EX-SOLDIER: In Another World

EX-SOLDIER: In Another World
Status dan Masalah - Part 1



"Seharusnya aku tidak pernah datang ke pertemuan itu."


Vincent menggerutu setelah pertemuannya dengan Raja, kesal dengan status barunya yang tidak pernah dia inginkan. Bertanya-tanya apa yang di laporkan oleh Sofia atau yang lain tentang pencapaiannya di Kota Angelbarrow hingga dia mendapatkan hal ini, status bodoh yang secara langsung mengikatnya langsung ke Kerajaan Iwreneian.


Sampai sekarang Vincent masih menggerutu saat dia berada di manor yang di sediakan untuk akomodasinya oleh Sofia. Wajahnya di tekuk dalam cemberut besar, membuat para pelayan manor manjadi sedikit takut untuk berinteraksi dengannya.


Vincent duduk di ruang tamu manor, mengeluarkan sekotak rokok yang ada di sakunya. Meskipun dia masih bertanya-tanya dari mana asalnya rokok itu, karena itu selalu ada di saku kemejanya setelah dia sampai ke dunia ini. Hal baiknya, kotak rokok itu selalu penuh meskipun Vincent yakin telah menghabiskan beberapa lusin batang rokok sejak kedatangannya.


"Tuan Vincent?" Kata sebuah suara, Vincent menoleh untuk melihat ke arah suara itu berasal. Itu adalah pelayan manor di sini, seorang wanita berumur 30an jika dia menebak dengan benar dan pelayan itu membungkuk sedikit ke arahnya.


"Ya?"


"Lady Sofia dan Lady Alisia datang untuk mengunjungi anda." Kata sang pelayan.


Vincent tahu Sofia, tetapi Alisa? Siapa itu? Apakah dia pernah bertemu dengan gadis bangsawan lain sebelum ini? Vincent tidak merasa seperti itu. Mengesampingkan pertanyaan di kepalanya, Vincent memberikan izin pada pelayan tersebut untuk membawa tamunya masuk.


"Suruh mereka masuk." Jawab Vincent sambil menyalakan sebatang rokok baru.


Tidak lama menunggu, dua orang wanita memasuki ruangan. Yang pertama adalah Sofia, dia memakai gaun berwarna merah cerah yang memperlihatkan bahunya, rambutnya di ikat menjadi sanggul menonjolkan kecantikannya. Gadis lain yang lebih pendek dari Sofia beberapa sentimeter, memakai gaun ungu dengan embel-embel putih. Rambutnya pirangnya tergerai dengan kipas lipat menutupi bagian bawah wajahnya. Namun satu hal yang bagi Vincent, gadis ini terasa familier.


Vincent menunjuk sofa di depannya, mempersilahkan mereka untuk duduk.


"Selamat siang Vincent, atau apakah kamu lebih suka dipanggil Baron Vincent?" Sofia bertanya, ada olok-olok dalam nadanya membuat Vincent kesal.


"Lupakan formalitas dan omong kosong Baron ini, apa yang kamu inginkan?" Tanya Vincent sinis, kekesalan kembali dengan kekuatan penuh saat dia di ingatkan tentang status barunya.


"Kasar." Jawab Sofia yang tersenyum, jelas menikmati eskpresi Vincent yang kesal. "Apakah kamu tidak ingin mengenal temanku ini?" Kata Sofia sambil menunjuk gadis yang duduk di sampingnya, setengah wajah gadis itu masih terhalang oleh kipas lipat yang di pegangnya.


"Dan?" Tanya Vincent dengan salah satu alis terangkat.


"Biar aku memperkenalkan diriku." Kata gadis tersebut yang berdiri sambil mencubit gaunnya di kedua sisi, membungkuk sedikit dan tersenyum ke arah Vincent. "Namaku Alisia Ronchenie, putri ke dua dari Viscount Ronchenie. Senang bertemu denganmu, Vinne~."


Vincent menahan diri untuk tidak membenturkan kepalanya ke meja. Gadis bangsawan yang ada di depannya adalah Lisa! Atau lebih tepatnya Alisia Ronchenie, putri bangsawan yang menyamar menjadi petualangan. Pantas saja Vincent merasa familier dengan sosoknya.


