EX-SOLDIER: In Another World

EX-SOLDIER: In Another World
Perburuan - Part 1



Mata seorang wanita pirang tertuju pada salah satu manor yang ada di ibukota Kerajaan Iwreneian. Desas-desus mengatakan bahwa di sana adalah tempat tinggal 'pahlawan' dalam tragedi penyerangan Kota Angelbarrow, seorang pria bernama Vincent.


Banyak rumor mengatakan bahwa dia sangat kuat, rumor juga mengatakan bahwa dia adalah seorang yang lahir sebagai seorang pemimpin, mampu membangkitkan semangat dan moral para kesatria yang terpuruk karena pertempuran yang tidak menguntungkan, membuat harapan bagi mereka dengan ikut bertempur dan membunuh banyak pasukan musuh seorang diri sebelum di ikuti oleh para kesatria yang terinspirasi oleh tindakannya.


Banyak penyair yang menceritakan kisah heroiknya dengan berbagai bait-bait indah dan kata-kata dramatis dalam ceritanya, membuatnya terdengar menarik untuk memberikan kesan bahwa Vincent adalah seorang pahlawan sejati.


Dia sendiri tahu seberapa kuat pria bernama Vincent ini, namun dia tidak tahu pasti seberapa besar kekuatan-nya karena itu hanya menurut laporan yang dia terima. Di Salah satu laporan yang dia terima dari atasannya, menyatakan bahwa pria Vincent ini bisa menyaingi salah satu elite 'Black Robe' saat kelompok pembunuh itu di minta untuk mengukur kekuatan tempurnya, memastikan kekuatan apa yang harus di kerahkan jika pria bernama Vincent ini menjadi masalah bagi kelompok mereka. Terutama karena Vincent bekerja sama dengan Duke of Mandoze dan salah satu Klien atasannya ini pria ini mati.


Di sinilah dia sekarang, di tugaskan untuk membunuh pria bernama Vincent. Starteginya sederhana, pikat dan rayu pria ini, kemudian bunuh saat pria ini lengah. Hal yang di sarankan oleh atasannya karena pertempuran langsung akan sangat merugikan pihak mereka.


Wanita itu sedikit gemetar saat angin dingin menerpa punggungnya. Musim dingin akan datang dan fakta bahwa dia mengenakan sutra yang halus dan tipis tidak membantu. Namun, dia harus memakainya karena keterampilan rayuannya jauh lebih efektif dengan pakaian terbuka seperti itu.


Angin membuat pikirannya kembali ke kenyataan saat matanya sekali lagi terfokus pada Manor. Karena kurangnya informasi tentang pria bernama Vincent ini selain kekuatannya, dia memutuskan akan lebih baik untuk mengamatinya. Atasannya tidak keberatan memiliki lebih banyak informasi tentang dia.


Sayangnya dalam tiga hari terakhir, dia tidak mendapatkan informasi yang bagus. Selain kunjungan kedua putri dari Keluarga Duke of Mandoze yang menyediakan manor yang Vincent tinggali dan beberapa kunjungan dari putri dari keluarga bangsawan Ronchenie, tidak ada yang istimewa atau hal yang mendesak untuk di laporkan pada atasannya.


Kemarin dia memutuskan bahwa dia akhirnya akan menyelesaikan misinya hari ini. Atasan tidak suka membuang waktu jika informasinya tidak sepadan. Inilah mengapa dia memilih gaun terbaik yang dia miliki dan bersembunyi di gang, menunggu pahlawan Angelbarrow keluar dari manor. Dia bisa merasakan jarum kecil di lengan bajunya yang berisi racun yang melumpuhkan. Jika dia melakukan pekerjaannya dengan benar, dia akan dapat naik pangkat dan mencapai puncak.


XxXxX


Hari-hari Vincent berjalan lambat setelah pertemuannya dengan Duke of Mandoze. Tidak ada laporan yang spesifik, hanya tebakan liar tentang siapa yang terlibat penghianatan yang di selidiki oleh Duke Mandoze sendiri. Kata kuncinya di sini adalah tebakan, bukan fakta.


Sangat sulit untuk menemukan bukti yang akurat di dunia ini, terutama dengan kurangnya teknologi. Hal sederhana seperti memberi pesan atau laporan harus melalui pembawa pesan, membutuhkan banyak waktu untuk pengiriman secara manual, belum lagi memiliki risiko tinggi jika pesan penting jatuh di pihak musuh pada saat pengiriman. Katakan saja, kurang praktis.


Belum lagi kekhawatiran tentang musuh yang memiliki koneksi ke pembunuh bayaran terkenal bernama 'Black Robe' yang mengintai dalam bayang-bayang dan tidak di ragukan lagi ahli dalam memata-matai dan pengumpulan informasi.


Artinya, banyak sakit kepala yang akan datang pada masa depan hanya karena cara pengiriman pesan atau laporan.


Memutuskan untuk menyingkirkan kekhawatirannya sejenak, Vincent memilih untuk bersantai selagi dia bisa untuk saat ini. Mungkin jalan-jalan di ibukota akan menjadi hal yang bagus, lagi pula dia tidak memiliki waktu untuk melakukan hal itu, entah itu di ibukota ataupun di Kota Angelbarrow.


Menyusuri jalanan ibukota untuk beberapa waktu, melihat berbagai hal baru, menikmati suasana ibukota yang ramai sampai akhirnya Vincent menyesal telah melakukan perjalanan kecil ini.


"Sial, aku tersesat." Gumam Vincent sambil melihat sekeliling.


