EX-SOLDIER: In Another World

EX-SOLDIER: In Another World
Perburuan - Part 5



Vincent melihat sekeliling ruangan. Tepatnya pada pria yang telah dia pukul dan ekspresi orang di sekitarnya. Betapa terkejutnya dia saat melihat dampak yang di berikan, terlebih pada peningkatan kekuatan hanya dengan menggunakan armor yang dia yakini hanya sebagai 'Costume' dalam game.


Berawal dari tebakan liar, sejauh ini senjata yang telah dia keluarkan dari inventarisnya adalah hal yang dia tahu efek dan kegunaannya. Berbeda dengan armor yang dia pakai saat ini, dia hanya menebak-nebak dari deskripsi item tersebut dan kegunaannya dalam game, selain item cosmetics untuk mempercantik tampilan karakter yang dimainkan.


Fungsi armor yang Vincent pakai adalah untuk meredam kerusakan yang di terima sebanyak 10%, meningkatkan Health Points sebanyak 20% dan meningkatkan kecepatan satu level di atas rata-rata. Itu adalah efek yang di terima dalam game, namun saat ini, item tersebut menjadi nyata dan Vincent cukup terkejut efek yang di berikan.


Singkatnya, semua item dalam permainan menjadi nyata dan memberikan efek yang nyata sebagaimana mestinya. Itu yang berhasil di simpulkan Vincent saat melihat pemandangan di depannya, membuat dirinya semakin percaya diri akan kemenangannya atas Organisasi Kriminal terbesar di Kerajaan Iwreneian.


Bibir Vincent melengkung ke atas menjadi seringai di


balik helm yang dia pakai. Percaya dengan kekuatan yang baru dia temukan saat dia mengeluarkan satu pasang Kriss Super V yang dia arahkan kepada para petinggi Eclipse.


"Show Time." Bisik Vincent dengan nada yang ceria saat dia membanting sikunya ke wajah dua penjaga yang telah menahannya selama ini, membuat keduanya terhuyung ke belakang dengan dampak baja bertemu dengan wajah mereka sebelum Vincent melakukan tarian kematian.


Vincent mengakhiri dua penjaga yang malang dengan rentetan peluru 9×19mm dan melubangi tubuh keduanya, kemudian melihat sekeliling ruangan sekali lagi. Semua orang di ruangan masih tertegun dengan aksi kecil Vincent. Melihat semua orang masih dalam keadaan linglung, Vincent memanfaatkan moments ini untuk melemparkan granat Flashbang ke tengah ruangan.


Seketika saat Flashbang meledak, semua orang di ruangan mengalami kebutaan dengan telinga berdenging. Membuat mereka rapuh saat Vincent dengan ganas menembaki semua orang yang berada di ruangan tersebut.


"Ini mudah." Bisik Vincent yang melihat hasil pekerjaannya.


Butuh beberapa saat bagi Matilda untuk pulih dari efek Flashbang yang Vincent lemparkan. Hasilnya, membuat Matilda terkejut dengan betapa mudahnya Vincent membantai para petinggi Eclipse dalam hitungan menit.


Merasa situasinya telah terkendali, Matilda berdiri dari posisi tiarap yang di sarankan Vincent pada rencananya. Melihat pria berbaju besi futuristik dengan senyum saat dia melangkah mendekatinya.


Namun senyum itu dengan cepat memudar saat dia melihat sosok yang di kenal sebagai kepala keamanan Eclipse yang berdiri di belakang Vincent.


"Vincent awas!" Teriak Matilda, berusaha memperingatkan Vincent.


Namun peringatannya datang terlambat saat kepalan tangan besar kepala keamanan menghantam sisi kanan wajah Vincent, membuat Vincent terlempar dan menabrak dinding di seberang ruangan dengan suara yang keras.


Melihat itu, Matilda menjadi sangat khawatir. Vincent tidak bergerak setelah menerima pukulan tersebut dengan kedua lampu yang menjadi matanya padam. Harapannya untuk hidup normal seperti gadis pada umumnya yang di janjikan Vincent, tenggelam begitu saja, di gantikan dengan kengerian bahwa rencana Vincent gagal dan keduanya akan segera mati.


"Untuk seseorang yang disebut sebagai pahlawan, ini sangat mengecewakan." Kata Kepala Keamanan Eclipse. Pria botak kekar setinggi dua meter itu berjalan perlahan ke arah Vincent sambil meretakkan buku-buku jarinya. Tato di sisi kanan wajahnya dengan sedikit cahaya membuatnya terlihat sangat mengintimidasi.


