EX-SOLDIER: In Another World

EX-SOLDIER: In Another World
Kota Damai sebelum Badai - Part 3



Sebagai seorang wanita, Sofia Mandoze memilih jalannya menjadi seorang kesatria sesuai dengan apa yang dia inginkan. Bagi sebagian orang yang tidak mengenalnya, mereka tidak percaya seorang gadis secantik Sofia akan menjadi seorang kesatria jika tidak melihatnya secara langsung.


Terlahir sebagai bangsawan, Sofia berkomitmen untuk menjadi seorang pemimpin dan saat ini tanggung jawabnya sebagai bangsawan menuntut akan hal itu. Berdiri di depan Ordo miliknya, dia dan anak buahnya membantu para prajurit yang terluka untuk mundur. Sesuai dengan perintah Jenderal Hunk, Orde Mawar miliknya akan mengawal para prajurit yang terluka kembali ke Kota Benteng Angelbarrow untuk mendapatkan perawatan yang lebih baik.


Rambut pirang panjangnya berkilau tersorot sinar matahari saat dia melihat Orde miliknya membantu para prajurit yang terluka. Mata hijaunya melihat rumah sakit darurat yang telah di dirikan di alun-alun kota. Di berdiri disana, mengkoordinasikan obat-obatan dan para tabib untuk membantu pemulihan tentara yang terluka.


Semua berjalan sesuai dengan rencana. Setidaknya sampai dia mendengar laporan dari beberapa penjaga benteng bahwa mereka mendengar raungan monster di dekat gerbang selatan, salah satu pintu masuk kota. Berita tersebut jelas membingungkan, sejuah yang dia tahu jarang sekali monster mendekati tembok kota. Jika raungan terdengar dari hutan terdekat yang berjarak sekitar 4 jam berjalan kaki dari tembok, itu dia bisa percaya. Namun di dekat benteng? Dia pasti harus memastikannya sendiri keasliannya.


Sofia dan beberapa orang dari Orde-nya telah berada di luar tembok untuk memastikan laporan tersebut benar. Di temani seorang penjaga yang telah melaporkan tentang raungan binatang buas tersebut, Sofia mulai bertanya.


"Di mana kamu mendengar raungan binatang buas ini?"


"Di sebelah sini, My Lady. Silakan ikuti aku."


Kata sang penjaga, menuntun Sofia ke tempat di mana sang penjaga mendengar raungan binatang buas itu. Tidak butuh waktu lama sampai Sofia sampai di tempat terbuka dengan beberapa tunggul pohon yang telah di tebang.


Mata hijaunya seperti elang yang sedang mencari mangsanya. Melihat setiap daerah untuk mencari keberadaan binatang buas yang di rumorkan, dia bahkan telah menyebarkan sebagian anak buahnya untuk mencari binatang buas tersebut ke area yang lebih luas.


BANG!!


"Itu! Itu! Binatang buas itu ada di sekitar sini!"


Teriak sang penjaga dengan panik saat mendengar suara tersebut. Namun Sofia tetap tenang, telinganya mencari dari mana asal suara itu berasal hingga matanya tertuju pada seorang pria yang mengenakan mantel hitam panjang dengan topi fedora yang di temani oleh seorang penyihir wanita.


"Kalian di sana!"


Sofia memanggil dengan otoritasnya sebagai kesatria. Hal yang tidak duga adalah suara raungan itu berasal dari pria dan penyihir tersebut. Yakin bahwa targetnya adalah kedua orang itu, Sofia berlari ke arah mereka dengan Orde-nya mengikuti dari belakang.


"Kalian Berdua!"


Teriak Sofia sekali lagi dan akhirnya mendapatkan perhatian kedua orang tersebut saat dia cukup dekat.


"Apa yang kalian lakukan di sini?"


"Latihan tembak?" Kata sang pria, jelas bingung dengan kehadiran Sofia dengan Orde miliknya. "Apakah kalian membutuhkan sesuatu?" Tambah pria tersebut.


"Kami mendapatkan laporan tentang raungan binatang buas di area ini. Apakah itu ulah kalian?"


"Binatang buas?"


Kali ini sang penyihir wanita yang terlihat bingung dengan memiringkan sedikit kepalanya dengan pose yang lucu.


"Benarkah? Binatang buas? ... Ah! Ya aku ingat, saat pertama kali bertemu dengan Vinne, saat itu kelompok kami dalam Quest dan berburu goblin dan kemudian terkejut dengan suara senjatanya. Saat itu kami memutuskan untuk mengecek suara seperti raungan itu dan akhirnya kami menemukan Vinne sedang berkelahi dengar tiga Orc!"


Lisa terdengar bangga saat dia mengingat hal tersebut.


"Bisakah kalian menjelaskannya?"