"Harusnya aku pergi menemui Lisa atau bertukar pikiran dengan Celestine." Helaan napas lelah keluar dari mulutnya, sambil menggelengkan kepalanya Vincent mencoba mengingat kembali jalan untuk pulang.


Tidak ada gunanya untuk menangisi susu yang telah tumpah, jadi Vincent meneruskan perjalanannya sambil berharap menemukan jalan yang telah dia lihat dan dia ingat untuk kembali ke manor.


Vincent terus berjalan hingga dia secara tidak sengaja menabrak seorang wanita muda yang berusia di akhir masa remaja. Dia memiliki fitur halus, lipstik ungu dan maskara. Dia cukup pucat dan memiliki rambut pirang panjang yang sedikit lebih gelap dari rambut Lisa, tetapi ciri khasnya yang paling aneh adalah matanya yang ungu. Dia mengenakan pakaian terbuka yang terbuat dari sutra merah muda, tidak cocok untuk musim, yang menonjolkan belahan dadanya yang murah hati.


"Wah, wah, Tuan yang baik, sementara saya dijual, saya masih seorang wanita. Sebelum kita beraksi, saya ingin setidaknya diperkenalkan satu sama lain."


Dia mendengkur saat tangannya mulai mengembara di mantel dan kemejanya. Vincent tidak tahu harus berbuat apa untuk saat ini, pikirannya terbagi antara paranoid serangan musuh dan hal lain yang mungkin saja kebetulan yang normal. Saat berikutnya wanita muda yang menarik ini mencoba merayunya.


'Seorang pelacur?' Dia bertanya-tanya. Pelacur bukanlah hal aneh di dunia lama Vincent , Tapi dia tidak pernah melihatnya sebelumnya. Mereka tinggal di tempat yang terorganisasi; untuk memasuki tempat seperti itu, Anda memerlukan status sosial yang cukup dan memiliki banyak uang untuk menikmati layanan mereka. Ada juga gadis tunawisma yang malang, yang akan menjual diri mereka di jalanan dengan imbalan bermalam di tempat tidur yang hangat, Tapi Vincent tidak pernah menganggap mereka sebagai pelacur.


Dia memaksa pikirannya untuk kembali dari ingatannya dan fokus pada masalah saat ini. Dia perlu mengendalikan situasi. Dia mundur selangkah, menciptakan jarak antara dia dan wanita muda itu.


"Maafkan aku nona, aku sedang terburu-buru dan tidak melihatmu." Vincent berkata sambil dengan ringan menundukkan kepalanya. Wanita itu tampak bingung sejenak oleh kesopanannya yang tiba-tiba. Vincent memutuskan inilah saatnya mengambil kesempatan.


"Seperti yang saya katakan, saya sedang terburu-buru, jadi tolong permisi."


Vincent berkata ketika dia mulai berjalan pergi, Tapi kemudian wanita itu meluncurkan dirinya ke arahnya dan memeluk lengannya. Vincent bisa merasakan gumpalan lembut di lengannya dari balik mantel tebalnya, memberi dia rangsangan pada nafsunya apalagi oleh wanita muda yang cantik dengan gaun provokatif yang meneriakkan 'Tiduri Aku!'.


"Tapi Tuan, pada malam yang begitu indah, adalah kejahatan untuk tidak menikmati kesenangan yang bisa saya berikan kepada Anda. Saya akan memberi Anda diskon." Wanita muda itu berkata dengan suara polos yang manis.


"Tidak, terima kasih. Aku punya urusan yang harus kuselesaikan." Kata Vincent melalui giginya. Vincent bukannya tidak ingin, tapi dia terlalu paranoid akhir-akhir ini karena banyak sakit kepala yang dia terima akhir-akhir ini.


Kali ini wanita itu kembali menutup jarak di antara mereka dan berdiri di depannya. Dia membungkuk untuk menunjukkan lebih banyak belahan dadanya dan mengangkat roknya memperlihatkan sepasang ****** ***** ungu.


Entah mengapa, wanita muda ini memiliki getaran yang membuat Vincent waspada.


Sementara itu, iblis batin Vincent berteriak untuk membawa gadis ini ke tempat tidur karena Vincent instingnya.


"Ayo pak! Kalau begitu saya akan memberi Anda putaran gratis. Itu adalah kesepakatan yang tidak akan ditolak oleh siapa pun, bukan begitu?"


Sementara wanita yang di anggap pelacur mengatakan itu, pikiran Vincent berpacu dalam kecepatan tinggi untuk memproses semua kemungkinan, kemudian mengeluarkan Stun Gun dari inventarisnya tanpa di ketahui wanita di hadapannya saat pemikiran perangkap madu masuk dalam pikiran Vincent.


Wanita itu tampaknya menganggap kesunyiannya sebagai konfirmasi dan menutup jarak di antara mereka dengan mendorong tubuhnya yang menggairahkan ke tubuh pria itu.


Satu tangan halus menyentuh pipi kiri Vincent dan di saat berikutnya wanita muda itu jatuh pingsan dengan sedikit kedutan di tubuhnya yang menggairahkan.


"Aku tidak menyangka hasilnya akan seperti ini." Kata Vincent sambil melihat Stun Gun yang dia pegang, tidak percaya apa yang telah dia lakukan sendiri hanya untuk menyetrum seorang pelacur acak. Dia akan menyalahkan instingnya untuk itu, tapi kemudian dia melirik wanita muda yang pingsan akibat ulahnya dan menghembuskan nafas lelah.


"Apa yang harus aku lakukan dengan wanita ini?"