
Celestine berjalan mondar-mandir di ruang pribadinya di manor Mandoze bersama ayahnya. Layar hologram dari alat yang di berikan Vincent padanya menunjukkan markas Eclipse dari langit, sebuah mansion besar yang tidak jauh dari luar benteng ibu kota.
Kegelisahannya tumbuh dari waktu ke waktu dengan sesekali Celestine melirik layar hologram di ruangan tersebut.
Ayahnya yang tidak biasa melihat putrinya begitu gelisah, karena biasanya Celestine adalah orang yang paling tenang di antara anak-anaknya. Bertanya-tanya apa yang mengganggu putrinya hingga dia bersikap seperti ini.
"Celestine, tenanglah. Apa yang kamu khawatirkan?"
Akhirnya sang ayah, Duke Mandoze angkat bicara. Memandang langsung ke mata putrinya yang gelisah dari meja kerjanya.
"Katakan kepadaku, apa yang mengganggumu?" Tanya sang ayah sekali lagi.
Mata Celestine memandang antara layar hologram dan ayahnya, menggigit kuku ibu jarinya, Celestine memfokuskan pandangannya kepada sang ayah.
"Ini seharusnya tidak memakan banyak waktu dari yang dia janjikan." Bisik Celestine, namun sang ayah mendengar hal itu karena ruangan itu sangat sunyi.
"Dia? Maksudmu Baron baru, Vincent?" Tanya sang ayah, mencoba menguraikan apa yang putrinya katakan.
"Dengar, Celestine sayang. Aku tidak tahu apa yang menggangumu dan alasan apa kamu membangunkanku di tengah malam hanya untuk melihat ini." Kata Duke Mandoze sambil menunjuk layar hologram. "Apa yang sebenarnya telah terjadi? Mengapa kamu tidak menceritakan masalahnya pada ayahmu?"
Celestine pada gilirannya, menghela napas dalam beberapa kali untuk membuat dirinya tenang. Sementara dalam pikirannya, Celestine mencoba menyusun kata-kata untuk menjelaskan situasi ini pada ayahnya.
"Apakah ini ada hubungannya dengan Baron Vincent?" Tanya ayahnya dan Celestine mengangguk sebagai jawaban.
"Ya, ini tentang Baron Vincent." Jawab Celestine.
"Aku berasumsi bahwa sihir ini..." Kata Duke Mandoze sambil menunjuk layar hologram. "... Adalah miliknya. Lalu apa yang dia lakukan hingga butuh perhatianku dan membuatmu begitu khawatir?"
"Dengar ayah, mungkin kamu tidak akan setuju dengan hal ini. Namun Baron Vincent melakukan hal yang sembrana menurut pemikiran yang logis." Kata Celestine, mencoba menenangkan kegelisahannya saat dia menjelaskan situasi saat ini pada ayahnya.
"Dan itu adalah?"
"Dia sedang menyerang markas Organisasi Kriminal bernama Eclipse seorang diri. Dan ini." Kata Celestine sambil menunjuk layar hologram. "Adalah markas mereka yang ada di ibu kota kerajaan. Dia mengatakan akan memberikan sinyal jika semua yang dia lakukan terkendali dan saat itulah pasukan yang aku pesan darimu akan melumpuhkan sisa-sisa dari Eclipse, sementara Vincent berurusan dengan ikan besar di dalam Organisasi."
Mendengar itu, mata Duke Mandoze melebar. Ragu dengan apa yang dia dengar saat dia menatap putrinya dengan tatapan kritis, mencoba mencari kebohongan di wajah putrinya, namun tidak. Duke Mandoze tidak menemukan kebohongan dalam ekspresi dan sikap putrinya.
"Itu hal yang bodoh." Kata Duke Mandoze, saat dia menghela napas untuk menenangkan dirinya sambil bersandar di sandaran kursi.
"Aku tahu itu ayah. Namun dia menjanjikanku kemenangan dengan kekuatannya yang belum kita ketahui. Tetapi meskipun begitu, sudah satu jam lebih, waktu yang dia janjikan tidak kunjung datang untuk membuat tanda agar pasukan yang aku siapkan menyerang mansion tersebut. Terlebih lagi, aku menggunakan ini." Kata Celestine sambil menunjuk komunikator di telinganya. "Untuk menghubunginya, namun aku tidak mendapatkan jawaban sama sekali."
"Itulah sebabnya kamu membutuhkan kehadiranku di sini?" Tanya Duke Mandoze sambil menatap putrinya.
"Ya, ayah. Aku harap kamu bisa memberikan kebijaksanaanmu saat ini untuk situasi yang tidak menguntungkan ini."
