EX-SOLDIER: In Another World

EX-SOLDIER: In Another World
Gelar dan Tugas - Part 3



Di tengah panasnya pertempuran, Vincent mengalihkan perhatiannya ke salah satu bandit yang bertepuk tangan padanya saat Vincent membunuh rekan-rekan banditnya.


"Hoo... Jadi ini adalah kekuatan 'Pahlawan' yang telah menyelamatkan Kota Angelbarrow." Kata bandit tersebut sambil tersenyum bengkok di balik topeng perak yang dia pakai saat mata kedua pria itu bertemu. Tidak seperti bandit lainnya, dia memakai peralatan yang lebih baik dengan pelindung dada yang terbuat dari besi di atas armor kulitnya, beberapa pelindung logam yang melindunginya di persendian dengan empat belati yang dia sembunyikan di bawah jubahnya.


BANG!!


Tanpa basa-basi Vincent menembak ke arah bandit tersebut. Namun Vincent di kejutkan dengan kejadian yang baru saja dia lihat. Sang bandit berhasil mengelak dengan melangkah ke samping untuk menghindari peluru shotgun yang berhamburan, membuat Vincent melebarkan matanya dengan tidak percaya.


"Sungguh kasar. Apakah itu caramu untuk menyapa seseorang yang baru kamu temui?" Kata sang bandit sambil berjalan dengan santai ke arah Vincent, seolah dia sedang berada di taman untuk jalan-jalan dan bukan di zona pertempuran.


Vincent yang telah mengokang senjatanya dengan hati-hati mengamati bandit tersebut, kedua senjatanya di arahkan ke depan di mana bandit itu berada, sementara Knight of Rose Order masih melawan bandit yang tersisa di belakangnya.


"Siapa kamu?!" Vincent bertanya saat dia dan sang bandit saling mengamati, berhadapan dalam jarak sepuluh meter, menjaga jarak aman sambil berjalan melingkari satu sama lain, menunggu jawaban atau serangan yang akan datang.


"Siapa aku? Bukankah kesopanan untuk memperkenalkan dirimu terlebih dahulu sebelum kamu menanyakan milikku?" Kata sang bandit saat dia mengeluarkan dua belati dan memegangnya dengan pegangan terbalik.


BANG!! BANG!!


Dua peluru di tembakan dan saat itu juga sang bandit menghindari kedua tembakan tersebut. Sang bandit memanfaatkan celah untuk menyerang saat Vincent mengokang senjatanya. Vincent dengan cepat bereaksi dengan mengangkat salah satu shotgunnya untuk melindungi lehernya dari tebasan belati yang di arahkan padanya, mengokang senjata lain yang bebas sebelum menembak bandit tersebut yang berhasil di hindari sang bandit dengan melompat jauh kebelakang.


"Ck."


Vincent mendecakkan lidahnya, kesal dengan apa yang terjadi dan sedikit frustrasi karena tembakannya tidak mengenai sang bandit meskipun dia memakai shotgun.


mengubah taktiknya, Vincent menyimpan kembali kedua shotgun yang dia pakai ke dalam sarungnya. Vincent mengeluarkan Colt M1911A1 dengan Combat Knife, memengang pisau tersebut di tangan kirinya dengan pegangan terbalik.


Melihat itu sang bandit mengangkat satu alisnya sebelum tersenyum bengkok di balik topengnya.


"Hoo... Mengubah taktikmu? Biarkan aku mendapatkan kehormatan untuk bermain-main denganmu, pahlawan~." Sang bandit berkata dengan nyanyian di akhir kalimat saat dia berlari ke arah Vincent untuk melakukan serangan.


Serangan yang dilakukan sang bandit di cegat oleh Combat Knife milik Vincent dengan Vincent berusaha mengunci serangan tersebut. Sang bandit mengayunkan belati yang bebas untuk menyerang hanya untuk Vincent yang berhasil terlebih dahulu menembak paha sang bandit dengan handgun-nya.


Sang bandit melompat mundur untuk menghindari serangan lain dari Vincent, membuat jarak sekitar sepuluh meter dengan mata yang memancarkan kegilaan ke arah Vincent.


"Hooo... Serangan bagus di sana, Pahlawan~" Kata sang bandit sambil mempersiapkan kembali kedua belatinya. Postur-nya kini lebih serius dari sebelumnya dengan mengangkat dua belati untuk pertahanan dan mengeluarkan aura yang meneriakkan pembunuhan di sekitarnya. "Apa kamu mulai serius? Kalau begitu ijinkan aku membalasnya."


"Accelerator." Bisik sang bandit saat dia menerjang ke depan, praktis seperti melompat dengan satu lompatan untuk menutup jarak di antara keduanya, mengabaikan luka yang dia terima di pahanya seolah itu tidak pernah terjadi.


