EX-SOLDIER: In Another World

EX-SOLDIER: In Another World
Kota Damai sebelum Badai - Part 6



Hiruk-pikuk kekacauan telah berlangsung sejak langit malam turun di Angelbarrow. Serangan tentara musuh membuat para kesatria dan penjaga kota kewalahan dengan serangan tiba-tiba, terutama karena hal ini bukan hal yang mereka antisipasi.


Di tengah-tengah semua kekacauan yang telah terjadi di kota benteng, Sofia mendengar suara raungan yang dia takuti. Suara tersebut berbeda dan tidak sekeras sebelumnya, namun Sofia yakin suara pasti berasal dari pria yang telah dia tangkap. Sudah cukup masalah yang di timbulkan oleh tentara musuh dan kini dia harus menghadapi pria itu lagi, dan kali ini Sofia yakin pria bernama Vincent ini, tidak akan menyerah tanpa perlawanan seperti pertama kali mereka bertemu.


Waktu berlalu seperti keabadian. Teriakan perang, suara baja berbenturan dengan tangis dan jeritan putus asa yang terdengar di seluruh penjuru kota yang terdengar seperti melodi mimpi buruk di telinga semua warga kota. Semua karena perang, semua karena keserakahan yang tidak pernah terpuaskan dengan ambisi untuk menaklukkan. Sebuah proses menuju kehancuran bagi kota benteng Angelbarrow yang di elu-elukan sebagai kota benteng yang tidak tertembus.


Putus asa.


Hal yang semua warga kota rasakan saat ini. Tumpukan mayat tergeletak di sepanjang jalan, darah yang berceceran di mana-mana dengan api yang melahap segalanya, praktis sebuah bayangan neraka yang hidup di dunia fana.


Akankah harapan muncul atau ini akan menjadi akhir? Sofia tidak tahu. Namun dia ingin sebuah harapan, dan dengan itu dia berdoa untuk keselamatan semua orang.


'Oh Dewa! Tolong bantu kami melewati semua ini.'


Sebuah doa di panjatkan dalam hatinya saat dia terus bertarung melawan pasukan musuh, mencoba memukul mundur dan mengulur waktu bagi orang-orang yang tidak dapat berdaya untuk berlindung.


"MERUNDUK!!"


Sebuah teriakan terdengar dari belakang Sofia, dia dan Orde-nya merunduk sesuai dengan teriakan tersebut, membuat musuh sedikit kebingungan dengan perubahan kejadian yang tiba-tiba.


Pria bernama Vincent berdiri di belakang barisan para penjaga dan kesatria miliknya dengan tiga penyihir dari Rose Order bersamanya. Kemudian setitik harapan muncul saat melihat pria tersebut dengan para penyihir miliknya bersiap menyerang tentara musuh di hadapan mereka.


...RATATATATATA!!! RATATA!!! RATATATATATA!!! RATATATATATATATATATATATA!!!...


Senjata mematikan pria tersebut meraung sekeras mungkin, membuat para warga dan kesatria yang tidak siap mengigil ketakutan. Tentara musuh mulai berjatuhan satu per satu saat Vincent mengarahkan senjatanya ke arah mereka, menaikan moral para tentaranya yang putus asa dengan bala bantuan yang kuat.


.........


Vincent berjalan ke depan para kesatria, masih dengan mengarahkan senjatanya ke arah musuh dengan para penyihir mengikutinya dari belakang, beberapa petualang menjaga punggung mereka dari penyergapan dan para pemanah yang siap untuk menjatuhkan musuh di belakang mereka.


Koordinasi yang sempurna, bahkan orang yang tidak mengenalnya mematuhi dia tanpa pertanyaan, menambahkan efisiensi kelompok tersebut saat mereka terus menyerang musuh sambil menyelamatkan sekutu mereka.


"PENYIHIR! SEKARANG!!"


Dengan perintah Vincent, para penyihir di belakangnya mulai merapalkan mantra dan membombardir musuh. Membuat kepanikan di jajaran musuh dengan serangan yang tidak terduga.


"PENJAGA! TARIK MUNDUR ORANG-ORANG YANG TIDAK BISA BERTARUNG! PETUALANG PERTAHANAN ORANG-ORANG YANG MUNDUR!! ROSE ORDER IKUTI AKU BERSAMA PARA PENYIHIR!!"


Vincent memberikan perintah saat dia terus menembaki musuh. Sofia di sisi lain mendekati Vincent sambil menebas musuh yang menghalangi jalannya.


"Terima kasih, orang asing."


Kata Sofia saat Vincent mengeluarkan granat K-400 dan melemparkannya ke kerumunan musuh yang panik.


