
Sebelum matahari terbit, Vincent telah bangun dari tidurnya. Hal yang telah menjadi kebiasaan saat dia masih menjadi seorang tentara dan itu mengakar hingga sekarang.
Pakaian yang dia pakai bagus seperti baru seolah tidak menerima kerusakan apa pun, terima kasih pada sistem repair yang ada di dalam game dan masih bekerja meskipun di dunia lain. Senjatanya tidak terlihat di mana pun karena dia telah mengembalikan semua senjata yang telah dia keluarkan kembali ke inventaris miliknya, berjaga-jaga agar tidak ada tangan nakal yang mengambilnya saat dia lengah.
Vincent bersiap untuk memulai harinya. Namun sebelum memulai, persiapan pasti di perlukan. Meskipun banyak penjaga yang berjaga di sekitar kota, Vincent tidak mau mengambil risiko. Matanya terpaku pada layar hologram di depannya, berpikir senjata apa yang akan dia pakai sampai matanya tertuju pada sebuah revolver dan mengeluarkan dari inventaris-nya.
Sebuah Revolver S&W 500 Magnum, dengan barrel yang lebih pendek yaitu 2.75 in. Berkapasitas 5 peluru namun dengan kekuatan yang jauh lebih besar dengan ukuran katrid .500 berbeda dengan yang lainnya yang menggunakan .44 atau dalam kasus Colt Python yang memiliki katrid .357 Magnum.
Sebuah pisau tidak lupa dia ambil untuk berjaga-jaga juga dan Vincent memilih Karambit. Sebuah pisau yang dirancang khusus untuk bertarung dan umumnya di anggap sebagai pisau terbaik untuk pertahanan diri dengan minus, pisau ini hampir tidak memiliki nilai berguna untuk alat pemotong sehari-hari.
Persiapan sudah siap dan Vincent melangkah menuju pintu. Sebelum dia sampai di pintu keluar kamarnya, ketukan terdengar di pintu tersebut dan saat dia membuka pintu, di sana berdiri Lisa yang tersenyum ke arahnya.
"Selamat pagi, Vinne!"
Kata Lisa dengan ceria, senyumnya menular dan Vincent ikut tersenyum.
"Selamat pagi juga untukmu, Lisa. Tetapi, Vinne? Aku pikir aku bayi besarmu."
"Apa kamu tidak menyukainya?"
"Tidak. Aku lebih menyukaimu."
Kata Vincent sambil tersenyum, olok-olok semalam membuat Vincent merasa nyaman di sekitar Lisa berkat waktu yang mereka habiskan. Namun di sisi lain, Lisa menjawab dengan pukulan di perut yang membuat Vincent meringis.
"Benarkah? Sudah menggodaku sepagi ini?"
"Lupakan. Lebih penting lagi, aku lapar. Apakah Owner telah menyiapkan sarapan?"
"Tentu, itulah mengapa aku datang ke sini. Aku setengah berharap kamu masih tertidur dan aku akan memberikan kecupan selamat pagi untuk membangunkanmu."
Kata Lisa dengan gerah dan Vincent mengangkat salah satu alisnya heran.
'Kita baru saja bertemu beberapa hari dan dia menjadi lebih agresif setelah obrolan kita semalam. Serius?'
Pikir Vincent dengan heran. Namun dia menepis pemikiran itu karena ada yang lebih penting, sarapan. Vincent memutuskan untuk mengabaikan godaan Lisa dan melangkah keluar hanya untuk lengannya di sambar dan Lisa memengang tangannya seperti seorang kekasih yang dia peluk dekat di antara kedua dadanya. Vincent hanya bisa menghela napas dengan perilaku ini. Jika dia mau Vincent bisa membawa Lisa ke kamarnya tadi malam dan 'bersenang-senang', namun itu bukan tujuannya. Lisa adalah orang asing yang baru dia temui beberapa hari yang lalu bagi Vincent dan tidak lebih dari sekadar kenalan. Namun jika Vincent orang mesum, dia tidak akan banyak berpikir dan langsung melompat ke dalam celananya.
Mereka berdua berjalan menuju tangga untuk turun ke lantai pertama, di mana di sana adalah sebuah kedai yang menyediakan makanan bahkan alkohol bagi pengunjung meskipun mereka tidak memesan kamar. Di pagi hari area kedai terlihat lebih sepi dengan hanya beberapa orang yang sedang menikmati sarapan mereka. Berbeda dengan malam saat dia masuk, kedai di penuhi oleh banyak orang yang menikmati makan malam atau hanya untuk mabuk.
Vincent duduk di meja counter, di ikuti dengan Lisa yang duduk di sampingnya. Mereka berdua menikmati sarapan dan sesekali memulai obrolan ringan dengan Lisa atau Vincent yang bertanya kepada pemilik penginapan.
