
Seperti yang telah di janjikan, malam ini Vincent di undang oleh Duke Mandoze ke manornya untuk bisnis. Pembicaraan mereka seputar kerja sama dan aliansi yang akan saling menguntungkan, tujuannya untuk menemukan penghianat di jajaran bangsawan Kerajaan Iwreneian.
Duke Mandoze memiliki pemikiran yang sama dengan Vincent tentang penyerangan di Kota Angelbarrow. Jelas tidak masuk akal terkait satu peleton prajurit musuh yang dapat dengan mudah masuk ke wilayah mereka tanpa terdeteksi. Oleh karena itu, Vincent yang di anggap Wild Card oleh Duke Mandoze akan cocok dengan pekerjaan ini. Selain Duke Mandoze sendiri yang sedang memulai pencarian informasi tersebut dengan koneksinya sendiri, dia juga membutuhkan Vincent untuk kekuatan tambahan.
Awalnya karena rumor, namun setelah Duke Mandoze mendengar cerita putri keduanya Sofia. Duke yakin akan membutuhkan jasa Vincent dalam hal ini karena menurut Sofia, Vincent di anggap sebagai tentara satu orang dengan kemampuannya.
Awalnya Vincent tidak tertarik dengan kerja sama ini, namun saat Duke Mandoze mengangkat topik tentang pembunuh bayaran bernama Black Robe, Vincent menyetujui kerja sama ini. Alasannya sangat sederhana sebenarnya, itu karena salah satu bandit yang menyerangnya memiliki penampilan seorang pembunuh dari Black Robe yang memiliki ciri khas tersendiri seperti jubah hitam dan topeng perak dengan ukiran aneh menurut penjelasan Duke Mandoze. Kelompok kriminal yang membuatnya penasaran sebenarnya, terlebih lagi pertemuan terakhirnya dengan anggota Black Robe tidak lebih dari sekadar mengukur kekuatannya sendiri, menilai apakah Vincent ancaman atau bukan menurut perspektif-nya dan tentu saja, Vincent ingin memberikan peringatan melalui mereka pada orang yang telah menyewa para pembunuh ini agar tidak main-main dengannya.
Percakapan antara Vincent dan Duke Mandoze ternyata memakan banyak waktu. Butuh 3 jam bagi mereka untuk membicarakan kerja sama mereka dan mencapai kesepakatan. Pembicaraan mereka berakhir tepat sebelum makan malam di mulai dengan pemberitahuan dari seorang pelayan dan keduanya makan malam bersama sesuai dengan undangan yang di berikan Duke Mandoze kepada Vincent.
Berbicara tentang hal lain, Duke Mandoze ternyata memiliki 3 orang anak. Satu laki-laki dan dua perempuan yang salah satunya adalah Sofia Mandoze. Hal yang membuat Vincent tertarik adalah salah satu reaksi anaknya, seorang wanita muda berkulit pucat yang sangat cantik, mungil dan ramping dengan rambut biru putih sepanjang paha yang memiliki poni panjang menjuntai ke kanan dan mata biru langit yang jernih. Gadis bernama Celestine Mandoze, putri pertama dari keluarga Duke of Mandoze.
Cukup membuat Vincent terpesona oleh kecantikannya, namun bukan itu yang membuat Vincent penasaran. Tetapi reaksinya saat melihat senjata Vincent, yang samar-samar terdengar membisikkan kata 'Pistol' di balik kipas lipat yang dia pegang untuk menyembunyikan mulutnya.
Sejauh ini, orang-orang yang Vincent temui di dunia ini tidak ada yang tahu apa nama senjata yang dia gunakan, dan saat mendengar putri pertama Duke Mandoze membisikkan kata Pistol di balik kipasnya sebelum Vincent memperkenalkan senjatanya, jelas membuat dia penasaran tentang siapa sebenarnya putri pertama Duke Mandoze.
