
Rasa sakit adalah apa yang di rasakan Vincent di sekujur tubuhnya saat dia mendapatkan kembali kesadarannya. Matanya menyesuaikan cahaya yang masuk, dan perlahan mendapatkan kembali penglihatannya. Apa yang pertama kali dia lihat adalah langit-langit yang tidak dia kenal, bertanya-tanya bagaimana dia bisa sampai di sini karena ingatan terakhirnya sebelum pingsan adalah saat dia mengalahkan War Troll.
Namun sebelum sempat mengetahui apa yang telah terjadi, sebuah pelukan kuat memeluk tubuhnya yang sakit, membuat Vincent meringis dan mendengar isak tangis setelahnya dari seorang gadis yang meneriakkan namanya.
"Vincent! Vincent! Terima kasih Dewa kamu telah sadar!"
Mendengar itu Vincent menggerakkan kepalanya untuk melihat seorang gadis memeluknya dengan erat, seolah Vincent akan pergi begitu saja jika dia melepaskan pelukannya. Gadis itu adalah Lisa, penyihir cantik dari kelompok petualang bernama Jade Tribe.
"Li.. sa?"
Vincent mengucapkan nama gadis tersebut meskipun tenggorokannya sakit dan terasa kering. Saat namanya di sebut oleh Vincent, Lisa memeluknya lebih erat membuat Vincent makin meringis kesakitan saat tekanan menimpa tubuhnya yang masih lemah. Mengesampingkan rasa sakitnya, salah satu tangan Vincent terangkat dan dengan lembut mengusap punggung Lisa untuk menenangkan gadis tersebut.
Kemudian pintu kamar terbuka setelah ledakan emosi Lisa. Vincent memiringkan kepalanya ke samping ke arah pintu saat melihat beberapa orang masuk dengan tergesa-gesa di temani oleh dua sosok yang Vincent kenal.
Pertama adalah seorang pria yang telah akrab dengannya, itu Gill dan dia menatap Vincent dengan rasa syukur saat dia berjalan mendekat sambil tersenyum tersenyum.
Sosok lain adalah seorang gadis dengan Ballgown dress berwarna biru. Gadis itu berjalan mendekat, tidak terburu-buru dan melangkah dengan ke anggunan seorang putri. Rambut pirang platinum-nya tergerai mencapai punggung dengan mata hijau emerald yang penuh perhitungan. Itu adalah Sofia Mandoza, namun penampilannya sangat berbeda dari terakhir kali Vincent melihatnya, mungkin karena Vincent melihatnya dengan baju besi dan bukan gaun.
"Akhirnya kamu telah sadar."
Sofia berkata saat salah satu wanita yang menggunakan seragam pelayan Prancis menenangkan Lisa, memintanya untuk melepaskan Vincent karena dia baru saja sadar dan tubuhnya masih lemah. Kemudian pelayan lain memasuki ruangan dengan segelas air dan membantu Vincent untuk minum, satu hal yang sangat Vincent hargai karena keadaannya saat ini.
Merasa tenggorokannya segar kembali, Vincent mencoba mengatakan sesuatu hanya untuk di potong oleh Sofia.
"Tidak perlu memaksakan dirimu. Untuk saat ini, istirahatlah. Dua pelayan akan berada di kamar ini untuk memastikan kebutuhanmu, dan saat kamu merasa baik, kita akan berbicara."
Kata Sofia sambil berjalan pergi bersama beberapa pelayan yang mengikutinya, bahkan tidak menunggu Vincent menjawab. Namun kelegaan terlihat di wajah Sofia yang Vincent lihat saat dia berbalik.
Vincent yang merasa lelah mengindahkan saran tersebut dan tidak berusaha bangun, terbaring dengan nyaman di kasur dengan Lisa yang masih memengang salah satu tangannya.
"Jadi, Ada yang mau menceritakan apa yang telah aku lewatkan?"
Tanya Vincent pada orang-orang yang ada di ruangan tersebut, khususnya pada Lisa dan Gill saat dia menoleh ke samping ke tempat Lisa dan Gill berada.
Gill menceritakan semuanya pada Vincent, mulai dari penyerangan terakhir mereka, kemudian kematian War Troll yang telah di bunuh oleh Vincent yang menurunkan moral musuh sehingga mereka dapat memukul mundur pasukan musuh dalam sekali gerakan. Kemudian Gill bercerita tentang Vincent yang di anggap pahlawan dalam tragedi ini dan alasan mengapa dia mendapatkan fasilitas ini dengan pengakuan penuh dari Sofia Mandoze dan Rose Order.