Ledakan kecepatan yang tiba-tiba membuat Vincent terkejut kembali dengan tergesa-gesa mengangkat Combat Knife miliknya untuk memblokir serangan yang datang. Kedua pisau Kombatan saling beradu satu sama lain saat, Vincent di pihaknya berusaha menembak sang bandit dengan handgun-nya. Sayang sekali, sang bandit lebih cepat daripada Vincent dan dia menyerang dengan tebasan samping, membuat Vincent menghindar dengan berguling di saat-saat terakhir.


Untungnya serangan sang bandit gagal membunuh Vincent, namun berhasil melukai pipi kanan Vincent dengan sayatan dangkal. Vincent mengangkat tangannya yang memegang Combat Knife untuk mengusap darah yang mengalir di pipinya dengan punggung tangannya.


'Apa itu tadi?' Pikir Vincent saat dia mengingat ledakan kecepatan yang dilakukan oleh bandit sebelumnya. Ini adalah pertama kalinya dia menghadapi lawan yang sangat sulit semenjak dia datang ke dunia ini, mengesampingkan para penyihir yang menyerang kota Angelbarrow yang mirip dengan artileri hidup. Para penyihir memiliki pertahanan yang relatif rendah dan dengan serangan yang tepat dengan senjatanya, Vincent bisa menghabisi para penyihir saat penyerangan di kota Angelbarrow dengan relatif mudah dengan menjaga jarak aman dari jangkauan para penyihir.


"Selesai dengan lamunanmu, pahlawan~?"


BANG!! BANG!! BANG!! BANG!!


Pertanyaan sang bandit di jawab dengan tembakan berturut-turut dari Vincent sampai peluru di dalam sejatanya kosong. Namun semua peluru yang di tembakan Vincent berhasil di hindari. Melihat Vincent tidak lagi menembak sang bandit menerjang kembali ke arah Vincent.


Vincent yang kehabisan peluru memblokir serangan sang bandit dengan Combat Knife dan melakukan serangan lanjutan saat senjata mereka terkunci dengan mencoba memukulkan Handgun di tangan lain.


Keduanya bertarung dengan intensitas tinggi saat keduanya mencoba untuk mendaratkan pukulan bersih ke lawannya. Dengan Vincent yang memiliki senjata kosong di tangannya, praktis tidak dapat mendarat pukulan bersih hanya dengan Combat Knife karena musuhnya lebih unggul dalam pertarungan jarak dekat.


Setiap benturan yang dihasilkan perlahan membuka Vincent meraskan mati rasa ditangannya.


'Ini akan berakhir buruk!' Pikir Vincent saat keduanya masih bertarung, di mana Vincent saat ini tersudut dan hanya mampu bertahan tanpa melakukan serangan yang pasti.


"FIREBALL!"


Untungnya ke buntuan Vincent terselamatkan oleh bola api yang melesat ke arah musuhnya, membuat bandit itu mundur dan memberikan waktu bagi Vincent untuk mengisi ulang senjatanya.


"Vincent! Kamu tidak apa-apa?" Tanya suara seorang gadis. Vincent tidak perlu melihat dari siapa suara itu datang karena dia tahu siapa yang bertanya.


"Aku baik-baik saja, Lisa." Jawab Vincent saat dia mengarahkan kembali senjatanya untuk membidik musuh di depannya, saat itu juga Gill melangkah dan berdiri di sampingnya.


"Hati-hati, dia memiliki kecepatan yang tidak manusiawi." Bisik Vincent pada Gill yang sedang membidik sang bandit.


"Kecepatan yang tidak manusiawi?" Tanya Gill, sedikit bingung dengan pernyataan Vincent.


"Entahlah, aku tidak tahu pasti. tetapi saat itu dia membisikkan sesuatu yang tidak bisa aku dengar dengan jelas dan kecepatan meningkatkan." Jelas Vincent pada Gill.


"Martial Art." Balas Gill.


"Apa itu?"


"Akan aku jelaskan nanti, lebih baik kita fokus pada musuh kita saat ini." Kata Gill yang mendapatkan anggukan persetujuan dari Vincent.


Di sisi lain sang bandit menyarungkan kembali kedua senjatanya dan mengambil sesuatu di balik jubahnya.


"Sepertinya permainan kita telah berakhir, pahlawan. Saatnya untuk pergi." Kata sang bandit sambil lemparkan sesuatu ke tanah dan membuat asap yang tebal, menghalangi pandangan setiap orang dan membuat mereka waspada terhadap serangan kejutan.


Setelah beberapa saat, asap mulai mereda dan mereka semua tidak bisa melihat sang bandit di mana pun.


"Sial, dia kabur."