
Pertempuran terus berlanjut sampai fajar menyingsing. Banyak kesatria dan penjaga yang kelelahan dengan sebagian besar dari mereka terlalu lemah untuk terus berjuang. Ini bukan berita yang baik, apalagi masih banyak prajurit musuh yang tersisa bertebaran di kota.
'Ini buruk.'
Pikir Vincent, tubuhnya terlalu lelah untuk berjuang namun dia tetap memaksakan dirinya. Memar dan luka sayatan dapat terlihat di tubuhnya, pakaian yang dia pakai compang-camping dengan banyaknya kerusakan yang dia terima. Senjata yang Vincent pakai pun telah di ganti, dari Light Machine Gun M249 yang memiliki bobot yang cukup berat menjadi Sub Machine Gun Kriss Super V yang lebih ringan agar tidak terlalu membebani tubuhnya.
Sama halnya dengan musuh, mereka juga kelelahan dan itu menyebabkan formasi sempurna mereka terpecah belah akibat kurangnya konsentrasi dari kelelahan. Namun meskipun begitu, musuh memiliki keunggulan jumlah yang lebih banyak daripada gabungan penjaga dan Rose Order.
Di tengah-tengah pertempuran, Vincent melihat sosok yang akrab dengan busur. Menembaki musuh dengan panahnya di tempat yang aman, sambil melindungi para kesatria di depannya. Itu adalah Gill, dan dia juga tidak terlihat lebih baik dari yang lain dengan semua luka yang dia terima.
"Gill di belakangmu!"
Teriak Vincent saat melihat musuh yang menyelinap untuk menyerang Gill. Namun dengan peringatan Vincent, Gill berhasil menghindar dengan merunduk. Di saat yang sama Gill mengeluarkan belati yang dia bawa, menusukkan belati tersebut ke paha penyerangnya dan membuat penyerang itu menjerit kesakitan sebelum Gill menebas lehernya, membuat penyerang itu jatuh dengan kepala terlebih dahulu ke tanah dengan banyak darah yang menyembur dari tenggorokannya.
"Terima kasih atas peringatannya, Vincent."
Kata Gill sambil menjentikkan darah yang ada di belati miliknya sebelum memasukannya kembali ke sarungnya.
"Sama-sama. Apa kamu melihat Pete?"
Tanya Vincent, berdiri berdampingan dengan Gill saat mereka berdua mulai membidik musuh.
"Aku terpisah dengannya, dia berada di garis depan sebelum aku kehilangan jejaknya saat kekacauan meletus. Ngomong-ngomong di mana Lisa?"
"Lisa aman, aku mengirimnya untuk berlindung bersama para korban lainnya."
"Syukurlah." Kata Gill saat dia mencoba meraih anak panah di tabung panah yang dia bawa. "Sial, aku kehabisan panah."
"10 meter di depan, kesatria mati dengan busur."
Kata Vincent sambil membantu kesatria di garis depan dengan tembakannya sendiri. Gill yang mengerti apa yang maksud Vincent, mulai menyiapkan belatinya dan bersiap pergi menuju mayat kesatria yang memiliki tabung panah.
"Dapatkan itu, aku akan mendukungmu."
Kata Vincent saat Gill mulai bergerak. Vincent menembak beberapa prajurit musuh yang mendekati Gill sambil mempertahankan dirinya sendiri. Tidak butuh waktu lama untuk Gill mendapatkan persediaan panahnya lagi dan kembali bertarung dengan menghujani musuhnya dengan anak panah.
Waktu terus berjalan dengan matahari yang mulai menyinari dunia dengan cahayanya, memberikan pandangan yang lebih jelas tentang medan pertempuran yang sedang terjadi.
Dari semua mayat dan senjata yang berserakan di jalanan kota, Vincent melihat sebuah perisai yang familier. Tidak ada yang istimewa tentang perisai itu, hanya Round Shield biasa yang terbuat dari campuran besi dan kayu dengan tanda burung elang tergambar di bagian besi. Itu milik Pete, namun Vincent tidak dapat melihat Pete di mana pun.
Vincent mendekat untuk memeriksa perisai itu, di sana dia melihat perisai yang hampir patah dengan percikan darah di atasnya, membuat Vincent khawatir tentang keadaan Pete.
