EX-SOLDIER: In Another World

EX-SOLDIER: In Another World
Gelar dan Tugas - Part 2



Lima hari telah berlalu semenjak rombongan yang terdiri dari Vincent, Sofia, Gill dan Lisa yang di temani oleh Rose Order melakukan perjalanan menuju ibukota Kerajaan Iwreneian. Menurut perhitungan Sofia, perjalanan mereka membutuhkan empat hari lagi untuk mencapai ibukota dengan kecepatan mereka saat ini. Sejauh ini semuanya baik-baik saja, tidak ada hal yang menghalangi perjalanan mereka.


Sama hal dengan hari-hari sebelumnya perjalanan mereka, rombongan tersebut akan beristirahat saat matahari mulai terbenam di balik gunung. Memilih tempat untuk mendirikan kemah dan melakukan tugas lain seperti memasak atau mengumpulkan air.


Vincent sedang duduk di depan api unggun dan saat itu hari telah larut. Vincent sendiri telah mengajukan diri untuk berjaga malam itu, di temani Vincent dan beberapa Kesatria. Melamun di depan api unggun sambil memikirkan tujuan selanjutnya setelah memenuhi undangan Raja. Sejauh ini dia memiliki dua pilihan, untuk menetap di ibu kota dan mencari pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya atau pergi berpetualang dan menemukan hal baru sambil berharap mendapatkan petunjuk mengapa dia di kirim ke dunia ini. Hal-hal rumit yang Vincent pikirkan.


"Hei Vincent! Saatnya bertukar dan biarkan aku mengambil alih tugas jaga ini."


Kata-kata itu mengalihkan pikiran Vincent, membuatnya menoleh ke arah sumber suara yang berasal dari Gill yang telah bangun untuk tugas jaga selanjutnya.


"Baik." Vincent mengangguk sambil mengoroh mantelnya dan mengeluarkan senter kecil sebelum melemparkannya ke arah Gill yang di tangkap tepat waktu, "Gunakan itu, kamu hanya perlu menekan bagian belakangnya untuk menyalakan benda itu."


Gill yang menerima senter tersebut mencoba apa yang Vincent instruksikan, menekan tombol yang ada di bagian belakang untuk membuat senter menyala sebelum menekannya lagi untuk mematikannya.


"Apakah ini benda magis?" Tanya Gill yang penasaran sekaligus kagum, tidak hanya Vincent dapat mengeluarkan senjata yang kuat entah dari mana, beberapa barangnya juga unik, seperti makanan yang di kurung dalam kaleng besi tipis yang di sebut Ramsum atau benda senter ini.


"Tidak, itu bukan." Jawab Vincent sambil menggelengkan kepalanya. "Itu hasil dari kejeniusan seseorang." Kata Vincent sambil mengetuk sisi pelipisnya dengan satu jari berkali-kali.


"Jadi ini tanpa bahan magis?" Tanya Gill dan Vincent hanya mengangguk untuk menjawabnya.


"Gill, jika aku boleh menanyakan sesuatu?" Tanya Vincent saat Gill duduk di batang kayu yang di jadian kursi di depan api unggun.


"Silakan."


"Mengapa kamu bergabung dengan Rose Order?" Gill menatap sejenak ke mata Vincent setelah mendengar pertanyaan yang di ajukan Vincent sebelumnya matanya beralih ke api unggun.


"Aku membenci Kekaisaran." Itu adalah jawaban Gill, Vincent menunggu beberapa saat untuk mendengar penjelasan lain yang mungkin ingin Gill katakan, namun setelah beberapa waktu berselang, tidak ada lagi kata keluar dari mulut Gill dan Vincent berpikir dia tidak ingin membahas detail alasannya.


Helaan napas lolos dari bibir Vincent saat dia menggelengkan kepalanya.


"Balas dendam bukanlah salah satu tujuan yang baik, Namun aku mengerti dari mana asal kebencian itu." Kata Vincent saat dia menyodok api unggun.


"Apakah kamu akan menceramahi aku agar tidak melakukan itu?" Tanya Gill, jelas tersinggung dengan ucapan Vincent.


"Tidak. Karena aku tahu bagaimana rasanya dan aku pernah melakukan hal yang sama." Jawab Vincent saat dia menatap mata Gill. "Hanya lakukan itu sebagai motivasi dan dorongan. Ingat, jangan terlalu terlalu memeluk balas dendammu."