Pemandangan itu membuat perasaan takut Matilda semakin dalam saat air mata mengalir tanpa dia sadari.


'Bangun, bangun, bangun, ayo bangun Vincent, aku mohon.' Jerit harapan dalam hati Matilda terus mengharapkan pria yang telah memberinya sedikit kebahagiaan dalam lima hari terakhir untuk bangun dan kembali melawan.


Kini pria botak yang menjadi kepala keamanan Eclipse telah berada di hadapan Vincent yang duduk lemas tanpa ada tanda-tanda akan bergerak. Tinju gemuk pria botak itu di tarik kebelakang, siap untuk menghancurkan lawan di hadapannya yang tidak berdaya saat dia mengucapkan kemampuannya.


"MATI!!" Teriak pria itu dengan niat membunuh yang menyesakkan.


BAAM!!


Awan debu naik akibat dampak pukulan pria botak tersebut. Membuat seringai pria itu semakin lebar saat dia yakin telah menghancurkan tengkorak Vincent.


Namun, seringai itu dalam sekejap menghilang saat awan debu perlahan turun dan ekspresinya di gantikan oleh cemberut kasar.


Di hadapannya, Vincent berhasil menggeser kepalanya ke samping untuk menghindari pukulan dengan kekuatan penuh meskipun sisi kanan helmnya sedikit retak akibat dampak yang tidak terelakkan saat menghindari pukulan di detik terakhir.


"Cukup tangguh bukan?" Tanya pria botak dengan sinis, saat dia menarik tinjunya kebelakang sekali lagi. "Sekarang, MATI!!" Tinju melesat sekali lagi ke wajah Vincent.


"Rhinocerotidae." Sekali lagi Tinju pria itu bersinar dalam cahaya redup dan siap menghancurkan apa saja yang menjadi targetnya.


Namun kali ini tinju pria botak itu tidak mengenai apa pun. Vincent yang telah pulih langsung menendang dada pria tersebut dan berkat armor yang dia pakai, pria botak itu terhuyung ke belakang akibat kekuatan tendangannya.


Vincent yang tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, segera bangkit dan menutup jarak antara dirinya dan pria botak. Menarik lengan kanannya ke belakang untuk memberikan Hook kanan ke pipi musuhnya, membuat pria itu terhuyung sekali lagi akibat dampak yang di berikan Vincent.


Melihat pukulannya tidak sesuai dengan apa yang diharapkan, Vincent memperlebar jarak antara dia dan musuhnya. Matanya melesat keseluruhan ruangan, mencari senjatanya yang terlepas dari genggamannya saat dia menerima pukulan pria itu sebelumnya.


Tidak butuh waktu lama untuk Vincent mendapatkan kembali salah satu Kriss Super V miliknya, namun saat itu juga pria botak telah pulih dari pukulan dan segera menutup jarak. Untuk perawakan pria besar itu, dia cukup cepat untuk menutup jarak antara dirinya dan Vincent dalam sedetik sambil menyiapkan serangannya.


"Rhinocerotidae!"


Vincent yang tidak memiliki waktu untuk menghindar, mengangkat kedua tangannya dalam posisi bertahan dari pukulan tersebut. Hasilnya, Vincent terseret beberapa meter ke belakang dengan kaki yang kokoh tertancap di lantai batu di bawahnya.


Vincent merenggut akibat menahan pukulan pria tersebut meskipun lengannya terlindung oleh armor yang kuat. Rasanya seperti pukulan War Troll yang pernah di alaminya namun lebih presisi dan mematikan.


Vincent yang pulih dengan cepat mengangkat senjatanya, membidik pria yang berjarak lima meter darinya dan melontarkan rentetan peluru ke pria botak yang menjadi musuhnya.


"Fortress!" Teriak pria itu dalam posisi bertahan dengan kedua tangannya terangkat untuk melindungi wajahnya, kemudian tubuhnya berkilau dengan cahaya abu-abu.


Mata Vincent terbelalak tak percaya saat melihat peluru 9×19mm memantul begitu saja di kulit pria tersebut, seolah kulitnya terbuat dari baja itu sendiri.


"Sial." Vincent mengumpat, ini akan menjadi pertarungan sulit lainnya meskipun dia telah mendapatkan peningkatan kekuatan.