Dengan melihat hal itu, Vincent memutuskan untuk memindai area tersebut, berharap dapat melihat Pete dan memastikannya baik-baik saja.
.........
Beberapa saat berlalu dengan dia membunuh beberapa tentara musuh yang ada di area tersebut, sampai dia menemukan Pete. Namun bukannya lega telah melihat rekan petualang-nya, hati Vincent tengelam dalam kekhawatiran saat melihat keadaan Pete.
Di sana, di antara mayat-mayat, Pete berbaring tak berdaya. Kakinya terpelintir ke arah yang tidak wajar dengan darah yang keluar dari mulutnya. Melihat itu Vincent bergegas mendekat dengan terburu-buru.
"PETE!"
Kata Vincent meneriakkan nama rekannya. Dia langsung berjongkok dan memindahkan kepala Pete ke pangkuannya, mengguncang tubuhnya agar Pete sadar.
"Pete! Tetaplah bersamaku!"
Kata Vincent, kekhawatiran mewarnai suaranya saat dia memeriksa keadaan Pete.
"Medis! Bantuan di sini! Tolong! Medis!"
Teriak Vincent, mencoba mencari bantuan dari para kesatria atau penyihir yang bisa melakukan pertolongan pertama. Namun sayangnya, area tersebut sepi seolah di hindari.
"Vin-... cent?"
Kata Pete, suaranya tidak lebih dari bisikan. Namun, Vincent mendengar itu dan melihat Pete yang mengangkat tangannya, kemudian Pete mencengkram pakaian Vincent dan berkata.
"La-... ri!"
"Aku tidak akan meninggalkanmu di sini seperti ini bodoh! Bertahanlah!"
Bentak Vincent saat dia masih mencari bantuan. Namun Pete hanya menggelengkan kepalanya dengan lemah, tanda bahwa dia tidak setuju.
Kata Pete dengan susah payah, memberi tahu bahaya yang dimiliki musuh. Namun Vincent masih di tempatnya, masih mencari bantuan sampai dia mendengar suara teriakan yang tidak manusiawi.
RAAAAAAAAAAAGH!!
Mendengar itu Pete mencoba mendorong Vincent dengan tangan yang mencengkram kemejanya, mendorong dengan semua sisa kekuatannya namun terbukti sia-sia.
"La-... ri Vin.. cent!"
Kata Pete, masih berusaha mendorong Vincent.
"TIDAK!"
Teriak Vincent, masih di tempatnya. Mecoba menyeret Pete ke tempat yang aman sampai teriakan itu terdengar lagi.
RAAAAAAAAAAAGH!!
Vincent menoleh ke sumber suara hanya untuk melihat monster raksasa berbentuk humanoid. Monster itu memiliki tinggi sekitar tiga meter dengan tubuh penuh otot, kulit gelap dengan wajah mirip goblin namun dengan dua taring bawah yang besar menonjol keluar. Monster itu memakai baju besi yang melindungi tubuhnya dengan kerah logam di leher. Dia membawa pentungan besar seukuran batang pohon dewasa yang terbuat baja yang berduri.
"SIALAN!"
Teriak Vincent sambil membaringkan Pete. Mendengar teriakan Vincent, Monster yang di sebut Pete sebagai War Troll menoleh ke arahnya. Meraung secara tidak manusiawi sebelum berlari ke arah Vincent.
Vincent di sisinya berlari menjauh, memancing War Troll untuk keluar dari area tersebut agar Pete tidak terkena dampak lebih lanjut dari pertempuran. Setelah jarak di buat, Vincent mulai mengarahkan senjatanya ke arah War Troll tersebut, menembakinya hingga mengosongkan magazen yang dimiliki senjatanya.
"Sial."
Vincent mengumpat saat melihat peluru yang dia tembakan memantul di baju besi War Troll atau hanya menggores kulitnya. Seolah kulit monster ini sendiri terbuat dari baja, membuat Vincent meringis dengan informasi yang dia dapatkan.
Saat Vincent mengisi ulang senjatanya, War Troll mengurangi jarak di antara mereka berdua, monster itu mengayunkan pentungan raksasa dengan kekuatan monsternya.