Vincent terus menghindar dari serangan gencar kepala devisi keamanan Eclipse. Tubuhnya merasakan sakit yang begitu hebat setelah menerima serangan pria botak tersebut sebelumnya. Helm yang Vincent pakai terlah terlepas, memperlihatkan wajah memar di bagian kanan dengan darah yang mengalir dari pelipisnya.
Mata Vincent menajam seperti elang saat dia memperhatikan setiap gerakan yang di buat pria botak tersebut. Mencoba mencari celah sambil menghindar dengan sesekali menembaknya, meskipun tanpa hasil yang nyata kerena peluru yang dia tembakan selalu memantul begitu saja saat dia menggunakan jurus atau apa pun itu yang membuat kulitnya begitu keras seperti baja.
"Hanya itu yang kamu punya, Hah?!"
Pria botak mencoba memprovokasi Vincent. Namun Vincent tetap tenang meskipun keadaannya saat ini kurang menguntungkan, karena jika dia kehilangan ketenangannya, itu adalah hal yang musuhnya inginkan. Membuat dia terpancing emosi dan membuatnya ceroboh. Vincent berusaha menghindar hal tersebut.
Belum lagi pintu tempat dia masuk berguncang dengan teriakan banyak orang yang mencoba mendobrak masuk. Itu adalah hal yang tidak menguntungkan lainnya di sisi Vincent. Jika pintu terbuka dan banyak anggota Eclipse menyerbu masuk, itu akan menjadi akhir baginya.
Pikiran Vincent berpacu dalam kecepatan seribu mill/jam. Mencoba mencari cara untuk keluar dari situasi in. Dia sebenarnya memiliki pilihan yang bisa dia buat untuk situasi ini. Namun, hal itu akan menurunkan pergerakannya dan membuat dia menjadi sasaran yang mudah.
Risiko yang terlalu besar untuk di ambil.
Saat ini Vincent menjauh dari pria botak itu sejauh mungkin. Mencoba memosisikan pria botak tersebut agar sejajar dengan pintu masuk saat dia berlari ke sisi lain ruangan.
'Lakukan atau mati.' Pikir Vincent dengan muram. Namun hal ini adalah satu-satunya cara agar dia bisa mengalahkan orang di depannya sambil terus hidup untuk memberikan tanda pada pasukan yang dia pesan dari Celestine.
Merasa jarak yang di buat cukup, Vincent membisikkan kata "Interface." Untuk membuka Inventarisnya, Vincent memilih dengan cepat senjata yang dia pikirkan sebelumnya.
Dalam kilatan cahaya, sebuah senjata tergenggam di tangan Vincent. Itu adalah M134-A2 Vulcan Minigun, senapan mesin enam laras 7,62 mm, dengan tingkat tinggi tembakan. Di punggung Vincent, dia menggendong tas besi berisi peluru yang siap di tembakan.
Dengungan lembut terdengar dari M134-A2 Vulcan Minigun saat enam laras 7,62 mm berputar. Kedua tangan Vincent memengang erat senjatanya saat dia mengarahkan senjata itu pada pria botak di hadapannya.
"Bisakah kamu menangani ini?" Tanya Vincent, ada nada sombong di dalam suaranya meskipun pikirannya berpacu tentang keberhasilan dari rencana yang dia buat. Takut bahwa apa yang dia kerahkan tidak cukup untuk mengalahkan pria di depannya.
"Makan ini!" Vincent berseru saat dia menarik pelatuk senjatanya. Menyemburkan ratusan peluru dalam hitungan detik dan membuat dia mundur sedikit akibat dampak recoil senjatanya.
Pria botak di hadapannya terburu-buru melakukan posisi bertahan. Dengan teriakan "Fortress!", pria itu mengeraskan kulitnya dengan cahaya redup keabu-abuan.
...RATATATATATATATATATATA!!!...
Dua ribu peluru menyerang pria tersebut dalam satu menit. Membuat pria botak itu mundur beberapa langkah ke belakang akibat dari dampak yang di berikan senjata Vincent.
Di sisi lain Vincent khawatir bahwa senjatanya tidak dapat mengalahkan pria tersebut. Namun kekhawatiran itu di tepis begitu saja saat cahaya yang mengelilingi pria itu padam, menghancurkan pertahanan yang di buat pria botak tersebut.
Seringai kemenangan terpangpang jelas di wajah Vincent saat dia melihat itu. Dengan keyakinan, Vincent mulai mengambil satu langkah ke depan untuk memojokkan pria botak.
"MATI!!" Teriak Vincent saat dia terus menekan pelatuk senjatanya. Sampai pada satu titik, pertahanan pria botak hancur seluruhnya dan pria itu menjadi gumpalan daging berdarah akibat serangan dari Minigun yang dipakai Vincent bersama orang-orang di balik pintu.