BAM!!


"Simpan itu untuk nanti, lebih penting lagi fokus pada musuh untuk saat ini."


Balas Vincent tanpa melirik ke arah Sofia. Dia terlalu sibuk untuk membuat kekacauan pada pasukan musuh.


"MUNDUR!!!"


Teriak seorang musuh sambil menahan salah satu kesatria, pedang di arahkan ke leher kesatria tersebut praktis menjadi perisai daging saat tentara itu mundur perlahan.


"TAHAN!!"


Sofia berteriak, menghentikan para penyihir dan pemanah saat dia melihat lebih banyak kesatria miliknya di sandera dan di jadikan perisai hidup oleh musuh.


"APA YANG KAMU LAKUKAN?!"


Vincent membentak Sofia karena menghentikan serangan.


"MEREKA KESATRIAKU!! AKU HARUS MENYELAMATKAN MEREKA!"


Sofia balas berteriak, membuat Vincent tidak percaya dan marah. Vincent meraih kerah baju besi Sofia, dengan tatapan tajam dan wajah mereka hanya berjarak satu jengkal satu sama lain.


"Dengarkan aku Kesatria Manja! Apa yang kamu lakukan akan berakibat fatal bagi pihak kita! Itu karena kamu membuktikan bahwa sandera bernilai di sini dan mereka akan memanfaatkan celah itu dan menghancurkan kita!"


"Tetapi mereka orang-orangku!"


"Pengorbanan harus dilakukan! Apa kau ingin seluruh kota hancur karena beberapa orang yang mereka jadikan sandera?! Pikirkan itu! Mereka tidak akan selamat dan berakhir terbunuh jika kota ini hancur!"


"Tetapi-"


"Buka matamu! Ini perang! Bukan tentang bermain seperti pahlawan yang menyelamatkan semua orang! Tidak ada kemuliaan di sini! di sini hanya ada kategori, orang yang kuat bertahan dan yang lemah mati! Itulah perang!"


"Kamu tidak berhak memerintahkan bangsawan sepertiku!"


"Aku tidak peduli kamu bangsawan atau rakyat jelata! Tidak ada belas kasih atau status yang membuatmu superior di sini! Tidak ada! Dengarkan aku, buka matamu, perang bukan seperti yang kamu pikirkan. Kalian para bangsawan tidak akan pernah tahu karena kalian terlalu sibuk bersembunyi di balik kekuasaan kalian dengan memerintah para prajurit untuk mati demi memuaskan keserakahan kalian dan mengklaim kemenangan yang para prajurit lakukan di atas nama kalian semua! tetapi ini adalah kenyataan, buka matamu dan jika kamu tidak sanggup mengahadapi ini, Lari! Larilah seperti pengecut sementara kota ini hancur!"


Kata-kata Vincent membuat Sofia terdiam. Semua kemuliaan dan kehormatan yang selalu Sofia pikirkan hancur. Dia adalah bangsawan, dia ingin menyelamatkan orang-orangnya karena itu adalah tugas dan tanggung jawabnya sebagai seorang bangsawan sejati. Namun kenyataannya tidak sama dengan apa Sofia pikirkan. Kenyataan yang begitu kejam dan membuat pandangan berubah dengan apa yang Vincent katakan bersama semua yang dia lihat hari ini, itu terlalu banyak baginya. Terlebih lagi, ini adalah pengalaman nyata dan pertama dia mengikuti perang.


"KERASKAN HATIMU! BULATKAN TEKADMU! INI ADALAH KENYATAAN PERANG DAN ITU BUKAN TENTANG KEMULIAAN!! SERANG!!"


Vincent berteriak untuk menaikkan moral para kesatria dan petualang di pihaknya saat dia melepaskan cengkeramannya dari Sofia.


...RATATATATATA!!!...


Vincent menembak sandera sekaligus tentara yang menahan kesatria tersebut, membuat keduanya mati sekaligus sebagai contoh bahwa sandera tidak bernilai saat ini. Meskipun enggan, tetapi tangan Vincent telah banyak menumpahkan darah dan ini harus di lakukan. Itu semua untuk satu tujuan, untuk bertahan dan terus hidup.


"PENYIHIR! TEMBAK!!"


Dengan perintah Vincent, para penyihir mulai membombardir kembali barisan musuh.


Mata para kesatria di penuhi amarah dan kesedihan. Marah dengan tindakan yang tidak terhormat pasukan musuh dan sedih bagi mereka yang di jadikan sandera karena mereka tidak bisa menyelamatkan rekan mereka.