BAAM!!
Pentungan raksasa itu menghantam tanah, tepat di mana Vincent sebelumnya berada. Untungnya Vincent berhasil menghindar tepat waktu dengan berguling ke samping, jika tidak dia tidak yakin akan bertahan dari serangan ini.
Melihat dampak dari serangan War Troll, Vincent terkejut, membuat konsentrasinya buyar dengan melihat kawah kecil dengan retakan yang menyebar di sekitarnya. Itu hanya satu ayunan dan itu pasti membunuhnya jika terkena serangan tersebut secara langsung.
Namun sepertinya War Troll tidak ingin memberikan Vincent istirahat. Vincent yang tidak siap karena kehilangan konsentrasinya sesaat mendapatkan pukulan di samping tubuhnya dengan serangan lanjutan dari War Troll, melemparkan dia beberapa meter dari tempat sebelum dan berakhir menabrak dinding sebuah bangunan.
Semua udara keluar dari paru-paru Vincent, dengan dampak serangan itu juga mulai memuntahkan darah. Vincent yang terengah-engah menghirup udara dengan rakus, dengan salah satu tangannya memegang tempat di mana War Troll memukulnya.
Butuh beberapa detik sampai Vincent kembali siap dan Vincent mulai menembaki wajah War Troll yang mendekat. Untungnya salah satu peluru berhasil menembak mata monster tersebut dan memberikan Vincent sedikit waktu.
Vincent dengan cepat menggunakan kesempatan itu untuk membuka inventarisnya. Dengan kata "Interface" Hologram mengambang dengan berbagai senjata di dalamnya dan Vincent memilih untuk mengeluarkan Barrett M82A1 atau lebih kenal sebagai Light Fifty karena menggunakan kaliber .50 BGM. Senjata yang mampu menembakkan armor-piercing bullet. Senapan Anti material yang mampu menembus Tank dan menjatuhkan jet tempur, singkatnya senapan monster yang telah di ciptakan oleh tangan manusia.
Vincent berdiri meskipun seluruh tubuhnya sakit dan kakinya goyah, dia mengarahkan senjata monster tersebut ke arah War Troll yang masih linglung.
BANG!!!
Senjata monster meraung sangat keras, memuntahkan peluru penembus zirah yang langsung mengenai perut War Troll. Vincent yang menerima re-coil dari senjata yang terpakai, mundur terhuyung ke belakang karena posisi yang kurang tepat saat menembak. Hasilnya, peluru yang di tembakan menembus baju besi dan perut monster tersebut, meninggalkan lubang sebesar kepalan tangan anak-anak.
War Troll meraung kesakitan, tangan yang tidak memegang menutupi luka yang di berikan Vincent. Mata yang tidak terkena peluru melotot ke arah Vincent dengan marah sedangkan yang lain tertutup dan mengeluarkan darah.
RAAAAAAAAAAAGH!!
War Troll meraung sekali lagi, meskipun luka fatal yang dia miliki, monster itu sangat gigih dan mulai berjalan mendekati Vincent dengan niat untuk membunuhnya. Namun kali ini Vincent lebih siap daripada sebelumnya. Kakinya telah menancap kuat di tanah dengan senjatanya membidik kepala monster tersebut.
"Selamat tinggal, Bajingan!"
BANG!!!
Kata Vincent sambil menarik pelatuk senjatanya. Peluru yang di muntahkan langsung menghantam kepala War Troll, membuat kepalanya pecah seperti semangka.
Vincent yang terengah-engah melihat monster itu jatuh terjungkal kebelakang, menghantam tanah dengan bunyi 'gedebuk' yang keras.
"Aku membalaskan dendammu, Pete."
Bisik Vincent pada dirinya sendiri. Perlahan dia kehilangan kesadaran akibat kelelahan dan rasa sakit yang dia terima. Merasa tubuhnya tidak bisa lagi menanggung beban, Vincent pingsan dan jatuh dengan wajah menghantam tanah terlebih dahulu. Senjata yang telah dia keluarkan berubah menjadi partikel cahaya yang tertiup angin seolah mengerti bahwa pemiliknya sudah tidak membutuhkannya lagi.