"Omong kosong." Gumam Vincent dengan nada rendah yang tidak dapat didengar oleh kedua gadis di depannya sambil mengangkat satu tangan untuk menutupi matanya, berharap dapat meredakan sakit kepala yang baru saja menyerang.


"Jadi, apa yang kalian berdua inginkan? Apakah ini hanya kunjungan mendadak atau semacamnya? jika itu benar aku hanya berasumsi bahwa hanya Lady Alisia di sini yang akan melakukan itu, tetapi tidak dengan kamu." Kata Vincent sambil menunjuk Sofia.


Senyum Sofia makin lebar saat melihat cemberut Vincent makin dalam, apakah Sofia semacam sadis? Vincent tidak tahu, tetapi berharap Sofia bukan salah satu dari itu. Jujur saja, itu agak membuat tulang punggungnya merinding. Lisa atau Alisia hanya terkikik dengan apa yang dia saksikan, jelas menikmati kekesalan dan kesulitan Vincent.


Setelah beberapa saat, senyum Sofia memudar dan masuk ke dalam mode bangsawan sekali lagi.


"Dan mengapa harus aku?" Tanya Vincent.


"Karena sepertinya anda adalah target dalam hal kasus ini, sama halnya dengan aku dan Alisia di sini, meskipun aku yakin Alisia hanya terseret dalam hal ini karena mengikutimu."


"Masuk akal. Namun pertanyaanku, apakah kamu memiliki bukti yang valid? Bukan hanya asumsi yang telah aku berikan kepadamu saat di perjalanan kita." Kata Vincent sambil menghembuskan asap rokok, menikmati sensasinya untuk meredakan sarafnya yang tegang.


"Sayangnya belum, namun aku dan ayahku memiliki beberapa tersangkanya." Kata Sofia, sedikit kekecewaan terlukis di wajahnya yang cantik.


"Dan kamu ingin aku menyelidikinya juga?"


"Ya." Kata Sofia sambil mengangguk. "Ayah juga mengirimkan undangan kepadamu untuk makan malam besok di manor kami, kamu bisa membahasnya lebih detail di sana dengan ayah di sana."


"Baiklah." Vincent mengangguk mengerti. "Ada hal lain yang ingin kalian sampaikan?"


"Um... Vincent?" Tanya Lisa, wajahnya menunjukkan sedikit keraguan.


"Ya, Lady Alisia."


"Ini Lisa!" Jawabnya bersemangat, seolah melupakan keraguan sebelumnya.


"Um... Maukah kamu menemaniku ke manor keluarga Ronchenie?" Tanya Lisa, keraguan mewarnai wajahnya kembali.


"Mengapa?" Tanya Vincent, jelas bertanya-tanya apa yang di rencanakan Lisa.


"Ikut saja oke! Aku akan menjelaskannya nanti, aku janji!" Jawab Lisa, mendesak Vincent untuk menerima tawarannya.


Vincent mentap Lisa yang gugup setelah ledakan kecilnya, menilai raut wajah sang gadis bangsawan yang menyamar menjadi petualangan sebelum menghela napas lelah.


"Baiklah, tetapi tidak ada omong kosong lucu lainnya, oke?" Kata Vincent.


"Oke!" Jawab Lisa dengan antusias.


Terkadang Vincent iri dengan sikap Lisa, bisakah dia memberinya sedikit semangat yang dia miliki? Karena saat ini Vincent sangat membutuhkan hal itu setelah semua omong kosong dan masalah yang dia alami sampai hari ini.


Kebingungannya saat dia tiba di dunia ini secara tidak wajar dan tidak masuk akal. Bertarung melawan monster dan hewan buas untuk mendapatkan koin, meskipun pekerjaan itu tidak berlangsung lama. Membantu mempertahankan kota dari satu peleton prajurit Romawi kuna yang memiliki monster sebagai pendongkrak. Itu cukup banyak pengalaman dalam waktu yang singkat.


Belum lagi tentang bandit yang memiliki gaya bertarung yang unik dan kuat yang di sebut 'material art' membuatnya kewalahan dan sekarang status barunya sebagai bangsawan dengan banyak masalah yang mengikutinya.


Helaan napas lelah lolos sekali lagi dari mulutnya, bertanya-tanya sudah berapa kali dia melakukannya hari ini? Itu lebih dari yang bisa dia hitung dengan semua omong kosong dan masalah yang menghampirinya terus-menerus.