EX-SOLDIER: In Another World

EX-SOLDIER: In Another World
Kota Damai sebelum Badai - Part 4



Seorang gadis penyihir mencengkram jeruji besi yang mengurung dirinya dengan erat. Begitu banyak kekuatan yang di berikan gadis itu pada jeruji besi sehingga seseorang akan berpikir bahwa gadis penyihir itu sedang berusaha merobek jeruji besi tersebut. Cacian keluar terus-menerus dari mulutnya, menuntut untuk di bebaskan karena dia tidak melakukan dosa yang pantas untuk mendapatkan hal ini.


Satu jam.


Itu waktu yang di cacat Vincent dalam pikirannya saat melihat Lisa yang terus berdiri di hadapan jeruji besi sambil memaki. Melontarkan hinaan pada kesatria bangsawan yang telah memenjarakan mereka berdua sambil berteriak meminta kebebasan.


"Lisa, tenangkan dirimu."


Kata Vincent yang duduk bersandar di lantai penjara bawah tanah. Itu dingin dan lembap, sangat tidak nyaman. Namun siapa dia bisa mengeluh, karena secara teknis dia adalah seorang tahanan. lagi pula dia pernah mengalami hal yang lebih buruk pada masa lalu saat dia tertangkap dan di jadikan sandera.


"Tetapi Vinne! Ini tidak adil! Kita tidak melakukan apa pun yang pantas mendapatkan ini!"


Nada suara Lisa terdengar kesal dan frustrasi, jelas tidak menerima keadaan ini.


Vincent di sisi lain memiliki pemikiran mengapa dia di penjara. Hal dasar manusia, mereka takut kepada hal yang tidak mereka ketahui. Kemudian dari ekspresi mereka yang telah menangkap Vincent, jelas dia melihat ketakutan di wajah mereka. Ada lagi tentang laporan raungan 'binatang buas' yang merupakan hasil suara senjatanya, itu praktis telah membuat sebagian warga kota yang mendengarnya menjadi panik jika salah satu penjaga adalah indikasi.


Asumsi lain tentang situasinya adalah karena Kerajaan sedang berperang. Perbuatan yang membuat kepanikan atau kerusuhan di sekitar kota akan di anggap sebagai penyusup atau penyerang. Pemikiran itu di dapat dari kurangnya teknologi di dunia ini dengan pemikiran orang-orangnya yang bisa Vincent bandingkan dengan pemikiran orang-orang pada zaman Romawi.


Betapa merepotkan.


Terutama dengan banyak sakit kepala yang dia terima karenanya. Sekarang mungkin dia bisa menyingkirkan satu masalah untuk mengurangi rasa sakit kepalanya dengan cara seorang pria, mungkin. Namun Vincent berharap itu akan berhasil karena dia tidak bisa berpikir jernih dengan penyihir cantik yang terus melontarkan kata-kata kotor di sekitarnya.


"Apa kamu tidak lelah?"


Tanya Vincent saat dia melihat Lisa yang masih berdiri di depan jeruji. Pertanyaan membuat Lisa berbalik untuk melihat Vincent dengan tatapan tajam, jelas Lisa masih kesal terhadapnya kerena situasi ini namun Lisa tidak bisa sepenuhnya menyalahkan Vincent karena sebagian lain adalah idenya untuk melihat bagaimana senjata Vincent bekerja.


"Kemarilah ada yang aku berikan kepadamu."


Kata Vincent sambil melambaikan tangannya, mengundang Lisa untuk mendekat. Lisa yang penasaran berjalan ke arahnya dan kemudian berdiri di hadapan Vincent yang sedang duduk.


"Apa yang ing-"


Sebelum Lisa bisa menyelesaikan kalimatnya, Vincent menarik lengan Lisa hingga dia tersandung kedepan, jatuh dengan posisi duduk memunggungi Vincent, tindakan yang membuat Lisa terkejut. Tidak sampai di sana, Vincent lalu memeluk Lisa dari belakang dan meletakkan kepalanya di bahu Lisa, membuat Lisa sedikit tidak nyaman dan mulai mencoba melepaskan diri meskipun dengan lemah.


"Hei! Apa yang kamu lakukan, Vinne!"


"Tenanglah. Dinginkan kepalamu, amarah tidak akan membawa kita ke mana-mana. Juga, diamlah. Kamu sangat berisik selama satu jam terakhir."


"Vinne!"


