
"Aku melihat kalian semua sudah berkumpul di sini. Bagus." Ujar sang mantan pelacur saat dia memasuki ruangan yang menjadi tempat pertemuan Gehena. Semua perwakilan cabang sudah menunggu di sana, namun tidak satu pun dari mereka menyambutnya. Itu yang diharapkan. Bahkan jika hidup mereka jauh lebih mudah daripada saat mereka memimpin Eclipse, banyak yang masih membenci dia dan Vincent karena pengambilalihan itu.
"Aku melihat kalian semua berhasil menyelesaikan tugas yang aku berikan kepada kalian. Sekarang, seperti setiap bulan, aku di sini untuk mendengarkan kalian sebelum mengumumkan tujuan berikutnya yang harus kami selesaikan."
"Jaring mata-mata kita di rumah bordil berjalan dengan baik. Gadis-gadisku punya banyak cerita untuk diceritakan setiap hari. Baik dari jalanan maupun pengadilan. Tidak ada yang penting untuk dilaporkan." Lapor Abelin, seorang yang menjadi pemimpin departemen prostitusi saat ini. Dia mungkin orang yang paling beradaptasi dengan situasi.
"Departemen perjudian bekerja dengan baik. Sebagian besar klien adalah orang kami sendiri selama hari libur mereka, jadi kami tahu berapa banyak yang mampu mereka bayarkan. Kami juga mendaratkan beberapa paus besar di antara para bangsawan. Sejak kami merenovasi berbagai kasino, kami memiliki lebih sedikit masalah dalam pengelolaan uang. Tidak ada lagi yang perlu dilaporkan." Dijelaskan Noah, pemimpin departemen perjudian.
"Departemen penyelundupan baik-baik saja. Kami tidak lagi membawa banyak barang ilegal, karena kami sibuk dengan pengangkutan barang-barang magis dari kota ke kota. Apakah Anda ingat kelompok bandit yang kami tangani? Beberapa dari mereka menjadi sombong dan meminta lebih. Ketika kami menolak, mereka menyerang kami. Saya meminta departemen keamanan untuk menangani mereka. Hanya ini yang saya punya." Kata Arnie, kepala departemen penyelundupan.
"Seperti yang dikatakan Arnie, satu-satunya hal yang terjadi bulan ini adalah bentrokan tak terduga dengan para bandit. Mereka sekarang menjadi contoh bagi semua orang yang tidak mau bekerja sama. Anak buah saya baik-baik saja, berpatroli dan merekrut di distrik yang lebih rendah . Kami tidak punya masalah lagi setelah urusan dengan pendeta itu dua bulan lalu." Tambah Harold, pemimpin departemen keamanan baru yang menggantikan pria botak kekar yang menjengkelkan sebelumnya.
Matilda mengangguk atas laporan dari semua departemen, kemudian pandangannya beralih ke Harlod dan memberikan selembar kertas dari sakunya.
"Bos ingin orang-orang berbakat di departemen anda dan membantunya untuk merekrut orang yang pantas dan masuk kualifikasi-nya." Jelas Matilda saat Harlod membaca kertas yang di serahkan padanya.
"Dia ingin membuat unit khusus, dan terutama. Bos sendiri yang akan mengajari mereka, mengefisienkan bakat mereka yang akan menjadi calon rekrutan dan jika mereka mendapatkan kepercayaan-nya, dia juga akan memberikan salah satu senjata yang dia miliki sebagai hadiah untuk itu." Tambah Matilda dengan orang-orang di dalam ruangan tersebut memusatkan perhatian mereka padanya. Hal menyangkut senjata milik Vincent adalah hal di minati oleh para pemimpin departemen di Gehena.
Sebagai contoh, Matilda yang tidak memiliki kemampuan bertarung yang bagus dapat menjatuhkan orang yang lebih besar dan lebih kuat dari dirinya sendiri berkat senjata yang di berikan Vincent padanya. Itu sebabnya, para pemimpin departemen Gehena ingin memiliki salah satu dari senjata bos mereka.
"Apakah permintaan itu hanya untuk Harlod?" Tanya Arnie, jelas hal itu membangunkan minatnya.
'Seperti yang telah di rencanakan, mereka pasti mengigit umpannya.' Pikir Matilda.
"Tidak, namun bos yakin departemen keamanan adalah orang yang paling masuk akal untuk di tawari permintaannya." Jawab Matilda.
Kemudian Matilda membagikan kertas yang sama dengan yang dia berikan pada Harlod kepada masing-masing pemimpin departemen. Mereka semua membaca permintaan itu dengan cepat untuk mengambil inti dari permintaan tersebut.
"Itu bisa di atur. Aku memiliki orang-orangku yang masuk dalam kualifikasi ini. Kapan bos ingin menginginkan orang-orang ini?" Tanya Harlod.
"Tiga hari dari sekarang, dan kumpulkan mereka di markas pada malam hari."