XxXxX
Saat ini malam dan Vincent menerima tawaran Duke Mandoze untuk menginap sebagai tamunya, lagi pula jika dia pulang, itu masih kembali ke properti milik Duke Mandoze. Berjalan di koridor manor, Vincent yang di temani oleh salah satu pelayan untuk mengantarkannya ke salah satu kamar tamu yang di sediakan untuknya, dalam perjalanan itu pula dia bertemu dengan Celestine yang sepertinya menunggu dia.
"Selamat malam, Sir Vincent." safa sang putri pertama, gerakannya anggun tidak seperti Sofia yang terlalu kaku. Mungkin karena Sofia memilih jalan seorang kesatria dan kakak perempuannya tidak.
"Selamat malam Lady Celestine. Apa yang bisa saya bantu?" Tanya Vincent saat Celestine menyuruh pelayan yang menemaninya pergi dengan isyarat tangan.
"Bisakah aku meminta waktu anda?" Tanya Celestine yang mengangkat kipas lipat yang dia bawa untuk menutupi mulutnya.
"Tentu, silakan." Kata Vincent yang mengangguk, wajahnya tenang namun ada ketegangan di dalam dirinya.
"Kalau begitu silakan ikuti saya." Kata Celestine, memimpin jalan menuju ke sebuah ruangan.
Celestine masuk terlebih dahulu ke dalam ruangan, mempersilahkan Vincent duduk di sofa yang ada di ruangan tersebut. Namun Celestine masih berdiri di dekat pintu, membuat Vincent sedikit khawatir.
Klik!
Suara pintu terkunci dan Celestine melambaikan tangannya untuk melantunkan mantra "Silent Field" yang berhasil Vincent dengar.
Karena insting murni Vincent mengarahkan sejatanya, Colt M1911A1 yang telah dia perlihatkan sebelumnya dia jamuan makan malam ke arah Celestine. Membidik senjatanya tepat di antara kedua mata Celestine dengan gerakan cepat.
"Apa yang kamu inginkan?" Vincent dengan geraman rendah, sikapnya sangat mengintimidasi namun Celestine tetap tenang meskipun senjata di todongkan tepat ke kepalanya.
"Sir Vincent, bisakah anda tenang?" Tanya Celestine dengan suara yang luar biasa tenang seolah tindakan Vincent tidak akan mengancam nyawanya.
"Aku ulangi lagi. Apa yang kamu inginkan? Siapa kamu dan apa yang telah lakukan?" Tanya Vincent tidak mengendurkan kewaspadaannya.
"Aku hanya mengunci pintu untuk privasi, dan sihir yang aku lantunkan hanya tidakan pencegahan jika seseorang menguping. Bagaimana pun, para pelayan pasti akan penasaran jika perempuan dan laki-laki berduaan di ruangan yang sama." Kata Celestine yang menjawab pertanyaan Vincent, sayangnya Vincent tidak puas dan masih menodongkan senjatanya ke kepala Celestine.
"Bisakah kamu menyingkirkan senjata ini?" Kata Celestine yang mengetuk senjata Vincent dengan kipasnya dua kali, "Aku hanya ingin berbicara, jadi tidak ada permusuhan."
"Apa yang ingin kamu bicarakan?" Kata Vincent, senjatanya masih membidik kepala Celestine dengan satu tangan bersiap mengambil senjata lain yang berada di sarungnya.
"Sir Vincent. Anda bukan dari dunia ini bukan?" Tanya Celestine, namun pertanyaan itu membuat Vincent membeku untuk sesaat dan kemudian menjadi tegang.
Celestine yang memperhatikan perubahan sikap Vincent, menunjuk kembali ke sofa yang ada di ruangan tersebut.
"Bisakah kita membicarakan hal ini? Dari reaksi anda, saya yakin bahwa tebakan saya benar." Kata Celestine yang berjalan menuju kursi.
"Silakan." Kata Celestine sambil menyodorkan secangkir teh pada Vincent.
"Jadi, saya hanya ingin mengkonfirmasi. Apakah benar anda bukan dari dunia ini, Sir Vincent?" Tanya Celestine.
"Mengapa kamu berpikir seperti itu?"
