula, hari ini adalah hari dia harus membuat pilihan. Pilihan yang akan menentukan sisa hidupnya.
Jika dia tidak melapor ke Eclipse sebelum besok, mereka akan menganggap dia sudah mati dan bertindak sesuai dengan itu. Mereka akan mengirim orang lain, dan mereka akan menemukan dia masih hidup dan sehat. Begitu mereka mengetahuinya, mereka akan menempatkannya di samping Vincent karena pengkhianatannya.
Dia bisa mencoba menangkap Vincent dan membawanya ke mereka. Itu adalah jalan keluar termudah. Dia akan bangkit dan akhirnya mencapai kekuatan yang diinginkannya. Dia tidak mencurigainya. Dia bisa dengan mudah menusuknya dari belakang.
Saat Matilda berdiri tidak jauh Vincent. Dia dan Vincent hanya berjarak dua meter, sementara Vincent terlalu sibuk dengan sebuah perkamen yang dia baca sambil melihat keluar jendela.
'Sekarang adalah saatnya!' Pikir Matilda saat dia mengeluarkan sebuah pisau yang telah di sihir dari balik bajunya. Pisau yang dia pesan untuk melumpuhkan Vincent. Suasana manor di malam hari juga mendukung situasinya kerena tiga pelayan lain tidak akan berada di bangunan ini tetapi di bangunan lain tempat khusus para pelayan untuk beristirahat. Membuatnya cukup mudah untuk membawa Vincent, di tambah tidak ada penjaga yang ditempatkan di sini.
Matilda maju selangkah. Jantungnya berdebar kencang. Ini saat yang tepat, mungkin lima hari terbaik dalam hidupnya. tetapi semua waktu yang baik harus berakhir. Dia merasa seperti bayangan tangan di bahunya. Tangan besar bersarung tangan yang nyaman. Dia mengangkat belatinya, siap menyerang. Sebuah suara, dalam, lembut dan kuat memasuki pikirannya.
...'Kamu melakukan pekerjaan dengan baik...'...
...'Aku benar-benar menghargai bantuanmu...'...
...'Tidak ada yang harus menderita karena dosa orang tua mereka...'...
Belati itu jatuh ke tanah saat air mata mulai mengalir di wajahnya.
Lututnya menyerah dan dia jatuh ke lantai. Sekarang dia menangis secara terbuka. Segera, Vincent dikejutkan oleh suara itu dan menoleh untuk melihatnya terisak di tanah dengan belati di sampingnya. Dia segera berlutut ke levelnya.
"Apakah kamu terluka?"
Nada yang di keluarkan Vincent adalah kekhawatiran murni meskipun dia melihat belati tergeletak di sampingnya.
'Aku... aku tidak bisa!... Pria ini... ini adalah satu-satunya pria yang tidak akan pernah bisa kubunuh... mengapa?... mengapa?... kekosongan apa yang kurasakan di dalam?'
Matilda terus terisak saat Vincent mencoba mencari luka dan menenangkan dirinya. Butuh waktu beberapa menit hingga Matilda tenang dan sekarang melihat langsung ke wajah Vincent.
"Vincent, aku... Aku ingin mengatakan sesuatu." Kata Matilda dan dia menjelaskan semuanya padanya, niatnya dan yang di inginkan Eclipse. Dengan semua penjelasan itu, Matilda siap untuk kebencian Vincent terhadapnya, dia akan menerimanya jika itu Vincent, orang yang telah memberinya kebahagiaan yang tidak pernah dia dapatkan selama ini.
"Begitu... " Kata Vincent dengan tenang saat dia berdiri.
"Kita harus lari! Sudah terlambat untuk meminta bantuan!"
"Tidak." Kata Vincent sambil menggelengkan kepalanya. "Aku akan melawan balik."
"Apakah kamu gila? Ayo Vincent. Kita harus lari, tidak mungkin kita bisa bertahan!"
"Kamu tahu kekuatanku bukan?" Tanya Vincent secara retoris. "Kurasa waktunya telah tiba bagiku untuk turun ke medan perang sekali lagi..."