"Perkenalkan kesatria yang terhormat. Saya Vincent dan ini rekan saya Lisa." Kata Vincent dengan tenang, tidak terintimidasi dengan kehadiran Sofia. "Untuk penjelasan, aku kira saya dapat menjelaskan kesalahpahaman ini." Vincent memberikan jeda beberapa saat untuk di serap para kesatria, dan Sofia hanya mengangguk untuk membiarkan Vincent melanjutkan penjelasannya. "Seperti yang kalian semua sebutkan, 'raungan bintang buas' ini hanya kesalahpahaman. Itu hanya suara yang dihasilkan oleh senjata yang saya miliki di sini, bukan binatang buas. maaf jika tindakan kami telah mengganggu kalian dan ketertiban kota, Saya tidak bermaksud untuk itu. Saya hanya ingin menunjukkan pada penyihir kecil ini-"


"Aku tidak kecil, bodoh!"


"-bagaimana senjata saya bekerja."


Vincent selesai menjelaskan dengan tenang hanya untuk di pelototi oleh Sofia. Jika Vincent jujur, melihat Sofia melotot itu sedikit lucu dan bukan mengintimidasi. Lagi pula saat dia masih berdinas, tatapan seperti itu adalah makanan sehari-hari dan hal itu tidak akan memengaruhi dirinya.


"Buktikan."


Hanya itu yang Sofia katakan sambil mendekati Vincent. Vincent sendiri hanya mengangkat bahunya dan berbalik untuk mencari target. Satu Tangan yang memegang senjata terentang saat Vincent memposisikan dirinya berdiri menyamping. Matanya menemukan target, sebuah pohon muda yang agak tebal dan dia membidik ke arah sana. Konsentrasi terfokus pada target saat dia menarik pelatuk senjatanya.


BANG!! BANG!! BANG!! BANG!! BANG!!


Semua peluru telah keluar dan semuanya mengenai pohon tersebut, mengoyak batang kayu menjadi lubang-lubang sebesar kepalan tangan dan membuat pohon tersebut tumbang.


"Dan seperti itulah."


Kata Vincent dengan senyum puas kemudian meniup laras S&W 500 Magnum yang berasap dan mendapatkan tepuk tangan dari Lisa. Jelas Lisa sedang mengelus ego Vincent di sini agar dia makin senang dan bangga dengan aksinya.


Sofia di sisi lain terkejut bersama Orde-nya melihat apa yang bisa dilakukan oleh pria asing tersebut. Namun untuk memastikan kekhawatirannya, Sofia mendapatkan sebuah ide.


"Bellina! Berikan perisai milikmu."


Kata Sofia memerintahkan kesatria wanita di Orde-nya untuk menyerahkan perisai yang dia bawa. Tanpa pikir panjang, wanita bernama Bellina memberikan perisainya pada Sofia. Itu adalah perisai bundar kecil yang terbuat dari besi, dirancang untuk taktik bashing dan teknik menangkis lalu membalas.


"Orang asing, aku ingin kamu menyerang perisai ini dengan senjatamu."


Kata Sofia sambil menunjuk perisai tersebut yang anak buahnya sandarkan pada tunggul pohon.


"Tentu."


Kata Vincent dengan singkat saat dia mengisi ulang senjatanya. Sama seperti sebelumnya Vincent membidik perisai tersebut dan melepaskan tembakan. Saat dia selesai menembak satu peluru, Vincent melihat ke arah Sofia dan menunjuk ke arah perisai yang dia tembak, menyatakan bahwa dia telah selesai. Sofia memerintahkan anak buahnya untuk mengambil perisai tersebut dan saat dia mendapatkan kembali, matanya terbelalak tak percaya.


Perisai besi bahkan armor para anggota Orde-nya adalah barang berkualitas yang di tempa oleh pandai besi terkenal. Dia tidak percaya hanya dengan satu serangan dari senjata pria tersebut, salah satu perisai milik Orde-nya mendapatkan sebuah lubang. Meskipun lubang itu kecil, tapi akan sangat berbahaya! Apa gunanya perisai jika tidak bisa menahan serangan musuh? Kemudian Sofia melihat tunggul pohon tempat menyandarkan perisai tersebut, di sana dia melihat sebuah lubang sebesar kepalan tangan yang membuatnya takut.


'Aku tidak bisa membayangkan jika perisai ini di pegang oleh seseorang. Pasti lengan mereka akan hancur jika tunggul pohon itu adalah indikasi.' Dengan pemikiran itu Sofia memutuskan. 'Pria ini berbahaya! Bagaimana jika dia adalah tentara musuh yang menyamar untuk membuat kekacauan? Aku harus menangkapnya!'


"Orde Mawar! Tangkap pria ini!"


Perintah telah di keluarkan, Vincent dan Lisa mendapati diri mereka di kelilingi oleh para kesatria yang siap untuk menangkap mereka berdua.


"Hei?! Apa-apaan ini? Apakah salahku? Aku bilang ini hanya salah paham!"


Jelas Vincent tidak menerima perlakuan ini dengan baik karena pertama dia tidak melakukan kesalahan, yang kedua dia telah menjelaskan kesalahpahaman di antara mereka. Lalu mengapa dia mendapatkan perlakuan seperti ini, dan bukan hanya dirinya yang di tangkap. Lisa juga terjebak di dalam situasi yang sama dengan dirinya.