
Berkat usaha Vincent dengan mengalahkan War Troll, pasukan musuh kehilangan semangat mereka kerena satu-satunya 'Kartu Truf' yang mereka miliki telah di kalahkan. Kekacauan di barisan musuh meletus dengan kabar kehilangan War Troll, namun siapa yang akan menyalahkan mereka. Lagi pula War Troll terkenal sebagai kekuatan berjalan yang mengerikan, memiliki kulit yang kuat dan sulit di tembus dengan senjata biasa, dan juga War Troll dikenal sebagai monster tipe pejuang yang akan terus menyerang hingga titik darah penghabisan. Ajaibnya, kekaisaran mampu menjinakkan salah satu dari mereka meskipun War Troll memiliki reputasi tersendiri.
Butuh beberapa jam perjuangan bagi para Penjaga Kota dan Rose Order dengan bantuan petualang untuk memukul mundur pasukan musuh. Perjuangan yang sulit telah mereka lewati dan Kota Benteng Angelbarrow masih berdiri, sebut saja kemenangan namun dalam arti kata lain. Karena kata kemenangan kurang tepat untuk situasi yang terjadi dengan banyaknya korban dan kerusakan di mereka.
Sofia di pihaknya telah menyebarkan Rose Order dengan kelompok yang lebih kecil untuk menyisir kota, tujuannya untuk memastikan tidak ada musuh yang masih bersembunyi di kota sambil mencari orang-orang yang selamat.
Sementara itu Gill dan Lisa memutuskan untuk ikut menyisir kota. Pertama untuk membantu, karena Lisa dapat melantunkan mantra penyembuhan untuk pertolongan pertama. Alasan kedua, karena keduanya khawatir pada dua teman mereka yang tidak terlihat di mana pun setelah pasukan musuh mundur.
Gill dan Lisa bersama beberapa petualang dan kesatria menyisir bagian barat kota, tempat di mana Gill terakhir bertemu dengan Vincent. Laporan penjaga juga menyebutkan bahwa di daerah barat adalah tempat di mana mayat War Troll ditemukan dan dengan informasi itu, kelompok mereka pergi ke area tersebut.
Tidak butuh lama untuk sampai di area yang mereka tuju. Di sana mereka melihat mayat War Troll dengan kepala yang pecah dengan berlusin-lusin mayat di sekitarnya. Pemandangan yang mengerikan memang, namun yang membuat mereka ngeri adalah saat mereka menemukan dua tubuh yang familier tergeletak di area tersebut.
Hal pertama yang mereka lihat adalah tubuh Pete yang terbaring tak bernyawa. Darah kering keluar dari mulutnya dengan kaki yang terpelintir ke sudut yang tidak masuk akal. Hal itu membuat mereka berdua sedih dan tidak dapat menahan tangis. Salah satu teman mereka, pemimpin Jade Tribe yang mereka kagumi telah mati. Itu pukulan berat bagi mereka berdua terutama Gill, karena dia adalah sahabat Pete sejak mereka anak-anak. Tumbuh bersama, berbagi kenangan bersama, berpetualang bersama dan dipisahkan oleh takdir yang mengerikan. Gill tidak bisa menerima itu semua.
Kilatan kebencian terlukis di mata Gill. Dia marah, marah pada dirinya sendiri karena tidak bisa melindungi sahabatnya. Dia marah, marah pada kekaisaran yang telah merenggut nyawa sahabatnya. Kebencian mengendap di hati Gill saat pandangannya menjadi gelap dan di sana muncul tujuan baru, untuk membalaskan dendam sahabatnya pada kekaisaran.
Di sisi lain, Lisa sangat sedih dengan kehilangan Pete. Lisa yang telah menganggap Pete sebagai kakak laki-laki yang tidak pernah dia miliki, sedih dengan takdir yang dialami Pete. Dia menyalahkan dirinya karena tidak ikut bertempur, dia kecewa pada dirinya karena tidak bisa melindungi orang yang dia anggap sebagai kakaknya. Jika saja dan jika, dia ikut dalam pertempuran, mungkin Pete saat ini masih hidup bersama mereka.