Gill juga bercerita mengenai penyisiran yang Lisa dan Gill lakukan dan menceritakan tentang pembangunan kota yang di mulai meskipun dengan sedikit perkembangan karena kekurangan sumber daya.
"Jadi begitu.."
Vincent mengangguk setelah mendengarkan semua informasi yang di berikan Gill padanya, namun ada satu hal yang membuatnya gelisah.
"Ngomong-ngomong, di mana Pete? Apakah dia selamat? Aku melihatnya sebelum aku melawan War Troll."
Namun sepertinya pertanyaan Vincent seperti pill pahit bagi mereka terutama saat mereka bereaksi. Lisa mengeratkan genggamannya pada tangan Vincent sambil mengigit bibir bawahnya, berusaha keras untuk tidak menangis sedangkan Gill, dia memalingkan mukanya kesamping, tidak sanggup menatap tatapan Vincent yang terbaring lemah saat dia bersandar di dinding kamar.
"... Jadi seperti itu..."
Saat itu juga ruangan menjadi hening, Vincent menikmati keheningan tersebut untuk sesaat karena itu yang dia butuhkan untuk saat ini setelah mendengar informasi yang Gill sampaikan untuk meresap ke dalam otaknya sambil berpikir bagaimana melanjutkan percakapan ini.
"... Maafkan aku, jika saja aku datang lebih cepat a-"
"Jangan katakan itu!"
Lisa memotong perkataan Vincent setelah lama diam. Matanya berkaca-kaca saat dia menatap Vincent, mengancam untuk tumpah jika Vincent melanjutkan kata-katanya.
"Aku bersyukur kamu masih hidup. Jangan menyalahkan dirimu Vincent karena Pete hanya... Pete ... Hanya mendapatkan nasib buruk."
Lisa berkata saat dia memegang erat kembali tangan Vincent dengan setitik air mata lolos dan mengalir di wajahnya. Gill di pihaknya berjalan mendekat dan mengusap punggung Lisa untuk menenangkan.
"Itu benar, Vincent. Jangan salahkan dirimu karena kamu juga hampir mati di sana."
Kata Gill dengan nada yang lembut, masih mencoba menenangkan Lisa.
Ketiganya masih seperti itu untuk beberapa waktu, dengan dua pelayan di ruangan itu tidak mau menghalangi momen mereka. Kemudian Gill kembali ke dirinya sendiri dan mengajak Lisa untuk meninggalkan ruangan, bermaksud memberikan Vincent waktu untuk beristirahat yang di tolak secara langsung karena Lisa ingin tetap tinggal.
...XxXxX...
Dua hari telah berlalu sejak pembicaran antara Vincent, Lisa dan Gill. Menurut pelayan yang melayaninya, Vincent tidak sadarkan diri selama seminggu penuh dengan Lisa yang menolak meninggalkan sisinya kecuali untuk makan dan mandi.
Selama itu juga Kota Benteng Angelbarrow memulihkan dirinya sendiri dengan semua orang bekerja sama untuk itu.
Hari ini Vincent telah kembali dari pemakaman, memberikan penghormatan terakhirnya yang di temani oleh Lisa dan Gill bersama dua pelayan yang di tugaskan.
Saat perjalanannya kembali, Vincent bertemu dengan Sofia. Dia sepertinya telah menunggu kepulangannya dari pemakaman, Vincent berasumsi seperti itu karena dia melihat Sofia berdiri di pintu masuk dan dia melihatnya di sana bahkan saat dia melewati gerbang manor.
"Vincent, aku ingin berbicara dengan anda." Kata Sofia, saat Vincent dan rombongan tersebut mendekat.
Vincent mengangguk dan berkata. "Tentu, pimpin jalan."
Sofia membawa Vincent ke sebuah ruangan, dua buah sofa di letakan berhadapan dengan meja rendah di antara keduanya. Sofia duduk terlebih dahulu dan menunjuk sofa di seberangnya, memberikan isyarat bagi Vincent untuk duduk di sana.
"Jadi apa yang ingin kamu bicarakan denganku?"
Tanya Vincent langsung pada intinya. Sofia tetap tenang saat Vincent menatapnya dengan pandangan menilai, menyeruput teh yang telah di sediakan pelayan sebelum menjawab.
"Dalam waktu satu bulan, kita akan pergi ke ibu kota kerajaan." Kata Sofia sambil meletakkan cangkir tehnya di meja.
"Dan mengapa aku harus pergi ke sana?"
"Karena Raja mengundang anda ke istana. Aku di pihakku sendiri telah di tunjuk sebagai pengawal anda oleh Raja sendiri."