"Aku memiliki orang-orang seperti ini di departemenku, bisakah aku membawa mereka." Tanya Arnie.
"Silakan, karena keputusan akhir akan berada di tangan bos sendiri."
"Hmm, mata-mata ya? Mungkin gadis-gadis bisa masuk, meskipun kekurangan dalam departemen kekuatan." Kata Abelin mengutarakan pemikirannya.
"Jika kalian semua tertarik, kalian bisa membawa orang-orang yang menurut anda pantas pada waktu yang telah di tentukan. Sekali lagi, keputusan akhir ada di tangan bos, bukan milikku."
"Baik."
"Kalau begitu rapat ditunda."
...XxXxX...
Di waktu yang sama, Vincent mendapatkan surat dari Raja. Surat itu berisi tanah yang akan menjadi miliknya sebagai seorang Baron. Vincent bertanya-tanya mengapa Raja dan para dewan begitu lama untuk memberikan keputusan ini. Apakah mereka semua tidak kompeten, atau terlalu malas? Dia tidak tahu dan tidak peduli.
Vincent mengeluarkan peta yang dia dapatkan, mencari di mana lokasi tanah yang di berikan Raja padanya.
Alisnya berkerut saat dia menjelajahi peta tersebut.
"Raja sialan. Apakah dia berpikir aku hanya umpan meriam untuk garis pertahanan mereka? Apakah mereka ingin aku mati karena menempatkan aku sebagai pemimpin di wilayah ini?" Kata Vincent, nadanya tidak menyembunyikan kekesalan saat dia mengetahui letak tanah yang di berikan padanya.
Tanah yang di berikan Raja padanya adalah tanah yang berbatasan langsung dengan Kekaisaran, tempat yang tidak jauh dari lokasi perang sebelumnya yang gagal mereka pertahankan sehingga menghasilkan tragedi Angelbarrow.
"Sepertinya kamu telah mendapatkan tanah sebagai wilayahmu." Kata sebuah suara yang masuk ke dalam kantornya. Itu adalah Celestine, dengan anggun bergerak mendekati Vincent sebelum duduk di sofa yang ada di dalam ruangan tersebut seolah semua property yang ada di mansion ini adalah miliknya.
"Jadi kamu tahu?" Tanya Vincent, matanya menyipit dengan tajam ke arah Celestine.
"Ya, dan ngomong-ngomong, Ayah tidak setuju dengan hal itu. Namun sayangnya, mayoritas menyetui keputusan itu dan ayahku tidak bisa berbuat banyak." Jawab Celestine dengan tenang saat dia menerima teh herbal dari seorang pelayan.
Helaan napas lelah keluar dari mulut Vincent. "Itulah mengapa aku membenci politik." Kata Vincent saat dia menyimpan kembali surat dan peta yang dia miliki di atas meja. "Sepertinya aku akan mengunjungi rumah bordil untuk melepaskan stres ini." Kata Vincent dengan pelan saat dia mengatakan hal itu.
"Ngomong-ngomong, apa yang kamu lakukan di sini?" Tanya Vincent kepada Celestine yang menikmati dirinya sendiri, meskipun ekspresi wajahnya sedikit berubah saat mendengar kata-kata yang di gumamkan Vincent sebelum bertanya kepadanya.
"Apakah salah mengunjungi calon tunangan masa depanku." Tanya Celestine main-main, menyembunyikan kekesalan yang dia miliki.
"Dan aku tidak percaya kamu hanya ingin mengunjungiku tanpa niat atau rencana di belakangnya." Jawab Vincent datar.
"Oh! Bukankah kamu sangat mengenalku? Aku tersanjung~."
"Lalu?" Tanya Vincent, saat ini dia tidak dalam keadaan hati yang baik untuk membalas godaan Celestine.
"Yah, kamu tidak menyenangkan." Kata Celestine dengan cemberut, kemudian dia memasuki mode bisnis. "Aku di sini atas perintah Ayah. Dia memberimu beberapa kesatria-nya untuk membantu pertahanan wilayah barumu." Kata Celestine sambil memberikan surat kepada pelayan untuk di berikan kepada Vincent.
"Itu akan sangat di hargai." Katanya sambil mengambil surat yang di berikan pelayan.
"Oh aku tahu itu." Kata Celestine, nadanya kembali seperti biasa. "Meskipun aku tidak menyetujui kamu bermain-main di rumah bordil." Katanya dengan dingin.
"Ya, ya- Tunggu, apa?" Tanya Vincent yang bingung dengan kata-kata terakhir yang di ucapkan Celestine. Tidak menyadari bahwa dia mengumamkan kata-kata sebelumnya dengan keras hingga Celestine mendengarnya.
"Kamu akan terkena penyakit." Kata Celestine yang meninggalkan ruangan. Meninggalkan Vincent sendirian di kantornya.