Lisa berusaha melepaskan diri dengan usaha yang lemah dari pelukan Vincent. Namun hal itu tidak berlangsung lama sampai Lisa menyerah melakukan perlawanan dan hanya duduk di sana. Bukannya Lisa tidak menyukai tindakan ini, hanya saja ini memalukan dengan inisiatif Vincent yang tidak tahu tempat. Semburat merah muda terlukis di wajah Lisa saat membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya, namun dia menepis hal-hal cabul di pikirannya secepat itu datang dengan gelengan kepala.


"Tenang oke?"


"Uhm."


Lisa mengangguk, perlahan mulai merasa nyaman dengan posisinya saat ini jika tidak terlalu memalukan. Lagi pula mereka sedang berada di dalam penjara, bukan taman atau tempat romantis untuk berbagi cinta.


Sekali lagi Lisa memangguk, menyadarkan tubuhnya pada Vincent untuk membuat dirinya nyaman dalam pelukan.


"Jadi, tenang dan bersabar untuk saat ini." Lisa mengangguk lagi. "Lagi pula aku tidak suka melihat wanita cantik seperti dirimu melontarkan kata-kata seperti seorang pelaut kotor. Itu tidak cocok untukmu."


"Kita akan baik-baik saja, aku janji."


Dengan kata-kata Vincent, akhirnya Lisa rileks dengan sesekali menggeser tubuhnya lebih dalam ke pelukan Vincent, membuat dirinya senyaman mungkin sambil menikmati kehangatan dan kelembutan yang di berikan Vincent padanya. Hal yang sangat Lisa rindukan.


...


Lisa bukanlah tipe wanita yang sebarangan melemparkan dirinya ke dalam pelukan pria yang dia temui, tidak dia bukan. Lisa selalu menjaga dirinya, selalu bersikap anggun dan menolak dengan cara yang tegas jika dia tidak menyukai atau menyetujuinya.


Namun saat dia bertemu Vincent dia merasakan perasaan kagum. Itu muncul saat Lisa pertama kali melihat Vincent, di mana Vincent sedang melawan Orc sendirian. Lisa mengingat saat itu, cara Vincent bergerak, cara dia menyerang dengan dengan semua ketenangan dan perhitungan yang menurutnya anggun.


Saat itu Lisa berpikir bahwa Vincent adalah seorang penyihir dan dia tidak pernah melihat penyihir bertarung seperti cara Vincent bertarung, dan dari sana kekaguman muncul.


Kemudian Lisa melihat cara Vincent berbicara dengan sopan dan hormat, hal yang mengingatkannya pada seorang bangsawan. Satu hal yang mengingatkan dirinya dahulu sebelum kabur dari rumah dan menjadi petualangan. Vincent juga orang yang menyenangkan menurutnya, meskipun dia agak kaku dan perilaku melebihi usianya. Sikap yang mengingatkan dia kembali pada saat dia masih seorang bangsawan.


Dari sanalah perasaan suka muncul, dan Lisa menyukai Vincent. Menyukainya dalam arti bukan cinta atau perasan romantis, hanya kekaguman dan rasa hormat sampai pikiran nakal memberinya ide.


'Aku akan menunjukkan warna asli pria ini.'


Itulah yang dia pikirkan setelah mereka mengalah sekelompok Gray Wolf dan Lisa mulai menggoda Vincent dengan agresif. Memberikan pujian, candaan mesum bahkan sentuhan yang Lisa yakin membuat para pria mana pun menyukai hal yang dia lakukan.


Namun tidak, Vincent tidak menanggapi hal-hal itu dengan serius yang membuatnya makin bertekad.


Sekarang dia duduk, di peluk oleh pria yang dia goda selama beberapa hari terakhir. Anehnya dia merasa nyaman akan hal ini dan bahkan menginginkan lebih. Cara dia menenangkan, memberinya sentuhan yang lembut dan mendekapnya dengan kehangatan. Hal-hal yang membuat pikiran Lisa meleleh dalam kenyamanan.


'Sepertinya rencanaku menjadi bumerang.'


Pikir Lisa saat dia mulai merasakan lelah dimatanya dan berakhir tertidur karena nyaman di pelukan Vincent.



Malam telah menyelimuti kota benteng dengan orang-orang di dalamnya telah kembali kerumah dan beristirahat. Beberapa orang terlihat berada di jalanan dengan beberapa penjaga yang masih berpatroli untuk memastikan keamanan.


Namun satu hal yang tidak diketahui warga kota benteng bahwa ada sekelompok orang berjubah hitam yang masuk kedalam kota mereka dengan satu peleton kecil prajurit bersembunyi di hutan yang tidak jauh dari kota benteng, besiap untuk melakukan penyerangan.


.


.


.