Jerit tangis kesedihan menggema di area tersebut saat keduanya meratapi kematian Pete. Butuh waktu beberapa menit agar keduanya tenang, para petualang dan kesatria yang ikut bersama mereka juga bersimpati dan mencoba menghibur keduanya agar tidak terlalu berlarut dalam kesedihan.
Setelah keduanya tenang, kelompok tersebut memutuskan untuk melanjutkan penyisiran mereka hanya untuk mendengar jeritan putus asa yang berasal dari Lisa saat dia melihat sosok yang familier.
"Oh tidak! Tidak! TIDAK! JANGAN LAGI!!"
"VINCENT! VINCENT! BANGUN!!"
Lisa berteriak sambil menyentuh wajahnya dengan lembut, hampir takut. Sesekali dia mengguncang tubuh Vincent, tetapi semua yang dia lakukan tidak mendapatkan respons dari Vincent. Ketakutan memenuhi hati Lisa, sudah cukup dia kelihatan Pete hari ini dan dia tidak ingin kehilangan orang lain lagi.
Salah satu petualang wanita mencoba menenangkan Lisa dengan satu kesatria yang mengecek keadaan Vincent. Kesatria tersebut mencari denyut nadi Vincent dan kemudian meletakkan telinganya di dada Vincent. Beberapa saat berlalu seperti keabadian bagi Lisa saat melihat Kesatria tersebut.
"Dia masih hidup, mungkin pingsan karena kelelahan dan kehilangan banyak darah."
Kata kesatria tersebut membuat Lisa merasa sedikit lebih lega, setidaknya Vincent masih hidup. Namun mendengar itu Lisa menuntut untuk segera membawa Vincent ke tempat yang lebih baik untuk melakukan perawatan sambil terus-menerus melantunkan mantra penyembuhan. Meskipun Vincent masih hidup, tetapi dengan melihat darah dan keadaannya, Lisa masih tetap khawatir terutama saat memikirkan Vincent tidak bangun lagi.
Meskipun dia hanya mengenal Vincent dalam waktu singkat, entah mengapa Lisa memiliki kedekatan yang tidak bisa dia jelaskan. Dia juga bertanya-tanya kepada dirinya sendiri mengapa hal itu terjadi, terutama kenyamanan bersama Vincent makin melekat padanya setelah kejadian di penjara, saat Vincent mencoba menenangkannya.
Mungkinkah Lisa mencintai Vincent? Entahlah Lisa juga ingin memastikan perasaannya. Karena itu dia harus menyembuhkan Vincent dan menanyakan perasaan ini secara langsung padanya saat dia bangun.
...
Penyisiran terus berlangsung selama tiga hari dan akhirnya orang-orang di kota Angelbarrow dapat memakamkan orang-orang yang telah gugur dengan memberikan mereka penghormatan terakhir. Para warga kota pun mulai mengais-ngais sisa-sisa harta mereka yang dapat diselamatkan.
Banyak kesedihan di kota Angelbarrow dalam tiga hari terakhir. Terutama mereka yang telah kehilangan keluarga atau teman dan harta benda mereka. Namun mereka mencoba untuk melangkah dan meneruskan hidup, berharap masa depan yang lebih baik dengan tidak adanya perang. Itu muncul karena satu atau alasan lainnya, namun alasan utama yang dimiliki banyak orang adalah mereka tidak ingin lagi perang terjadi karena dampak yang mereka alami dari merenggut semua kebahagiaan dan merenggut segalanya yang mereka miliki.
Selama itu juga Vincent belum juga sadar dalam keadaan komanya, dengan Lisa menolak meninggalkan Vincent sendri dan menunggu dia bangun tepat di samping tempat tidur yang telah di sediakan Sofia untuk Vincent. Itu di berikan dengan alasan bahwa Vincent adalah pahlawan dalam tragedi ini, berkat dia para pasukan musuh dapat di pukul mundur meskipun dia mendapatkan luka yang serius dengan melakukan itu, terutama dengan mengalahkan War Troll yang di klaim oleh Lisa dan Gill dari jejak pertempuran yang familier dari cara bertarung Vincent.