
Satu jam.
Selama itu Vincent memasang ekspresi geli sekaligus tidak percaya. Melihat pria paruh baya merengek seperti bocah manja nakal yang menginginkan mainan baru, adalah hal yang langka untuk ditemukan.
Pemandangan yang menghibur sejujurnya.
Edgar telah merengek untuk meminta duel ulang kepada Vincent dalam satu jam terakhir setelah tiga kali kalah dengan cara yang spektakuler yang menyebabkan kejadian ini. Istrinya mencoba menenangkan Edgar yang di bantu oleh beberapa pelayan. Alasan atas sikapnya di sebabkan oleh ketidakpuasan Edgar tentang duel mereka. Edgar mengatakan bahwa: 'Pertarungan ini tidak adil!' atau 'Kamu curang! Ayo lawan aku seperti pria sejati!', dan hal-hal semacam itu yang menurut Vincent tidak relevan.
Vincent melihat semua itu dari bangku taman bersama Lisa, yang anehnya tidak berbicara sama sekali sejak duel terakhir. Vincent sesekali melirik Lisa dari waktu ke waktu saat dia menikmati tontonan komedi suami istri yang terjadi di pinggir lapangan.
"Hei Vincent?" Kata Lisa yang memecahkan kesunyian mereka.
"Hmm?" Vincent hanya bersenandung untuk mengakui panggilan itu. Hal yang tidak Vincent duga adalah Lisa yang mencium pipinya, membuat mata Vincent melebar dan dia bisa mendengar amukan Edgar tentang 'beraninya kamu melakukan itu pada putriku!' dari sisi lapangan. Untungnya Edgar telah di tahan oleh istri dan para pelayan, mencegahnya untuk menyerang Vincent seperti kucing yang marah.
"Untuk apa itu?" Vincent bertanya saat mata mereka bertemu.
"Ucapan terima kasihku." Kata Lisa sambil tersenyum.
"Biar aku tebak. Kamu mengatakan aku adalah kekasihmu bukan? Itu sebabnya ayahmu meledak seperti itu." Kata Vincent yang menunjuk Edgar yang di tahan oleh istrinya. "Dan kamu butuh satu jam tanpa bicara untuk mengumpulkan niat itu? Lucu sebenarnya dengan sifatmu yang tidak akan pernah ragu untuk melakukan hal itu."
"Hei! Itu memalukan kamu tahu?! Aku harus mengumpulkan semua keberanianku dan saat yang tepat untuk itu!" Lisa memprotes.
"Dan kamu berhasil." Kata Vincent datar sambil menunjuk Edgar yang mengamuk tentang seseorang yang merebut kepolosan putrinya. "Apakah aku akan baik-baik saja saat pulang ke manor? Aku merasa tidak aman sekarang." Vincent menambahkan dengan nada bercanda.
"Tidak. Kamu tidak akan apa-apa aku jamin." Kata Lisa sambil tersenyum. "Ngomong-ngomong, bagaimana kamu tahu tentang aku menyebutmu sebagai kekasihku pada orang tuaku?" Tanya Lisa penasaran.
"Semua terlukis jelas di wajahmu. Belum lagi kisah yang kamu ceritakan sebelumnya kepadaku dan obrolan kecil yang tidak jelas antara kamu dan orang tuamu, dari situ aku mendapatkan jawaban. Dan jangan lupakan aku melihat wajah itu, 'aku tidak ingin di jodohkan lagi!' yang tergambar jelas di ekspresimu." Kata Vincent sambil mencubit hidung kecil Lisa.
"Ow! Hei! Lepaskan." Kata Lisa yang mencoba menyingkirkan tangan Vincent yang mencubit hidungnya.
"Ini hukumanmu yang telah menyeretku dalam masalah kecilmu." Kata Vincent sambil tersenyum sayang.
"Um- ... Bagaimana kalau aku mengatakan aku mencintaimu?" Tanya Lisa sambil sedikit tersipu.
"Tentu saja aku akan menjawab bahwa aku mencintaimu juga. Kemudian aku akan mencari kamar untuk menghabiskan malam bersamamu." Kata Vincent sambil menyeringai nakal dan mendapatkan sebuah pukulan di bahu dari tinju kecil Lisa.
Keduanya tertawa dengan Lisa yang hanya terkikik senang. Itu berlanjut untuk beberapa saat sebelum keduanya tenang dan kesunyian yang nyaman mengambil alih kembali.
"Mau mencari kamar untuk menghabiskan malam?" Jawab Vincent dengan pertanyaan dan Lisa memukulnya sekali lagi di bahu.