"Sederhana, Pistol dan senapan belum ditemukan di benua ini, apalagi senjata dengan desain modern seperti yang anda miliki. Adapun mengapa saya berasumsi seperti itu, karena saya sendiri bukan asli dari dunia ini melainkan lahir dari proses reinkarnasi dan kebetulan, memiliki ingatan saya di dunia sebelumnya." Jelas Celestine dan meresap tehnya.
"Dan jika itu benar, apa yang kamu inginkan dariku?" Tanya Vincent sambil melipat tangannya di depan dada.
"Aku menginginkan ikatan dengan anda, sebuah pertunangan." Kata Celestine dengan santai seolah dia sedang membicarakan cuaca hari ini.
"Hah?"
Vincent di sisi lain terkejut dengan permintaan sang putri pertama keluarga Mandoze. Berkedip beberpa kali dan mengorek telinga kirinya dengan jari kelingking, memastikan bahwa di tidak salah dengar.
"Anda mendengar saya dengan baik, Sir Vincent. Saya menginginkan pertunangan dengan anda." Kata Celestine seolah membaca pikiran Vincent.
"Mengapa?" Kata Vincent yang telah pulih dari keterkejutannya.
"Sederhana, aku menginginkan kekuatan anda. Di tambah kita berasal dari tempat yang sama saya kira, yang berasal dari bumi. Apakah saya benar?" Tanya Celestine dan Vincent mengangguk. "Dengan kekuatan anda dan pengetahuan yang kita berdua miliki, kita bisa mengubah Kerajaan Iwreneian menjadi lebih baik."
"Apakah kamu menyarankan kudeta dengan mengajukan pertunangan ini?" Tanya Vincent yang penasaran.
"Oh dewa, tidak. Aku hanya ingin membersihkan beberapa sampah dari Kerajaan ini dan sedikit balas dendam untuk mantan tunangan saya yang bajingan."
"Hee... Ada alasan pribadi di sana ternyata." Kaya Vincent yang mulai rileks.
"Saya akui, ya. Memang benar ada keinginan egois saya di sana. Namun, keluarga mantan tunangan saya di curigai sebagai penghianat dari informasi yang ayah dapatkan meskipun tidak terlalu spesifik." Kata Celestine.
"Apa keuntungan yang aku miliki dari semua ini? Aku hanya dapat melihat anda hanya ingin menggunakan kekuatan saya untuk kepentingan anda." Ketidaksenangan terlihat di wajah Vincent saat dia memahami apa niat sang putri Duke.
"Status dan kekuatan. Anda akan mendapatkan semua itu dan juga kekayaan."
"Hanya itu?"
"Dan saya akan menjadi milik anda, kita dapat memulai keluarga bangsawan baru yang lebih kuat dengan faksi kerajaan di belakang anda."
"Fraksi Kerajaan?" Tanya Vincent. Itu hal yang baru dia dengar.
"Ya, di Kerajaan Iwreneian terdiri dari dua Fraksi. Pertama ada Faksi Bangsawan yang memiliki tujuan untuk memiliki tujuan untuk mendapatkan kekuasaan, biasanya mereka memiliki aturan masing-masing yang berbeda di setiap wilayah mereka dan selalu mencari keuntungan yang tersedia. Fraksi kerajaan di sisi lain, menuruti perintah Raja langsung yang tergabung dalam loyalti. Mendukung keputusan raja dan menanamkan aturan yang sama dengan perintah raja." Jelas Celestine.
"Biar aku tebak. Fraksi bangsawan ini sedang berencana menggulingkan takhta untuk diri mereka sendiri bukan?"
"Tepat. Dan itulah mengapa raja saat ini sangat muda dan perang tidak pernah berakhir dengan kekaisaran." Kata Celestine selesai dengan penjelasannya.
"Katakanlah aku tertarik. Apa yang harus aku lakukan?" Tanya Vincent yang sekarang menyeruput tehnya yang sudah dingin.
"Untuk saat ini, selesaikan tugas yang ayah saya berikan. Dengan hasil yang memuaskan, aku bisa merekomendasikan Anda untuk naik gelar dan berusaha sampai anda mencapai tingkat Earl untuk menjadi tunangan saya."
"Kesepakatan kalau begitu."