"Karena aku adalah seorang tentara sebelum aku berakhir di sini. Aku tahu semua rasa sakit kehilangan karena aku telah mengalaminya. Hanya satu pesanku untukmu, jangan jadikan balas dendam itu sebagai obsesi di atas segalanya atau kamu akan menyesalinya."


Dengan itu Vincent berdiri, menatap Gill sejenak yang telah merenungkan kata-katanya sebelum melangkah pergi untuk kembali ke tendanya.


...XxXxX...


Saat Vincent mencoba untuk berbaring dan beristirahat di tenda yang telah di sediakan, suara benturan baja membangunkannya secara spontan dan dia bergegas keluar dari tendanya. Mengeluarkan dual Winchester M1887 yang tersimpan di sarungnya, Vincent bergegas menuju tempat di mana suara itu berasal.


Matanya menyipit saat dia melihat sekelompok orang yang sedang bertarung dengan beberapa Kesatria yang bertugas untuk berjaga malam ini. Kelompok itu terdiri dari pria kasar dengan pelindung kulit sebagai armor mereka, meskipun beberapa menggunakan flat besi di beberapa bagian, Vincent dapat menyimpulkan bahwa mereka adalah bandit.


Namun pertanyaan lain muncul di benak Vincent.


'Mengapa para bandit menyerang perkemahan yang di huni oleh banyak kesatria?' Apakah mereka terlalu percaya diri atau bodoh, Vincent tidak tahu. Namun ini sedikit janggal baginya.


Mengesampingkan dahulu pemikiran itu, Vincent bergegas untuk membantu para kesatria sambil melindungi orang-orang yang tidak bisa bertarung. Berharap para kesatria dapat menangkap beberapa bandit untuk di interogasi demi memastikan kekhawatirannya.


Menyiapkan Dual Shotgun-nya Vincent berlari, menerjang ke depan musuh dengan salah satu bandit yang malang terkena pukulan lutut ke perut oleh Vincent sebelum dia menembaknya sampai mati.


'Ayo Vincent! Kamu telah mengendurkan potensi dirimu sendiri karena terlalu banyak duduk selama ini! Kuatkan otot dan pikiran, ingat kembali masa saat berada di Black Ops 'Jungle Ghost'.' Pikir Vincent saat dia memaksa dirinya mengingat setiap memori otot dan fokusnya sampai batas maksimal untuk mendapatkan kembali penasaran saat dia masih berjaya di anggota Black Ops.


Vincent bergerak kembali, membanting popor senapannya ke salah satu bandit yang mendekat dengan pedang terangkat, membuat bandit tersebut terhuyung ke belakang akibat benturan yang di terima oleh kepalanya. Kemudian lengan lain terangkat untuk memblokir bandit lain di sisi yang berlawanan dengan laras senapannya, membidik dengan senjata yang telah membanting kepala kesatria dengan popor senapan, Vincent menembak bandit yang masih menahan pedangnya dengan shotgun lain di tangannya yang dia akhiri dengan mengokang senjata dengan gerakan Spin Reload, setelah musuhnya dia yakini telah mati.


Dengan hembusan napas panjang Vincent bergerak sekali lagi untuk menghabisi musuh selanjutnya.


Sementara itu, Gill memberikan bantuan dari barisan belakang bersama Lisa yang melemparkan mantra-nya, berhati-hati agar tidak mengenai sekutu karena pandangannya yang terbatas oleh cahaya obor dan senter yang di pinjamkan oleh Vincent pada Gill.


Sofia di pihaknya, mengkoordinasikan Rose Order menjadi dua kelompok. Satu untuk menyerang para bandit dan yang lain untuk melindungi orang-orang yang tidak bisa bertarung, seperti pelayan, kusir dan beberapa orang lainnya.


Di tengah-tengah kesibukan itu, pikiran Sofia berpacu saat dia mengkoordinasikan para kesatria. Dia sendiri tidak ikut bertempur karena dia tidak memikirkan tentang hal ini dan juga dia tidak memakai peralatan tempurnya seperti baju besi, karena jika dia memakainya sekarang, itu akan membutuhkan banyak waktu. Lagi pula siapa yang akan menyerang mereka yang berisi banyak kesatria, jelas ini tidak normal baginya.


Pandangannya beralih ke tempat di mana Vincent bertarung dan kagum dengan apa yang dia lihat. Cara Vincent bergerak, cara dia mengalahkan musuhnya dengan brutal namun elegan membuatnya terpikat.


"Dia berbeda dengan caranya bertarung saat di Angelbarrow. Entah mengapa dia sedikit lebih liar." Gumam Sofia.