"Di mana Pete dan Gill?"
Tanya Vincent yang telah menghabiskan sarapannya.
"Oh, mereka belum bangun. Aku terkejut kamu bangun sepagi ini dengan apa yang telah kita alami beberapa hari terakhir. Ngomong-ngomong Pete tidur seperti babi, dia bahkan tidak melepas armor-nya yang rusak dan langsung tertidur saat dia sampai ke sini. Sedangkan Gill, dia hanya malas dan karena tidak ada hewan buas atau monster yang mengancam, dia praktis akan tidur seharian setelah pengalaman kemarin."
Vincent hanya mengangguk, kemudian dia melihat keluar. Agak ramai untuk pagi hari dan menurutnya aneh, atau itu hanya normal karena dia baru di sini.
"Hei Owner! Apakah pagi hari selalu sesibuk ini?"
Tanya Vincent yang menggunakan jempolnya untuk menunjuk keluar pintu.
"Tidak juga, hanya beberapa kelompok prajurit yang telah kembali. Tidak semua, hanya mereka yang terluka parah dari medan perang dan telah dibawa ke sini dan mereka datang pagi-pagi sekali."
"Aku mengerti."
Tanya Lisa yang sedang menikmati tehnya. Dia bertanya sambil bersandar di baru Vincent dengan cara yang menggoda.
"Aku akan mengatakan, aku akan mengajakmu berkencan jika aku tahu tempat ini. Namun karena aku tidak, maukah kamu menjadi pemanduku untuk melihat kota, Oooh Penyihir yang agung."
Tanya Vincent pada Lisa dengan seringai di wajahnya. Hanya untuk Vincent mendapatkan pukulan lain di bahunya dengan candaan yang dia lontarkan dan membuat Lisa cemberut, itu lucu sebenarnya.
"Yah Cinta muda."
Sela Owner. Pria tua botak itu menyeringai ke arah Vincent.
"Secara teknis aku lebih tua darinya." Kata Vincent sambil menunjuk Lisa dengan menusuk hidungnya dengan lembut hanya untuk membuat Lisa makin cemberut. "Apakah aku terlihat muda? Jika gadis ini aku bisa mengerti namun aku tidak masuk kategori itu."
"Benarkah? Kamu seperti baru saja berumur 20 atau 25 bagiku."
"Percayalah Owner, aku lebih tua dari yang kamu bayangkan."
Vincent terlihat seperti pria berumur 25 tahun, namun itu karena dia berada dalam tubuh avatarnya. Umurnya lebih dari itu dengan dia baru merayakan ulang tahunnya yang 37 sebulan yang lalu.
"Ngomong-ngomong beberapa kelompok prajurit? tetapi aku melihat sepertinya lebih banyak dari itu."
"Itu karena tahun ini kerajaan memiliki 100.000 orang sebagai tentaranya, kebanyakan para petani yang tidak memiliki keterampilan bertarung dan inilah hasilnya."
Mendengar itu Vincent mengerutkan kening.
"Tahun ini? Maksudmu kerajaan telah berperang lama?"
"Kamu pasti bukan dari sekitar sini jika kamu tidak mengetahuinya."
"Aku seorang musafir dari timur jauh."
"Itu menjelaskan mengapa kamu tidak tahu. Dan ya, kerajaan telah berperang selama sepuluh tahun terakhir dengan kekaisaran, sebut saja perang tahunan. Kekaisaran terkenal dengan kekuatan dan kekuasaannya, namun aku tidak tahu apa tujuannya dengan kekaisaran dengan ini."
"Politik."
"Kurang lebih seperti itu, namun kami hanya rakyat biasa terkadang tidak mengerti apa yang di inginkan para pemimpin kita bukan?"
"Ya, aku mengerti maksudmu."
Memutuskan untuk mengganti topik, karena perang bukanlah hal yang di minati Lisa. Dia menyikut Vincent beberapa kali dengan penuh semangat untuk mendapatkan perhatiannya.
"Hei! Hei! Vinne! Bolehkah aku mencoba senjatamu? Kamu tahu sebagai penyihir aku ingin tahu bagaimana cara kerja senjata yang kamu miliki karena itu seperti sihir bagiku."
"Kecuali senjataku tidak menggunakan sihir."
"Tetapi itu terlihat seperti sihir bagiku!"
"Terserah."
"Kalau begitu ayo!"
Kata Lisa bersemangat sambil menyeret Vincent keluar dari penginapan. Seseorang pasti bertanya-tanya bagaimana seorang gadis menyeret seorang pria yang lebih tinggi dari tubuhnya dengan mudah.