"Aku serius, Vincent." Katanya lembut namun ada ketegasan di sana. Vincent menatap Lisa tepat dimatanya, mencari kilatan nakal yang selalu ada ketika mereka saling menggoda. Namun aneh, itu tidak ada dimatanya.
"Aku tidak tahu." Kata Vincent setelah beberapa saat hening.
"Mengapa?" Tanya Lisa, jelas tidak mengharapkan jawaban itu dari Vincent.
"Katakanlah aku tidak mengenalmu lebih baik. Waktu yang aku habiskan bersamamu cukup singkat dan aku tidak bisa mengatakan bahwa aku mencintaimu juga dengan mudah. Tidak, tidak semudah itu. Terutama aku lebih tua daripada penampilanku." Kata Vincent, nadanya memiliki melankolis ringan.
"Jika aku mengenalmu lebih banyak?" Tanya Lisa, jelas ingin jawaban yang pasti dan tidak samar seperti sebelumnya.
"Aku mungkin akan mengatakan 'Ya'. Mungkin juga aku yang menyatakan perasaanku terlebih dahulu kepadamu." Kata Vincent.
"Kalau begitu aku akan menantikan itu." Kata Lisa dengan senyum, namun entah bagaimana Vincent merasakan kekecewaan di balik senyuman manis itu.
"Tentang orang tuaku?" Tanya Lisa.
"Aku akan ikut bermain untuk saat ini." Kata Vincent, tersenyum sambil mengusap kepala Lisa dengan nyaman.
...XxXxX...
Sedikit kekecewaan terlukis di wajah Lisa saat dia melihat Vincent pulang dari manor keluarganya. Rencananya bisa di sebut sukses dengan kerja sama Vincent dan akhirnya ayahnya menyerah untuk menjodohkannya lagi, terutama setelah kekalahan ayahnya dalam duel melawan Vincent.
Namun entah mengapa, hatinya terasa sakit saat dia mendengar jawaban jujur Vincent terhadap perasaannya. Jujur saja dia kecewa, tidak mengharapkan menolakkan tidak langsung dari Vincent seperti yang di lakukannya. Terutama karena Lisa yang percaya diri bahwa Vincent mencintainya, namun ternyata tidak seperti yang dia pikirkan. Untungnya Vincent memberinya kesempatan lain untuk mengungkapkan perasaan dengan proses untuk 'Lebih mengenal satu sama lain terlebih dahulu' sebelum mencobanya kembali.
Suatu penghiburan memang, namun entahlah. Itu sangat menyakitkan saat memikirkannya. Bertanya-tanya pada dirinya sendiri apakah dia tidak cukup menarik untuk mendapatkan perhatiannya? Mengapa Vincent begitu berbeda dengan para bangsawan yang menginginkan tangannya untuk pernikahan? Pertanyaan itu menghantui pikirannya hingga muncul pernyataan yang paling dia takutkan.
Bagaimana jika pada masa depan dia gagal dan Vincent menolak perasaannya?
Itu adalah hal yang paling dia takutkan, terutama dengan kepribadian Vincent yang cukup ramah dengan siapa pun bahkan kepada pelayan seperti yang dia lihat. Belum lagi Lisa harus mengakui, Vincent cukup tampan dan menawan melebihi beberapa pria yang telah dia temui sejauh ini, kemudian rambut hitam Vincent yang membuatnya eksotis kerena jarang sekali, bahkan langka ada seseorang berambut hitam di Kerajaan Iwreneian.
Kekhawatiran bertambah saat dia mengingat Sofia Mandoze. Wanita itu secara terbuka telah menyatakan ketertarikannya kepada Vincent lewat 'Obrolan gadis' yang mereka lakukan. Mengatakan bahwa Vincent akan menjadi pejuang yang cakap dan kuat, di tambah status barunya yang membuatnya memiliki gelar kehormatan, Vincent akan menjadi Kesatria yang pantas bagi Kerajaan Iwreneian. Sesuatu yang sangat di hargai oleh keluarga Duke Mandoze yang memiliki garis keturunan pejuang, hal yang membuat Lisa takut bahwa Sofia akan mencuri Vincent darinya.
Helaan napas lelah keluar dari bibirnya saat dia melihat matahari di balkon manor keluarganya. Duduk di meja yang di sediakan, Lisa membuat dirinya rileks dengan secangkir teh herbal sambil berharap semuanya akan sesuai dengan keinginannya, semoga saja.